Hot!

Mungkinkah Syiah Menyerang Indonesia Di Tahun 2020?


Oleh: Muhammad Husni Haikal

Sameeh.net - Kembali dalam pembahasan topik yang sangat hangat hari-hari ini. Pembahasan tentang Syiah tidak ada habisnya jika dikaji. Telebih ada sebuah isu yang menggemparkan Muslim Indonesia itu sendiri. 
Menurut data yang didapatkan oleh intelejen, disebutkan bahwa konflik yang terjadi timur tengah akan merembet ke bumi pertiwi ini di tahun 2020. Data ini didukung dengan keadaan yang sedang menimpa negeri ini. Konflik yang dikomadoi oleh Syiah membuat banyak ormas dan organisasi Muslim Indonesia mengambil langkah untuk mencegahnya.
Berbagai seminar pun diadakan di berbagai tempat. Deklarasi Anti Syiah pun membumbung menyeruak negeri ini. Tapi, mungkinkah Syiah menyerang Indonesia di tahun 2020?
Baik, agar lebih objektif pembahasan kali ini kita akan melihat dari dua faktor. Faktor pertama melihat dari kemungkinan kecil Syiah akan menyerang Indonesia. Kemudian faktor selanjutnya melihat dari kemungkinan besar Syiah akan menyerang Indonesia.
Kemungkinan Kecil
Pembahasan kali ini kita akan menilik dari berbagai segi. Terutama dari segi kultural dan sifat bangsa Indonesia itu sendiri. Kita berbicara mengenai bangsa Indonesia sekarang bukan zaman dahulu.

1. Orang Indonesia Penakut.
Mungkin sebagian orang akan membantah hal ini. Namun, harus dipahami bahwa penyataan ini dibuat oleh orang asing. Bisa saja benar dan salah. Tapi tidak salah jika diterawang bahwa karekter bangsa Indonesia tidak mencintai adanya pertumpahan darah. Walaupun sebagian tempat terjadi, tapi secara skala besar masyarakat takut akan hal ini.

2. Orang Indonesia Pemaaf.
Salah satu sifat yang paling menonjol dari bangsa ini adalah sifat pemaaf yang dimiliki. Dendam yang terjadi tidak seperti halnya orang-orang timur tengah dan barat. Walaupun sering terjadi komplikasi antara mereka, akan tetapi sifak lunak yang mudah memaafkan ini akan muncul dengan sendirinya. 

3. Orang Indonesia Lebih Menyukai Uang.
Ini merupakan hal yang tidak terelekkan lagi. Melihat pemimpin negeri yang mecaplok (korupsi) uang rakyat demi kepentingannya sendiri. Bukankah ada sebuah ungkapan “Pemimpin adalah cerminan rakyat itu sendiri”. Walaupun seperti itu, tidak semua rakyat Indonesia seperti ini. Jadi, fokus mereka terhadap uang lebih besar dari perjuangan mereka dengan senjata.

4. Rasa Nasionalisme Tinggi
Dari dulu sampai sekarang bangsa Indonesia dikenal dengan Nasionalisme yang tinggi. Pembelaan terhadap negera dari rakyat sudah mendarah daging sejak dulu. Sejak Belanda dan Jepang menjajah, bangsa Indonesia dikenal dengan kepahlawannya dalam membela bangsa. Tentara Indonesia dilatih untuk berani mati bagi negara. Sebut saja KOPASSUS yang dulunya pernah ditakuti oleh dunia akan kuatnya mereka dalam membela tanah air.

Kemungkinan Besar
Faktor ini lebih dominan dari faktor sebelumnya. Pembahasan mengenai kultural dan sifat bangsa Indonesia tidak kita bahas, melainkan pembahan dari berbagai sisi lain.

1. Politik Indonesia
Politik semawarut yang terjadi dinegeri ini memberikan peluang besar bagi sebuah negara adidaya untuk mencaplok bangsa ini. Jangankan sebuah negara, sekelompok yang kecil pun jika terstruktur dengan rapi bisa jadi menggulingkan Indonesia. Jika diterawang lebih jauh, ternyata kekacauan politik bangsa ini tidak lepas dari tangan-tangan kotor Syiah.

2. Ekonomi Indonesia
Kenaikan harga kebutuhan priemer dan sekunder di pasar berimbas pada banyaknya kemiskinan bangsa ini. Sejak kenaikan BBM dan lainnya di era pemerintahan Jokowi, bangsa ini mengalami kemerosotan ekonomi yang luar biasa. Nah, jika hal ini terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan orang-orang Syiah melakukan sabotase lebih cepat dari yang kita banyangkan.

3. Kemanan Indonesia
Tidak ada yang bisa dibanggakan di era Jokowi memerintah. Hukum semerawut dan amburadul telah membukan jalan bagi mafia-mafia dan preman-preman jalanan melakukan aksi. Keamanan indonesia menjukkan fase siaga 1 sejak adanya pembegalan, perampokan dan pembunuhan yang terus berlanjut. Pemerintah lebih melindungi para elit negeri ketimbang rakyatnya sendiri. Momen seperti inilah yang ditunggu-tunggu Syiah untuk menggulingkan Indonesia sebagaimana yang terjadi di Suriah, Irak, Iran, Yaman dan berbagai negara lainnya yang menjadi incaran mereka.

4. Strategi Syiah
Sisi ini yang paling besar dan patut kita waspadai. Sebagaimana data yang didapatkan bahwa Syiah akan menggulingkan dan mengambil alih sebuah negara dengan 50 tahun persiapan. Jika melihat persiapan mereka, maka sekarang ini mereka mamasuki fase terkahir yang terjadi di tahun 2020.

Ada 5 fase pergerakan Syiah:

1. Masa perintisan dan pemeliharaan. Akarnya dengan menempatkan para imigran, punya tempat tinggal dan pekerjaan, membangun relasi dengan orang-orang kaya dan petinggi-petinggi tokoh yang berpengaruh, dan mempersempit markas-markas orang Sunni. Fase ini sudah berhasil di Indonesia.

2. Fase penjajakan. Melakukan kamuflase pada koridor hukum negara sebagai formalitas dan masuk ke dalam pemerintahan itu sendiri. Fase ini sudah berhasil di Indonesia.

3. Fase take off. Ditandai dengan hubungan pemerintah dengan Syiah terjalin erat dan sangat baik. Fase ini juga sudah berhasil di Indonesia.

4. Fase pemetik buah. Tandanya: akses ke ruang-ruang pemerintah yang sensitif, membeli lahan, bisnis properti, menghasut rakyat Sunni agar berbenturan dengan pemerintaha. Fase ini berhasil mereka lakukan di Indonesia.

5. Fase kematangan (puncak). Dengan ditandai kekacauan dan kemelut yang parah, pemerintah hilang kekuatannya (unstabilitas). Mereka akan menawarkan pembentukan dewan nasional di bawah pengaruh mereka sendiri dengan mengajukan diri untuk melakukan pemulihan stabilitas. Fase ini sedang berjalan.

Keseluruhan fase ditargerkan selama 50 tahun. Menurut penelitian di lapangan diperkirakan pada tahun 2020 orang-orang Syiah akan melakukan fase terkahir mereka, yaitu fase kematangan (puncak). Fase terkahir ini dilakukan dengan menumbang negera itu sendiri, membunuh orang-orang Sunni, menyiksa bahwa merampas nyawa orang-orang Sunni. Sebagaimana yang terjadi di Suriah, Iran dan Irak. Masihkah kita tinggal diam?