Hot!

Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia

      

Sameeh.net  “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yanglebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl, 97))                                                                                         

Suatu hari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu. ditanya oleh para Tabi'in mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu:

Pertama, Memiliki Qalbun Syakirun (Hati Yang Selalu Bersyukur)

Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qana’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur.

Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah Ta'ala, sehingga apapun yang diberikan-Nya ia terima dengan penuh keikhlasan demi mengharap ridha-Nya.

Kedua, Memiliki Al-Azwaj Ash-Shalihah (Istri Yang Shalihah)

Pasangan hidup yang shalih akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang shalih pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggung jawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada keshalihan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang shalih, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang shalih. Demikian pula seorang istri yang shalih, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang shalihah. Dan bagi yang belum memiliki suami dan istri bersabar dan teruslah berdoa dan ikhtiyar kepada Allah. 

Ketiga, Memiliki Al-Aulad Al-Abrar (Anak Yang Shalih)

Saat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam thawaf. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya kepada anak muda itu: "Kenapa pundakmu itu?" Jawab anak muda itu: "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia.

Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika shalat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya". Lalu anak muda itu bertanya: "Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua?" Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan:

“Sungguh Allah Ta'ala ridha kepadamu, kamu anak yang shalih, anak yang berbakti, namun ketahuilah, bahwa cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu".

Keempat, Hidup di Al-Baitu Ash-Shalihah  (Lingkungan Yang Kondusif Untuk keimanan)

Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita, yang kita jadikan sebagai kawan dan sahabat dekat.

Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang shalih. Orang-orang yang shalih akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang shalih.

Kelima, Memiliki Al-Maalul Halal (Harta yang halal)

Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta, tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya.

Dalam riwayat Imam Muslim, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdo’a mengangkat kedua tangannya. "Kamu berdo’a sudah bagus", kata Nabi SAW, "Namun sayang, makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggalnya didapat dengan cara haram, lantas bagaimana do’anya dikabulkan”. Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena do’anya sangat mudah dikabulkan Allah.

Keenam, Selalu Bertafaquh fid Dien (Mendalami Ilmu Agama)

Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah Ta'ala dan ciptaan-Nya. Allah Ta'ala menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah  dan Rasul-Nya. Maka berbahagialah orang yang selalu bersemangat memahami ilmu agama Islam .

Ketujuh, Dikaruniai Allah Umur yang Berbarakah.

Umur yang berbarakah itu artinya umur yang semakin tua semakin shalih, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, ia pun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome).

Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka ia pun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang ia angankan.

Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka ia semakin tua semakin rindu untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan negeri akhirat seperti yang dijanjikan Allah Ta'ala. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang barakah umurnya.

Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia. Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah dengan sesering dan se-khusyu’ mungkin membaca do’a yang paling sering dibaca oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:

(Rabbana aatina fid dunyaa hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban naar)

"Wahai Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka."