Hot!

Bertamasya Ke Alam Kucing

Oleh: Muhammad Husni Haikal

Sameeh.net - Ujian akhir SD sedang berlangsung. Kebetulan hari ini Mata Pelajaran yang akan diujikan ialah bahasa Indonesia. Soal ujian dibagikan kepada anak-anak, dan ternyata bunyinya sebagai berikut:

“Dua ekor kucing bertemu dibelakang rumah. Yang satu gemuk (Si Gemuk) nampak sekali kesan-kesan hidup mewah dalam tubuhnya; sedang yang satu lagi kurus (Si Kurus), roman mukanya menunjukkan bahwa ia menderita. Tulislah percakapan yang terjadi antara mereka berdua (Si Gemuk dan Si Kurus), di mana satu sama lain saling bercerita tentang kehidupannya !.”

Murid-murid mulai mengerutkan kening mereka yang masih kecil-kecil itu, sama memeras otaknya memikirkan kata-kata apakah yang akan mereka tuliskan, yang berupa percakapan dari kucing itu, bagaimana Si Gemuk dan Si Kurus memulai percakapan mereka itu. Anak-anak itu nampak sama gelisah, dan merasa sukar untuk menempatkan akal kucing dalam kepalanya, sukar untuk menempatkan dirinya di alam hewan, dan menyelami percakapan-percakapan yang terjadi di sana.

Di antara anak-anak itu ada yang menampakkan wajah yang geram, marah kepada panitia yang membuat soal itu. Sukar bagi mereka memikirkan pembicaraan kucing, karena selama ini mereka hanya diberi pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Daerah saja, dan tidak pernah diterangkan apa arti meongnya kucing, kokoknya ayam dan ketawanya monyet, dan lain sebagainya. Kenapa dalam ujian akhir hal itu ditanyakan? Panitia ujian betul-betul kejam!.

Seorang murid yang nakal, nampak menulis dengan cepat-cepat, dan tidak sampai 5 (lima) menit kemudian, ia segera tegak dari kursinya dan menyerahkan kertas pekerjaannya itu kepada pengawas, sambil berkata,”Saya sudah berusaha sekuat tenaga, dan inilah yang dapat saya kerjakan, Pak !.”

Pak guru yang mengawas lalu menerima kertas pekerjaan anak itu sambil berkata, “Sungguh, engkau anak yang pintar! Alahkah cepatnya karangan itu engkau selesaikan! Sungguh, Bapak ingin tahu isinya. Mari kemari dahulu, dan coba baca pelan-pelan apa yang engkau tulis!.”

Pak guru membawa anak itu keruang lain. Dan di sana anak itu disuruh membaca karangannya pelan-pelan. Ternyata ia menulis ringkas:

Si Gemuk memulai pembicaraan dengan katanya, “Ngeooong, Ngeoong, Ngeoong....!”.
Si Kurus menjawab, “Ngeong, ngeong, ngeong.”
Si Gemuk menjawab lagi, “Ngeooong, Ngeooong, Ngeooong.....!”
Si Kurus marah; ia mulai menampakkan gigi dan menggerakkan-gerakkan ekornya, sambil berteriak, “Ngeoooong....!”

Tiba-tiba Si Gemuk bangkit dan segera menampar muka Si Kurus dan mencakar tubuhnya sambil berteriak-teriak, “Ngeooong....!”

Si Kurus lalu melompat, dan merekapun berkelahi, cakar-cakaran, lompat-melompati, dan saling berteriak, “Ngeoooong....!”

Dan tidak dapat dibedakan lagi suara Si Kurus dan suara Si Gemuk, dan juga tidak jelas lagi apa arti percakapan mereka, malahan tidak mungkin dapat dimengerti oleh anak-anak SD, kecuali waktunya diberi sepuluh jam lamanya, dan kepada mereka dibagikan Kamus-Kucing.

