Hot!

Amerika Serikat Akui Penyiksaan, Pembunuhan Warga Eropa oleh Assad


Sameeh.net - Sesudah ratusan ribu warga Suriah disiksa dan dibunuh dalam empat tahun kezaliman rezim Bashar al-Assad, Amerika Serikat angkat suara dan menyatakan adanya sepuluh (10) warga Eropa yang disiksa dan dibunuh dalam penjara rezim. Wartawan Josh Rogin dari kantor berita Bloomberg (joshrogin@bloomberg.net) melaporkan pengakuan ini dalam artikelnya U.S. Says Europeans Tortured by Assad’s Death Machine pada 14 Desember 2014. Berikut cuplikan laporan tersebut:

Stephen Rapp, Duta Besar Umum untuk Kejahatan Perang dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, dalam sebuah wawancara dengan Josh Roggin, menyatakan bahwa telah terjadi penyiksaan dan pembunuhan terhadap 10 Warga Negara Eropa saat menjadi tahanan di penjara rezim Suriah. Bukti-bukti tentang kematian mereka dapat digunakan oleh negara-negara di Eropa untuk menuntut Bashar al-Assad dengan tuduhan kejahatan perang. 

Pernyataan tersebut didasarkan pada analisis lengkap badan intelijen Amerika FBI atas 27.000 foto yang berhasil diselundupkan keluar Suriah oleh mantan fotografer militer rezim yang menggunakan nama samaran “Caesar.” Foto-foto itu menunjukkan bukti penyiksaan dan pembunuhan terhadap lebih dari 11.000 warga sipil yang ditahan di penjara rezim Assad. FBI menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk meneliti foto-foto itu dan membandingkannya dengan foto-foto warga berbagai negara yg didapatkan dari database konsulat. 

Bulan lalu, dalam laporannya kepada Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, FBI menyatakan telah melakukan pencocokan (matching) foto-foto itu dengan data sejumlah orang yang ada dalam berkas pemerintah, dan menemukan bukti dibunuh dan disiksanya sejumlah warga Eropa.

Bukti-bukti tersebut penting bagi gerakan masyarakat internasional untuk menuntut Assad atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Walaupun tampaknya berbagai organisasi multilateral seperti PBB atau Pengadilan Pidana Internasional tak akan menangani kasus Assad dalam waktu dekat ini – karena pembelaan sekutu-sekutu Assad di dalam organisasi-organisasi tersebut – tapi tuntutan hukum terhadap Assad dapat dilakukan tiap negara yang memiliki bukti bahwa warganya disiksa dan dibunuh rezim Assad.

Rapp menolak menyebutkan negara Eropa mana yang warganya ditemukan dalam berkas Caesar, tetapi mengakui adanya kemungkinan akan lebih banyak lagi warga Eropa yang teridentifikasi seiring dengan dengan berlanjutnya analisis terhadap foto-foto tersebut. Upaya-upaya negara-negara Eropa untuk mulai mengajukan tuntutan hukum terhadap Assad dan kakitangannya pun mungkin akan mengalami kemajuan. 

Masih Ada 150 Ribu Warga Sipil Ditawan, Disiksa Assad

Dalam kesaksiannya di hadapan Kongres AS, Caesar mengingatkan, masih ada lebih dari 150.000 warga sipil yang ditahan di dalam penjara Assad dan menghadapi nasib serupa dengan para korban kekejaman dalam foto-foto Caesar.

Caesar menyatakan (kepada Josh Rogin), penyiksaan pada warga sipil yang ditahan dalam penjara Assad masih terus berlangsung sampai sekarang, lebih dari satu tahun setelah dirinya berhasil melarikan diri. 


“Saya meminta presiden Amerika Serikat untuk mencegah terulangnya nasib korban-korban yang saya foto ini terhadap lebih dari 150 ribu orang yang masih dalam penjara Assad,” kata Caesar. “Berdasarkan informasi yang masih saya terima dari dalam Suriah, saya dapat mengatakan pada pemerintah Amerika Serikat bahwa rezim Assad masih terus mempraktikkan cara-cara pembunuhan yang sama.”


Caesar adalah fotografer polisi militer dalam angkatan perang Suriah yang pada tahun 2011 ditugasi mendokumentasikan kematian warga yang ditahan rezim Assad. Caesar memotret ribuan jenazah yang mati sesudah disiksa dengan cara luar biasa kejam. 


Karena mencemaskan keselamatan nyawanya, pada tahun 2013 dia melarikan diri dari Suriah dengan membawa 52 ribu foto penyiksaan dan pembunuhan terhadap warga sipil dalam sebatang USB. Foto-foto tersebut menunjukkan bukti penyiksaan dan pembunuhan lebih dari 11.000 warga sipil di Damaskus di dalam tahanan Assad dari tahun 2011 s.d. 2013.


Setelah melarikan diri ke Turki dengan bantuan beberapa anggota oposisi di Suriah, Caesar membuat perjanjian dengan pemerintah Amerika Serikat untuk menyerahkan 27.000 foto. Ia juga memberikan sebagian lagi foto kepada sebuah negara Eropa yang tidak disebutkan namanya demi alasan keamanan. Ia kemudian ditempatkan di sebuah negara di Eropa dan diberikan sedikit tunjangan hidup. 

