Hot!

‘Ngambil’ Berkah Sesuai Sunnah



Sameeh.net - Seyogyanya seorang muslim memohon kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala keberkahan di setiap ilmu dan amalnya, waktu dan hartanya, istri dan anak-anaknya, dunia dan akhiratnya, serta kesemangatan dalam melakukan sebab-sebab tergapainya keberkahan.

Ar-Raghib al-Ashfahani berkata, “Berkah adalah tetapnya kebaikan Ilahi pada sesuatu.” (al-Mufradat, hal.41)

Sebagian ulama berkata, “Berkah adalah turunnya kebaikan Ilahi dalam sesuatu, lalu tetap serta bertambah kebaikan dan pahalanya. Berkah terdapat pada setiap sesuatu yang dibutuhkan hamba baik berupa manfaat dunia maupun akhirat.”

Tidak lah keberkahan ada dalam suatu yang sedikit melainkan akan banyak, dan tidak lah ada dalam sesuatu yang banyak melainkan akan bermanfaat. Sedangkan buah terbesar keberkahan dalam segala hal adalah ketika dapat menggunakannya untuk taat kepada Allah Azza wa Jalla.

Allah Ta’ala berfirman, “Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96)

Tatkala Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam dan para sahabatnya sebagai manusia paling besar menjalankan taqwa, maka keberkahan pada diri mereka pun lebih besar dan luas. Di samping itu, Allah juga telah memberi mereka sumber segala kebaikan dan barakah, yakni Al-Qur’an Al-Karim yang Allah perintahkan manusia untuk mempelajari dan mentadabburinya.

Allah Ta’ala berfirman, “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29)

Kisah Berkah Sahabat

Abdurrahman bin Abu Bakar Radhiyallahu anhuma berkata, “Abu Bakar datang ke rumah dengan membawa beberapa orang tamu. Lalu dia bermalam bersama Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam, tatkala dia pulang, ibuku berkata, “Aku tidak memberikan apa-apa kepada tamumu tadi malam.”

Abu Bakar berkata, “Apakah kamu tidak memberi mereka makan malam?” Ibu menjawab, “Kami sudah suguhkan kepada mereka, namun mereka enggan.” Abu Bakar pun marah lalu mencela dan bersumpah tidak akan memakannya. Aku bersembunyi ketika itu, lalu dia memanggil, “Wahai Ghantsar (panggilan untuk mencela)!”

Istrinya juga bersumpah untuk tidak memakannya hingga ia memakannya, lalu para tamu juga bersumpah tidak akan memakannya hingga ia memakannya. Lantas Abu Bakar berkata, “Seolah ini berasal dari setan.” Dia pun meminta makanan itu, lalu makan bersama para tamunya. Tidaklah mereka mengangkat satu suapan melainkan muncul lebih banyak di bawahnya.

Dia berkata, “Wahai saudari Bani Faris, apa ini?” Istrinya menjawab, “Sungguh, sekarang makanan itu menjadi lebih banyak dari pada sebelum kita makan.” Mereka pun memakannya dan Abu Bakar mengkirimkannya pula kepada Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam, kemudian beliau ikut memakannya.” (HR. Bukhari, no. 6141)

Dari Aisyah Radhiyallahu anha berkata, “Tatkala Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam wafat, di rakku tidak ada apapun untuk dimakan, kecuali setengah karung gandum di rak milikku. Aku memakannya hingga waktu yang lama (dan tidak habis), kemudian aku pun menimbangnya lalu habis.” (HR. Bukhari, no. 6451)

Terdapat beberapa hal untuk menggapai keberkahan, di antaranya;

Takwa Kepada Allah

Tidaklah seorang hamba bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla dalam segala urusannya, melainkan Allah akan memberkahinya sesuai kadar takwanya atau bahkan lebih besar.

Allah Ta’ala berfirman, “Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96)

Berdoa Kepada Allah

Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam telah mengajarkan kepada kita doa memohon berkah dalam berbagai urusan. Sebagaimana ketika kita berdoa tatkala membaca qunut witir, ‘Wa baarik lii fii maa a’thait.’ (Dan berkahilah untukku pada apa-apa yang Engkau berikan).

