Hot!

Zikir Nyanyi-Nyanyi & Hadiah Pahala Surat Al-Fatihah Dalam Sorotan, Antara Teuku Wisnu Dan Ustadz Syafiq Reza Basalamah


Oleh: Abu Husein At-Thuwailbi

Sameeh.net - Belakangan ini, di tengah kontroversi mengenai seorang mantan artis terkenal bernama Teuku Wisnu yang disebut-sebut membid'ahkan amalan baca al-fatihah untuk orang meninggal, beredar pula di WhatsApp cuplikan video rekaman ceramah seorang Doktor alumni universitas islam madinah, sebut saja Ustadz DR.Syafiq Reza Basalamah. Da'i Salafi berdarah timur tengah yang pernah menulis buku berjudul "Berbekal Setengah Isi Setengah Kosong", yang kini aktif mengajar sebagai dosen di STDI Imam Syafi'i, jember.

Kami mendapatkan kiriman dari seorang anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait ceramah Ustadz Syafiq Basalamah ini. Yang mana dalam cuplikan video yang disebarluaskan itu, Doktor Syafiq Basalamah seolah-olah mengatakan bahwa zikir berjamaah setelah shalat itu seperti "nyanyi-nyanyi".

video berdurasi kurang lebih dua menit itu ternyata telah lama beredar di youtube dan bisa anda lihat disini:


Lalu, dengan video ini di bentuklah opini bahwa "wahabi sesat. gembong wahabi menghina zikir. Memfitnah ummat islam. Dst".

Tanggapan kami:

1. Video ini adalah hasil editan. Alias dipotong. Video rekaman ceramah sang ustadz yang demikian panjang sengaja di potong pada bagian yang dijadikan bahan untuk memfitnah pribadi Doktor Syafiq Basalamah dan tentunya untuk menciptakan opini buruk terhadap manhaj dakwah Salafiyyah ini yang ujung-ujungnya untuk memecah belah hati kaum muslimin. Dan kuat dugaan bahwa yang membuat video ini (video editan ini) adalah oknum Syi'ah. ia mengedit/memotongnya kemudian menyebarluaskannya guna mencari simpatik kaum NU yang umumnya mengamalkan zikir dengan suara keras ini lalu kemudian mengkambinghitamkan "wahabi", agar NU dan Salafiyyah saling caci maki. ini sudah menjadi trik basi dan lagu lama kaum neo-majusi itu. Hobi berdusta dan menghalalkan segala cara demi menghantam ahlus sunnah dan memecah belah barisan mereka. Untuk memperindah strategi licik itu, mereka gunakan topeng gaya baru, yaitu klaim "NU garis lurus" atau "Islam Nusantara".

Sebab, bila kita cermati isi ceramah sang ustadz secara keseluruhan dari awal sampai akhir (full), maka tidaklah demikian kesimpulan yang di maksud oleh sang Ustadz.

Sebaiknya saudara pembaca simak ceramah Ustadz Syafiq Basalamah itu secara keseluruhan, dan bisa anda simak disini:


2. Andaipun jika benar sang ustadz beranggapan demikian, yakni mengecam amalan zikir dengan suara keras setetalah shalat, maka hal itu tidaklah salah menurut kami. Sebab disana memang terdapat banyak dalil shahih yang menunjukkan akan hal itu. Diantaranya dalam Al-Qur'an surat Al-A'raf ayat 205 Allah berfirman,

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ...

“Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang.”

Kemudian dalam kitab Shahih Bukhari dan shahih muslim di sebutkan bahwa para sahabat pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan. Mereka mengeraskan suara mereka saat itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ أَرْبِعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ؛ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا وَإِنَّمَا تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا إنَّ الَّذِي تَدْعُونَهُ أَقْرَبُ إلَى أَحَدِكُمْ مِنْ عُنُقِ رَاحِلَتِهِ.

