Hot!

Anda Ingin Kaya? Jangan 'Menimbun'


Sameeh.net - Menimbun adalah perbuatan curang pebisnis dungu. Dengan melakukan bisnis ikhtikar seperti ini, ia berarti telah membuang jaminan rizki Allah Ta’ala secara suka rela. Rasulullah Saw telah menyatakan dalam sabdanya, “Barangsiapa yang benar-benar menimbun dengan tujuan menghalalkan harga kepada kaum muslimin, ia berdosa besar dan telah membuang jaminan Allah serta Rasul-Nya.” (HR. Ahmad dan Hakim).

Menimbun yaitu akal-akalan untuk memborong sebuah produk sehingga menyebabkan barang menjadi langka. Kemudian dijual kembali dengan harga mahal agar memperoleh keuntungan yang berlipat. Sehingga harga terdorong dan melambung pada level yang tidak masuk akal. Dan praktek ini sudah banyak terjadi di masyarakat kita.

Ada sebuah kisah menarik yang perlu kita jadikan pelajaran bersama ternyara bisnis dengan cara menimbun bukan malah membuat kita kaya, tetapi justru malah menyebabkan kefakiran dan kecelakaan. Diriwayatkan oleh Imam Ashbahani, bahwa sekelompok orang melemparkan makanan ke depan pintu masjid. Keluarlah Khalifah Umar bin Khattab dan bertanya, “Makanan apakah ini?” Orang-orang menjawab, “Makanan ini sengaja telah kami sita” Sebagian orang memberitahu Amirul Mukminin, bahwa makan ini telah ditimbun. Umar bin Khattab bertanya, “Siapakah yang menimbun?” “Pelakunya adalah Farukh dan Si Fulan bekas pembantu Anda,” jawab mereka.

Khalifah Umar mengirim utusan kepada Farukh dan si Fulan. Keduanya disuruh mengahadap Khalifah Umar. Setelah berhadapan, Umar bertanya, “Apa yang memotivasi kalian untuk melakukan penimbunan barang terhadap kaum Muslimin?” keduanya menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, kami hanya menjual barang-barang kami.” Umar berkata, “Aku telah mendengar bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, “Barangsiapa yang menimbun makanan pokok kaum Muslimin, maka Allah akan menjadikan kepadanya kekacauan dan kemiskinan.”

Mendengar perkataan Khalifah, Farukh berkata, “Wahai Amirul Mukminin, saya berjanji kepada Allah dan di hadapan Anda, saya tidak akan menimbun lagi untuk selama-lamanya.” Setelah peristiwa itu, Farukh kemudian pindah berbisnis ke negeri Mesir. Berbeda dengan Farukh, Fulan tidak merasa bersalah atas perbuatannya menimbun barang. Ia tetap bersikukuh, “Saya hanya menjual barang-barang saya.”

Tak lama setelah itu, seorang pedagang bernama Abu Yahya pernah bertemu dengan Fulan. Abu Yahya bercerita, bisnis si Fulan jatuh bangkrut dan entah mengalami kecelakaan yang mengerikan apa, kepala si Fulan pecah menjadi dua.

Itulah beberapa contoh bisni yang tidak memakai koridor kejujuran. Biasanya orang yang bebisnis tanpa memakai “pakaian” kejujuran ini sangat cepat memperoleh laba dan keuntungan yang banyak. Padahal jika kita ketahui bahwa hal itu petanda dari awal kebangkrutan bisnis yang sedang dia jalani. Wallahu’alam.

Intisari dari buku “10 Langkah Menjadi Muslim Kaya”, Karya A.Zacky El-Shafa, Penerbit Imperium.
(Haikal/Sameeh.net)