Hot!

Mencari Keutamaan, Berburu Kesempurnaan



Sameeh.net - Pikiran yang jernih jika digunakan secara seksama pasti akan menyuruh pemiliknya untuk memburu kedudukan paling mulia dan melarang puas dengan kedudukan yang hina dalam semua situasi.

Abu Tayyib Al-Mutanabbi mengatakan:

“Aku belum pernah melihat cela manusia yang lebih tercela
Dari kepuasan mereka yang sempurna pada sesuatu yang hina.”

Oleh sebab itu, orang cerdas seyogianya berusaha keras mencapai puncak yang tertinggi yang bisa diraihnya. Andaikata manusia bisa naik ke langit, tentu kepuasaan tinggal di bumi merupakan cela yang paling hina. Dan kenabian dapat diperoleh dengan usaha yang sungguh-sungguh, pasti orang tidak serius mengusahakannya adalah orang yang hina. Tapi, kerena yang disebut terakhir ini adalah sesuatu yang tidak mungkin, seorang yang cerdas pasti mengusahakan yang mungkin-mungkin saja.

Ahli-ahli hikmah telah mendefenisikan ‘tindakan terpuji’ dengan ‘terbangnya jiwa menuju kesempurnaan ilmu dan amal yang bisa dicapai.’ Aku akan menjelaskan salah satu contoh dari tindakan terpuji itu, lalu kiaskanlah hal-hal lain dengannya.

Bentuk fisik manusia adalah sesuatu yang berada di luar kemampuannya, sedang merawat dan menghiasinya adalah sesuatu hal yang bisa dilakukan. Karena itu, termasuk tindakan yang buruk adalah membiarkan tubuh dan tidak merawatnya. Agama kita telah menyuruh kita untuk merawat seluruh tubuh. Dia telah menyuruh kita untuk memotong kuku, mencabuti bulu ketiak, serta melarang kita memakan bawah merah dan bawang putih yang mentah karena baunya yang tak sedap.
Seorang muslim sejati hendaknya menjadikan perintah-perintah dan larangan-larangan tersebut sebagai dorongan untuk mengusahakan kebersihan dan hiasan yang paling maksimal.

Kedatangan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam ke suatu tempat diketahui dengan aroma farfum yang dipakainya, dan beliau adalah orang paling suka dengan kebersihan dan menghiasi diri.
Penjelasan ini tidak berarti untuk menyuruh Anda membersihkan dan menghiasi diri dengan berlebihan seperti yang dilakukan oleh sebagian orang yang terkena penyakit was-was atau orang-orang yang suka bermewah-mewahan. Aku hanya memilih jalan tengah, kerena itu tidak terjadi ghuluw (berlebih-lebihan) dalam beragama.

Seorang muslim wajib juga berlaku lemah lembut kepada tubuhnya dan tidak mengurangi porsi makanan yang dibutukannya. Sebab ia melamahkan kekuatannya. Aku tidak memerintakan kekenyangan yang menyebabkan sendawa, aku cuma menyuruh yang sedang-sedang saja, kerena kekuatan manusia seperti mata air yang mengalir, mengandung sangat banyak mamfaat untuk pemilik dan orang-orang sekitarnya.

Salah satu cela terburuk adalah taklid. Oleh sebab itu, seseorang yang memiliki semnagat yang menyala-nyala harus berusaha mencapai tingkatan memilih pendapat sendiri dan tidak bermazhab pada salah satu mazhab yang ada. Ringkas kata, setiap keutaman yang diperoleh wajib diusahakan, kerena puas dengan tingkatan ternedah adalah tingkatan orang-orang yang rendah.

Andai bisa mengalahkan seluruh ulama dan abid, engkau harus melakukanya. Mereka manusia, dan kalian juga manusia. Penyebab satu-satunya orang tidak mau berusaha adalah untuk mencapai kesempurnaan adalah kemalasan dan rendahnya cita-cita!

Ketahuilah, Anda sekarang sedang berada di medang pertempuran, mamfaatkan setiap kesempatan yang ada, dan jangan menuruti kemalasan.

“Alasan satu-satunya kegagalan orang yang gagal adalah kemalasan, dan faktor satu-satunya kesuksesan orang yang sukses adalah kesungguhan dan semangat pantang menyerah.”

Ustadz Farid Akmad Okbah pernah mengatakan dalam sebuah pertemuan bersama dengan murid-muridnya, ‘kalian harus memiliki mental-mental pemenang, bukan saja mental petarung’. Maka dari itu kita bisa menyimpulkan, bahwasanya menjadi seorang muslim sejati itu bukan saja mempunyai banyak cita-cita tapi tidak dibarengi dengan kerja keras dan kesungguhan.