Hot!

Puasanya Sang Ulat


Sameeh.net -Ulat memang menjijikkan, begitulah umumnya kita melihat binatang ini. Keberadaannya membuat kita tidak merasa nyaman.

Tidak itu saja, ulat juga menjengkelkan karena dimanapun dia berada selalu membuat kerusakan. Bila dia tinggal di daun, rusaklah daun itu. Bila ia tinggal di buah, rusaklah buah itu. Bila ia tinggal di batang, rusaklah batang itu.

Bila ia tinggal di akar, rusaklah akar itu. Pokoknya, dimanapun dia berada kerusakanlah yang dia perbuat.

Naudzubillah min dzalik. Semoga kita tidak memiliki sifat-sifat yang demikian ini. Keberadaan kita tidak disukai orang lain dan atau menyebabkan kerusakan.

Untuk itu kita perlu selalu melakukan introspeksi diri. Jangan-jangan keberadaan kita selalu menimbulkan kerusakan.

Misalnya dalam bergaul sering kita menginisiasi ghibah, membicarakan kejelekan orang lain. Maka dalam hal ini kita telah mengajak partner bicara kita melakukan perbuatan yang dimurkai Alloh.

Artinya keberadaan kita membuat dia rusak. Atau cewek dengan pakaian yang mengundang, maka bila karenanya ada cowok-cowok yang “terganggu” berarti sang cewek tersebut telah meninggalkan kerusakan.

Bahkan mungkin saja kerusakan itu kita perbuat atas nama cinta. Kita mencintai lawan jenis kita, mengundangnya membalas cinta kita, lalu terlanggarlah norma-norma, maka berarti cinta kita telah membuatnya rusak.

Atau kita terlalu mencintai anak kita, lalu bersikap sangat permisif, sehingga anak kita melabrak batasan dan perintah Allah, maka berarti dengan cinta kita telah membuat kerusakan pada anak kita. Naudzubillah tsuma naudzubillah min dzalik.

Luar biasanya ulat adalah kodratnya yang melakukan metamorphosis. Melakukan perubahan fundamental atas dirinya secara keseluruhan. Dan itu dilakukannya dengan cara berpuasa. Subhanallah.

Setelah berpuasa yang kita kenal sebagai fase kepompong, secara keseluruhan ulat mengalami perubahan.

Perubahan pertama adalah fisiknya.
Sebelum berpuasa ia adalah binatang menjijikkan, namun setelah berpuasa ia menjadi binatang yang menyenangkan – kupu-kupu yang indah.

Keindahan kupu-kupu mampu mengundang decak kagum manusia sehingga membangkitkan rasa dan karsa keindahan dalam dirinya.

Lahir banyak karya sastra yang menggambarkan keindahan kupu-kupu. Keberadaan kupu-kupu itu sendiri telah mendatangkan kebaikan.

Perubahan kedua adalah perilakunya. Bila sebelumnya tindakannya selalu menimbulkan kerusakan, setelah bermetamorfosismenjadi kupu-kupu kemanapun dia pergi selalu melakukan kebaikan.

Ketika ia hinggap di bunga, bunga mendapatkan manfaat dari bantuannya melakukan penyerbukan. Setidaknya, keberadaannya tidak menimbulkan kerusakan. Di manapun dia hinggap, tidak sampai terjadi kerusakan. Bahkan ia menjadi perhiasan di tempat itu.

Begitulah tipe puasa ulat. Puasa yang dilakukan ulat bersifat totalitas. Pada dasarnya perubahan itu membuat dirinya lebih baik dan perilakunya juga lebih baik.

[ www.forumhijau.com | Archive FHI ]