Hot!

Biarkan Hujan Turun, Asal Matahari Tetap Bersinar

Oleh: Abu Husein At-Thuwailibi
Sameeh.net - Walau ia menyebut nama atau laqob saya, maka saya tidak akan menyebutkan namanya. Karena saya tak bernafsu untuk menjatuhkan kehormatannya, saya tak ingin menabuh genderang permusuhan dengannya, sebab saya menganggap ia saudara saya seiman, walau ia menganggap saya Ruwaibidhah (orang bodoh yang mesti di waspadai).
Saya tidak akan memusuhi dia dan siapa saja yang mengumandangkan Al-Qur'an dan As-Sunnah 'ala Fahmi Salafil Ummah.. Sebab (saat ini) musuh terbesar bagi saya adalah Syi'ah Rafidhah. Saya tak kan terpancing dengan realita yang penuh drama, saya tak akan terbawa arus dunia maya yang penuh dilema... 
smile emotikon
Ya, begitu lah kerikil-kerikil dakwah, tak selamanya berbuah indah, disana ada buturan-butiran debu yang mesti dibersihkan dengan senyuman...
smile emotikon
Semoga Allah mengampuni dosa saudara saya sebagaimana Allah menutupi dosa dan aib yang melumuri raga saya... Satu kata untuknya: Saya berharap bertemu dengannya di Surga...
Ia menyatakan bahwa saya adalah "Ruwaibidhoh".
Tahukah anda apa yang dimaksud dengan Ruwaibidhoh ??
Ruwaibidhoh adalah julukan Rasulullah terhadap orang-orang Khawarij, makna Ruwaibidhoh adalah "Orang Dungu Yang Berbicara Urusan Ummat".
Saya berdo'a kepada Allah agar saya dijauhkan dari Manhaj Khawarij, sebagaimana saya menjauhkan ummat dari bahaya Khawarij...
Na'am, ya... Benar... Saya adalah orang bodoh, karena saya tak pernah mengenyam manisnya Ilmu di Universitas Islam Madinah sebagaimana dirinya.
Saya adalah orang bodoh, namun bukan berarti saya tak boleh bangkit dari kebodohan...
Saya memang orang bodoh, namun bukan berarti harus senantiasa terbelenggu dalam keterpurukan...
Saya memang orang yang bodoh, namun bukan berarti saya tidak punya peran.. 
smile emotikon
Saya memang orang bodoh, sehingga wajar saya tak bisa berfatwa... Adapun desir kata-kata yang saya kumandangkan di media sosial bukanlah berupa fatwa, namun lebih kepada dakwah, dakwah yang sederhana, sesuai kadar "kebodohan" saya.
Ya, demikianlah realita, fakta yang menyelimuti diri saya, tapi alangkah bijaknya bila orang bodoh ini di bimbing dalam perjalanannya, bukan malah di cela dan dihina, apalagi dijatuhkan kehormatannya... 
smile emotikon
Sampaikan kepada saya yang bodoh ini, beginikah akhlaq seorang yang menuntut Ilmu di Universitas Islam Madinah ??? Beginikah akhlaq seorang yang mengaku penganut manhaj Salaful Ummah ??
Laa Haula Wala Quwwata Illa Billah..
Di gelari "Ustadz FB", "Ruwaibidhoh", "Orang bodoh", maka saya ucapkan Jazaakallaahu Khairaa... Gelar-gelar itu membangkitkan rasa syukur saya kepada Allah Rabbul 'Izzah...
Mengapa bersyukur, ??
Ya, karena gelar-gelar itu tidak seberapa dibandingkan yang dihadapi Rasulullah dalam perjuangan dakwahnya; beliau di gelari Pendusta, Tukang Fitnah, Tukang Sihir, dst. Bahkan beliau -Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam- hendak di bunuh, maka ini membuat saya bersyukur kepada Dzat yang memelihara ka'bah...
Ustadz Firanda Andirja yang jelas-jelas Da'i Salafi pun di gelari "Dajjal" oleh seorang Ulama Alumni Universitas Islam Madinah.... !? 
smile emotikon
 lalu mengapa ? Tak ada masalah ... Tetap santai dalam dakwah, meski badai-badai kecil menerpa...

