Hot!

Pendapat Kami Tentang Tahlilan Dan Kenduri Kematian - Bag. 2


Oleh: Maaher At-Thuwailibi

Sameeh.net - “Musuh kita banyak. ngga usah ribut masalah furu’iyyah (perbedaan pendapat)”. Begitu kata sebagian orang_

Jawaban saya: betul musuh kita banyak. namun bukan berarti salah jika kita membahas sesuatu perkara dengan sportif dan ilmiah sebagai upaya kita untuk membangun khazanah dan keilmuan ditengah masyarakat. Dengan syarat: membahas secara ilmiah, argumentatif, santun, dan penuh keikhlasan. bukan menjadikan ilmu dan pengetahuan sebagai ajang perdebatan atau menang-menangan. karena yang demikian itu tercela dan bukan adab islam. Selama dilakukan dengan baik dan penuh ketawadhu’an, saling terbuka dan lapang dada terhadap berbedaan, maka tak kan terjadi yang namanya “ribut-ribut”. 

Karena ribut-ribut itu hanyalah budaya orang-orang awam di akar rumput (masyarakat tingkat lokal) yang batas keilmuannya di bawah rata-rata dan daya intelektualnya belum mencapai sempurna. tidak demikian orang-orang yang terpelajar, kaum akademik, penuntut ilmu, apalagi kalangan para ulama. mereka membahas segala problematika agama dan keummatan dengan argumentasi, bukan emosi. Perbedaan pendapat (ikhtilaf) itu boleh, berpecah belah (iftiroq) itu yang tidak boleh.

Dengan segala penghormatan & rasa cinta saya kepada saudara-saudara Nahdhiyyin (NU), dalam tulisan/artikel yang pertama telah saya sebutkan pendapat kami tentang tahlilan (kenduri kematian). Pendapat kami adalah tetap pada prinsip bahwa tahlilan adalah perkara yang baru dalam agama (alias muhdats). Artinya, TAHLILAN itu adalah ritual keagamaan yang tidak di contohkan oleh baginda Rasulullah dan tak pula di praktekkan oleh seorang pun diantara Khalifah yang empat sesudah-Nya (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali Karramallahu Wujuuhahum). ini prinsip yang kami pegang. untuk di Indonesia, prinsip ini pun di wakili oleh Ormas Muhammadiyyah, Persis, Al-Irsyad, Dewan Dakwah, Hidayatullah, dan Wahdah Islamiyyah. Alasan utama kami untuk menolak ACARA KENDURI KEMATIAN (tahlilan) sebagai suatu yang di syari'atkan itu telah kami kemukakan dengan gamblang dalam tulisan pertama. Diantara argumentasi yang kami uraikan adalah:

1=> Allah berfirman:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
“Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”.
(QS. An-Najm ayat 39)

2=> Pendapat para Ulama Syafi'iyyah dalam Kitab I’anatu Thalibin yang dinukilkan oleh Imam An-Nawawi bahwa kumpul-kumpul di rumah orang mati/kenduri adalah BID’AH YANG MUNKAR atau MINIMAL MAKRUH.

3=> Kata Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm pada juz 1, yang artinya:
“...dan aku membenci al-ma'tam, yaitu kumpul-kumpul dirumah keluarga mayat walaupun tanpa tangisan, karena hal tersebut hanya akan menimbulkan bertambahnya kesedihan dan membutuhkan biaya, padahal beban kesedihan masih melekat”.

4=> Muktamar NU ke-1 di Surabaya tanggal 13 Rabiuts Tsani 1345 H/21 Oktober 1926 mencantumkan pendapat Ibnu Hajar al-Haitami dan merujuk juga kepada Kitab I’anatut Thalibin dengan menyatakan bahwa selamatan kematian/tahlilan adalah bid'ah yang dibenci.

Namun, kami tidak bisa menolak fakta lapangan dimana praktek Tahlilan ini telah menjadi sebuah tradisi (kebiasaan) di tengah keumuman masyarakat kita yang juga perlu kita sikapi dengan kepala dingin, lapang dada, dan membangun komunikasi yang baik pada masyarakat. sehingga tidak menimbulkan kesalahfahaman dan percikan-percikan yang sesungguhnya tidak kita harapkan. Termasuk sikap sebagian saudara-saudara kita yang juga GAMPANG menyesat-nyesatkan orang dan mudah memberi cap jelek terhadap saudaranya yang berlainan pendapat. nah, gesekan-gesekan semacam ini juga sebaiknya kita bendung bersama guna membangun kehidupan bermasyarakat yang damai, sejuk, dan penuh rahmat.

