Hot!

Problematika Umat (Bagian 1)


Oleh: Drs. Saiful Bahri Hz

Sameeh.net – Jumlah umat Islam sekarang kurang lebih 1,5 milyar atau sepertiga penghuni bumi ini, tersebar di berbagai negara, baik di negera-negara Islam maupun non Islam. Namun sangat disayangkan jumlah yang begitu besar ini tidak dibarengi dengan kualitasnya. Hampir semua negara Islam bergantung pada negara barat, sehingga berdampak pada kurang pengaruhnya peranan kaum muslimin dalam kondisi politik dunia. Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi, umat Islam di berbagai negara hanya menjadi objek segala kepentingan barat, merekalah penentu segala kebijakan, baik dibidang politik, ekonomi, sosial, budaya, ilmu pengetahuan bahkan agama.

Perhatikan! Apa yang terjadi di negara-negara Islam saat ini, baik yang berada di asia maupun afrika. Umat Islam menjadi simbol keterbelakangan, kebodohan, kemiskinan, penderitaan, kebobrokan politik, peperangan, sumber konflik dan beragam simbol lainnya yang bersosiasi negatif.

Kenapa kondisi umat Islam ini begitu menderita, terjajah dan terhina bukankah agama Islam agama yang tinggi dan tiada yang lebih tinggi darinya. Mengapa kondisi umat seperti ini? Tulisan ini mencoba untuk menelurusi akar permasalannya.

Penulis melihat ada dua faktor yang menyebabkan kondisi umat seperti saat ini. Yang pertama faktor internal, di mana umat Islam sendiri yang menyebabkan kelemahannya. Yang kedua faktor eksternal, di mana pihak asing dalam hal ini barat yang telah membuat dan mengupayakan umat Islam dan hilangnya agama tauhid di muka bumi.

Faktor internal, Allah telah mengingatkan dalam al-Quran surah al-Afaal ayat 46: “Dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah sesungguhnya Allah bersama orang-orang sabar". Kemudian dalam surah ar-Rum ayat 32: “Yaitu orang yang memecah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan meresa bangga dengan apa yang ada pada diri mereka.”

Di dua ayat di atas Allah Ta’ala menyitir kelemahan umat akibat berbantah-bantahan dan pengelompok-pengelompokan. Memang berbantah-bantahan akibat pendapat-pendapat dalam menghadapi berbagai persoalan umat mau tidak mau harus kita akui merupakan salah satu faktor kelemahan umat. Ketidak sepahaman terhadap penanganan suatu masalah, seringakali menjadi hal yang memecah kekuatan umat. Biasanya orang-orang yang berbeda pendapat membuat kelompok-kelompok, jama’ah-jama’ah dan partai-partai sendiri, di mana satu dengan lainnya merasa bangga dengan kelompoknya dan kemudian menyerang dan menyudutkan kelompok yang lain. Sehingga nampaklah seperti sekarang ini, umat Islam tercerai berai dengan kepentingan masing-masing.

Perpecahan umat ini bisa kita saksikan di Irak dan negeri muslim lainnya, di saat Amerika dan sekutunya menyerang dan menghancurkan negara itu, di saat yang sama kelompok yang menamakan dirinya Sunni dan Syiah bentrok dan saling memerangi untuk merebut pengaruh di pemerintahan baru, mereka berperang dengan dalih kelompok mereka punya keutamaan khusus di hadapan Allah dan Rasul dibandingkan yang lainnya. Sehingga hasilnya seperti yang bisa kita saksikan bersama, Irak porak-panda, pembunuhan massal di mana-mana. Dan tidak ada satu kelompok pun yang diuntungkan kecuali Amerika dan sekutunya yang terbahak-bahak melihat tingkah laku masyarakat jajahannya.

Gerjala perpecahan umat akibat perbedaan pendapat dan kepentingan pun bisa kita rasakan di negeri kita ini. Beda mazhab, beda partai dan organisasi telah membelenggu saudara-saudara kita untuk kerjasama dalam membangun umat. Bahkan sebagiannya disibukkan dengan mencari aib kelompok yang lain, sebagian lagi disibukkan untuk menyerang dan menjatuhkan pendapat kelompok lain dan bahkan sebagian lagi menjadi “ahli-ahli sesat” dan “ahli-ahli bid’ah” yaitu orang-orang yang dengan mudah menyesatkan dan membid’ahkan kelompok lain.

Dampak inilah yang menyebabkan umat Islam tidak sempat membangun dirinya, apalagi berpikir dan bertindak untuk menghancurkan lawan-lawannya. Umat Islam tiap hari disibukkan dengan menggrogoti dan menumpahkan darahnya sendiri. Padahal kalau kita cermati bersama, sebenarnya perbedaan pendapat-pendapat dalam hal respon terhadap al-Quran maupun Hadist yang berhubungan dengan perkembangan kehidupan, hal yang sangat wajar dan sunnatullah. Karena hal ini akan terkait dengan latar belakang sosial budayanya. Dan kita pahami bersama bahwa keilmuan dan latar belakang sosial budaya seorang mujtahid tidaklah sama. Mujtahid yang dilahirkan di Irak dan belajar ilmu di sana pastilah berbeda pendapat dalam beberapa masalah dengan mujtahid yang tinggal di Hijaz dan belajar di sana, atau mujtahid yang belajat di kedua kota itu pun, akan berbeda pendapat dengan mujtahid yang khusus belajar di Irak dan di Hijaz.