Seuntai kata yang membuat saya tertawa:
“Ustadz FB ini gemar sekali menjelek-jelakkan arab saudi dan bersikap seperti ustadz pramuka, sana senang sini senang, ia sangat loyal kepada orang-orang yang manhajnya sudah diperingati oleh para Ulama Kibar”.
Membaca kata-kata diatas saya tertawa, karena kata-kata itu tidak akan terukir dari tulisan seorang penuntut Ilmu, melainkan justru perkataan seorang Ahli Ilmu ??!!
Namun saya bertanya-tanya; mengapa namanya tidak terkenal ?? Mengapa namanya tidak terdengar ?? Mengapa kitab-kitabnya tak sampai ?? Siapa dia ?? Dia "mentahzdir" seorang Ruwaibidhoh berlaqob At-Thuwailibi, maka jelaslah bahwa ia seorang Ulama besar Salafi...
Demi Allah tak pernah saya menjelek-jelekkan arab saudi, justru saya sungguh ter-apresiasi dari para Ulama di negeri ini, banyak Ulama yang saya panuti, yang berasal dari Arab Saudi, diantaranya adalah Syaikh Al-Ghamidi dan Syaikh Muhammad Al-' Arifi...
Kalimat "menjelek-jelekkan" sungguh menyakitkan, karena mengandung tuduhan yang tidak mencerminkan akhlaq seorang Ilmuan...
"Kritik" tidak sama dengan "menjelek-jelekkan", Saya menulis artikel yang mengkiritik kebijakan politik pemerintah arab saudi, bukan berarti menjelek-jelekkan... Sungguh pintar memutar balikkan kata-kata, sehingga membuat para pembaca pun terkesima...
Arab Saudi adalah negeri tauhid, namun apakah para rajanya sudah pasti menerapkan tauhid dalam dirinya ??
Arab Saudi adalah negeri Sunnah, namun apakah para rajanya menerapkan Sunnah dalam Siyasah ??
Inilah yang kami kritisi, kami koreksi, kami cermati dan kami seleksi, bukan menjelek-jelekkan..!!
Raja Arab Saudi (yang lalu) mendukung si Zholim Jendral As-Sisi membantai dan membunuhi Kaum Muslimin di Mesir dan mendukung kudeta atas Presiden Muhammad Mursi yang hendak menegakkan Hukum Allah dan membebaskan Suriah dari jajahan Bashar Al-Khinzir, apakah ini ciri Mukmin sejati ? Apakah kebijakan politik ini tidak boleh di kritisi ?? atau justru mendukung pembunuhan dan penumpahan darah terhadap Ummat Islam di mesir itu harus di amini ?? Berfikirlah wahai sang pemilik hati nurani.. !!
Bilamana ia menganggap bahwa Negeri Saudi adalah begeri yang bebas kritik, tidak boleh di koreksi, tidak boleh di luruskan, maka ia telah menganggap bahwa para Raja Arab Saudi itu Ma'shum, bebas dari dosa dan kesalahan, sehingga tak pantas di koreksi dan di kritisi, maka ini lebih parah, karena terindikasi aqidah kufriyah, tak jauh beda dengan keyakinan Imamiyah, mungkinkah ini aqidah orang yang belajar di Universitas Islam Madinah dan mengaku pengikut Salaful Ummah ?? Menganggap ma'shum selain ayah Fathimah, jangan-jangan ia Syi'ah Rafidhah.!?
Siapa yang dimaksud dengan:
“Sangat loyal dengan orang-orang yang manhajnya sudah diperingati oleh Ulama Kibar” ??
Siapa yang dimaksud ??
Bilamana diri ini boleh jujur, maka saya katakan bahwa saya sangat loyal dengan Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi, seorang Da'i dari arab Saudi yang gigih memerangi ajaran neo-majusi, demikian pula saya sangat loyal dengan Ustadz Hartono Ahmad Jaiz, Ustadz Fariq Qasim Anuz, Ustadz Agus Hasan Bashari, Ustadz Farid Ahmad Okbah, Ustadz Ahmad Rafi'i, Ustadz Abu Jibril, Ustadz Abdullah Shalih Hadrami, Ustadz Abu Umar Basyir, bahkan saya sangat loyal dengan Habib Ahmad Zein Al-Kaff dan Teungku Syaikh Zulkarnain,MA, (dua Ulama NU yang anti Syi'ah).
...Apakah mereka yang anda maksud "orang-orang yang manhajnya diperingati oleh Ulama Kibar" ??
"Ulama kibar" mana yang anda maksud ??
Izinkan saya tersenyum, 
smile emotikon
 dan satu kata dari saya: lantas apakah manhaj antum tidak diperingatkan oleh para Ulama Kibar dan sudah pasti mengantarkan ke Surga ??

Terakhir, sepatah kata yang ingin saya haturkan pada saudara-saudara saya se-iman,
Ketahuilah, “Salafi” bukanlah sekedar pengakuan diri, ia adalah Manhaj mulia yang dengannya kita di uji, berpegang teguh padanya sampai mati, baik secara Aqidah maupun akhlaq sehari-hari, tebar cinta kasih pada seluruh penduduk bumi, jadilah Salafi sejati Yaa Akhi, bukan Salafi imitasi.
Mari berjuang dalam menunutut Ilmu, bergegas dalam mengamalkannya, siap untuk mendakwahkannya, dan sabar atas segala ujian dan cobaannya.
Karena sesungguhnya tiada perjuangan yang terbebas dari caci maki, tiada perjuangan yang bebas dari para pendengki, tiada perjuangan yang sepi dari para syaithon musuh mukmin sejati, tiada perjuangan yang lulus tanpa seleksi.
Akan tetapi.....
Semua yang terjadi bukanlah tanpa balasan nanti, Semua yang dialami bukanlah sia-sia Yaa Akhi...
Semua memang kadang menjadi perih dan harus berkorban diri, namun yakinlah ya akhi
Dunia memang tempat manusia diuji..

Mereka yang berhasil bukan yang hidup tanpa di caci, Nabi yang ma'shum lagi suci tak bebas dari caci maki para pendengki..
Untuk itu....
Sabar adalah senjata yang tak pernah tumpul, sabar adalah pasukan yang tak pernah mundur, sabar adalah obat yang paling manjur, sabar adalah ketika kita mengatakan “sungguh sedikit dan kecil amalku di banding orang lain”.
Karenanya, mari berjiwa besar
dengan tetap berda'wah meski dituduh hizbiyyah, mari tetap berdakwah meski di tuduh Ruwaibidhah..

Tetap memberi meski cacian tak berubah, tetap menjaga kebaikan meski nama kita ditenggelamkan, tetap berperan meski sikap meski harga diri dijatuhkan.
Inilah sebait motivasi diri 
untuk jiwa agung yang ingin ridho ilahi dari sahabatmu Abu Husein At-Thuwailibi.

Sekali lagi, jazakallahu khairan yaa akhi..
Assalamu'alaikum