TAHLILAN. sebuah kata yang telah mendarah daging ditengah masyarakat melayu (indonesia dan malaysia). terlebih lagi di tanah jawa. ini sudah lazim sebagai sebuah adat. di satu sisi, kita harus menerima bahwa praktek ini tidak pernah di laksanakan di masa Nabi dan tidak ada anjuran dari beliau. Sementara Allah mengatakan dalam Al-Qur’an:

لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة
“Telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik”.
(Saya lupa surat apa ayat berapa, maaf jika tidak saya cantumkan. Karena saya nulis ini langsung di ketik di HP tanpa melihat mushaf Al-Qur’an).

Lalu kanjeng Nabi bersabda:
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan dalam agama/praktek peribadatan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu TERTOLAK!”.

Di sisi lain, praktek tahlilan ini sudah menjadi al-‘adah (kebiasaan) di tengah masyarakat yang jika kita tentang maka justru menimbulkan keributan atau madhorot. betapapun yang namanya adat boleh di praktekkan selama ia tidak bertentangan sengan syari'at islam.

Muncul pertanyaan, apakah TAHLILAN (KENDURI KEMATIAN) itu merupakan ‘adat yang bertentangan dengan syariat islam (Al-Qur’an & As-Sunnah) ?? Ini letak masalahnya. Disinilah pokok perdebatan panjang diantara para alim ulama kita. 😊

KITA tidak bisa menutup mata dari fakta sejarah. Asal mula islam tersebar di nusantara adalah di tanah jawa. lewat perantara 9 wali, atau yang kita kenal dengan sebutan WALI SONGO. anda percaya atau tidak percaya, ini adalah sejarah yang ada. Masalah valid atau tidaknya ke-otentikan eksistensi wali songo, itu hak setiap orang untuk membangun persepi dan penelitian. Setidaknya, ketika Islam datang ke tanah jawa ini, pasti menghadapi kuatnya adat istiadat yang telah mengakar. Masuk Islam tapi harus kehilangan selamatan-selamatan (tahlilan-kendurian).

Dalam sebuah buku yang pernah saya baca, di kalangan para wali songo ini pun terjadi perbedaan pendapat tentang acara selametan-selametan ini (tahlilan). Sunan Ampel pernah memperingatkan Sunan Kalijaga yang masih melestarikan acara selamatan/tahlilan tersebut. Kata Sunan ampel, “Jangan ditiru perbuatan semacam itu karena termasuk bid'ah”. Lalu Sunan Kalijogo menjawab, “Biarlah nanti ketika Islam telah tertanam di hati masyarakat, generasi setelah kita yang akan menghilangkan budaya tahlilan itu”.

Dalam buku berjudul “Kisah dan Ajaran Wali Songo” yang ditulis H. Lawrens Rasyidi juga mengupas panjang lebar mengenai masalah ini. Dimana Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Gunungjati dan Sunan Muria (kaum abangan) BERBEDA PANDANGAN MENGENAI ADAT ISTIADAT dengan Sunan Ampel, Sunan Giri dan Sunan Drajat (kaum putihan). Sunan Kalijaga mengusulkan agar adat istiadat lama seperti selamatan, tahlilan, bersaji (sesajian), wayang, dan gamelan dimasuki rasa keislaman.

Sunan Ampel berpandangan lain. Kata beliau, “Apakah tidak mengkhawatirkan di kemudian hari bahwa adat istiadat dan upacara lama itu nanti dianggap sebagai ajaran yang berasal dari agama Islam? Jika hal ini dibiarkan nantinya akan menjadi bid’ah?” Sunan kudus menjawabnya bahwa ia mempunyai keyakinan bahwa di belakang hari akan ada yang menyempurnakannya.