“Wahai sekalian manusia, lirihkanlah suara kalian. Kalian tidaklah berdo’a pada sesuatu yang tuli lagi ghoib (tidak ada). Yang kalian seru (yaitu Allah), Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Sungguh yang kalian seru itu lebih dekat pada salah seorang di antara kalian lebih dari leher tunggangannya.” Inilah yang disebutkan oleh para ulama ketika dalam hal shalat dan do’a, di mana mereka sepakat akan hal ini.

Nah, ini menunjukkan bahwa memang berzikir itu hendaknya dengan suara yang lirih (sirr), bukan dikeraskan. Sebab, dalam kitab Al-Umm, Imam Syafi’i sendiri pun berpendapat bahwa asal dzikir adalah dengan suara lirih (tidak dengan mengeraskannya kecuali untuk mengajarkan), beliau berdalil dengan ayat:

وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا...

“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula terlalu merendahkannya”

(QS. Al-Isro’ ayat 110)

Imam Syafi’i rahimahullah berkata tentang ayat tersebut:

“Janganlah menjaharkan, yaitu mengeraskan suara. Jangan pula terlalu merendahkan sehingga engkau tidak bisa mendengarnya sendiri.”

Nah, dengan demikian tidaklah keliru sang Ustadz bila menyelisi praktek sebagian orang yang berzikir fengan mengeraskan suara.

Hanya saja, menurut pendapat yang kami pegang adalah, bahwa berzikir dengan mengeraskan suara setelah shalat adalah SUNNAH SYAR'IYYAH. yakni Sunnah yang mendapat pahala. Bukan makruh dan bukan pula bid'ah. Karena didalam kitab shahih bukhari dan muslim disebutkan bahwa Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم. وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ

“Mengeraskan suara pada dzikir setelah shalat wajib telah ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Aku mengetahui bahwa shalat telah selesai dengan mendengar hal itu, yaitu jika aku mendengarnya.”

Dalam riwayat lainnya disebutkan,

كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِالتَّكْبِيرِ

“Kami dahulu mengetahui berakhirnya shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui suara takbir.”

Bukan hanya itu, bahkan dalam kitab Al-Muhalla, Imam Ibnu Hazm berkata,

ورفع الصوت بالتكبير إثر كل صلاة حسن

"Mengeraskan suara dengan bertakbir pada dzikir sesudah shalat adalah suatu amalan yang baik".

Nah, berdasarkan hadits dan riwayat ini, maka kami berpendapat bahwa di ANJURKAN mengeraskan suara pada dzikir setelah shalat.

Bahkan, Ulama Kibar Salafi di Arab Saudi, yakni Syaikh Shalih Fauzan Bin Abdillah Al-Fauzan pun menyatakan dengan tegas bahwa dzikir dengan suara keras setelah shalat adalah SUNNAH. silahkan anda dengarkan sendiri pernyataan Syaikh Shalih Fauzan disini:



Dengan demikian, dzikir setelah shalat dengan suara di jaharkan (dikeraskan) adalah SUNNAH SYAR'IYYAH.

Adapun mengenai zikir setelah shalat dengan cara berjama'ah dan di komandoi seorang imam, maka ini perlu penelitian yang mendalam dan kita hendaknya sama-sama belajar, mengkajinya secara jujur dan ilmiah. apabila ada dalil yang menetapkannya, maka kita amalkan dan tidak sepantasnya kita melarang orang beramal sesuai dalil. Demikian pula bila ternyata tidak ada dalil akan hal itu, maka sebaiknya kita tinggalkan, karena berdasarkan kaidah agama bahwa hukum asal ibadah adalah haram sampai adanya dalil yang mensyari'atkannya, dan kita tidak sepantasnya untuk memaksa orang mengamalkan sesuatu yang tidak ada dalilnya, wallahul musta'an.

