Hot!

Kerudung, Jilbab, dan Hijab


Oleh: Ni'mah Uswatun Hasanah

Sameeh.net - Di tengah masyarakat saat ini sedang terjadi kerancuan antara kerudung, jilbab dan hijab. Banyak di antara mereka yang mengartikan ketiganya sama. Padahal, ketiganya adalah hal yang berbeda.

Kerudung adalah kain yang dikenakan untuk menutupi bagian kepala sampai bagian dada dengan memperlihatkan bagian wajahnya. Kerudung adalah pakaian wajib untuk bagian atas bagi wanita. Dalil diwajibkannya kerudung ada dalam surat An-Nur ayat 31:

“..Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka,..”(QS. An-Nur: 31).

Sehingga kerudung bukanlah jilbab. Yang mana kewajiban berjilbab dalam surat Al-Ahzab ayat 59:

“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Al-Ahzab: 59).

Kata Jalaabibihinna dalam ayat ini adalah bentuk jamak dari Jibaabun. Dalam tafsir Ibnu Abbas, jilbab berarti baju panjang (Mula’ah) yang meliputi seluruh tubuh wanita. Sedangkan dalam Shafwatu Tafassir Imam Ash-Shobuni, jilbab diartikan sebagai baju yang luas (wasi’) yang menutupi tempat perhiasan wanita yaitu aurat.

Hamka, ahli tafsir dari negeri kita sendiri mendefinisikan bahwa jilbab itu sebagai baju kurung yang panjang. Berdasarkan dalil tersebut sangat jelas bahwa jilbab adalah pakaian luar yang luas, tidak terawang dan wajib digunakan oleh wanita muslimah dikala ia keluar rumah atau dihadapan orang yang bukan mahromnya.

Jilbab adalah pakaian yang menjulur sampai bawah kaki. Bisa disebut juga gamis atau jubah pada saat ini. Jadi, jilbab bukanlah kerudung, karena diperintahkan untuk mengulurkannya di tubuh sampai ke bawah, bukan sampai ke dada saja.

Sedangkan hijab adalah tabir atau satir yang menghalangi perempuan dari penglihatan lelaki. Dalam berpakaian bisa disebut sebagai burqa atau cadar. Dalil yang digunakan adalah surat Al-Ahzab ayat 53:

“…Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir. cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka…”(QS. Al-Ahzab: 53).

Perlu kita ketahui bahwa hijab ini tidak wajib bagi Muslimah karena dikhususkan untuk istri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Perintah ini nampak dari surat Al-Ahzab ayat 53 secara lengkap:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah- rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk Makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang Maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir. cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri- isterinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah Amat besar (dosanya) di sisi Allah.”(QS. Al-Ahzab: 53).

Kesimpulannya, maka hijab berarti penghalang, tidak tepat ditempatkan pada kerudung dan jilbab. Karena kerudung dan jilbab tidak menghalangi pandangan sama sekali dari lelaki terhadap perempuan. Melainkan masih menyisakan wajah dan kedua telapak tangan yang boleh terlihat.

Jadi, pakaian wajib yang benar untuk muslimah adalah kerudung dan jilbab (Jubah atau Gamis).