Hot!

Keajaiban Air


Oleh: Fitra Hudaiya NA

Dan bahwa Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air, maka mengapa mereka tidak beriman?. (QS. al-Anbiya’: 30).

Sameeh.net - Air  adalah satu-satunya perantara yang mengandung  mineral-mineral dan zat-zat makanan yang dibutuhkan oleh makhluk hidup.  Jadi, sendi kehidupan manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan adalah air.  Kalau bukan “karena” air, niscaya tak ada kehidupan di permukaan bumi.

Allah memberikan anugerah kepada orang-orang yang beriman dengan menurunkan kepada mereka air yang menjadi sendi kehidupan mereka. Dia berfirman, “Dialah yang telah menurunkan air (hujan) dari langit untuk kamu; sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuhan, dan padanya kamu mengembalakan ternakmu. Dengan (air hujan) itu dia menumbuhkan untuk kamu tanam-tanaman, zaitun, kurma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran) bagi orang-orang yang berpikir.” (an-Nahl: 10-11).

Tatkala Allah menciptakan bumi beserta langit dan Dia hendak menciptakan manusia di atas bumi, Dia terlebih dahulu menciptakan air, yang merupakan sendi kehidupan manusia dan segenap makhluk hidup di sekitar manusia.

Allah berfirman, “Dan bahwa Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air.” (al-Anbiya’: 30).

Ayat mulia ini dianggap sebagai salah satu mukjizat ilmiah terbesar dalam Al-Quran. Sebab, ayat ini menegaskan bahwa semua makhluk hidup tersusun dari air. Allah menyebut kata  ma’ (air) dalam Al-Quran sebanyak 49 kali. 

Ayat tersebut juga menunjukkan bahwa semua makhluk hidup yang ada di permukaan bumi tersusun dari air. Namun, kadar air pada tiap-tiap makhluk berbeda-beda satu sama lain. Jadi, air adalah asal-usul kehidupan. Darinya tercipta tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia.

Ayat ini sejalan dengan berbagai penemuan ilmiah kontemporer. Para ahli telah menyatakan bahwa semua makhluk hidup tersusun dari 80 persen air, 70 persen tubuh manusia tersusun dari air sehingga manusia tidak dapat hidup tanpa air lebih dari empat hari. Adapun tumbuh-tumbuhan terbukti makan dari air, bukan dari tanah, dimana ia mampu tumbuh di air yang jauh dari tanah.

Banyak penyakit yang menyerang manusia disebabkan oleh kondisi kekurangan air atau kekeringan. Maka, jika sebagian jaringan tubuh mulai terasa kering, timbullah gejala-gejala penyakit. Dokter kadang-kadang salah dalam mendiagnosis kondisi seperti ini. Padahal, obat yang sesungguhnya atas kondisi demikian adalah minum air. Semua manusia baik yang sehat maupun yang sakit harus meminum air setidaknya dua liter dalam sehari.

Semua fungsi organ tubuh makhluk hidup berhenti seiring dengan menghilangnya air. Organ-organ itu tidak bisa beraktivitas tanpa air. Jadi, air bukan hanya unsur pembentuk tubuh akan tetapi semua aktivitas kehidupan dalam tubuh manusia, hewan, dan tetumbuhan bergantung pada air. Tubuh tidak bisa melakukan aktivitas kehidupannya tanpa air.

Kita tahu bahwa bumi adalah planet yang paling kaya akan air. Para ahli pun menamainya “planet biru” atau “planet air” karena memilliki banyak air. Para ahli sejak dahulu kala telah dibuat bingung dengan asal muasal air yang ada di permukaan bumi tersebut. Barulah belakangan  diketahui bahwa air di permukaan bumi berasal dari perut bumi.

Al-Quran telah mendahului penemuan tersebut lebih dari 1.400 tahun, dimana ayat Al-Quran yang mulia telah menyatakan, “Dan setelah itu bumi Dia  hamparkan. Darinya Dia pancarkan mata air, dan (ditumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya.”  (An-Nazi’at: 30-31).

Era sekarang adalah era puncak kemajuan ilmu pengetahuan. Namun, tak seorang pun bisa menjelaskan bagaimana air hujan turun. Ada banyak teori dibuat untuk menjelaskan fenomena ini, namun tak satu pun yang bisa memastikan bagaimana proses turunnya air hujan.

Pada suatu hari, Rasulullah kembali dari perjalanan dari Makkah menuju Madinah. Lalu, beliau melaksanakan shalat subuh dengan para sahabat yang menyertainya. Kemudian beliau berkata, “pagi ini ada yang kafir dan ada yang mukmin.”   Para sahabat pun terguncang mendengar pernyataan Nabi tersebut. Mereka serempak bertanya, “maksud anda sahabat-sahabat anda, wahai Rasulullah?”
Mereka kemudian memandang di sekeliling mereka, mengira bahwa Rasulullah membicarakan sesuatu atau orang di sekeliling mereka.    Mereka lalu bertanya lagi, “Siapa di antara kami yang kafir dan siapa yang mukmin, wahai utusan Allah?”

Beliaupun bersabda, “Barang siapa berkata, ‘hujan turun karena bintang ini dan itu,’ ia menjadi kafir. Dan barang siapa berkata, ‘hujan turun karena nikmat dan anugerah dari Allah,’ dia termasuk orang-orang mukmin.” (HR. Bukhari).

Jadi, hujan adalah nikmat dan anugerah dari Allah, tak ada yang menurunkannya selain Dia. Allah berfirman, “Dan tidak sesuatu pun, melainkan dari Kamilah sumbernya; kami tidak menurunkannya (hujan) melainkan dengan ukuran tertentu.” (Al-Hijr: 21). Ayat ini berbicara tentang  turunnya hujan. Allah juga berfirman, “Kamukah yang menurunkannya dari awan (al-muzn)  ataukah kami yang menurunkannya?”  (Al-Waqi’ah: 69).
  
Kata al-Muzn pada ayat ini berarti awan tebal yang membawa uap air. Akan tetapi, awan tebal kadang-kadang mandul, tidak menurunkan hujan. Jadi Allah-lah yang menganugerahkan kepada kita hujan yang menurunkan air tawar yang menyegarkan. Dan, orang-orang pun mengetahui bahwa Rasulullah menyambut hujan dengan kedua telapak tangannya, seraya bersababda, “ini anugerah dari Allah baru saja turun.”

Setelah air dikeluarkan dari perut bumi melalui kawah-kawah gunung berapi, kemudian turunlah hujan. Lalu, hujan itu memenuhi kubangan-kubangan laut dan samudera. Dari sini, dimulailah proses daur ulang (metamorfosis) air; cahaya matahari menguapkan air di permukaan laut dan samudra lalu uap tersebut naik ke atas, kemudian uap itu menjadi awan dan menurunkan air hujan.  Wallaahu A’lam.