Adapun hadits Rasulullah yang di riwayatkan Imam At-Thabrani dari Sahl bin Al-Hanzhaliyah, dimana Nabi bersabda:

"Tidaklah duduk suatu kaum pada suatu majlis, di mana mereka berzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla di tempat itu. Lalu (setelah selesai) mereka berdiri, melainkan dikatakan (oleh malaikat) kepada mereka: Berdirilah kalian, sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosa kalian dan keburukan-keburukan kalian pun telah diganti dengan berbagai kebaikan."

Maka, hadits ini bersifat umum. Tidak berbicara khusus untuk kondisi setelah shalat fadhu. Selebihnya Wallahu A'lam.

4. Andaipun kita menganggap bahwa Ustadz Dr.Syafiq Basalamah bersalah, maka menurut kami kesalahan beliau hanyalah pada perkataan "nyanyi-nyanyi" itu. Point ini yang kemungkinan dianggap sebagai penghinaan oleh sejumlah fihak. Adapun secara esensional maka tidaklah mengapa. Karena memang permasalahan ini merupakan khilaf mu'tabar (perselisihan pendapat yang cukup tajam) di kalangan para Ulama Ahlus Sunnah sejak dulu. Namun, setidaknya, kalaupun beliau menetapkan bahwa zikir setelah shalat itu secara lirih, sendiri-sendiri, dan tidak dengan cara berjama'ah, maka hendaknya tidak menyebutkan kalimat "nyanyi-nya" itu. Sebab ini bisa disalah fahami oleh orang yang mendengarkan ceramah sang ustadz dan menimbulkan fitnah dimana-mana.

Oleh karena itu, kita sebagai da'i hendaknya bersikap hati-hati dalam berucap dan berbuat, tidak berlebihan dan berupaya sebaik mungkin untuk mengedepankan sifat santun dalam dakwah dan muamalah. Karena diantara ciri da'i ideal itu adalah da'i yang mampu menyelaraskan ilmu dengan akhlaq-nya, wallahu a'lam. Ummat ini tidak butuh sindiran, tapi ummat ini butuh pendidikan. ummat ini tidak butuh cacian, tapi ummat ini butuh penjelasan dan kasih sayang.

Tentang Teuku Wisnu, dalam satu acara religi bertajuk "Berita Islam Masa Kini" di salah satu stasiun TV swasta, Saudara Teuku Wisnu bertindak sebagai host (pembawa acara) ditemani rekannya Zaskia Mecca. Singkat cerita, dalam satu komentar Zascia Mecca mengatakan bahwa beramal tanpa dalil dan contoh dari Nabi sama saja dengan perbuatan bid'ah. Lantas situs yang mengaku sebagai NU 'garis  lurus' menyoroti dan mengecam mereka. berbagai situs Syi'ah yang sok 'ke-NU-NU-an' pun tidak kalah latah ikut-ikutan mempubish berita ini dan menggodoknya menjadi isu terhangat di soial media. lagi-lagi, "wahabi" yang di jadikan kambing hitam. Basi !!

Bahkan tidak kalah lucu, menurut berita dari Republika.co.id bahwa Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat mengeluarkan sanksi administratif Teguran Tertulis (yang kedua kalinya) untuk program acara 'Berita Islami Masa Kini (Beriman)' yang dibawakan oleh Teuku Wisnu di Trans TV pada tgl 1 September 2015 pukul 17.01 WIB lalu. karena menurut KPI, program acara tersebut menyinggung soal amalan surat Al-Fatihah yang dianggap salah.

Mengapa kami katakan lucu ?

Ya, karena dalam tayangan itu yang mengatakan bid'ah bukanlah saudara Teuku Wisnu, tetapi justru Saudari Zascia Mecca. Namun kenapa panah kecaman dan meriam "wahabi" diarahkan kepada Saudara Teuku Wisnu !?? Ini tidak adil ! Bahkan faktanya melalui acara itu pula; baik Saudara Teuku Wisnu maupun Saudari Zascia Mecca telah meminta maaf kepada publik. Demikian pula melalui akun twitter miliknya. Namun berbagai celoteh para pendengki dan pembenci persatuan itu tak kunjung reda.

