Hot!

Celana di Atas Mata Kaki, Antara Kesombongan dan Sunnah Nabi


Oleh: Maheer At-Thuwailibi

Sameeh.net - Bermula dari pertanyaan seorang pengusaha muslim di Grup whatsApp SUARA MANHAJ, ia bertanya:

"Ustadz apakah boleh kita memakai celana dibawah mata kaki (isbal) dengan niat tidak menyombongkan diri?"

Maka, untuk menjawab pertanyaan ini, saya sempatkan untuk menjelaskan secara rinci dalam kesempatan kali ini di tengah panas dan teriknya matahari dengan mengorbankan waktu istirahat dan tidur siang saya..  perhatikan penjelasan saya dengan seksama, semoga bermanfaat..

Isbal, artinya menjulurkan pakaian melebihi mata kaki. Sebuah polemik ilmiah yang sejak dahulu hingga sekarang sudah di perdebatkan oleh para Ulama. Satu perkara diantara perkara-perkara Syari'at yang tidak mencapai tingkatan ijma'. terima atau tidak, itu adalah fakta.!

Antum perhatikan, di dalam Kitab Shahih Muslim No 2086 di riwayatkan bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar Bin Khathab berkisah,

”Aku melewati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kain sarungku menjulur ke bawah melewati mata kaki, lalu Rasulullah bersabda kepadaku, “Wahai Abdullah, naikkan kain sarungmu.” Maka aku pun menaikannya.

Lalu Beliau bersabda lagi, “Tambahkan.”

Maka aku naikkan lagi dan aku senantiasa menjaganya setelah itu".

Kemudian, terdapat kisah terkenal dari Umar Bin Khathab Radhiyallahu’anhu yang di riwayatkan Imam Bukhari dalam Kitab Shahihnya dari sahabat 'amr bin maimun. Kisahnya begini:

[ Suatu hari ketika Sayyidina ‘Umar Bin Kharhab menjelang wafatnya saat di tikam oleh Abu Lu’lu’ah Al-Majusi, beliau sakit parah sampai tiga hari, lalu datanglah seorang tabib untuk memeriksa keadaan beliau, lalu sang tabib meminumkan secangkir susu ke mulut ‘Umar Bin Khathab Radhiyallahu’anhu, akan tetapi susu itu justru tumpah lewat luka tikaman si majusi Abu Lu’lu’ah itu. lalu sang tabib memprediksikan bahwa keadaan beliau sudah tidak lama lagi. sehingga datanglah kaum muslimin untuk menyalami ‘Umar Bin Khathab dan mengucapkan salam serta do’a untuk beliau. dan di antara orang-orang itu ada seorang pemuda yang datang mencium ‘Umar dan berkata,

“Bergembiralah wahai Amirul-Mukminin dengan kabar gembira dari Allah, karena menjadi sahabat Rasulullah dan jasa baikmu dalam Islam yang telah engkau ketahui. Kemudian engkau memegang kepemimpinan dan engkau berbuat adil serta meraih mati syahid”.

‘Umar berkomentar, ”Aku berharap itu cukup.Tidak menjadi bebanku atau menjadi milikku.”

Saat pemuda itu berbalik untuk keluar dan ‘Umar melihat pakaian pemuda itu melewati mata kaki, beliau pun dengan nada rendah dan sangat lemah menyuruh orang-orang yang di sekitarnya, ”Panggil kembali pemuda itu, panggil kembali pemuda itu”.

Ketika pemuda itu datang, maka ‘Umar langsung menasihati pemuda itu dengan berkata, ”Wahai pemuda, angkatlah pakaianmu. itu lebih dekat kepada Taqwa, mensucikan hatimu dan membersihkan pakaianmu”.

Lalu pemuda itu mengatakan, ”Jazaakallahu Khairan yaa Amiral-Mukminiin…”

-selesai-

Kisah ini terjadi saat ‘Umar Bin Khathab Radhiyallahu’anhu dalam keadaan sekarat setelah di tikam oleh seorang majusi bernama Fairuz Abu Lu’lu’ah.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Kitab Shahihnya di Bab Manaaqibush-Shahabah.

Thoyyib, sekarang kita bahas sedikit detail...,

Apakah isbal merupakan larangan Nabi ? Ya, sudah pasti. ! Akan tetapi, apakah larangan itu menunjukan keharaman ataukah sesuatu yang makruh (dibenci), itulah yang di perselisihkan dan di perdebatkan oleh para Ulama dari dulu sampai sekarang.

* Sebagian Ulama berpendapat tidak haram jika tidak sombong. Ini pendapat Imam Abu Hanifah, Imam Syafi'i, dan Imam An-Nawawi, Rahimahumullah.

Silahkan antum lihat dalam kitab aadabusy-Syar’iyyah, kitab Al-Majmuu’, dan Kitab Syarah Shahih Muslim.