UNTUK kita ketahui, bahwa dalam penyebaran agama Islam di pulau jawa, para Wali dibagi menjadi tiga wilayah sasaran (timur, tengah, dan barat). Dan pembagian wilayah tersebut berdasarkan objek dakwah yang dipengaruhi oleh agama yang dianut oleh masyarakat pada saat itu, yaitu Hindu dan Budha. Dua Pendekatan dakwah para wali yaitu: Pendekatan Sosial Budaya & Pendekatan aqidah Salaf.

Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Gunung Jati dan terutama Sunan Giri berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikan ajaran Islam secara murni, baik tentang aqidah maupun ibadah. Dan mereka menghindarkan diri dari bentuk singkretisme ajaran Hindu dan Budha. Tetapi sebaliknya Sunan Kudus, Sunan Muria dan Sunan Kalijaga mencoba menerima sisa-sisa ajaran Hindu dan Budha di dalam menyampaikan ajaran Islam. Sampai saat ini budaya itu masih ada di masyarakat kita, seperti sekatenan, ruwatan, shalawatan, tahlilan, upacara tujuh bulanan, dll.

Pendekatan Sosial budaya dipelopori oleh Sunan Kalijaga, putra Tumenggung Wilwatika, Adipati Majapahit Tuban. Pendekatan sosial budaya yang dilakukan oleh aliran Tuban memang cukup efektif, misalnya Sunan Kalijaga menggunakan wayang kulit untuk menarik masyarakat jawa yang waktu itu sangat menyenangi wayang kulit.

Nah, jika kita menarik benang merahnya, saya menyimpulkan bahwa acara kenduri kematian (tahlilan) ini memang identik dengan budaya atau tradisi masyarakat tertentu yang kemudian dijadikan uslub/sarana oleh para Wali itu untuk menyebarkan ajaran islam.

Nah, konsep dasar dari kedua belah pihak yang MEMPERDEBATKAN HUKUM TAHLILAN ini adalah terletak pada pemahaman mereka dalam memahami hadits:

كل بدعة ضلالة
“Setiap bid’ah adalah sesat!”

من سن في الإسلام سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها إلى يوم القيامة....
“Barangsiapa yang mencontohkan suatu sunnah atau memulai perbuatan yang baik dalam Islam maka ia mendapat pahala sekaligus pahala orang lain yang mengamalkannya sampai hari kiamat”.

Nah, disinilah AKAR perbedaan pendapat antara yang pro tahlilan dan yang kontra tahlilan. Sehingga konsep dasarnya ada pada BID’AH HASANAH. Menerima bid'ah hasanah atau tidak. Itu akar masalahnya!. Jika masalah BID'AH HASANAH ini selesai, maka selesai perdebatan. Umumnya kalangan yang mengingkari tahlilan berdalil dengan hadits pertama (Setiap bid’ah pasti sesat, karena arti Kullu adalah keseluruhan). Sedangkan fihak yang menetapkan tahlilan umumnya berdalil dengan Hadits kedua (bahwa bid’ah itu ada yang hasanah/baik, dan arti kata-kata “kullu” dalam hadits kedua itu tidak berarti “keseluruhan” tapi bermakna “sebagian” jika ditinjau secara ilmu nahwu/gramatika bahasa arab). Jadi, yang diperdebatkan itu di akarnya. kalau akarnya ketemu, maka yang cabang akan ngikut semua.

Nah, sekarang kita bahas isi dari acara kendurian/tahlilan itu. Secara umum, isinya adalah:
Mengirim doa dan pahala bacaan Al-Qur’an (Yasin misalnya) untuk arwah yang meninggal. Nah, ini terjadi perbedaan pendapat dikalangan para Ulama sebagaimana yang sudah saya jelaskan pada tulisan pertama. Syafi'iyyah berpendapat bahwa hadiah pahala bacaan Al-Quran kepada arwah tidaklah sampai. Sedangkan Hanabilah (ulama mazhab hanbali) semisal Ibnu Qudamah, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, dan bahkan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal sendiri menyatakan SAMPAI.

NAH, sampai pada perkara yang diperselisihkan Ulama ini, kami membuka diri untuk berlapang dada dalam menerima perbedaan pendapat. Sehingga SOLUSI dari kami (demi tercapainya persatuan dan kehidupan yang penuh rahmat), maka bagi yang ingin tetap melaksanakan acara tahlilan silahkan. itu hak setiap individu muslim yang tidak boleh di diskrimninasi apalagi di sesat-sesatkan atau di vonis sesat.

