Hot!

Palestina Merdeka, Negara Arab Tenang?


Sameeh.net - Kekuatan kolonialisme di abad 19 lalu tidak salah ketika menanam entitas zionis di jantung kawasan Arab. Sejak itu, entitas zionis berperan secara spontanitas menghalangi setiap kebangkitan dan kemajuan yang bisa diperhitungkan di kancah dunia internasional.

Kekuatan kolonialis itu juga bekerja memecah belah bangsa Arab menjadi negara-negara kecil sehingga mereka tidak memiliki peran bersatu secara resmi. Meski di awal bangsa Arab menolak pemecahan dalam peta dunia ini, namun dalam perkembangannya mereka menerimanya sebagai “realita” akhir sejarah. Sebagian negara itu masih ada yang berjuang, berperang dan berdamai. Meski sudah puluhan tahun, tak ada satupun negara Arab yang bisa maju dan menjadi pemimpin atau menjadi negara yang dihormati.

Ketika meletus revolusi Arab, kita menjadi tahu ternyata negara-negara Arab adalah negara ringkih dan sangat mudah terbelah, mudah terinfiltrasi dan tidak memiliki ketahanan, rentan instabilitas dan sulit tumbuh.

Situasi chaos di kawasan Arab saat ini adalah akibat natural dari situasi yang tidak natural sehingga mereka terbelah kemudian ditanamkan di sana entitas asing (Israel) dengan sponsor dunia internasional. Tugas entitas zionis ini adalah mencegah tercapainya kemajuan negara-negara ini. Tugas negara-negara besar dunia itu adalah menjaga dan melindungi entitas tersebut dan menjamin tak ada kekuatan rakyat atau lainnya yang bisa mengubah perimbangan kekuatan tersebut.

Perimbangan kekuatan Israel dengan dukungan dunia ini agaknya diterapkan sejak akhir perang dunia I, namun tidak bisa memberikan keamanan yang semestinya kepada negara Israel. Karena itu, mereka membuat peta baru yang diterapkan di kawasan. Inilah yang ditulis oleh Ralph Peters dalam bukunya “Perbatasan Darah”. Dalam bukunya ditegaskan, penyebab persoalan di kawasan adalah persoalan perbatasan yang belum dibuat dan belum dipecah-pecah berdasarkan prinsip sekte dan etnis sehingga menciptakan instabilitas. Karena itu, kawasan harus dibagi kembali sesuai dengan prinsip dasar etnis sekte (kelompok) sehingga ada eksistensi negara Yahudi yang bertetangga dengan negara Maronite (Kristen Libanon), Alawi dan Syiah.

Peta Ralph Peters bukan satu-satunya yang ditawarkan. Masih ada sejumlah “peta”  lain yang ditawarkan. Tidak harus yang merancang peta ini memiliki kemampuan merealisasikannya dengan cara akurat. Siapapun tidak akan repot untuk memahami bahwa tema utama dari gagasan itu adalah “pemecah belahan”.

Yang hilang dari pemikiran para pemuda-pemuda Arab kali ini bukan hanya hilangnya persoalan Palestina dari sebagai persoalan inti, namun yang paling inti adalah hilangnya kesadaran tentang tabiat konflik di kawasan. Meski harus disadari bahwa para pemimpin negara-negara Arab (sebagian besarnya) ikut menjadi alat kepentingan Israel.

Ilusi bila Arab ingin mendirikan negara nasional demokrasi kuat tanpa berbenturan dengan Israel. Ilusi pula bila ingin membebaskan Palestina tanpa berbenturan dengan rezim korup dan dictator di negerinya. Pertempuran ini hanya satu. Tak akan ada pembebasan tanpa negara kuat dan tak ada negara kuat tanpa pembebasan.

Warga Mesir, Irak, Suriah, Yaman harus sadar tidak akan maju tanpa membebaskan Palestina. Di kawasan Arab tidak akan ada negara kuat dan sejahtera kecuali Israel harus dijadikan puing-puing saja.

Kita tak cukup hanya dengan jargon “Palestina sebagai persoalan mendasar”, sebab masing-masing negara Arab sedang kelelahan dalam bancana yang dialaminya. Harus ada proyek “peta baru” di kawasan sebelum digilas oleh peta baru seperti yang pernah diterapkan pasca perang dunia pertama. (Ali Bagdadi/Infopalestina.com)