* Sebagian Ulama lagi berpendapat Makruh, tidak sampai haram. tapi suatu hal yang dibenci. ini pendapat Imam Ibnu Qudamah dan Imam Ibnu Abdil Barr, Rahimahumallah.

Silahkan antum baca kitab Al-Mughni dan Kitab At-Tahmid.

* Sedangkan Ulama yang berpendapat bahwa Isbal adalah haram secara mutlaq -baik karena sombong maupun tidak sombong- diantaranya adalah Imam Ibnul 'Arabi, Imam Al-Qarafi, dan Imam As-Shan'ani, Rahimahumullah.

Pengharaman dan penjelasan mereka bisa antum baca di Kitab Aridhatul-Ahwadzi dan Kitab Istifaa-ul Aqwal Fii Tahriimil-Isbali ‘Alarrijaal. Kitab ini yang sering di jadikan rujukan oleh keumuman du'at Salafiyyun.

* Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berpendapat tidak haram isbal, bahkan BOLEH asal tidak sombong. Silahkan antum baca kitab Syarhul 'Umdah di halaman 361.

Intinya, Isbal adalah masalah yang sejak lama di khilafkan (perselisihkan) oleh para Ulama terdahulu. Dan ini sysah tentu diketahui oleh mereka-mereka yang berpengalaman menyelami lautan fiqih.

Ulama Salaf (terdahulu) telah berbeda pendapat dalam masalah isbal (yakni memanjangkan pakaian sampai menutupi mata kaki). Namun perselisihan pendapat di sini terletak pada apakah orang yang isbal itu disertai rasa sombong ataukah tidak, adapun jika disertai sombong, maka ulama sepakat atas keharamannya.

Pebdapat yang saya ikuti, isbal adalah HARAM secara mutlaq. Baik itu karena sombong atau bukan karena sombong. Baik didalam shalat ataupun di luar shalat. dan ini adalah pendapat yang mendekati kebenaran dan menjaga kehati-hatian. dan jujur saya sendiri mengenakan pakaian tidak isbal. Saya berupaya menjaganya untuk tetap di atas mata kaki guna meneladani baginda Nabi.

Hanya saja, pertanyaan saya adalah:

Kalau Isbal walaupun tidak sombong itu haram dan masuk neraka, maka bagaimana dengan orang yang TIDAK ISBAL, KAINNYA DI ATAS MATA KAKI, CINGKRANG, TAPI SOMBONG ?? ini gimana hukumnya ??

Dia tidak isbal, celana atau gamisnya tidak melebihi mata kaki, tapi DIA PUNYA SIFAT SOMBONG, ANGKUH, UJUB, BANGGA DIRI, MERASA PALING BENAR, DAN MERASA PALING MASUK SURGA, MEREMEHKAN ORANG LAIN, DAN SUKA MENOLAK KEBENARAN YANG DATANG BUKAN DARI KELOMPOKNYA. Ini gimana?

Sedangkan Nabi mengatakan, "Sombong itu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain".

Kata Nabi, "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada seberat biji sawi rasa sombong".

Dengan demikian, celana cingkrang pun tidak serta merta menyelamatkan seorang hamba dari API NERAKA. Masih terkait dengan akhlaq dan amalan hati. Sebagaimana kata Nabi, "At-Taqwa hahuna..." (Taqwa itu ada di hati).

Nasehat saya untuk diri sendiri dan sahabat-sahabat sekalian, mari hiasi diri kita dengan taqwa dan akhlaq yang mulia. sekali lagi, ini nasehat buat sahabat-sahabat sekalian terutama diri saya sendiri; mari hiasi diri kita dengan taqwa dan akhlaq yang mulia, bukan semata-mata merasa bangga dengan pakaian yang sudah di yakini menyelamatkan diri dari api neraka. Sifat ujub yang menjamur didalam hati pun -disadari atau tidak- akan menggiring jasad ini ke lembah kehinaan dan panasnya api neraka meski celana kita tidak isbal (alias diatas mata kaki)

Akhi, jadilah aset ummat yang melalui wasilahmu ummat menjadi sadar akan pentingnya mengamalkan Sunnah. Namun jangan pernah merasa paling benar dan memonopoli kunci syurga seolah-olah hanyalah milikmu dan kelompokmu sendiri.

Ingatlah talbis iblis yang masuk dikalangan para pencari ilmu adalah merasa paling benar dan yang lain salah, sesat, dan bid'ah. Jangan cuman merasa pemersatu ummat sementara ummat merasa jauh dari kita.

Tanpa disadari sikap seperti itu justru memunculkan HIZBIYYAH GAYA BARU bernama ashobiyah jahiliyah. Wal-'Iyaadzubillah.

Allahu A'lam.

✒_____
Maaher At-Thuwailibi.