Hot!

Menjadi Pemimpin Idaman


Oleh: Fitra Hudaiya NA

Sameeh.net - Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pelajaran yang sebaik-baiknya kepadamu .Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. an-Nisa: 58)

Salah satu faktor yang menentukan kemakmuran dan kesejahteraan hidup masyarakat adalah para pemimpin. Karena di pundak merekalah tampuk kekuasaan ini berada, ketika pemimpin itu adalah seorang yang ta’at kepada Allah maka Allah akan melimpahkan rahmat-Nya untuk membantu serta memudahkan sang pemimpin dalam melaksanakan tugas, begitu juga sebaliknya, ketika ia adalah seorang yang fajir, zhalim bahkan kafir maka murka Allah akan selalu menghantui mereka sehingga tidak jarang kita melihat banyak sisi-sisi yang  rusak dan sistem-sistem yang berantakan.

Islam telah membuktikan kebenaran dan keadilannya sejak beberapa abad  yang silam, dimana ketika umat ini dipimpin oleh seorang yang ta’at kepada Allah serta adil maka kemakmuran dan kesejahteraan selalu menghampiri mereka. Dikisahkan oleh Ibnul Jauzi dalam kitabnya Manaqib Umar bin Abdul Aziz, bahwa pada suatu waktu ketika hari pelantikan Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah, ada seorang pengembala yang melihat domba-dombanya bermain dengan serigala. Sang pengembala bingung sebenarnya apa yang terjadi, selang beberapa waktu terdengar kabar bahwa hari itu adalah pelantikan khalifah yang baru yaitu Umar bin Abdul Aziz.

Dari kisah di atas kita dapat mengambil pelajaran, bahwa pengaruh seorang pemimpin yang adil itu bisa meliputi semua makhluk, sampai kepada domba yang sebenarnya adalah mangsa bagi srigala akan tetapi ketika  itu pula mereka bisa bermain bersama dengan rukun. Sejarah telah mencatat kesuksesan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang juga disebut sebagai Khulafa’urrasyidin yang kelima. Dimana pada masa beliau kehidupan rakyatnya sangat makmur dan sejahtera sehingga tidak ada yang menerima zakat karena kebutuhan mereka semua telah terpenuhi.

Wahai hamba Allah, coba kita bayangkan seandainya pada masa kita ini ada pemimpin yang demikian maka hidup kita insyaa Allah akan makmur dan sejahtera. Mengapa mereka para Salafusshalih umat ini bisa mencapai tingkatan yang seperti itu?! Tidak lain dan tidak bukan, itu semua  terjadi karena mereka mengamalkan perintah Allah dalam surat an-Nisa, ayat 58-59, yang mana para ulama menyimpulkan bahwa kepemimpinan itu dilandasi dengan dua ayat ini. Yaitu firman Allah Ta’ala: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pelajaran yang sebaik-baiknya kepadamu .Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al Quran) dan rasul-Nya (sunahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (an- Nisa: 58-59)

Ayat ini menjelaskan bahwa kewajiban kita adalah memberikan amanat kepada yang berhak menerimanya, juga menyuruh kita untuk taat kepada Allah dan rasul-Nya serta menaati pemimpin hanya dalam kebaikan maka jika pemimpin menyuruh melanggar perintah Allah maka tidak perlu ditaati. Karena Rasulullah bersabda “tidak boleh  menaati makhluk dalam bermaksiat kepada Allah” (HR. at-Tirmidzi dan Bazzar )

Para Ulama mengatakan bahwa ada lima hal yang harus dilakukan oleh seseorang ketika ia menjabat sebagai pemimpin:

1. Harus memilih anggota jabatan yang memiliki keriteria kuat dan dapat dipercaya (menjaga amanah). Karena salah satu penyebab rusaknya negara ini adalah jika pemimpin dan jajarannya bukan dari orang yang jujur,  Rasulullah adalah tauladan kita yang mana beliau dijuluki dengan al Amiin (yang dipercaya) maka sudah seharusnya para pemimpin juga mengikuti sifat beliau yang mulia ini.

2. Menegakkan keadilan. Ini merupakan sebuah tugas yang sangat agung dan mulia. Karena semua makhluk mengharapkan keadilan. Oleh karena itu Allah menyuruh hambanya untuk berbuat adil sebagaimana tersurat dalam firman Allah surat an-Nisa: 58.

3. Melakukan distribusi kekayaan.  Ini bertujuan supaya kekayaan itu tidak hanya dimiliki oleh segelintir orang. Islam mensyari’atkan adanya zakat, shadaqah, infak, hibah dan lain-lainnya ini semua bertujuan untuk meratakan kekayaan itu sendiri, sehingga orang miskin maupun orang kaya dapat menikmati harta yang telah Allah limpahkan bagi hambanya.

4. Memberantas korupsi. hal Ini adalah lanjutan dari hal yang ketiga, yang mana untuk mencapai pemerataan kekayaan itu harus dengan memberantas korupsi. Sebenarnya nikmat yang telah Allah limpahkan kepada hambanya cukup banyak akan tetapi ada segelintir orang yang curang sehingga memakan hak orang lain. Na’udzu billahi min dzalik.

5. Menegakkan shalat dan jihad. Shalat merupakan hubungan langsung dengan Allah yang bertujuan di antaranya untuk ketenangan individual, adapun jihad adalah berhubungan dengan keamanan umat. Kedua hal ini sangat berkaitan dengan jama’ah.  Karena islam merupakan agama yang bersatu dan berjama’ah sehingga menjadi kokoh serta berjaya.

Wahai hamba Allah yang mulia, perlu diketahui bahwa para salafusshalih terdahulu sangat takut dengan jabatan imarah  atau kepemimpinan, karena ini merupakan amanah yang sangat berat. Sehingga Rasulullah pernah menasehati salah seorang sahabat agar tidak meminta yang namanya Imarah (kepemimpinan) ini semua beliau lakukan tidak lain karena amanah ini memang merupakan sesuatu yang berat lagi agung. Wallaahu A’lam.