Hot!

Dari Ekonomi Ke Ekonomi Islam


Sameeh.net - EKONOMI merupakan isu terpenting dalam kehidupan manusia dewasa ini. Hampir tidak ada isu yang begitu aktif mempertemukan kepentingan antar individu dan antar negara dewasa ini seperti yang dicapai oleh isu ekonomi. Namun, pengertian yang tepat mengenai ekonomi masih berbeda-beda antara satu pakar dengan pakar lainnya, sehingga istilah ini menjadi simpang-siur. Dalam pengertian orang awam, seringkali ekonomi disamakan dengan ilmu ekonomi.

Mengingat asal-usul istilah ekonomi berasal dari bahasa asing, yaitu bahasa Yunani, maka perlu diuraikan makna masing-masing kata yang membentuk istilah ini. Ekonomi sebagaimana yang lazim diketahui terdiri atas oikos yang bermakna rumah tangga dan nomos yang artinya hukum atau aturan. Hal ini memberi pengertian bahwa yang dimaksud dengan ekonomi ialah cara atau aturan berumah tangga, dan dengan demikian, ekonomi pada pengertian awalnya lebih pada suatu yang bersifat praktis dan fungsional ketimbang teoritik dan disiplin ilmu.

Namun pada perkembangannya, ekonomi menjadi satu disiplin ilmu tersendiri dari rumpun ilmu sosial dan malahan makin terpisah dari cabang-cabang ilmu sosial lainnya. Economics atau economic science yang awalnya tidak terpisahkan dari politics atau ilmu politik, sekarang sudah berbeda. Syukurlah tren yang berkembang dewasa ini akan perlunya pendekatan interdisipliner maupun multi disipliner dalam mengkaji suatu topik studi dan penelitian, akhirnya ilmu politik dan ilmu ekonomi kembali dapat berinteraksi dan bahkan berekonsiliasi.

Pada pembahasan ini kita akan memusatkan perhatian pada ekonomi sebagai suatu aktivitas manusia, bukan suatu ilmu, sebagaimana makna awal istilah itu dibentuk. Ekonomi dimaksudkan untuk mencapai pengelolaan rumah tangga yang teratur dan baik. Dengan makna demikian, ekonomi selaras dengan muamalat dalam ajaran praktis Islam.

Islam, oleh ijtihad para ulama, berhasil membuat suatu sistematika ajaran Islam yang bersifat praktis yang dinamakan fiqh. Salah satu ruang lingkup fiqh, yaitu fiqh mualamat, yaitu hukum-hukum yang mengatur hubungan antar individu dalam berbagai spektrum, termasuk di dalamnya spektrum ekonomi. Dalam hal ini, fiqh muamalat amat lengkap dan detail mengatur segala hal yang terkait hubungan antar individu, mulai dari perkara Buyu’ (jual-beli), khiyar, riba (rente), sewa-menyewa, hutang-piutang, gadai, syuf’ah, tasharruf, salam (pesanan), jaminan (borg), mudlarabah dan muzara’ah, pinjam-meminjam, hiwalah, syarikah, wadi’ah, luqathah, hibah dan hadiyah, kafalah, waqaf, dan lain-lain untuk sekedar menyebut contoh. Semua hal itu, hukumnya telah diatur dengan rinci, mulai dari hukumnya yang bersifat wajib, sunat, mubah, makruh dan haram maupun dalam bentuk yang lain seperti sah, batal, benar, salah, berpahala, berdosa dan sebagainya.

Akan tetapi, sejak abad ke-18, setelah ekonomi bergeser menjadi kajian akademis dan akhirnya menjadi wilayah kajian tersendiri, maka implikasinya menjadi lain. Saat fiqh muamalat masih mendasarkan kajian dan pengembangannya pada wahyu yaitu Al-Qur’an dan Hadits, ekonomi sudah lepas dari pengaruh pandangan gereja. Ekonomi seperti halnya kajian-kajian lain sepenuhnya dikembangkan di Barat dalam kecenderungan ilmiah yang semakin terpisah dari agama atau gereja. Hal itu merupakan konsekwensi dari gerakan renaisans dan gerakan pemisahan otoritas gereja dari politik, maupun konsekwensi konflik antara golongan gereja dengan golongan ilmuan yang pada akhirnya dimenangkan oleh golongan ilmuan.

Proses tipikal peradaban Barat semacam itu tidak terjadi pada dunia Islam. Walhasil, ontologi dan epistemologi ekonomi sepenuhnya berdasarkan akal murni dan empiris. Termasuk dalam hal penentuan kriteria, etika dan utilitas ekonomi itu sendiri yang tidak lagi dipengaruhi oleh pandangan gereja. Lama kelamaan ekonomi berkembang sedemikian rupa hingga hari ini. Sedangkan fiqh muamalat sampai beberapa masa sebelum negeri-negeri Islam bersentuhan secara aktif dengan pandangan, ideologi dan aktivitas ilmiah orang Barat masih terus bertahan dalam perspektif lama.

Sejak negeri-negeri Islam menikmati kemerdekaannya, mulailah muncul keperluan suatu perspektif yang berakar pada tradisi dan pandangan Islam terhadap ekonomi yang sudah menjadi inheren dalam peradaban Barat yang diimplementasikan ke dalam kehidupan dan pembangunan negeri-negeri Islam yang baru merdeka. Dari sinilah munculnya suatu isu yaitu ekonomi Islam. Maksud dari adanya ekonomi Islam sebenarnya ialah agar akar, nilai dan pandangan Islam dalam aktivitas ekonomi dapat terlibat membimbing, dan pada saat yang sama, keperluan untuk menjalankan aktivitas ekonomi seperti halnya yang telah dilakukan oleh peradaban Barat tetap tak terhambat.

Tentu saja hal semacam ini tidak mudah, mengingat mengawinkan dua sumber dan tradisi yang berbeda dalam suatu “belanga” aktivitas. Untuk topik dan agenda ini, telah banyak pemikir merumuskan bagaimana seharusnya nilai dan pandangan Islam melibatkan diri dalam kancah ekonomi. Oleh sebab itu, banyaklah kajian-kajian dan riset-riset ekonomi Islam dilakukan, baik bersifat teoritis maupun yang bersifat praktikal. Salah satu hasil dari riset ekonomi Islam yang bersifat praktikal itu, antara lain keuangan Islam, perbankan Islam, dan seterusnya. Dewasa ini, bank-bank Syariah dan lembaga-lembaga keuangan syariah telah tumbuh dan berkembang sedemikian rupa. Lembaga-lembaga itu muncul dari riset-riset yang dilakukan sebelumnya oleh para pemikir ekonomi Islam di banyak negara.

Di masa depan, tampaknya kita akan melihat, setelah suksesnya pandangan dan nilai Islam mempengaruhi ekonomi yang bersifat praktikal di atas, maka nantinya besar kemungkinan pandangan dan nilai Islam juga akan mempengaruhi ekonomi yang lebih bersifat makro yang terkait dengan isu-isu kebijakan fiskal, kebijakan moneter, dan juga pembangunan dan kemajuan (development and progress), ataupun pada wilayah yang lain, seperti politik dan kesenian, untuk mengambil contoh, Islam pun dapat berkesempatan memberi warna. Hal itu tergantung dari kiprah dan kerja keras para pemikir Islam itu sendiri. Kesempatan ke arah itu terbuka dengan luasnya.

Sumber: www.islampos.com