Hot!

Duh Kasihan, Begini Nasib Warga Tamanjeka Saat Latihan PPRC Digelar


Sameeh.net - Latihan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) yang berlokasi di Gunung Biru, memang telah usai. Namun, latihan yang berlangsung pada 30-31 Maret 2015 ini meninggalkan sejumlah kisah sedih bagi para penduduk desa.

Mulai dari cerita petani yang dilarang berkebun meski latihan usai digelar, janji bantuan makanan yang tak ditepati, hingga kisah warga desa yang terlantar.

Saat latihan PPRC hendak dimulai, aparat TNI menghimbau kepada warga yang berada di bawah bukit Gunung Biru terutama di Dusun Tamanjeka dan Desa Weralulu untuk meninggalkan kampungya sementara waktu.

Berdasarkan informasi sebelumnya, batas akhir dikosongkan pemukiman warga adalah pada hari Ahad (29/03) pukul 17:00 dan dinjanjikan akan mendapat makan dua kali makan siang dan satu kali makan malam.

Tiba-tiba, batas akhir evakuasi warga dipercepat. Aparat TNI menyebarkan selebaran dari heli yang memerintahkan warga segera meninggalkan kampung sebelum pukul 13:00. Padahal, waktu itu baru selesai sholat dhuhur dan belum sempat makan siang.

Sejumlah warga Desa Tamanjeka sempat terkejut dan bingung. Mereka pun meninggalkan desa dengan bawaan seadanya.

“Awalnya kami dijanjikan batas terakhir jam 05.00 sore, tapi tiba-tiba ada pesawat yang kasih selebaran katanya harus turun jam 13.00 sekarang, jadi kita langsung lari saja, meninggalkan kampung,” ungkap seorang ibu warga Desa Tamanjeka.

Hal serupa disampaikan oleh warga lain yang mengungsi di rumah warga, di depan Masjid Desa Lape. Warga merasa seperti diusir dari kampungnya karena mereka tidak diantar oleh aparat dan turun ke Desa Lape dengan berjalan kaki, mereka membawa anak istri serta tas berisi pakaian secukupnya.

“Kami turun seperti diusir dari kampung, tidak ada pengantaran dari aparat. Warga yang ada motor dan sempat naik ya naik motor. sementara yang lainnya ibu-ibu dan anak-anak ada juga yang hanya lari saja,” ujar Ahmad, bukan nama sebenarnya, seorang warga Dusun Tamanjeka di tempat pengungsian.

Tak sesuai harapan

Sesampainya di Posko Evakuasi di Desa Lape, warga semakin kebingungan karena jatah makanan yang dijanjikan tak sesuai harapan. Mereka hanya diberi jatah beras 2 sak dan lauk yang belum siap makan dari Kepala Desa Lape. Sehingga warga masih harus mencari alat masak untuk bahan-bahan makanan tersebut.

“Ini kami dijanjikan makanan siap makan tapi kami dikasih makanan yang belum siap makan, sementara tidak ada alat masak di tempat pengungsian ini pak,” ungkap Ahmad.

Kepala Dusun Tamanjeka, Muhammad Sambara membenarkan bahwa selama warga Dusun Tamanjeka berada di Posko Evakuasi belum ada yang mengantarkan makanan siap makan. “Iya belum ada pak bantuan makanan, ini hanya beras dan lauk yang belum dimasak sementara warga sudah kelaparan,” tegasnya

Meskipun sebelumnya, Panglima TNI telah membagi-bagikan santunan berupa 5 kilogram beras, 2 kilogram minyak goreng, gula pasir dan mie instant di Desa Tabalu, namun sebagian besar warga Dusun Tamanjeka tidak menerima bantuan tersebut.

Selain itu, Lokasi Posko Evakuasi di Pasar Lape membuat kurang nyaman warga. Pasalnya, lokasi tersebut terasa sangat panas jika siang dan sangat dingin di malam harinya. Hal ini terlihat wajar jika melihat kondisi pasar yang tidak memiliki dinding dan langsung beratapkan seng.

Belum lagi, aktivitas penghuni pasar yang tengah bekerja juga membuat para pengungsi tidak bisa istirahat.

“Di sini bukan kurang nyaman, tapi tidak nyaman. Kita tidak bisa tidur, apalagi anak-anak karena kondisinya a seperti ini,” tutur Agus, bukan nama sebenarnya, kepada Kiblat.net. Agus merupakan salah seorang warga Tamanjeka yang mengungsi di Pasar Lape.

Akhirnya, pada pukul 14:00 WITA, hari Selasa, (31/03/2015) para pengungsi telah diperbolehkan oleh aparat TNI untuk kembali ke kampungnya masing-masing. Namun, lagi-lagi janji tinggallah janji.

Berjam-jam warga Dusun Tamanjeka menunggu jemputan mobil truk TNI yang tak kunjung datang. Sampai pukul 16:00 WITA, mobil penjemput tak kunjung datang, sementara kondisi cuaca sudah mulai hujan dan berkabut gelap.

“Ya kami ini rakyat kecil pak, kami tinggal menunggu saja sampai jam berapa di sini ya kami akan tunggu, sudah begitu jadi rakyat.” ungkap seorang kakek yang menjaga empat orang cucunya di pertigaan jalan Desa Lape menuju Dusun Tamanjeka.

Informasi terakhir dari warga, bahwa warga Dusun Tamanjeka telah dijemput sekitar jam 16:30 WITA oleh TNI dan sampai di dusun Tamanjeka Pukul 17:30 WITA.

Reporter: Ahmad Sutedjo

Editor: Fajar Shadiq
Sumber: www.kiblat.id