Hot!

"Plularisme" Benarkah Orang Kafir Mengakui?

Oleh: Muhammad Husni Haikal

Sameeh.net - Pluralisme Agama didasarkan pada satu asumsi bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Jadi, menurut paham ini, semua agama adalah jalan yang berbeda-beda menuju Tuhan yang sama. 

Salah satu teolog Kristen yang terkenal sebagai pengusung paham ini, Ernst Troeltsch, mengemukakan tiga sikap populer terhadap agama-agama, yaitu (1) semua agama adalah reatif. (2) Semua agama, secara esensial adalah sama. (3) Semua agama memiliki asal-usul psikologis yang umum. Yang dimaksud dengan “relatif”, ialah bahwa semua agama adalah relatif, terbatas, tidak sempurna, dan merupakan satu proses pencarian. Karena itu, kekristenan adalah agama terbaik untuk orang kristen, Hindu adalah terbaik untuk orang Hindu. Motto kaum pluralis ialah: “pada intinya, semua agama adalah sama, jalan-jalan yang berbeda yang membawa ke tujuan yang sama. (Deep down, all religions are the same – different paths leading to the same goal). 

Pluralisme Agama berkembang pesat dalam masyarakat Kristen-Barat disebabkan setidaknya oleh tiga hal: yaitu (1) trauma sejarah kekuasaan Gereja di Zaman Pertengahan dan konflik Katolik-Protestan, (2) Problema teologis kristen dan (3) problema teks Bilble. 

Di indonesia, penyebaran paham ini sudah sangat meluas, baik dalam tataran wacana publik maupun buku-buku di perguruan tinggi. Sebagai contoh, tokoh pembaruan Islam di Indonesia, Prof. Dr. Nurcholis Madjid, menyatakan, bahwa ada tiga sikap dialog agama yang dapat diambil. Yaitu, pertama, sikap eksklusif dalam melihat agama lain (Agama-agama lain adalah jalan yang salah, yang menyesatkan bagi pengikutnya). Kedua, sikap inklusif (Agama-agama lain adalah bentuk implisit agama kita). Ketiga, sikap pluralis-yang bisa terekpresi dalam macam-macam rumusan, misalnya: “Agama-agama lain adalah jalan yang sama-sama sah untuk mencapai Kebenaran yang sama”, “Agama-agama lain berbicara secara berbeda, tetapi merupakan Kebenaran-kebanaran yang sama sah”, atau “Setiap agama mengekpresikan bagian penting sebuah Kebanaran.” 

Ulil Abshar Abdalla, matan koordinator Jaringan Islam Liberal, juga menyatakan: “Semua agama sama. Semuanya menuju jalan Kebenaran. Jadi, Islam bukan yang paling benar.” (Majalah GATRA, 21 Desember 2002). 

Yang perlu diperhatikan oleh umat Islam, khususnya kalangan lembaga pendidikan Islam, adalah bahwa hampir seluruh LSM dan proyek yang dibiayai oleh LSM-LSM Barat, seperti The Asia Foundation, Ford Foundation, dan sejenisnya, adalah mereka-mereka yang bergerak dalam penyebaran paham Pluralisme Agama. 

Dua organisasi Islam terbesar di indonesia – yakni NU dan Muhammadiyah – menjadi incaran utama dalam infiltrasi paham ini. Itu misalnya bisa dilihat dalam artikel-artikel yang diterbitkan oleh Jurnal Tashwirul Afkar (Ditebitkan oleh Lakpesdam NU dan The Asia Foundation), dan Jurnal Tanwir (Diterbitkan oleh Pusat Studi Islam Agama dan Peradaban Muhammadiyah dan The Asia Foundation). 

Paham Pulralisme Agama ini pun sudah sempat disusupkan ke lingkungan Pondok Pesantren. Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKSPPI) sempat ‘kecolongan’ menerbitkan sebuah Majalah yang bernama AL-WASATHIYYAH, hasil kerjasama BKSPPI dan International Center for Islam and Pluralism (ICIP). Setelah mengetahui mereka segara mengambil sikap yang tegas dengan menghentikan penerbitan majalah dan memutus hubungan dengan ICIP.

Berikut ini sebagian contoh buku Pluralisme Agama yang dibiayai oleh LSM-LSM asing seperti The Asia Foundation dan Ford Foundtion:
1. Buku Fiqih Lintas Agama yang diterbitkan oleh Paramida dan The Asia Foundation.
2. Buku Nilai-nilai Pluralisme dalam Islam kerjasama Fatayat Nahdhatul Ulamadan dengan Ford Foundation.
Ternyata, bukan hanya Islam yang direpotkan oleh paham Pluralisme Agama. Semua agama direpotkan oleh paham ini. Dalam paparan berikutnya akan terlihat, bagaimana sikap dari Katolik, Protestan, Hindu dan Islam terhadap paham yang intinya ‘menyamakan semua agama’ ini.

Pandangan Katolik
Menghadapi serbuan paham Pluralisme Agama ini, maka para tokoh agama-agama tidak tinggal diam. Paus Yohannes Paulus II, tahun 2000, mengeluarkan Dekrit ‘Dominus Jesus’. Paham Pluralisme Agama, menurut Frans Magnis, jelas-jelas ditolak oleh Gereja Katolik. Pada tahun 2000, Vatikan menerbitkan penjelasan ‘Dominus Jesus’. Penjelasan ini selain menolak paham Pluralisme Agama, juga menegeskan kembali bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya pengantara Keselamatan Ilahi dan tidak ada orang yang bisa ke Bapa selain melalu Yesus.