Bagaimana sebenarnya duduk persoalannya ? Mari kita bahas secara jujur, sportif, dan ilmiah.

Begini...

1. Memang benar bahwa didalam kitab Riyaadhus Shaalihin, Al-Imam An-Nawawi menukil perkataan Al-Imam Asy-Syafi'i:

ويُسْتَحَبُّ أن يُقرَأَ عِنْدَهُ شيءٌ مِنَ القُرآنِ، وَإن خَتَمُوا القُرآن عِنْدهُ كانَ حَسن.

"disukai membaca Al-Qur'an di sisi kubur dan jika sampai khatam maka itu lebih bagus".

Namun, Syaikh Al-Albani Rahimahullah meragukan pernyataan ini, apakah ini benar-benar shahih perkataan Imam Syafi'i ataukah bukan (meskipun perkataan ini dinukil Imam An-Nawawi), sebab dalam mazhab Syafi'i yang masyhur (yakni pendapat yang populer) justru tidak sampai bacaan Al-Quran untuk orang mati.

Namun, dalam kitab Al-Qira'ah 'Indal Qubuur, yang disusun oleh Imam Abu Bakar Al-Khalal disebutkan bahwa Al Hasan bin Ash-Shabaah Az-Za'farani berkata: Aku bertanya kepada Imam Syafi'i tentang membaca Al-Qur'an di sisi kubur, Beliau menjawab: "tidak apa-apa".

2. Dalam kitab Syarah Muntaha Al-Iradaat, Imam Al-Bahuti menukil perkataan Imam Ahmad Bin Hanbal:

الْمَيِّتُ يَصِلُ إلَيْهِ كُلُّ شَيْءٍ مِنْ الْخَيْرِ مِنْ صَدَقَةٍ أَوْ صَلَاةٍ أَوْ غَيْرِهِ لِلْأَخْبَار.

"Segala bentuk amal shalih dapat sampai kepada mayit baik berupa doa, sedekah, dan amal shalih lainnya, karena adanya riwayat tentang itu".

3. Dalam kitab Al-Mughni, Imam Ibnu Qudamah mengatakan, diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal bahwa beliau berkata: “Jika kalian memasuki kuburan maka bacalah ayat kursi tiga kali, qul huwallahu ahad, kemudian katakan: Allahumma inna fadhlahu li Ahlil Maqabir.”

4. Dalam Kitabnya Majmu'ul Fatawa, Al-Imam Ibnu Taimiyyah ditanya tentang membaca Al Quran yang dilakukan keluarga; apakah sampai kepada mayit? Begitu juga tasbih, tahmid, takbir, jika dihadiahkan olehnya untuk mayit , sampaikah pahalanya kepadanya atau tidak?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjawab:

“Pahala bacaan Al-Qur'an keluarganya itu sampai kepada mayit, dan tasbih mereka, takbir, serta semua bentuk dzikir mereka kepada Allah Ta’ala jika dia hadiahkan kepada mayit, maka sampai kepadanya, wallahu A’lam”.

Tentang Tahlilan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah di tanya tentang seorang laki-laki yang mengingkari orang yang berdzikir, dan berkata kepada mereka: “Dzikir kalian ini bid’ah, mengeraskan suaranya juga bid’ah, memulai dan menutupnya dengan membaca Al Quran, kemudian mereka mendoakan kaum muslimin baik masih hidup atau yang sudah wafat, mereka berkumpul untuk bertasbih, bertahmid, tahlil,  takbir, hawqalah (ucapan laa hawla walaa quwwata ..dst), dan bershalawat kepada nabi?”

