Hot!

Masjid Al-Izzah Krueng Mane, Benarkah Masjid Wahabi?


Sameeh.net - Melihat sejarah Aceh yang begitu kental dengan nuansa islam. Tak heran jika Aceh mendapat julukan Serambi Mekkah.

Perjuangan ulama dan rakyat Aceh dari dahulu, memberikan kontribusi yang begitu besar dalam menyebarluaskan sunnah di negeri rencong ini. Perjuangan mereka dalam menyelamatkan umat dari pemurtadan, perjudian dan berbagai kerusakan lainnya dapat kita rasakan hingga saat ini.

Namun, generasi setelah mereka telah mencoreng nama Serambi Mekkah itu sendiri. Bagaimana tidak! Kita lihat sekarang begitu banyak orang-orang terhasut dengan kedengkian yang diwarnai dengan kebencian, membuat umat Islam terpecah belah.

Dulu ulama kita sibuk mengislamkan masyarakat, namun kita sekarang sibuk mengkafirkan dan menyesatkan masyarakat.

Dulu ulama kita sibuk mengajak masyarakat untuk menjaga shalat berjamaah, namun kita sekarang sibuk mengusir masyarakat yang memakmurkan masjid.

Dulu ulama kita sibuk menghidupkan sunnah Nabi, namun kita sekarang sibuk menghacurkan sunnah.

Miris sekali. Teringat kejadian yang menimpa masjid Al-Izzah yang berada di Krueng Mane, membuat hati kita miris. Disaat anak-anak umat Islam disuriah dan palestina sibuk mempertahankan masjid yang menjadi tempat ibadah satu-satunya. Kita malah sibuk mempermasalah status sebuah masjid apakah Wahabi atau tidak.

Padahah jika dicermati permasalahannya sangat sepele. Hanya karena sebagaian masyarakat tidak melaksanakan maulid atau tidak mengangkat tongkat ketika khutbah, maka dengan serta merta sebagian orang menuduh masyarakat tersebut adalah Wahabi.

Sangat disayangkan memang. Khilafiyah dalam beberapa hal agama ini selalu dijadikan alasan oleh sebagian kelompok untuk menuduh orang tersebut wahabi atau tidak.

Mari kita perhatikan realita yang tejadi selama ini di Masjid Al-Izzah Krueng Mane.

Masjid Al-Izzah merupakan masjid yang digunakan masyarakat disana untuk hal-hal yang berhubungan dengan keagamaan. Bahkan pendidikan untuk mendidik kader-kader Rabbani pun lahir dari sana.

Selama perjalanan masjid tersebut, banyak pengajian yang diisi oleh Teungku-tengku, Ustadz-ustadz dengan membawa tema yang mencerahkan umat.

Belum pernah terdengar kajian yang mereka bawakan untuk mengajak umat dalam kesesatan. Kajian mereka selalu bertemakan keilmuan dan siraman rohani. Sehingga 'Alhamdulillah' masyarakat sekitar dapat merasakan dampak yang baik dalam hal ini.

Tuduhan bahwa kajian yang diselenggarakan untuk menyesatkan, membid'ah dan mengkafirkan sebuah masyarakat ini tidak bisa diterima. Karena kajian yang diberikan sangat jauh dari opini yang dikembangkan oleh orang-orang yang tidak suka jika sunnah itu tegak.

Mengkambing hitamkan Masjid Al-Izzah sebagai masjid Wahabi merupakan Fitnah terbesar dalam sejarah keislaman di Aceh. Apakah ini yang Islam harapkan kepada kita semua?

Orang-orang kafir Yahudi dan Nashrani akan bertepuk tangan dengan ria. Mereka akan mengatakan, "Lihat mereka umat Islam, sesama mereka sendiri saling jatuh-menjatuhkan. Bahkan keributan pun terjadi di Masjid."

Sudah saatnya kita semua untuk menghindari konflik yang terjadi. Jangan mudah terpancing dengan oknum-oknum yang mengatasnamakan diri Islam, tapi sejatinya dia merusakan islam itu sendiri dari dalam.

Ada seorang Syaikh dari Yaman mengatakan sebuah kalimat yang sangat indah. "Barangsiapa yang banyak ilmunya, niscaya sedikit keingkarannya." Wallahu'alam. (Ceo/Sameeh.net)