NAMUN, mengamati realita masyarakat kita dimasa kini yang menjadi bahan sorotan kami sehingga kami dengan segala hormat tidak bisa menerima praktek tahlilan yang dilakukan oleh umumnya kaum muslimin dewasa ini adalah:

1=> Hampir di setiap tempat termasuk di pelosok desa, tahlilan ini dianggap sebagai suatu yang “wajib”. Opini yang terlanjur berkembang di masyarakat kita bahwa jika ada orang meninggal tidak di tahlilkan berarti tidak afdhol. bahkan orang yang tidak melakukan ritual tahlilan, di anggap “wahabi” dan di kucilkan. Padahal, Imam Syafi’i meninggal tidak pernah di tahlilkan. ini fakta sejarah kehidupan Imam Syafi'i yang sudah menjadi konsumsi publik. Jangankan Imam Syafi’i, sepanjang sepengetahuan kami, sejumlah tokoh bangsa ini juga meninggal tidak di tahlilkan. Imam Bonjol tidak di tahlilkan, KH.Ahmad Dahlan tidak di tahlilkan, Buya Hamka tidak di tahlilkan, Prof.Dr.Hashbi As-Siddiqy tidak di tahlilkan, A. Hassan tidak di tahlilkan, Buya Muhammad Natsir (pendiri Masyumi) juga meninggal tidak di tahlilkan.

2=> Orang yang tidak melakukan tahlilan di kucilkan, contohnya dengan perkataan “Kamu kok tidak mentahlilkan saudaramu yang meninggal?? seperti nguburin kucing!”
Padahal, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah kehilangan banyak saudara, karib kerabat, dan juga para sahabat beliau yang meninggal di masa kehidupan beliau. Anak-anak beliau (Ruqoyyah, Ummu Kaltsum, Zainab, dan Ibrahim) meninggal semasa hidup beliau, akan tetapi tak seorangpun dari mereka yang ditahlilkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Apakah semuanya dikuburkan oleh Nabi seperti menguburkan kucing??

Istri beliau yang sangat beliau cintai Khodijah Radhiyallahu 'anhaa juga meninggal di masa hidup beliau, akan tetapi sama sekali tidak beliau tahlilkan. Jangankan hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, dan ke-1000, bahkan sehari saja tidak beliau tahlilkan. Ini fakta sejarah....😊

3=> Dimasyarakat kita (khususnya di kampung saya medan dan Langsa Aceh timur), bahkan menghadiahkan pahala bacaan Al-Quran itu dengan menyewa dan membayar orang untuk membacakan Al-Qur'an di sisi kuburan sang mayat selama sekian hari dan sekian hari (tergantung permintaan). ini jelas kemungkaran.

4=> Sekali lagi, kami tidak menganggap saudara-saudara kami yang menggelar acara tahlilan sebagai Ahli Bid'ah, musuh agama, calon neraka, tidak...demi Allah tidak. Tidak sama sekali ! Berulang-ulang kami katakan bahwa apapun dan bagaimanapun anda, anda adalah saudara kami seiman. Ketika kami inginkan Surga, maka anda pun berhak untuk mennggapai Surga.

Tapi hal yang kami ingkari lainnya dari acara tahlilan atau kendurian ditengah masyarakat kita adalah, di masyarakat sudah menjadi sebuah kebiasaan bahwa acara tahlilan ini harus di laksanakan karena sudah mengakar sebagai adat, sampai-sampai orang-orang miskin pun harus BERHUTANG untuk supaya bisa mengadakan acara tahlilan. Padahal perintah Nabi kepada para sahabat adalah membuatkan dan membawakan makanan untuk keluarga Ja'far yang sedang tertimpa musibah kematian. Bukan justru keluarga mayit yang membuatkan dan mengeluarkan makanan untuk para penta’ziah. Ini jelas sudah terbalik. Adapun katanya keluarga mayit mau sedekah lagi, itu hanya alasan saja. Singkat kata, ngeles.!

