Hot!

Bagaimana Hukum Jual Beli Kredit?


Oleh: Ust AMDK

Sameeh.net - Jual beli taqsith (kredit), yaitu seseorang membeli barang tertentu untuk ia manfaatkan,  kemudian ia bersepakat dengan penjual bahwa ia akan melunasi pembayarannya dengan cara dicicil/dikredit dalam jangka beberapa waktu.

Jual beli ini termasuk jual beli yang ditunda pembayarannya sampai batas waktu yang telah ditentukan.

Para Ulama menyebutkan beberapa point penting yang berkenaan dengan jual beli ini,  yaitu sebagai berikut :

1. Dalam jual beli ini penjual tidak diperbolehkan membuat kesepakatan tertulis didalam akad dengan pembeli bahwa ia berhak mendapat tambahan harga yang terpisah dari harga barang yang ada, dimana harga tambahan itu akan berkaitan erat dengan waktu pembayaran, baik tambahan harga itu sudah disepakati oleh kedua belah pihak ataupun tambahan itu ia kaitkan dengan aturan main jual beli saat ini yang mengharuskan adanya tambahan harga.

2. Apabila orang yang berhutang (pembeli) terlambat membayar cicilan dari waktu yg telah ditentukan, maka tidak boleh mengharuskannya untuk membayar tambahan dari hutang yang sudah ada, baik dengan syarat yg sudah ada ataupun tanpa syarat, karena hal itu termasuk riba yang diharamkan.

3. Penjual tidak berhak menarik kepemilikan barang dari tangan pembeli setelah terjadi jual beli, namun penjual dibolehkan memberi syarat kepada pembeli untuk menggadaikan barang kepadanya untuk menjamin haknya dalam melunasi cicilan-cicilan yang tertunda.

4. Boleh memberi tambahan harga pada barang yang pembayarannya ditunda dari barang yg dibayar secara langsung (cash). Demikian pula boleh menyebutkan harga barang jika dibayar kontan dan jika dibayar dengan cara diangsur dalam waktu yang sudah diketahui. Dan tidak sah jual beli ini kecuali jika kedua belah pihak sudah memberi pilihan dengan memilih yang kontan atau kredit.

5. Diharamkan bagi orang yang berhutang untuk menunda-nunda kewajibannya membayar cicilan, walaupun demikian syari'at tidak membolehkan si penjual untuk memberi syarat kepada pembeli agar membayar ganti rugi jika ia terlambat menunaikan kewajibannya (pembayaran cicilan).

Dinukil dari kitab Jual Beli yang dibolehkan & yang dilarang, karya Syaikh 'Isa bin Ibrahim ad Duwaisy, Pembahasan 4 Jual beli Taqsith (kredit), hal.22-24

Sssttt, jangan lihat kanan kiri depan belakang atas bawah, hayya bina !!!

Ayyuhal muslimun !
Bertakwalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Dan bersyukurlah kepada-Nya yang telah menunjukkan Anda kepada agama Islam dan memberi Anda anugerah yang melimpah.

Ibadallah! 
Islam datang sebagai agama yang sempurna dan aturan yang lengkap. Islam datang untuk memperbaiki negara dan manusia. Islam telah menyiapkan sistem yang mengatur segala urusan dunia dan akhirat yang meliputi apa yang akan terjadi sesudah mati. Islam sangat peduli terhadap upaya pelurusan akidah dan ibadah, serta perbaikan akhlak dan muamalah. Semua aturan yang membawa kebaikan bagi individu maupun masyarakat, bagaimanapun bentuknya telah dibawa dan dianjurkan oleh Islam. Islam memberikan porsi yang seimbang antara dunia ruhani dan dunia materi dalam sebuah paduan yang sangat unik dan bangunan kokoh yang belum pernah disaksikan sebelumnya oleh manusia sepanjang sejarah. Salah satu sistem penting adalah aspek ekonomi di dalam kehidupan individu dan umat. Karena aspek ini sangat penting di dalam hidup manusia dan realitas sehari-hari mereka. Terutama menyangkut hubungan timbal-balik mereka dalam masalah harta benda.

Ikhwatal Islam ! 
Agama Islam membangun aturan ekonominya berlandaskan iman dan berasaskan akidah. Yaitu bahwa Allah Subhanahu Wata’ala adalah pencipta alam semesta dan satu-satunya pemilik kerajaan ini. Dialah yang berhak menciptakan dan memerintahkan. Dan Dialah yang berhak membuat keputusan hukum dan menetapkan undang-undang. Seluruh harta yang ada sesungguhnya adalah milik Allah yang dikuasakan-Nya kepada umat manusia untuk melihat apa yang mereka perbuat. Dia juga memberi mereka beragam rezeki, penghasilan makanan sebagai ujian dan cobaan, untuk melihat kesungguhan mereka dalam memperlakukannya. Dia juga mengizinkan mereka melakukan transaksi jual beli dan berdagang agar urusan mereka di dunia ini menjadi teratur, sesuai dengan ketentuan, kebijaksanaan, dan kasih sayang-Nya.