Berkah dalam doa tersebut maksudnya kebaikan yang banyak dan ketetapannya. Di dalam doa ini terdapat permohonan kepada Allah agar memberkahi setiap apa yang Dia berikan kepada hamba, baik berupa ilmu, harta, anak, kediaman, dan selainnya. Kemudian juga agar Allah menetapkan, meluaskan, menjaga, dan menyelamatkannya dari aib. (Fiqh al-Ad’iyah wa al-Adzkar, III/172)

Beliau mengajarkan kepada kita untuk mendoakan keberkahan bagi pengantin, ‘Baarokallohu laka wa baaroka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khoir.’ (Semoga Allah memberi berkah kepadamu dan atasmu serta mengumpulkan kamu berdua (pengantin laki-laki dan perempuan) dalam kebaikan). (HR. Tirmidzi, no. 1091. Dishahihkan Syaikh al-Albani)

Beliau juga mengajarkan kepada kita untuk memohon berkah pada makanan kita, ‘Allahumma baarik lanaa fiih.’ (Ya Allah, berikanlah kami berkah di dalamnya). (HR. Abu Dawud, no. 3730. Dihasankan Syaikh al-Albani)

Beliau juga mengajarkan kepada kita agar mendoakan keberkahan bagi orang yang memberi kita makan, ‘Allahumma baarik lahum fii maa rozaqtahum waghfir lahum warkhamhum.’ (Ya Allah berkahilah apa-apa yang telah Engkau rizkikan kepada mereka, ampunilah dan rahmati mereka). (HR. Muslim, no. 2042)

Bahkan mendoakan berkah bagi orang lain dapat menghalangi ‘ain (mata jahat), sebagaimana diisyaratkan dalam hadits bahwasanya Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila seseorang di antara kamu melihat dari saudaranya, diri atau hartanya yang menakjubkan, maka hendaklah mendoakan berkah kepadanya. Sesungguhnya ‘ain itu adalah benar.” (HR. Ahmad, IV/447. Dishahihkan Syaikh Al-Albani)

Mengambil Harta Tanpa Serakah & Bersedekah

Dari Sa’id bin Al-Musayyib bahwasanya Hakim bin Hizam Radhiyallahu anhu berkata, “Aku meminta harta kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam lalu beliau memberiku. Kemudian aku meminta lagi lalu beliau memberiku kembali. Kemudian aku meminta lagi lalu beliau memberiku kembali, seraya berkata, ‘Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu hijau lagi manis. Maka barang siapa mengambilnya dengan kelapangan diri maka harta itu akan diberkahi untuknya. Namun barangsiapa mengambilnya dengan serakah maka harta itu tidak akan diberkahi, seperti orang yang makan namun tidak kenyang.’ (HR. Bukhari, no.1472)

Termasuk berkaitan dengan hal ini adalah menginfakkan harta dengan lapang hati dan ikhlas. Sehingga dengannya infak tersebut akan bertambah dan diberkahi.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan apa saja yang kamu nafkahkan, Maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah sebaik-baik pemberi rizki.” (QS. Saba’: 39)

 Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda, “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim, no. 2588)

Disebutkan dalam hadits Qudsi, dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, sebagaimana disampaikan oleh Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam, “Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman; ‘Wahai anak Adam, berinfaklah niscaya Aku akan berinfak untukmu.” (HR. Muslim, no. 993)

Jujur Dalam Bermuamalah

Jujur dalam bermuamalah seperti jual beli, kerja sama, dan selainnya akan membawa keberkahan.

Dari Hakim bin Hizam Radhiyallahu anhu berkata, Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, “Dua orang yang melakukan jual beli boleh melakukan khiyar (pilihan untuk melangsungkan atau membatalkan jual beli) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menampakkan (aib) dagangannya maka keduanya diberkahi dalam jual belinya dan bila menyembunyikan dan berdusta maka akan dimusnahkan keberkahan jual belinya.” (HR. Bukhari, no. 2110)

Bekerja atau Berdagang di Awal Siang

Bekerja atau berdagang pada awal siang atau pagi hari akan membawa berkah, sebab waktu pagi adalah keberkahan. Sebagaimana hadits dari Shakhr al-Ghamidi, dia mengatakan bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam berdoa, “Ya Allah, berkahilah untuk umatku di waktu paginya.” (HR. Ahmad, III/416. Dishahihkan Syaikh Al-Albani)

Shakhr Al-Ghamidi berkata; adalah Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam apabila mengutus sariyyah (pasukan perang), beliau mengutusnya pada permulaan siang.
Shakhr adalah seorang saudagar, ia tidak memberangkatkan para pekerjanya kecuali pada permulaan siang, maka hartanya pun menjadi banyak hingga ia bingung di mana meletakkan hartanya.