Pandangan Protestan
Sebuah kajian dan kritik serius terhadap paham Pluralisme Agama dilakukan oleh Pendeta Dr. Stevri I. Lumintang, seorang pendeta di Gereja Keesaan Injil Indonesia. Kajian Stevri Lumintang dituangkan dalam sebuah buku setebal lebih dari 700 halaman, berjudul Theologi Abu-abu: Tantangan dan Ancaman Racun Pluralisme dalam Teologi Kristen Masa Kini, (Malang: Gandum Mas, 2004).

Di dalam buku itu  disebutkan bahwa, “Theologi abu-abu (Pluralisme) yang kehadirannya seperti serigala berbulu domba, seolah-olah menawarkan teologi yang sempurna, karena itu teologi tersebut mempersalahkan semua rumusan Teologi Tradisional yang selama ini dianut dan sudah berakar dalam gereja. Namun sesungguhnya Pluralisme sedang menawarkan agama baru.”

Pandangan Hindu
Dr. Frank Gaetano Morales, seorang cendikiawan Hindu, mengecam keras orang-orang Hindu yang menyama-nyamakan agamanya dengan agama lain. Biasanya kaum Hindu Pluralis menggunakan “metafora gunung” (mountain metafhor). Pada akhirnya Morales menyimpulkan, bahwa gagasan Universalisme Radikal yang dikembangkan oleh sementara kalangan Hindu yang ia kembangkan juga telah mengakibatkan kerusakan besar.

Pandangan Islam
Majelis Ulama Indonesia, melalu fatwanya tanggal 19 Juli 2005 juga telah menyatakan bahwa paham Pluralisme Agama bertentangan dengan Islam dan haram umat Islam memeluk paham ini. MUI mendefinisikan Pluralisme Agama sebagai suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah.

Al-Quran sudah menegaskan: “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan ia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali-Imran: 85). “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali-Imran: 19).

Jadi, dalam konsepsi Islam, sekedar menyatakan bahwa Allah mempunyai anak sudah disebut sebagai kemungkaran besar dan Allah sangat murka dengan hal itu. Dengan Pluralisme Agama, semua kemungkaran itu dilegitimasi. Pluralisme Agama jelas membongkar Islam dari konsep dasarnya. Dalam paham ini, tidak ada lagi konsep mukmin, kafir, syirik, sorga, neraka, dan sebagainya. Karena itu, mustahil paham Pluralisme Agama bisa hidup berdampingan secara damai dengan Tauhid Islam. Sebab keduanya bersifat saling menegasikan. Di mana pun juga, apakah di Muhammadiyah, NU, MUI, DDII, atau tempat-tempat lain, paham Pluralisme Agama akan berhadapan dengan konsep Tauhid Islam.

Masalah Kebebasan Beragama

Islam adalah agama yang sejak awal mengakui keberagaman. Konsep “tidak ada paksaan untuk memeluk agama” dan konsep “bagimu agamamu dan bagiku agamaku” sudah secara tegas dinnyatakan dalam al-Quran. Karena itu, kaum Muslimin dilarang keras memaksa orang lain untuk memeluk Islam. Meskipun, kaum Muslim diwajibkan untuk menyampaika dakwah Islam. Bahkan, kaum Muslim diwajibkan menghormati pemeluk agama lain. Seorang anak yang masuk Islam, diwajibkan tetap menghormati dan berbuat baik kepada orang tuanya yang belum masuk Islam.

Tetapi, dalam konsepsi Islam, adalah mustahil untuk menyatakan, bahwa semua paham (isme) atau agama adalah benar dan merupakan jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan. Sebab, faktanya begitu banyak agama yang jelas-jelas salah dalam pandangan Islam.

Jualan “Minyak Babi cap Onta”

Paham Pluralisme Agama telah terbukti sebagai hal yang destruktif bagi semua agama. Sebab, paham ini mengakui – bahwa berusaha menghancurkan- klaim-klaim kebenaran absolut masing-masing agama. Padahal, diatas keyakinan akan kebenaran masing-masing itulah, maka satu agam eksis. Paham ini memang sangat tidak toleran, karena tidak menghargai  keberagaman antar-agama. Bisa dikatakan, paham ini memang sejenis ‘senjata pemusnah massal’ yang berpotensi mengahancurkan konsep dasar pada masing-masing agama.

Karena itu, kita menghimbau agar para penyebar parasit Pluralisme Agama dari kalangan Muslim menyadari kekeliruan dan bahaya dari tindakan mereka. Kita menghimbau, agar kaum pluralis agama tidak memutarbalikkan ayat-ayat al-Quran dengan tujuan untuk melegitimasi pandangan Pluralisme Agama adalah paham yang dibenarkan oleh al-Quran. Cara seperti ini sama saja dengan “Menjual minyak babi tetapi diberi cap Onta”.

Dengan semua penjelasan itu, kita secara pasti dan yakin dapat malihat kakacauan logika dan kecurangan kaum Pluralis Agama dalam mempropagandakan pahamnya ke tengah masyarakat. Kita menyayangkan, bahwa mereka menggunakan ayat-ayat al-Quran untuk menjustifikasi paham tersebut.

Terakhir, sebagai Muslim, kita berharap, tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mudah menggadaikan imannya dengan harga yang murah; tidak menuruti hawa nafsu, hanya karena godaan kesenangan duniawi yang sesat. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang mampu dan mau menangkap dan menerima kebanaran. Semoga kita tidak termasuk orang yang tahu akan kebenaran, apalagi kemudian dengan sengaja mengubah-ubah dan menyembunyikan kebenaran untuk menyesatkan umat manusia. Na’udzubillah min dzalik.
___________________________________
Diringkas dari Buku: Pluralisme Agama Parasit bagi Agama-agama, Adian Husaini M.A, Penerbit Media Da’wah, Cetakan III: Rajab 1429 H/Juli 2008 M