Hot!

Adab Dalam Memberikan Nasehat




Sameeh.net - Nasehat termasuk salah satu betuk dari dakwah kepada agama Allah dan termasuk salah satu cara (metode) dari banyaknya cara dalam mengajak menusia kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran.

Sesungguhnya dalam menasehati seseorang terdapat adab-adab yang harus diperhatikan, sehingga dengan adab tersebut diharapkan nasehatnya akan diterima oleh pendengar. Di antara adab-adab dalam menasehati diantaranya adalah:

Menghiasi Diri dengan Ketakwaan dan Keikhlasan

Sesungguhnya Al-Qur’an yang agung telah mengisyaratkan bahwa orang yang menasehati manusia kepada kebaikan, namun ia sediri tidak melaksanakannya, maka pantas baginya mendapat kecaman, seperti dalam firman-Nya: 

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”(QS. Ash-Shaff: 2-3)

Ketakwaanlah yang menjadikan seorang pemberi nasehat ikhlas dengan apa yang ia perintahkan dan larang dalam nasehatnya. Sedangkan keikhlasan akan memberikan pengaruh yang sangat besar dalam menentukan keberhasilan suatu nasehat dan mengambil manfaat dari nasehat tersebut dalam segala situasi dan kondisi.

Seseorang tidak boleh meninggalkan memberi nasehat walau ia merasa tidak pantas melakukanya entah karena sering lalai terhadap sebagian ketaatan atau sering melakukan kesalahan. Tetapi ia tetap diwajibkan untuk memerintahkan yang baik dan melarang yang buruk, meskipun seperti itu keadaannya, karena meninggalkan suatu kewajiban bukan berarti ia boleh meninggalkan kewajiban yang lainnya. Juga perlu diketahui bahwa tak ada seorangpun yang ma’shum (bebas dari dosa) selain para Nabi. 

Ada syair berbunyi: “Apabila seorang pendosa tidak boleh menasehati, maka siapakah yang akan menasehati orang-orang yang berdosa setelah Nabi Muhammad?”

Said bin Jubair berkata, “Apabila seseorang tidak mau memerintahkan pada kebaikan dan tidak mencegah dari kemungkaran hingga tidak ada kesalahan apapun dalam dirinya, niscaya takkan ada seorangpun yang memerintahkan pada kebaikan dan mencegah kemungkaran.”

Ilmu

Keilmuan seorang pemberi nasehat yang menjadi landasannya dalam setiap apa yang ia ucapkan akanmembuat nasehatnya bersih dari hadits palsu, kisah-kisah fiktif atau keyakinan yang sesat. Allah berfirman: 

Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik." (QS. Yusuf: 108)

Maka seorang pemberi nasehat haruslah selalu diatas bashirah (cahaya ilmu) mengenai apa yang ia serukan, baik berupa perintah maupun larangan, serta harus paham betul dengan kondisi orang yang hendak dinasehatinya.

Dalam hal ini bukan bermakna bahwa orang yang mensehati haruslah menjadi orang yang berilmu lagi tahu segala hal, namun maksudnya adalah tidaklah ia mengajak kepada sesuatu kecuali dengan apa yang ia ketahui dan tidak mengatakan apa yang tidak ia ketahui.

Kesabaran dan Kasih Sayang

Selayaknya bagi orang yang memberik nasehat memiliki sifat lapang dada dan bersabar, karena itulah ia seharusnya mengetahui bahwa beratnya misi yang ia emban, hendaklah ia menghadapi dengan sabar dan selalu meminta pertolongan kepada Allah dalam menasehati manusia dan menyertainya dengan pneuh ketenangan, lapang dada, lemah lembut, membalas cacian dengan senyuman,  dan membalas kejahatan dengan kebaikan.

Hal ini seperti keadaan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau mendakwahkan islam dengan perkataan yang halus, berusaha membalas mereka yang bersikap buruk kepadanya dengan sikap lemah lembut dan sabar, dan menyikapi orang-orang yang jahil (bodoh) dengan berpaling dari mereka, serta menghadapi orang-orang yang berbuat buruk dengan pemberian maaf dan membalasnya dengan kebaikan.

