Hot!

Da'i Salafi Ditolak Kaum Santri, Syiah Rafidhah Semakin Unjuk Gigi

Oleh: Abu Husein At-Thuwailibi

Sameeh.net - Baru-baru ini terjadi insiden memilukan di pamekasan madura. Salah seorang da'i Salafi yang aktif mengisi ceramah di Radio Rodja, sebut saja Ustadz Ahmad Zainuddin, di tolak mengisi ceramah di bumi gerbang salam itu.

Penolakan itu terpaksa dilakukan oleh kaum santri dan pemuda pemekasan yang tergabung dalam Gerakan Santri dan Pemuda Rahmatan Lil Alamin (GAPSER).

Diantara alasan mereka adalah karena ceramah Ustadz Ahmad Zainuddin di Youtube yang menganggap buruk peringatan Maulid Nabi.

Sebenarnya, dulu GAPSER sempat melakukan aksi turun ke jalan menolak kedatangan Ustadz Ahmad Zanuddin ini, namun kali ini mereka datang dengan sopan dan dengan mengirimkan surat kepada beliau yang berisi permintaan kepada Ustadz Ahmad Zainuddin agar beliau mempertanggung jawabkan isi ceramahnya di Youtube dan meminta maaf secara terbuka. Menurut juru bicara GAPSER ceramah Ustadz Ahmad Zainuddin banyak mengusik amaliyah-amaliyah kaum aswaja atau NU yang mayoritas mereka merayakan Maulid Nabi.

Secara garis besar, ada dua permintaan GAPSER kepada Ustadz Ahmad Zainuddin,Lc ini:

Pertama: permintaan maaf secara terbuka kepada publik,

Kedua: mempertanggung jawabkan statemennya terkait keburukan maulid melalui dialog terbuka antara GAPSER dan Ustadz Ahmad Zainuddin.

Niat baik GAPSER untuk berdialog tidak berjalan mulus, pertemuan itu sempat diwarnai ketegangan dan adu mulut antara panitia yang mengundang Ustadz Ahmad Zainuddin dengan pihak GAPSER, dan bahkan sampai harus dimediasi oleh pihak polres Pemekasan.

Sebuah Renungan:

Sejatinya, terjadi beberapa perbedaan mendasar antara Manhaj Talaqqi kaum Asy'ariyyah dengan Manhaj Talaqqi kaum Salafiyyah, namun tidak bisa di pungkiri bahwa kedua kelompok besar ini merupakan "Sudara Kandung" yang seolah tidak bisa di pisahkan, mereka adalah Kaum Muslimin, tidak seperti Syi'ah Rofidhoh yang SESAT bahkan KAFIR.

Memang, tidak di pungkiri bahwa para penceramah di Radio dan TV Rodja lebih cenderung menyuguhkan konsep-konsep Fiqih Mazhab Hanbali yang sedikit terdapat perbedaan dengan praktek amaliyah masyarakat mayoritas di indonesia, dan tidak jarang pula pemateri-pemateri Radio Rodja menyampaikan perkara-perkara ibadah keumuman masyarakat yang di nilai kurang Revivalis.

Momen dan kondisi seperti ini -sadar atau tidak- di manfaatkan oleh aktivis-aktivis anti Sunni (yakni kaum Syi'ah) dengan menyusup di tubuh Masyarakat yang mayoritas NU untuk menyulut adu domba dan antar sesama kaum Muslimin lintas Mazhab. Mereka membenturkan Masyarakat yang kental dengan adat dan budaya tradisional (semisal Maulidan) dengan da'i-da'i Radio Rodja yang kerap memperindah tatanan masyarakat agar sesuai dengan budaya Nabi dan para Sahabat.

Mereka (aktivis-aktivis anti Sunni atau oknum-oknum Syi'ah) berupaya agar dai-da'i Radio dan TV Rodja dinilai jelek oleh masyarakat dan dakwah Ahlus Sunnah Wal Jamaah di hentikan,dengan menyusup di tengah komponen masyarakat dan mendekati beberapa tokoh untuk menghasut dan memprovokasi ummat, tanpa menampakkan batang hidungnya dilapangan, mereka hanya bersembunyi di balik layar.itulah sebenarnya konspirasi terselubung yang sering mewarnai kasus demi kasus ditengah kaum muslimin, lalu membawa-bawa nama segelintir ummat islam dan ormas tertentu.

