Hot!

Ustadz Abu Husein At-Thuwailibi: "Radikalisme" & "Terorisme" Itu Fakta, Bukan Pengalihan Isu


Sameeh.net erkait pemberitaan terorisme dan radikalisme yang muncul ke permukaan saat ini, ada yang berpendapat bahwa hal itu merupakan pengalihan isu pihak-pihak tertentu dari kondisi pemerintahan yang dinilai sedikit bermasalah di bidang politik dan ekonomi.

Ketua Forum Nasional Seruan Al-Haq, Ustadz Abu Husein At-Thuwailibi, menolak pandangan ini saat di wawancarai oleh sameeh.net.

Menurutnya, terorisme dan radikalisme itu nyata di Indonesia dan terbukti dengan adanya aksi pembacokan terhadap warga NU yang terjadi di beberapa tempat, yang dilakukan oleh kelompok Syi'ah yang telah difatwakan Sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada keputusan Munas MUI tahun 1984. Kemudian juga pembunuhan terhadap Ustadz NU di jawa timur dan pembantaian terselubung terhadap warga perumahan Az-Zikra sentul bogor pimpinan KH.Muhammad Arifin Ilham, serta ancaman dari ketua IJABI Jalaluddin Rahmat terhadap ummat islam indonesia untuk "memindahkan konflik sunni-syi'ah ke Indonesia" . Sejumlah mahasiswa Indonesia juga nyata direkrut oleh ABI dan IJABI untuk kuliah gratis di Iran guna menjadi penerus mereka dalam agenda besar untuk menjadikan NKRI ini sebagai negara syi'ah.

Dalam pandangan Ustadz Abu Husein At-Thuwailibi, ekstremisme dan radikalisme disebabkan antara lain oleh pemahaman ajaran Islam yang dangkal dan sempit, konstelasi politik Iran dan Libanon, termasuk okupasi dan gerakan para pejuang islam di timur tengah, porak porandanya negara Iraq, Suriah, dan negara lainnya yang terus menerus diterpa konflik.

Udara kebebasan pasca reformasi juga meningkatkan jumlah ormas anti islam bernafaskan Iran yang membawa visi misi revolusi terhadap sebuah negara; seperti ABI dan IJABI, serta menambah perluasan jaringan teroris terselubung internasional untuk mengobarkan semangat membentuk negara Syi'ah di Indonesia. Penyebab lain terorisme dan radikalisme adalah adanya ketidakadilan dalam berbagai sektor kehidupan; kemiskinan, kebodohan, serta kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi yang dimanfaatkan oleh para aktivis Syi'ah.

Untuk menyikapi situasi ini, ia menekankan perlunya meningkatkan pemahaman Islam yang benar, damai, sejuk, sesuai dengan nilai-nilai Al-Qur'an yang di bawa oleh Nabi Muhammad dan para Sahabat nya serta menyatukan langkah dalam menyuarakan Al-Haq melalui lembaga-lembaga Islam yang berkompeten seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Wahdah Islamiyah (WI), Al-Irsyad, Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), dan lainnya.

“Terapkan hukum positif secara optimal, melengkapi Undang-undang tentang terorisme dan radikalisme yang bersumber dari aliran-aliran sesat dan unsur penodaan agama, serta wujudkan keadilan di semua sektor,” tandas tokoh muda Salafi yang juga aktif menulis di situs arrahmah.com itu.

Menurutnya, upaya program deradikalisasi perlu dimaksimalkan dengan memanfaatkan teknologi informasi dan media. dan juga dengan memblokir situs-situs yang berbau Syi'ah, serta meningkatkan kerja sama pemerintah Indonesia dengan para alim Ulama di negeri ini, khususnya Majelis Ulama Indonesia (MUI).