Hot!

Densus 88 "Mujtahid", Itu Bukan Ijtihad Salafi!!


Oleh: Ust Abu Husein At-Thuwailibi & Ust Muhammad Al-Nusantari

Sameeh.net - Dalam majalah RISALAH MUJAHIDIN edisi rajab 1436 H/april 2015 M , terdapat sebuah artikel yang berjudul "IJTIHAD SALAFI, MUSLIHAT DENSUS 88". dalam artikel itu pada intinya mengkritisi sebuah pernyataan seorang Ustadz asal cileungsi bogor, sebut saja Ustadz Abu Yahya Badrusalam, yang mengatakan bahwa tindakan densus 88 membunuh terduga teroris adalah sah. nah, disini, kami merasa kurang setuju dengan judul artikel itu, karena sejatinya itu bukanlah ijtihad Salafi, akan tetapi ijtihad ahli bid'ah. Salafi tidak pernah punya ijtihad semacam itu, ijitihad semacam itu tidak keluar kecuali dari 4 orang:
1. Ahli Bid'ah.
2. Orang jahil.
3. Orang gila.
4. atau orang yang sedang terpaksa.

Sehingga, judul "IJTIHAD SALAFI" dalam artikel itu seakan kurang tepat. sebab membawa nama mulia SALAFI kemudian dinisbatkan pada sebuah ijtihad sesat yang perlu diluruskan. dan menurut kami itu bukanlah tindakan yang objektif, tapi merupakan tindakan yang mendiamkan kemuliaan Manhaj Salaf dikotori oleh pemikiran orang khalaf. singkat kata, itu bukanlah ijtihad Salafi, tapi ijtihad Abu Yahya Badrusalam. kalau ijtihad Ustadz Abu Yahya Badrusalam,Lc itu benar maka ia akan mendapat pahala insya' Allah, namun bila ijtihad itu salah, maka semoga Allah mengampuni dosanya dan ia segera bertaubat dari kesalahannya. aamiin..

"Pak Densus itu kan melaksanakan tugas saja. Mereka sudah berusaha untuk mencari para teroris-teroris yang memang mereka itu tersangka berbuat keonaran sebagai pelaku-pelaku terorisme. Kalau mereka (Densus) sudah berusaha ternyata salah (tembak) orang, mudah-mudahan Allah memaafkan mereka...

Karena dalam Islam saja pak, seseorang sudah berusaha ijtihad dan berusaha untuk mengetahui suatu permasalahan kemudian salah, maka diberikan pahala satu. Kalau misalnya orang-orang Densus tu sudah diperintahkan oleh oleh pemerintah, “Kamu cari ara teroris itu,” kemudian mereka sudah melaksanakan tugas, ternyata salah orang qodarrallah, gimana?
Sementara sudah berusaha semoga Allah memaafkan, yang terpenting mereka sudah berusaha sekuat tenaga".

Itu adalah jawaban Ustadz Abu Yahya Badru Salam,Lc dalam sebuah pengajian di Polda Lampung. Ketika itu ada yang menanyakan pandangannya jika ada “teroris” yang mati ditembak Densus 88. tayangan tersebut masih bisa dilihat di kanal Rodja TV di youtube.

Bagi Ustadz Abu Yahya Badrussalam tindakan Densus 88 yang membunuh terduga teroris adalah sah. Tak hanya di situ, dia juga meng-udzur (memaafkan) tindakan tersebut dengan dalih Densus 88 sedang berijtihad. Lengkap dengan menukil sebuah hadits yang menyatakan jika hakim yang berijtihan salah, maka ia mendapatkan satu pahala.
Sesederhana itukah permasalahannya?

* Pendapat seperti ini sangat sembrono dan bisa menjadi “License to Kill” bagi aparat untuk menarget siapa saja di antara kaum Muslimin yang tidak mereka sukai; dengan alasan “salah tembak”.

* Dosa ustadz yang berfatwa sembarangan ini bisa sangat besar, karena dia telah menghalalkan darah kaum Muslimin dan jiwanya atas nama ijtihad. Wallahi, ulama yang sangat alim sekali pun akan sangat takut untuk berkata seperti itu. Tapi begitulah kalau agama sudah kecampuran banyak tujuan-tujuan duniawi.

* BANTAHAN 1: Pahala ijtihad bagi mujtahid yang salah dalam ijtihad itu ASALNYA berlaku dalam dua perkara: (1). Pada ulama yang berijtihad untuk menemukan solusi masalah Ummat sesuai kaidah-kaidah Syariat; (2). Pada hakim yang memutuskan perkara di antara kaum Muslimin, untuk menghasilkan sebaik-baik keputusan. Kita sendiri sebagai Muslim biasa sebenarnya “boleh ijtihad” yaitu ketika berhadapan dengan “masalah darurat” yang membutuhkan keputusan cepat; sedangkan di sana tidak ada sumber rujukan ilmu yang bisa dirujuk, apakah ulama, ustadz, buku-buku referensi, dan lainnya. JADI ijtihad itu bukan dibuka untuk semua orang, semua keadaan dan profesi. Atau boleh ijtihad bagi para politisi, pejabat, pengambil kebijakan, atau dokter; dengan tujuan mencapai maslahat, menghindari madharat; setelah melakukan telaah persoalan sedalam-dalamnya.
* BANTAHAN 2: Dalam Islam, pembunuhan yang tak sengaja, itu sudah ada aturannya. Kerap disebut Al-Qatlul Khattha’ (pembunuhan yang tersalah). Ini ada aturannya. Yang bersangkutan tidak dihukum qishash, tapi dihukum denda (diyat). Besarnya seharga 100 ekor unta. Maka itu sopir-sopir di Saudi amat sangat marah kalau melihat orang menyeberang jalan seenaknya; karena khawatir terkena denda tersebut. Kalau seekor onta seharga 20 juta; 100 ekor sudah 2 M.
* BANTAHAN 3: Salah satu tujuan Syariat ialah “Hifzhun Nafs”, maksudnya menjaga darah kaum Muslimin agar tidak ditumpahkan secara semena-mena. Maka fatwa semacam itu jelas membuka “kran” bagi kezhaliman besar atas kepentingan kaum Muslimin. Ini sangat berbahaya.!!
* BANTAHAN 4: Dikisahkan oleh sebagian Shahabat, bahwa di kemudian hari kaum Muslimin akan sembrono dalam bicara masalah agama. Padahal andai perkara yang sama ditanyakan kepada Khalifah Umar, beliau akan mengumpulkan para Ahlul Badar untuk meminta pertimbangan dan pendapat. Fatwa tentang darah kaum Muslimin itu tidak boleh diobral murah, tapi harus sangat-sangat teliti. Bila kita tidak pada posisi bisa berfatwa, sebaiknya DIAM atau mengatakan WALLAHU A’LAM. Itu lebih selamat dan aman.
* BANTAHAN 5: Para serdadu yang biasa membunuh manusia, apalagi sering menjadikan kaum Muslimin sebagai sasaran; pastilah secara ilmu, keimanan, kehati-hatian, akhlak, dan sebagainya TIDAK DALAM POSISI layak berijtihad. Mengapa demikian? Ya kita paham bagaimana kondisi mereka dan situasi yang sering terjadi. Sedangkan untuk IJTIHAD para ulama kerap menyebutkan syarat-syaratnya yang ketat.
* Intinya, jangan sembarangan berfatwa tentang jiwa/darah kaum Muslimin. Harus sangat hati-hati. Kalau memang tak memiliki kapasitas, ya kita ucapkan saja: Wallahu a’lam.