Islam memerintahkan umatnya agar menjalankan hal-hal tersebut menurut aturan yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dan dijalankan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Hal ini dalam rangka menjaga prinsip-prinsip keimanan, norma-norma akhlak, dan kaidah-kaidah muamalah yang syar’i.

Ya Ikhwafillah !
Pemerintah kita, Ulama kita berusaha semaksimal mungkin untuk bisa membantu kaum muslimin dalam menjalankan aturan Allah untuk bisa mengamalkan Islam secara kaffah..
salah satunya muamalah jual beli.....

Saat ini banyak Kaum Muslimin berbicara Syariah namun yg diinginkan dunia sehingga siap memakan bangkai Saudaranya sendiri..
Nauuzubillah min zhalik....

Astaghfirullah, tobat.......

Alhamdulillah...
Masih ada sisa umur kita untuk memperbaiki diri....

Berbaiksangka selalu kepada Allah atas kejadian yg tidak menyenangkan diri kita...
Kembalikan semua kepada Allah....
Yakinlah itu kebaikan yg tidak kita ketahui, Allah maha tahu apa ya kita kerjakan...

Jual beli kredit di Indonesia dikenal oleh masyarakat dan yg dipahami adalah dengan akad Murabahah yg dilakukan oleh Perbankan Syariah....dengan menggunakan dasar hukum UU No.21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah..
karena bab umumnya Perbankan Syariah harus menggunakan prinsip Syariat Islam..
begitu fatwa DSN MUI No.04 tahun 2000 tentang Murabahah...

Subhanallah...
Pemerintah kita mengakomodir kepentingan kaum Muslimin, sayangnya ada sebagian kecil ustad mengkritisi Perbankan Syariah dari praktisi bukan dari hukum yg digunakan Perbankan Syariahnya dan mempublikasi ke tengah Masyarakat, sehingga masyarakatnya bingung,....
mana yg diikuti...
Astaghfirullah...
kenapa nggak diberi uzur dulu ?
kenapa nggak tabayyun dulu ?
kenapa dapat info langsung menyampaikan ke masyarakat bukan mendatangi MUI, padahal ini membuat keresahan, siapa yg diikuti

Nasehat hari ini :
Ya Ikhwafillah...dan
Para Ustad, kyai , Tuan guru, dan alim ulama :

1. Bila kami Prakitisi Perbankan Syariah ada yg kurang benar menjalankan transaksi secara Syariah, tegor dan nasehati serta berikan solusinya kaitkan dengan ayat Al Qur'an au Hadits dan yg dipahami oleh para Sahabat serta juga dengan UU dan Fatwa di Indonesia..
kami takut azab Allah...

2. Ingatkan kami bagaimana seorang praktisi Perbankan Syariah itu harus berbuat..dan harapan kami yg paling utama ingatkan dengan Takut azab Allah..

3. Ingatkan kami juga agar tidak melakukan kebohongan,  manusia bisa dibohongi dengan bahasa yg seolah benar namun yg diingini kebatilan, itu akan terlihat dari transaksi yg diamalkan..

Berita gembira untuk Masyarakat utamanya para
Ustad, Pak Kyai, Tuan Guru, dan para alim Ulama, tokoh Masyarakat bahwa :

Subhanallahnya UU no.21 tahun 2008 telah memberikan pengaman untuk masyarakat bila Praktisinya nggak mau diingatkan dalam aturan syariat itu akan diberi sanksi oleh BI yg saat ini sudah diganti OJK ini tertulis pasal pasal 56 dan bentuk sanksinya di pasal 58..
Allahu Akbar 3x...

Untuk itu...
Diingatkan kpd sebagian kecil ustad yg menyatakan bank syariah nggak mungkin beli barang ini...

Sungguh pernyataan aneh, ..
karena ini sudah di jelaskan pada UU No.21 tahun 2008 pasal 19 point 1 ayat i...
dan juga pada
Fatwa DSN MUI No.04 th 2000 tentang Murabahah pada Pasal Pertama point 4..

Bank itu harus membeli terlebih dahulu baru menjual...
Allahu Akbar 3 x..

mudah2an Subhat ini bisa hilang kpd para Ustad yg menyampaikan ke masyarakat atas dasar info katanya... atau dari praktisi perbankan Syariah yg belum paham ataupun belum tahu atas UU dan Fatwa, apalagi Al Qur'an wa Sunnah yg dipahami oleh para Sahabat...

Semoga kita dipertemukan Allah di jannah, aamiin

Akhirnya sisa umur ini terus diberikan keistiqomahan mudah menjalankan perintah Allah dan perintah RasulNya, serta ringan meninggalkan semua larangan Allah dan Rasulnya, dan tetap mengingatkan, menyampaikan atau mendakwahkan :

"STBK - AKBS - IHBTR"

*AMDK Al JAMBI - BNIS*