Hot!

Kaki ‘Urwah bin Zubair Dipotong, Musibah Disusul Musibah


Oleh: Fitra Hudaiya NA

Sameeh.net - Suatu hari, di masa kekhalifahan Walid bin Abdul Malik, khalifah keenam Bani Umayyah, Allah berkehendak menguji Urwah bin Zubair dengan ujian berat, yang tak akan ada orang yang mampu bertahan menghadapinya kecuali orang yang hatinya penuh keimanan dan keyakinan.
Khalifahpun menyambutnya dengan hangat dan memuliakannya. Namun saat di sana, Allah berkehendak lain. Ketika putra Urwah memasuki kandang kuda Walid untuk bermain-main dengan kuda-kudanya yang tangkas, salah satu dari kuda itu menendangya dengan keras sehingga ia meninggal seketika. Belum lama sang ayah yang bersedih menguburkan putranya, salah satu kakinya terkena tumor ganas (semacam kusta) yang dapat menjalar ke seluruh tubuh. Betisnya membengkak dan tumor itu sangat cepat berkembang dan menjalar.
Karena itu, khalifah memanggil para dokter dari segala penjuru untuk tamunya dan meminta mereka untuk mengobatinya dengan segala cara. Tapi, para dokter sepakat bahwa tidak ada jalan lain untuk mengatasinya selain memotong betis Urwah, sebelum tumor itu menjalar ke seluruh tubuhnya dan merenggut nyawanya. Tak ada alasan lagi untuk tidak menerima kenyataan itu.
Ketika dokter bedah datang untuk memotong betis Urwah dan membawa peralatannya untuk membelah daging dan gergaji untuk memotong tulang, dia berkata kepada Urwah, “Menurutku, engkau harus meminum sesuatu yang memabukkan supaya tidak merasa sakit ketika kaki dipotong.”
Urwah berkata, “Tidak! Itu tidak mungkin! Aku takkan menggunakan sesuatu yang haram terhadap kesembuhan yang aku harapkan.” Dokter itu berkata lagi, “Kalau begitu aku akan membiusmu.”
Urwah berkata, “aku tidak ingin kalau ada satu dari anggota badanku yang diambil sedangkan aku tidak merasakan sakitnya. Aku hanya mengaharap pahala di sisi Allah atas hal ini.” Ketika dokter bedah itu mulai memotong betis, datanglah beberapa tokoh kepada Urwah, maka Urwah pun berkata, “untuk apa mereka datang?”
Ada yang menjawab, “mereka didatangkan untuk memegangmu, barangkali engkau merasakan sakit yang amat sangat, lalu menarik kaki dan akhirnya membahayakan dirimu sendiri.”
Urwah berkata, “suruh mereka kembali. Aku tidak membutuhkan mereka dan merasa cukup dengan zikir dan tasbih yang aku ucapkan.” Kemudian dokter mendekatinya dan memotong dangingnya dengan alat bedah. Ketika sampai kepada tulang, dia meletakkan gergaji padanya dan mulai menggergajinya, sementara Urwah membaca, “la ilaaha illallaaha, wallaahu Akbar”.
Dokter terus menggergaji, sedangkan Urwah tak henti bertahlil dan bertakbir hingga akhirnya kaki itu buntung. Kemudian dipanaskanlah minyak dalam bejana besi. Kaki Urwah dicelupkan ke dalamnya untuk menghentikan darah yang keluar dan menutup luka. Ketika itulah, Urwah pingsan sekian lama yang menghalanginya untuk membaca kitab Allah pada hari itu. Itu adalah satu-satunya bacaan al-Quran yang terlewati olehnya sejak dia menginjak remaja. Ketika siuman, Urwah meminta potongan kakinya lalu mengelus-elus dengan tangannya dan menimang-nimangnya seraya berkata:

“Sungguh, Demi Dzat Yang Mendorongku untuk mengajakmu berjalan di tengah malam menuju masjid, Dia Maha Mengetahui bahwa  aku tidak pernah sekalipun membawamu berjalan kepada hal yang haram.” 
Kemudian dia mengucapkan bait-bait sya’ir karya Ma’n bin Aus:
Demi Engkau, aku tidak pernah menginjakkan telapak tanganku pada sesuatu yang meragukan.
Kakiku tidak pernah mengajakku untuk melakukan kekejian
Telinga dan mataku tidak pernah menggiringku kepadanya.
Pendapatku dan akalku  tidak pernah menunjuk kepadanya.
Ketahuilah, sesungguhnya tidaklah musibah menimpaku
Sepanjang masa melainkan ia telah menimpa orang sebelumku.
Khalifah Walid bin Abdul Malik benar-benar merasa sedih terhadap musibah yang menimpa tamu agungnya. Dia kehilangan putranya, lalu dalam beberapa hari kehilangan kakinya pula. Walid tak bosan-bosan menjenguknya dan mendorongnya untuk bersabar terhadap musibah yang dialaminya. Kebetulan ketika itu, ada sekelompok orang dari Bani Abbas singgah di kediaman Khalifah. Di antara mereka ada seorang buta, Walid bertanya padanya perihal sebab kebutaannya.
Orang itu mejawab, “wahai Amirul Mukminin! Dalam komunitas Bani Abbas, tak ada orang yang harta, keluarga dan anaknya lebih banyak dariku. Lalu aku bersama harta dan keluargaku singgah di pedalaman suatu lembah dari lembah-lembah tempat tinggal kaumku. Lalu terjadi banjir besar yang belum pernah aku saksikan sebelumnya. Banjir itu mengahanyutkan semua yang aku miliki: harta, keluarga dan anak. Yang tersisa hanyalah seekor unta dan bayi yang baru lahir. Sedangkan unta yang tersisa itu adalah unta yang binal sehingga lepas. Akibatnya, aku meninggalkan sang bayi tidur di atas tanah untuk mengejar unta tersebut. Belum begitu jauh aku meninggalkan tempatku, tiba-tiba aku mendengar jeritan bayi tersebut. Aku menoleh namun ternyata kepalanya telah berada di mulut serigala yang menyantapnya. Aku segera menyongsongnya namun sayang aku tidak bisa menyelamatkannya, karena serigala telah membunuhnya. Lalu aku mengejar unta dan ketika aku berada di dekatnya, ia menendangku dengan kakinya. Tendangannya itu mengenai wajahku, sehingga keningku robek dan mataku buta. Begitulah aku mendapatkan diriku dalam satu malam telah menjadi orang yang tanpa keluarga, anak, harta dan mata.”
Walid berkata kepada pengawalnya, “Ajaklah orang ini menemui tamu kita Urwah bin az-Zuabair. Mintalah dia mengisahkan ceritanya supayaUrwah mengetahui bahwa ternyata masih ada orang yang mengalami cobaan yang lebih berat darinya.”.