Mengerjakan 3 Sunnah Ketika Makan dan Minum

Pertama, hendaknya makan dari pinggir bukan dari tengah. Sebagaimana hadits dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhuma, ia berkata, Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, “Berkah turun di tengah-tengah makanan, maka makanlah dari sisi-sisinya dan jangan makan dari tengah.” (HR. Tirmidzi, no. 1805. Dishahihkan Syaikh al-Albani)

Kedua, hendaknya menjilati tangan dan piring setelah makan. Sebagaimana hadits dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam memerintahkan untuk menjilati tangan dan piring, lalu bersabda, “Sesungguhnya kalian tidak mengetahui di makanan mana terdapat keberkahan.” (HR. Muslim, no. 2034)

Ketiga, hendaknya makan bersama-sama. Sebagaimana hadits dari Wahsy Radhiyallahu anhu bahwasanya para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan namun tidak kenyang.” Beliau menjawab, “Bisa jadi kalian makan berpisah-pisah.” Mereka menjawab, “Iya.” Beliau menjawab, “Berkumpullah ketika makan dan sebutlah nama Allah, niscaya akan diberkahi bagi kalian.” (HR. Ibnu Majah, no. 3286. Dihasankan Syaikh al-Albani)

‘Ngambil’ Berkah Yang Dilarang

‘Ngambil’ berkah yang dilarang adalah yang tidak ada dasarnya dalam agama Islam. Di antaranya adalah;

Pertama, mencari berkah dari kuburan orang-orang shalih. Sebagian orang melakukan ziyarah ke makam-makam Kyai atau Syaikh yang dianggap shalih, lalu meminta-minta kepada kuburan tersebut. Sebagian lainnya meminta kepada orang yang telah meninggal itu untuk menyampaikan doanya kepada Allah. Bahkan tidak jarang di antara mereka yang mengambil tanah kuburan Kyai Fulan atau Syaikh Fulan, serta menganggapnya dapat membawa berkah. Ini adalah perbuatan yang dilarang, dan para ulama menyebutnya sebagai tawassul syirik. Bagaimana mungkin orang yang hidup meminta tolong kepada orang mati, sedangkan orang mati tersebut tidak mampu berbuat apapun?

Kedua, mencari berkah dari masjid Kyai Fulan atau Syaikh Fulan. Sebagian kalangan berbondong-bondong menuju masjid ini dan itu, serta meyakini shalat di sana lebih afdhal dan berpahala. Mereka menganggap keberkahan di masjid tersebut dapat membuat doa cepat terkabul. Padahal, secara syar’i tidak ada masjid yang memiliki keistimewaan khusus melainkan tiga saja; Masjidil Haram, Masjidil Aqsha, dan Masjid Nabawi.

Ketiga, mencari berkah dari peninggalan Kyai Fulan atau Syaikh Fulan. Sebagian kalangan menganggap peninggalan-peninggalan Kyai, seperti; batu akik, keris, jubah, dan selainnya mengandung nilai keberkahan. Bahkan, terkadang kita dapati sebagian santri meminum sisa minuman Kyai karena meyakini keberkahannya. Karena pada dasarnya manusia dan peninggalan yang dapat diambil berkah hanya terkhusus pada diri Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam, bukan pada selainnya. Seandainya dapst diraih dari selain beliau, tentu para Tabi’in akan mengambil berkah dari para Shahabat seperti Abu Bakar dan Umar.

Semoga Allah memberikan kita kemudahan untuk mendapatkan berkah, tanpa harus melakukan amalan-amalan terlarang. Aamiin.  (Muizz Abu Turob)