5=> Dalam hadits yang sudah kita ketahui bersama bahwa Rasulullah melarang keras “An-Niyahah”, yaitu meratap.
Sedangkan ada riwayat dari Thalhah, bahwa Jarir mendatangi Umar bin Khathab. Umar berkata, “Apakah kalian suka meratapi mayat (niyahah)? Jarir menjawab, “Tidak!”, Umar berkata, “Apakah di antara wanita-wanita kalian suka berkumpul di rumah keluarga mayit dan memakan hidangannya?” Jarir menjawab: “Ya!”.
Umar berkata, “Hal itu sama dengan meratap/niyahah!”.

TERAKHIR sebagai penutup, kami berikan sebuah catatan penting yang perlu kita renungkan. Termasuk dalam kategori hukum yang manakah Tahlilan (selamatan Kematian) ini?
Klasifikasi hukum dalam Islam secara umum ada 5 (lima):
1. Wajib : Apabila dikerjakan berpahala, ditinggalkan berdosa.
2. Sunnah/Mandub : Apabila dikerjakan berpahala, ditinggalkan tidak apa-apa.
3. Mubah : Tidak bernilai, dikerjakan atau tidak dikerjakan tidak mempunyai nilai. meskipun tidak berdosa, tapi tidak bernilai. singkat kata, ya sia-sia.
4. Makruh : Dibenci. apabila dikerjakan dibenci, apabila ditinggalkan berpahala.
5. Haram : Dikerjakan berdosa, ditinggalkan berpahala.

Pertanyaannya adalah:
1. Apakah Tahlilan (selamatan Kematian) di dalamnya terkandung ibadah ?
2. Termasuk dalam hukum yang mana Tahlilan tersebut ?
Jawabannya :
1. Karena didalamnya ada pembacaan do'a, baca Yasin, baca sholawat, baca Al Fatihah, maka ia termasuk ibadah. Sedangkan dalam kaeda=> hukum asal ibadah adalah "haram" dan "terlarang" sampai ada dalil yang mensyariatkannya. Kalau Allah dan Rasulullah tidak memerintahkan, maka siapa yang memerintahkan ? Apakah yang memerintahkan lebih hebat daripada Allah dan Rasulullah? Ini kalau anda anggap Tahlilan itu sebagai suatu ibadah....😊

2. Jika hukumnya "wajib", maka bila dikerjakan berpahala, bila tidak dikerjakan maka berdosa. Maka bagi negara lain yang penduduknya beragama Islam, terhukumi berdosa karena tidak mengerjakan. Ternyata, tahlilan hanya di lakukan di sebagian negara di Asia Tenggara (khususnya indonesia & malaysia). sedangkan umumnya negeri-negeri islam (timur tengah) faktanya tidak melakukan.
Wajibkah Tahlilan ? Ternyata tidak, karena tidak ada perintah Allah dan Rasul untuk melakukan ritual tahlilan.

Sunnahkah Tahlilan ? Ternyata ia bukan sunnah Rasul, sebab Rasulullah sendiri belum pernah mentahlilkan istri beliau, anak beliau dan para syuhada.
Nah…..berarti hukumnya bukan Wajib, juga bukan Sunnah.

Kalau seandainya hukumnya Mubah, maka untuk apa dikerjakan, sebab ia tidak mempunyai nilai (tidak ada pahala dan dosa, kalau dikerjakan atau ditinggalkan). Sudah buang-buang uang dan buang-buang tenaga, tetapi tidak ada nilainya. Logis kan?

Jadi, tinggal 2 (dua) hukum yang tersisa, yaitu Makruh dan Haram. Makruh apabila dikerjakan dibenci, apabila ditinggalkan berpahala. Haram : Dikerjakan berdosa, ditinggalkan berpahala.
Jadi….sekarang pilih yang mana ? Masih mau melakukan atau tidak itu kembali kepada masing-masing fihak dan tidak perlu saling menjitak. 😊

Catatannya, siapapun anda, anda adalah saudara kami seiman. kami tak setuju acara tahlilan, tapi kami juga tak setuju segelintir orang yang gampang menyesat-nyesatkan.
Semoga Allah mempertemukan kita di Surga-Nya.
Wallahu A’lam.
[ Pustaka At-Thuwailibi Channel ]