Berapa banyak kata-kata hinaan yang dilontarkan oleh orang-orang musyrik Quraisy, kaum munafik dan orang-orang yang bodoh dari Arab badui kepada beliau, namun beliau membalasnya dengan kata maaf, senyuman dan sikap baik kepada mereka.

Peka Dalam Mengamati Suasana

Seorang pemberi nasehat harus mengetahui kondisi orang yang diberi nasehat, apakah mereka memperhatikannya, sehingga ia harus melanjutkan nasehatnya dan meneruskan dalam metode yang ia gunakan, atau justru mereka berpaling darinya, sehingga ia harus mencari metode lain yang dianggap lebih diterima oleh hati mereka dan lebih berpengaruh kepada mereka. Dengan demikian, hendaklah pemberi nasehat memiliki pandangan yang jeli dan tajam, seolah-olah ia dapat membaca keinginan dalam hati mereka,dan dapat mengetahui apa yang disembunyikan oleh perasaan mereka. Dengan metode ini akan dapat membangkitkan semangat mereka, menghilangkan rasa bosan, dan hatinya menjadi terhubung dengan hati mereka.

Memperhatikan Batas Waktu Dalam Memberikan Nasehat

Adab yang satu ini sangat penting, karena termasuk hal yang dapat membantu merekadalam mengambil manfaat dalam nasehatnya, dan menjadikan mereka mendengarkannya dengan penuh perhatian dan semangat.

Memang tidak mudah untuk menentukan batasan waktu yang tepat untuk memberikan nasehat yang tidak boleh ditambah atau dilampuinya, karena suatu kondisi terkadang menuntut pemberi nasehat harus memperpanjang nasehat, terkadang ia harus meringkasnya, dan terkadang ia harus menyederhanakan nasehatnya. Apabila point ini diperhatikan dan diletakkan pada tempat yang sesuai, maka manfaat nasehat tersebut akan meluas dan pengaruhnya akan besar, dan bila tidak diperhatikannya maka yang terjadi justru sebaliknya.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika berkhutbah, beliau tidak memanjangkannya karena beliau tahu bahwa manusia memiliki rasa bosan. Meskipun khutbah beliau ringkas, namun mengandung hikmah yang banyak dan nasehat yang baik, karena tersusun dengan kalimat yang sedikit namun bermakna luas (jawami’ul kalim), dan juga tersusun dengan kalimat-kalimat yang sudah masyhur di kalangan manusia sebagai pepatah atau peribahasa.

Menyegerakan Nasehatnya Ketika Melihat Adanya Kebosanan Dan Kelesuan

Di antara adab dalam memberikan nasehat adalah menyegerakan nasehatnya atau menghentikan pembicaraannya apabila ia melihat kebosanan dan kelesuan telah menimpa para pendengarnya.

Tanda-tandanya adalah ia melihat mereka atau sebagian dari mereka sudah siap-siap untuk bangun dari tempat duduknya atau membentangkan kakinya, atau menguap dan menengok ke sana kemari atau semacamnya yang diketahui oleh seorang pemberi nasehat yang cerdas.

Al-Baghawi menyebutkan perkataan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu’anhu, bahwa ia berkata, “Bicaralah kepada suatu kaum selama mereka menghadapkan mata mereka kepadamu dan selama hati mereka berkonsentrasi terhadap perkataan-perkataanmu. Apabila hati mereka telah berpaling darimu, maka janganlah engkau lanjutkan pembicaraan terhadap mereka.” Lalu ditanyakan kepadanya, “Apa tanda-tanda hal itu?” Ia menjawab, “Apabila mereka sudah pada menengok satu sama lain atau engkau melihat mereka telah menguap, maka (jika kondisinya demikian) jangan engakau lanjutkan pembicaraanmu.”

Nasehat menasehatilah yang menjadikan umat ini spesial dan istimewa “kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah..” QSAli ‘Imran : 110

Semoga Allah mengkaruniakan keistiqomahan  dalam kita memberi nasehat. (Ammar Abdullah)