Ummat Islam sebaiknya jangan terprovokasi dan mengikuti arus. Terkadang, agenda licik aktivis-aktivis Syi'ah sungguh terselubung, ini yang kurang di fahami secara cerdas oleh banyak fihak.

Dikarenakan da'i-da'i Radio Rodja merupakan para da'i yang sering membongkar gerakan Aliran-aliran SESAT di Indonesia, seperti Syi'ah Rofidhoh misalnya, maka mereka (Aktivis-aktivis Syi'ah) tersebut tidak tinggal diam untuk membentuk opini publik dan melakukan aksi "sabung ayam". 

Nah, kasus dilapangan dimanfaatkan untuk menjadikan masyarakat NU tradisional sebagai "kendaraan", mereka akan senantiasa mengumandangkan penghancuran sosial ideologi dan adu domba antar sesama kaum Muslimin di setiap kesempatan.
oleh karena itu WASPADALAH !!

Kami menghimbau kepada saudara-saudara kami para pemuda NU dan kaum santri untuk tetap berpegang teguh dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah serta kepada Fatwa Ulama Kita Kyai Haji Hasyim Asy'ari -Rohimahulloh- (Pendiri NU) bahwa Syi'ah itu merupakan Aliran SESAT dan MENYESATKAN. 

Adapun mengenai Isu "Salafi Wahabi" dan Radio Rodja yang sering di angkat oleh Aktivis-aktivis Syi'ah Rofidhoh baik melalui media sosial dan situs-situs mereka untuk menyulut fitnah dan adu domba, maka cukuplah Fatwa Ulama kita Kyai Haji Habib Amad Zein Al-Kaff (Tokoh NU Jatim) ketika beliau berkata,"Wahabi itu saudara kita sesama Ahlus Sunnah,tapi kalau Syi'ah BUKAN.".

Nah,oleh karena itu Wahai saudara-saudara ku Warga Nahdhiyyin, para pemuda NU dan kaum santri, jadikanlah Saudara kita sebagai saudara meskipun ada sedikit perbedaan furu'iyyah dan jadikanlah musuh kita sebagai musuh meskipun ada sedikit kesamaan 'amaliyah.

Masukan untuk segenap du'at Salafiyyin yang berupaya meniti dakwah diatas Manhaj Salaful ummah dimanapun anda berada dan sekaligus untuk para da'i yang menjadi pemateri di Radio dan TV Rodja; agar kiranya dapat menerapkan fiqih dakwah yang strategis di tengah masyarakat kita. Hendaknya kita jauhi nuansa-nuansa dakwah yang kira-kira dapat menimbulkan masalah besar di tengah-tengah ummat yang berujung pada terhambatnya jalan dakwah itu sendiri.

Perlu untuk kita renungi bersama, sebenarnya masyarakat kita membutuhkan pencerahan dan pencerdasan yang bernuansa kekeluargaan, membangkitkan mereka dari keterpurukan berfikir, bukan justifikasi frontal dan gampang membid'ahkan. Mari kita dahulukan dakwah 'Aqidah shohihah dengan akhlaqul karimah sebagaimana para pendahulu kita Salaful-Ummah, tentunya dengan tidak menyepelekan prinsip-prinsip dasar Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jamaah namun tetap menjaga maslahat dakwah dan ukhuwah Islamiyah.

Kita sebagai ummat Islam sangat mendukung dakwah yang di usung para da'i Radio dan TV Rodja serta radio-radio ASWAJA (Ahlus Sunnah Wal Jamaah) di Indonesia yang mendakwahkan ajaran Islam yang sesuai dengan mahnhaj Ahlus Sunnah Wal Jamaah umumnya.

ASWAJA Syafi'iyyah dan ASWAJA Salafiyah adalah "rumah tangga" ummat Islam yang di jadikan "bahan bakar" adu domba dan permusuhan oleh fihak-fihak di luar Islam seperti Syi'ah Rofidhoh untuk merusak Ukhuwah Islamiyah. Kedua kelompok besar ini lah yang menjadi target pergerakan Syi'ah Rofidhoh untuk merevolusi Negara Indonesia agar menjadi seperti Iran sebagaimana yang dinyatakan Al-Ustadz Farid Ahmad Okbah,Lc.MA beberapa waktu lalu.

