Hot!

Pendapat Kami Tentang Tahlilan dan Kenduri Kematian - Bag. 1



Oleh: Maaher At-Thuwailibi

Sameeh.net - Polemik tentang tahlilan memang merupakan suatu hal yang cukup fenomenal. sampai-sampai masalah tahlilan ini sempat di perdebatkan secara terbuka oleh dua tokoh islam ternama; Dr. Firanda Andirja,Lc.MA (kalangan yang contra) VS KH.Muhammad Idrus Romli (kalangan yang pro). Kalau di tanah kelahiran saya (medan), kami orang melayu menyebutnya dengan istilah “kenduri”. sebagian orang menyebutnya “kenduri arwah”. sebagian yang lain menyebutnya “kirim do’a”. Yang tidak bisa di pungkiri ialah bahwa tahlilan ini sudah menjadi tradisi yang mendarah daging dikalangan kaum tua (NU ataupun Al-Washliyyah). bentuknya, dengan kumpul-kumpul di rumah duka/ahlul bait yang di tinggal mati, lalu membaca wirid-wirid berupa ayat-ayat al-qur'an, yasin fadhilah, tahlil, tahmid, do’a dan sholawat, lalu pahala bacaan wirid-wirid ini di niatkan untuk sang arwah; di kirimkan kepada orang yang meninggal_di lakukan pada hari ke 3, 7, dan 40 dari kematian.

Begini, ini hanya pendapat. Sekali lagi, hanya pandangan pribadi. sebagai upaya membuka ruang dialog yang sehat, ilmiah, argumentatif, dan penuh cinta antar sesama muslim. Anda boleh terima, dan boleh juga tidak. saya hanya berpendapat dan anda berhak untuk tidak setuju dengan pendapat saya. Karena apapun dan bagaimanapun anda, anda adalah saudara saya 😊

Menurut saya begini, tahlilan memang BID’AH. dalam artian bahwa tahlilan merupakan sebuah ritual keagamaan baru yang tidak pernah di praktekkan oleh baginda Nabi yang mulia dan tidak pula mewarnai budaya kaum Salaf terdahulu. anda terima atau tidak, ini fakta sejarah.! Tidak ada satu pun riwayat atau hadits atau atsar sahabat (baik yang shahih bahkan yang dha’if sekalipun) dalam kitab-kitab klasik yang menyebutkan bahwa RASULULLAH MATI DI TAHLILKAN OELH PARA SAHABATNYA/KELUARGANYA atau RASULULLAH MEMIMPIN ACARA TAHLILAN. TIDAK ADA! Suka atau tidak suka, ini harus kita terima. Karena faktanya demikian.

Singkatnya begini, di akui atau tidak tahlilan adalah satu ritual yang mengandung nilai-nilai ibadah yang memang tidak pernah di contohkan oleh Nabi dan para sahabatnya. sebelum kita bahas lebih lanjut, prinsip ini pegang dulu. karena dalam kaedah disebutkan, “Lau Kaana Khairan Lasabaquuna Ilaih” (andai perbuatan itu baik, tentu Nabi dan para Sahabat sudah mendahulu kita melakukannya).
“Berarti anda wahabi dong ?”
Oh tidak. Saya bukan Wahabi. Saya Maaher At-Thuwailibi 😊

Logika sederhananya begini, jika anda menganggap saya “wahabi” karena saya tidak setuju dengan Tahlilan, apakah berarti Imam Syafi’i juga “wahabi”? karena pada kenyataannya Imam Syafi’i tidak mempraktekkan yang namanya acara tahlilan, bahkan imam syafi'i sendiri saat meninggal dunia tidak di tahlilkan oleh keluarganya dan tidak pula oleh para pengikutnya. meskipun ada riwayat dari Imam An-Nawawi bahwa Imam Syafi’i menganggap baik mengkhatamkan al-qur’an lalu menghadiahkan pahalanya ke orang mati. Tetapi, Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menukilkan qaul (statement) Imam Syafi’i bahwa pahala bacaan al-qur’an yang dikirimkan kepada orang mati tidaklah sampai. Bahkan dalam kitab hasyiah i’anatu tholibin disebutkan bahwa menurut Ulama Syafi’iyyah kumpul-kumpul di rumah orang mati adalah BID’AH YANG MUNGKAR. Tentunya, di zaman Imam Syafi’i belum ada “wahabi”. 😊

Tapi setidaknya, ini bid'ah yang juga perselisihkan sehingga tidak perlu di ributkan apalagi sampai gontot-gontotan. saudara-saudara kita yang setuju dengan tahlilan diantara alasannya adalah pendapat Imam Ahmad Bin Hanbal dan Ibnu Taimiyyah bahwa mengirim pahala bacaan Al-Qur’an kepada orang mati, SAMPAI. Lalu pendapat ini kemudian di ikuti oleh Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dan beliau jelaskan dalam kitab Ar-Ruuh. Demikian pula sebuah qaul (pernyataan) Ulama tabi’in bernama Imam Atho’ yang diriwayatkan imam ahmad bin hanbal dalam kitabnya az-zuhud bahwa ia menganjurkan melakukan shodaqoh dan kirim do’a kepada orang mati pada hari ke 3, 7 dan hari ke 40 dari kematian.

KESIMPULANNYA, kami pribadi tidak setuju dengan tahlilan. tapi apa mau di kata, sebagai mukmin sejati kita tetap harus berlapang dada menyikapi perbedaan. Artinya begini, tidak setuju dengan tahlilan, itu hak kami. Tapi gampang menyesat-nyesatkan orang, ini bukan adab islami.

Solusi dari kami pribadi begini: bagi yang hendak melakukan Tahlilan, maka Nabi dan para sahabat-Nya lebih layak jadi teladan. Bagi yang tidak setuju tahlilan, silahkan; tapi tahan lisan untuk tidak gampang menyesat-nyesatkan. Bila hal ini terwujud dalam kehidupan, maka terwujudlah persatuan...
Begitu...
Wallahu A'lam.😊
[ Pustaka At-Thuwailibi Channel ]

Sambung ke Bagian ke 2 >> Klik <<