Pak guru tertawa mendengar bacaan anak itu sambil berkata, “Sungguh, engkau betul-betul anak yang pintar! Ada harapan, kelak engkau akan menjadi juara di sekolah lanjutan. Memang betul, kucing tidak dapat berbicara dengan bahasa Indonesia kita, atau dengan bahasa manapun di dunia ini, kecualilah kalau hal itu terjadi sebagai mu’jizat dari seorang Nabi. Dan memang tidak ada lagi Nabi, sesudah wafatnya Nabi kita, Nabi Muhammad saw. Memang betul, tidak ada pilihan lain kecuali apa yang enkau tuliskan itu. Dan itulah aliran Expressionisme, suatu aliran baru dalam kesustraan. Nampaknya panitia ujian mengharapkan supaya engkau menjadi seoran murid-kucing; tetapi dalam jawabanmu engkau malahan telah menampakkan dirimu sebagai guru-kucing. Jawabanmu itu sesuai dengan selera kucing, walaupun dirasakan kurang tepat oleh selera manusia. Korektor tidak dapat menyalahkan jawabanmu ini. Tetapi, bapak ingin tahu, coba terangkan dahulu, apakah perbedaan antara “Ngeong!” pendek begitu, dengan “Ngeooong!” panjang, dan satu lagi “Ngeooong...!” dengan memakai titik-titik?”.

Anak itu menjawab, “Oh, mudah itu, Pak! Itu dikalangan bangsa kucing, sama seperti rumus-rumus dalam Abjad Morse, yang kita pakai dalam Telegraf, yang terdiri hanya dari titik-titik dan garis-garis saja!”

Pak guru berusaha memberi penjelasan, “Tetapi, anakku! Departemen PDK belum mengakui bahwa bunyi itu sama dengan rumus-rumus begitu! Itu belum ada dalam dunia Ilmu Pengetahuan. Dan nanti, korektornya manusia, bukan kucing.....! dan ujian ini juga tertulis bukan lisan!”

Anak itu menjawab dengan tegas, “Memang betul itu Pak! Saya sendiri juga manusia, dan bukan kucing! Maka perkara ini hanya dapat diselesaikan oleh para ahli. Kalau misalnya panitia nanti mengatakan bahwa jawaban saya ini salah, maka saya akan meminta supaya lebih dahulu panitia betul-betul mempertemukan dua kucing, yang gemuk dan kurus, seperti dalam soal itu. Lalu keduanya didorong supaya saling mendekati satu sama lain, dan disiapkan tape-recorder, dan direkam percakapan yang terjadi antara kucing yang dua itu! Saya kira, hasil rekaman nanti tidak seberapa jauh bedanya dengan apa yang saya tuliskan ini Pak! Sungguh demi Tuhan yang menciptakan kucing-kucing dan murid-murid, dan juga pencipta panitia ujian dan para korektor, demi Tuhan Maha Pencipta, sungguh, kucing yang dua itu tidak akan mencetuskan kata-kata yang lebih dari “Ngeong” dan “Ngeoongg...”. Dan perbuatan kucing dua itu juga, tidak akan jauh berbeda dengan apa yang saya tulis itu, Pak! Keduanya mestinya akan bercakar-cakar dan lompat-melompati, akhirnya yang kurus kalah dan lari, dan dengan demikian ujian itupun selesai!.”

Hikmah yang bisa dipetik:
1.Kalau hidup ini dipusatkan kepada makanan, maka yang paling enak dalam hidup ini hanyalah makan. Sungguh, musuh yang paling kejam membunuh kita ialah terbiasanya suasana kehidupan kita, dari itu ke itu saja setiap harinya, sehingga akhirnya kita jemu dan bosan hidup. Sebaliknya, sahabat yang paling setia memberi energi hidup kepada kita ialah berkurang-kurangnya suasana di mana kita hidup.

2.Rahasia kebahagiaan ada dalam hati kita sendiri, kita memilki tenaga batin untuk menjelmakan sesuatu yang baik itu menjadi lebih baik lagi, dan mencagah sesuatu yang buruk, agar jangan sampai bertambah buruk.

3.Sumber penderitaan sebenarnya hanya dua perkara saja: pertama adanya sifat lahap, yang menyebabkan kita merasa sesuatu yang banyak itu menjadi sedikit. Dan yang kedua, sifat loba, yang menyebabkan kita merasakan yang sedikit itu terlalu sedikit.

4.Kebahagiaan dan penderitaan itu tidak sama dengan kebenaran dan kesalahan, yang dinilai menurut standart permanen; tetapi sama dengan baik dan buruk, yang standartnya relatif, sesuai dengan latar belakang serta sebab dan akibatnya. Siapa yang berjalan sesjajar dengan kebahagiaan itu, tentulah dia akan berbahagia; dan sebaliknya, siapa yang berenang melawan arus, tentulah ia akan menderita.