Beliau menjawab:

الِاجْتِمَاعُ لِذِكْرِ اللهِ وَاسْتِمَاعِ كِتَابِهِ وَالدُّعَاءِ عَمَلٌ صَالِحٌ وَهُوَ مِنْ أَفْضَلِ الْقُرُبَاتِ وَالْعِبَادَاتِ فِي الْأَوْقَاتِ فَفِي الصَّحِيحِ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ : ( إنَّ للهِ مَلَائِكَةً سَيَّاحِينَ فِي الْأَرْضِ فَإِذَا مَرُّوا بِقَوْمِ يَذْكُرُونَ اللهَ تَنَادَوْا هَلُمُّوا إلَى حَاجَتِكُمْ ) وَذَكَرَ الْحَدِيثَ وَفِيهِ ( وَجَدْنَاهُمْ يُسَبِّحُونَك وَيَحْمَدُونَك )…

وَأَمَّا مُحَافَظَةُ الْإِنْسَانِ عَلَى أَوْرَادٍ لَهُ مِنْ الصَّلَاةِ أَوْ الْقِرَاءَةِ أَوْ الذِّكْرِ أَوْ الدُّعَاءِ طَرَفَيْ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنْ اللَّيْلِ وَغَيْرُ ذَلِكَ : فَهَذَا سُنَّةُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِ اللهِ قَدِيمًا وَحَدِيثًا.

“Berkumpul untuk berdzikir kepada Allah, mendengarkan Al-Qur'an, dan berdoa, merupakan amal shalih. Itu termasuk qurbah (yakni pendekatan diri kepada Allah) dan ibadah yang paling utama dilakukan di berbagai waktu.

Terdapat dalam kitab Shahih dari Nabi ﷺ bahwa Beliau bersabda: “Sesungguhnya para malaikat berkeliling di muka bumi, jika mereka melewati kaum yang sedang berdzikir kepada Allah mereka memanggil: “Mari sini ambillah kebutuhan kalian.”

Thoyyib, berdasarkan penjelasan para Ulama ini, maka tidak layak bagi kita untuk melarang orang mengadiahkan bacaan Al-Qur'an (baik itu surat al-fatihah atau yang lainnya) kepada orang yang sudah meninggal. Sebab para Ulama telah menjelaskan akan di Sunnahkannya berdasarkan riwayat-riwayat yang shahih.

Akan tetapi, anda juga tidak perlu marah atau "kebakaran kumis" bila ada yang menganggap bahwa hal itu terlarang. Karena hal itu memang tidak pernah di amalkan oleh Rasulullah sekalipun sampai beliau wafat.

1. Tidak ada satupun riwayat yang menerangkan bahwa kalau para sahabat meninggal Rasulullah membacakan Surat Al-Fatihah kepada mayit para sahabat, atau membacakan surat Yasin. Tidak ada. Tidak ada sama sekali.

Memang ada Hadits yang diriwayatkan ma'qil bin yasar yang berbunyi:

اقرؤو سورة يس على موتاكم

"Bacakanlah surat yasin untuk orang yang meninggal diantara kalian".

Tapi hadits ini dha'if (lemah), dan sanadnya mudhthorib (yakni goncang). Karena ada dua orang rawi yang dianggap majhul didalamnya.

Demikian pula hadits:

الفاتحة لما قرأت لها

"Al-Fatihah itu tergantung untuk apa ia dibaca".

Hadits ini maudhu' (palsu).

Ini yang pertama..

2. Yang kedua, perhatikan:

Terlepas dari apakah ini pendapat mu'tazilah atau bukan, yang pasti dalam Al-Qur'an surat An-Najm ayat 38-39 Allah berfirman,

وان ليس الانسان الا ما سعى

"Seorang manusia tidak akan memperoleh (kebaikan) kecuali apa yang telah ia usahakan”.

Menafsirkan ayat ini, Al-Imam Ibnu Katsir berkata:

"Yaitu, sebagaimana seseorang tidak akan memikul dosa orang lain demikian juga seorang tidak akan memperoleh ganjaran (pahala) kecuali apa-apa yang telah ia usahakan untuk dirinya sendiri".

Ini artinya, membacakan Ayat Al-Qur'an (baik surat al-fatihah atau bukan) untuk dihadiahkan pahala bacaannya kepada mayit TIDAKLAH SAMPAI. (menurut Imam Ibnu Katsir, ulama bermazhab Syafi'i).