ASWAJA Syafi'iyyah yang di wakili NU adalah organisasi besar yang sangat berpengaruh terhadap sosial kebudayaan dan kemerdekaan bangsa Indonesia, demikian pula ASWAJA Salafiyah yang di wakili Muhammadiyyah,PERSIS dan Al-Irsyad merupakan tiga organisasi besar militan yang aktif menyuarakan kebangkitan untuk melawan penjajahan dan penegakkan hukum Islam di negeri ini.

Oleh karena itu para Intelijen Syi'ah dengan berbagai cara akan menyusup ke dalam tubuh ormas-ormas tersebut guna mencari titik kelemahan kaum muslimin untuk kemudian meguatkan kinerji mereka dalam rangka menebar propaganda dan adu domba berupa percikan-percikan perbedaan pendapat, dengan begitu ummat islam menjadi lemah karena berpecah belah dan saling hantam satu sama lain,lalu mereka akan melahirkan peristiwa besar seperti yang terjadi antara sesama ummat islam di zaman para Sahabat.

Ingatlah peristiwa peperangan dahsyat yang terjadi antara Istri Rasulullah (Ummul Mukminin 'Aisyah) dengan Menantu Rasulullah (Amirul Mukminin Ali Bin Abi Tholib) hingga mengorbankan banyak kaum muslimin. Siapa dalang pengadu domba di balik peristiwa ini??? Tidak lain ialah Abdulloh Bin Saba' (si pendiri AGAMA SYI'AH ROFIDHOH).Oleh karena itu kita ummat Islam mesti bangkit untuk waspada dari makar-makar mereka yang secara perlahan mulai Allah singkapkan.

Terkait masalah peringatan Maulid Nabi, tidak dipungkiri terjadi perbedaan teori dikalangan ahli sejarah. Dan ini sudah saya diskusikan dengan Teungku Syaikh Zulkarnain,MA (Wasekjend MUI pusat) via WhatsApp. Terjadi dialaog penjang diantara kami terkait masalah Maulid Nabi, dan pada lain kesempatan akan saya suguhkan pada pembaca sekalian sebuah artikel yang berisi dialog dengan Teungku Syaikh Zulkarnain,MA (wasekjend MUI pusat) mengenai peringatan maulid Nabi. 

Pada intinya, terjadi perbedaan pendapat tentang teori sejarah asal mula peringatan maulid Nabi; saya lebih cenderung pada pendapat bahwa perayaan Maulid Nabi pertama kali diadakan oleh dinasti Syi'ah Fathimiyah di mesir, sedangkan Teungku Syaikh Zulkarnain,MA mengemukakan pendapatnya bahwa peringatan Maulid Nabi pertama kali diadakan oleh Sulthon Abu Said Muzhaffar Kukabri, gubernur Irbil di wilayah Iraq dan teori ini disampaikan Ibnu Katsir dalam kitabnya.

Dan menurut Teungku Syaikh Zulkarnain,MA (wasekjend MUI pusat), bahwa perayaan Maulid Nabi itu diadakan sebagai "peringatan", bukan "peribadatan". Sehingga tidak bisa dianggap sebagai amalan bid'ah,karena tidak ada syarat dan rukunnya. Sementara saya lebih cenderung pada pendapat bahwa peringatan Maulid Nabi tidak dilaksanakan karena tidak ada contohnya baik dari Nabi, Sahabat dan para Imam yang empat. Seandainya perbuatan itu baik (hasanah), maka tentunya mereka lebih dulu melaksanakannya, Wal-'Ilmu 'Indallah.

Terlepas dari perbedaan teori itu, mestinya kita tetap pada prinsip toleransi (tasamuh) pada perbedaan pendapat, jangan justru menjadikan kita berpecah belah dan menguatkan barisan syi'ah rafidhah yang semikin mengancam keutuhan bangsa dan negara, Wallahu A'lam.

Nantikan tulisan kami berkenaan dengan Dialog Bersama Teungku Syaikh Zulkarnain,MA (wasekjend MUI pusat) seputar Maulid Nabi, semoga bermanfaat.