5.400 Foto Cocok

Dengan bantuan Departemen Luar Negeri, FBI menemukan adanya 5.400 foto yang cocok dengan data dalam berkas pemerintah Amerika Serikat. Rapp menyebutkan, mungkin lebih banyak lagi foto yang bisa dicocokkan dengan data yang ada, namun kesulitan yang mereka hadapi adalah karena tak adanya informasi pribadi para korban yang mengiringi foto-foto jenazah itu. Selain itu, banyak di antara jenazah itu difoto dalam keadaan sudah termutilasi.

“Kalau saja kita punya foto lain dari seseorang, atau identitasnya, atau informasi lain – dan bukannya harus mencocok foto kepala sesosok mayat dengan sebuah foto lama – mungkin kita bahkan bisa menemukan kecocokan yang tak terdeteksi oleh komputer,” kata Rapp.

FBI sudah menyatakan, mereka belum menemukan bukti bahwa foto-foto tersebut dimanipulasi (ed.: retouching, editing). (Ini pernyataan penting karena sejumlah pembela rezim Assad mengklaim bahwa foto-foto Caesar itu palsu.)

Perlu analisis lebih lanjut sebelum semua foto tersebut dapat diidentifikasi, demikian FBI. Dinyatakan pula oleh FBI: “Menggunakan teknik-teknik yang ada, FBI berusaha mencocokkan individu dalam foto dengan foto-foto dari individu lain yang diketahui identitasnya. Kami menemukan sejumlah kecocokan (matches antara foto dan data), tetapi tak cukup kuat untuk identifikasi (identitas korban) dengan meyakinkan. Melihat tingginya prioritas penyelidikan ini, FBI bekerja dengan para ahli dari beberapa pemerintahan dan organisasi-organisasi swasta sebagai usaha untuk mengembangkan kemampuan forensik baru yang dapat memberikan hasil yang meyakinkan.”

FBI pun meminta agar Caesar dan timnya menyerahkan sisa dari 52.000 foto dan metadata yang ada. Walaupun tim Caesar sejauh ini telah bekerjasama dengan pemerintahan Amerika Serikat, mereka menolak menyerahkan sisa foto yang ada karena mereka ingin FBI lebih dahulu menerbitkan laporan yang menyatakan tegas bahwa foto-foto itu asli dan otentik.

Amerika Serikat Lamban

Caesar dan timnya sendiri sudah menganalisis dan mengumumkan sebagian foto itu kepada umum. Namun kekurangan dana dan dukungan internasional menghambat upaya mereka. The New York Times melaporkan bahwa berbulan-bulan setelah Caesar muncul di Washington dan bertemu para pejabat tinggi White House, hampir tak ada tanggapan terhadap berkas dan bukti yang dibawa Caesar. Tim pengacara yang mendampingi Caesar beranggapan pemerintahan Obama terlalu lamban bertindak.

Toby Cadman, seorang pengacara dalam tim Caesar menyatakan, “Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dan FBI telah membantu banyak dalam proyek ini, dan untuk itu kami berterima kasih, tetapi, memang tampak ada penundaan cukup lama. Setiap harinya jumlah rakyat Suriah yang dibunuh oleh rezim Assad semakin bertambah, dan sangatlah penting untuk mengerjakan kasus yang terkuat bukti-buktinya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.” 

Caesar dan para pengacaranya sedang mempersiapkan laporan terhadap bukti-bukti yang ada dan berencana untuk membawa laporan tersebut ke negara-negara anggota PBB. Tim Caesar juga mencoba memulai penyelidikan-penyelidikan dalam tahap nasional di Amerika Serikat, Inggris dan Spanyol. 

Caesar sendiri hampir tak punya uang, tak mampu mencari kerja di negara barunya. Perjalanannya ke negara-negara asing untuk membicarakan bukti-bukti yang dia miliki telah didanai oleh teman-teman dan pendukungnya. “Saya, seperti juga rakyat Suriah yang lain, adalah pengungsi perang. Situasi saya lebih baik dari mereka yang menderita di dalam Suriah,” kata Caesar. 

Janji Amerika

Rapp berjanji Departemen Luar Negeri Amerika Serikat akan terus mengusahakan pembuktian dan pembeberan semua data Caesar demi menuntut Assad dan para pejabatnya.

Rapp berkata, “Kita tidak akan membiarkan kasus ini hilang begitu saja. Kami berharap Caesar berhasil menemukan bantuan, pekerjaan, dan cara-cara lain untuk membantu dirinya dimanapun dia berada. Caesar sekarang aman dan dia akan memiliki hidup baru. Anak-anak dan cucu-cucunya seharusnya bangga padanya.” 

Dua Kubu

Dalam laporannnya, Josh Rogin menyatakan pemerintahan Amerika Serikat saat ini terpecah menjadi dua kubu: mereka yang ingin Assad tersingkir, dan mereka yang menganggap Assad masih dibutuhkan untuk mengakhiri perang saudara ini dan menjaga agar kaum ‘ekstrimis Islam’ tidak berkuasa di Suriah. 

“Bukti-bukti yang dimiliki Caesar menghadapkan (kubu) mereka yang ingin mempertahankan Assad pada (kenyataan) mahalnya harga yang harus dibayar atas sikap dan ambisi mereka, yaitu kematian warga-warga tak berdosa.”

“Pertanyaannya sekarang adalah, apakah Barat akan melakukan tindakan untuk menghentikan terbunuhnya ribuan tahanan Assad. Dan saat ini, para pemerintah di Eropa pun harus menghadapi kenyataan bahwa warga negara mereka adalah di antara tahanan Assad,” demikian Rogin.* (UI/Sahabat Suriah)