Selain itu, dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Janganlah kamu jadikan rumah-rumah kamu itu sebagai kuburan. Karena sesungguhnya setan itu lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah”

Nah, menurut Syaikh Abu Unaisah Abdul Hakim, hadits ini memberikan pelajaran bahwa:

[1]. Rumah yang tidak dikerjakan ibadah di dalamnya seperti shalat sunat dan tilawah (membaca) Al-Qur’an, Nabi samakan dengan kuburan.

[2]. Mafhumnya (yang dapat dipahami), bahwa kuburan bukan tempat membaca Al-Qur’an apalagi meng-khatamkannya…?

[3]. Sekali lagi kita memahami dari sunnah nabawiah bahwa Qur’an bukanlah bacaan untuk orang-orang yang telah mati. Kalau Qur’an itu boleh dibacakan untuk orang-orang yang telah mati tentulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyamakan rumah yang di dalamnya tidak dibacakan Qur’an dengan kuburan! Dan tentulah Nabi yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan bersabda : “Jadikanlah rumah-rumah kamu seperti kuburan !!”.

Nah, dari sini kami meyakini pendapat yang benar adalah bahwa PAHALA BACAAN AYAT AL-QUR'AN (baik itu surat al-fatihah, surat yasin, atau yang lainnya) TIDAKLAH SAMPAI KEPADA MAYAT. karena Al-Qur'an di turunkan untuk orang hidup, bukan untuk orang mati. Namun, bukan berarti membacakan al-qur'an untuk orang mati lantas haram. Tidak....!

Orang yang membaca Al-Qur'an maka pahalanya untuk dirinya, bukan untuk orang mati atau orang selainnya. Ini pendapat yang kami yakini, wal 'ilmu 'indallah.

Akan tetapi, kalau ada orang yang mengatakan bahwa membacakan Al-Qur'an untuk mayat adalah BID'AH secara mutlaq dan tidak dinukil dari seorangpun diantara sahabat bahwa mereka pernah mengirim bacaan Qur’an kepada orang-orang yang telah mati. Maka ini juga SALAH ! Karena pada kenyataannya sebagian sahabat Rasulullah pun pernah membaca Al-Qu'ran buat orang meninggal -terlepas dari sampai tidaknya pahala bacaan itu-.

Dalam kitab Al-Qira'ah 'indal Qubuur karya Imam Abu Bakar Al-Khallal, dari Asy-Sya'bi, dia berkata:

"Para sahabat anshar jika ada yang wafat, maka mereka (kaum anshar) berkumpul di kubur tersebut dan mereka membaca Al-Qur'an.

Demikian pula dalam sejumlah kitab, seperti:

- Syarhul Kabir,

- Al-Mughni,

- Ar-Ruh, dll , tentang riwayat Ibnu Umar yang minta dibacakan awal surat Al-Baqarah dan akhir Surat Al-Baqarah.

Dengan demikian, anda tidak perlu kebakaran kumis bila ada yang mengingkari amalan membaca al-qur'an untuk orang mati, sampai-sampai harus menguras energi lahir batin untuk mem-bully-nya atau memvonisnya 'sesat'.

Begitu pula anda juga tidak perlu 'sewot' dengan orang yang membaca Al-Qur'an untuk orang mati, apalagi sampai terlalu semangat memvonisnya bid'ah. Karena faktanya, hal itu diamalkan oleh sejumlah Sahabat Rasulullah berdasarkan sebagian riwayat. Intinya, ini masalah khilaf (perselisihan pendapat) yang tidak menyentuh masalah 'Aqidah (pokok agama). Masing-masing punya dalil dan berhak mengamalkan dalil yang di yakininya, sedangkan Allah yang maha benar.

Al-Akhir, mari bersikap dewasa, hentikan membahas berbagai perselisihan furu'iyyah, satukan hati dalam Sunnah Nabi, rapatkan barisan dan kedepankan persatuan, hadapi musuh bersama.