Hot!

Aksi Laskar Mujahidin, Siapa Bilang Tak Ada Dalilnya??


Oleh: Abu Husein At-Thuwailibi

Sameeh.net - Guru kami Al-Ustadz Abu Muhammad Jibriel mengulas informasi yang terkait aksi laskar mujahidin yang menyelundup di acara pembaptisan massal di jogjakarta waktu lalu, laskar mujahidin melakukan aksi turun kelapangan dalam rangka mencari tau apakah ada diantara kaum muslimin yang ikut serta dalam acara pembaptisan KAAFIRR itu. Bila ada, maka laskar mujahidin akan mendakwahinya dengan hikmah dalam rangka amar makruf nahi mungkar dan sebagai sikap peduli terhadap aqidah ummat islam yang suci.

Nah, lalu ada seorang pemuda bertanya dalam bahasa arab seolah-olah mengingkari aksi mujahidin itu, dia berkata:

أين الدليل على تلك الأعمال يا أخي؟ 
وإلا فأنت داع إلى الأعمال المخترعة البدعية. 
فإن العبادة توقيفية، مبنية على الأدلة الصحيحة..!؟

Saya terjemahkan:

"Mana dalil atas tindakan itu wahai saudaraku ? Kalau tidak ada dalilnya maka engkau tergolong da'i yang menyeru manusia kepada perbuatan atau amalan bid'ah yang diada-adakan. Karena sesungguhnya yang namanya ibadah itu bersifat tauqifiyyah, yakni mesti di lakukan berdasarkan dalil-dalil yang shahih".

(Selesai pertanyaan)

Thoyyib, Kami Jawab:

Dalilnya:

1. Perintah umum untuk nahi munkar, mengingkari kemungkaran adalah WAAJIB BIL IJMA'. Dalilnya sudah sangat jelas , kalau nggak hafal dalil amar makruf nahi mungkar, lebih baik MATI SAJA.

2. Kemungkaran tertinggi adalah menuhankan selain Allah, Syirik kepada Allah dan melakukan tindakan kufur, apalagi menyebarkan hal itu. salah satu contohnya adalah pembaptisan massal atas nama "pengobatan" gratis. Maka, tidak di ragukan lagi bahwa siapa pun yang melihatnya dan mampu untuk merubah itu maka WAJIB HUKUMNYA mengingkarinya.

3. Menyelinap kebarisan musuh adalah bagian dari strategi, sebagaimana yang dilakukan sahabat nabi yang mu'allaf, dia kembali ke komunitas lamanya yang telah memaki-maki Nabi, dia menyusup dan memenggal tokoh mereka, Ka'ab bin Asyraf. Hal ini diizinkan oleh nabi.

4. Jika antum tetap tidak setuju juga atas aksi ini karena harus izin dengan "waliyul amri", maka pertanyaan saya adalah; bagaimana jika "waliyul amri" nya justru membekingi atau mendiamkan kemungkaran itu seperti yang dilakukan izzuddin bin abdissalam?? bukankah tidak boleh taat kepada pemimpin dalam hal maksiat kepada Allah ?? dan mendiamkan kemungkaran padahal mampu mengingkarinya adalah bentuk MAKSIAT kepada Allah Jalla wa 'ala. titik.

5. Ada anak muda yang enggan mengucapkan salam kepada orang yang main catur, lalu dia bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal, "apakah aku boleh untuk tidak mengucapkan salam kepada mereka?

Imam Ahmad Rahimahullah menjawab: "ya boleh". Anak muda itu bertanya lagi, "kalau aku obrak abrik caturnya bagaimana?"

Kata Imam Ahmad: "ITU LEBIH BAGUS".

Lihat, padahal Imam Ahmad bukan waliyul amri. . Nah intinya, yang penting sudah ada upaya konsultasi dengan Ulama. tentunya Ulama tsiqah yang ahli Sunnah, bukan Ulama abal-abal yang ahli dalam menjilat penguasa dzalim dan sekuler.

6. Nahi munkar seizin penguasa telah ditolak oleh Imam Al-Ghazali, sebab kemungkaran itu banyak ragam dan jenisnya, tidak selalu dalam jangkauan penguasa, dan menurut beliau -Rahimahullah-  ayat dan hadits tentang nahi munkar pun tidak mensyaratkan itu, adanya izin pemimpin bukanlah sebagai syarat, tapi li-ajli taqliili madhorroh, hanyalah buat ketertiban, agar tidak menghasilkan madharat yang lebih besar, berangkat dari kaedah "Mengingkari kemungkaran tidak boleh dengan cara yang dapat menimbulkan kemungkaran yang lebih besar".

7. Didalam kitab Syarah Al-Arba'in An-Nawawiyah halaman 13 , Imam Ibnu Daqiq Al ‘Ied Rahimahullah menjelaskan dengan penjelasan bagus:

قالوا: ولا يختص الأمر بالمعروف والنهى عن المنكر بأصحاب الولاية بل ذلك ثابت لآحاد المسلمين وإنما يأمر وينهى من كان عالماً بما يأمر به وينهى عنه فإن كان من الأمور الظاهرة مثل: الصلاة والصوم والزنا وشرب الخمر ونحو ذلك، فكل المسلمين علماء بها وإن كان من دقائق الأفعال والأقوال وما يتعلق بالاجتهاد ولم يكن للعوام فيه مدخل فليس لهم إنكاره بل ذلك للعلماء.

"Mereka (para ulama) mengatakan: amar ma’ruf nahi munkar tidak dikhususkan bagi para penguasa pada sebuah wilayah, tetapi itu berlaku secara pasti bagi setiap kaum muslimin. Hanya saja memerintah dan melarang memang berlaku bagi yang mengetahui (‘aalim) terhadap apa yang dia perintah dan dilarang, jika hal itu termasuk perkara-perkara yang nampak seperti shalat, puasa, zina, minum khamr, dan semisalnya, maka setiap muslim mengetahui hal itu. Sedangkan jika perkaranya adalah masalah yang detil dan rumit baik tentang perbuatan dan perkataan, yang terkait dengan ijtihad, maka ini bukan domain bagi orang awam, mereka tidak berhak mengingkarinya tetapi ini adalah kewajiban bagi para ulama".

sekian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan tidak perlu dianggap "syubhat". renungi dan pelajari. Baarakallahufiik.