Hot!

Benarkah Mubahalah Ada Dalam Islam?

Oleh: Sa'id Asy-Syaqafi

فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ  
“Siapa yang membantahmu (tentang kisah Isa) sesudah datang ilmu (yang sampai kepadamu), maka katakanlah (kepada mereka):" Marilah kita memanggil anak- anak kami dan anak- anak kamu, istri- istri kami dan istri- istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah, kemudian kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang- orang yang dusta”. (Ali Imran; 61 )

Mubahalah dalam segi bahasa:

Mubahalah berasal dari perkataan “bahl” (بهل) atas wazan “ahl” (اهل) yang bermakna melepaskan, menambat, mengikat sesuatu yang diperolehi. Dari sini, seekor haiwan dilepaskan supaya anaknya yang baru lahir bebas menyusui, maka ianya dipanggil sebagai bāhal (باهل), manakala ibtahal dalam doa bermaksud permohonan yang diiringi dengan doa serta menyerahkan urusan kepada Allah (s.w.t).

Mubahalah dari segi istilah:

Menerusi kefahaman secara am (umum)  yang diambil dari ayat mubahalah, mubahalah berarti saling melaknat antara orang. Oleh itu apabila individu saling berdialog mengenai sebuah masalah agama dalam sebuah perhimpunan di suatu tempat, mereka pun menyatakan hajat dan berdoa kepada Allah (s.w.t). Mereka juga memohon daripada Allah (s.w.t) agar orang yang berdusta menerima  apa ada dan hukuman.

Jelaslah bahwa kedua bela pihak perlu mempunyai akidah terhadap Allah (s.w.t) sehingga dapat melakukan tindakan tersebut. Ini disebabkan individu yang tidak percaya kepada Allah (s.w.t) tidak boleh berdoa memohon daripada Allah (s.w.t).

"Maka katakanlah: Marilah kemari' Kita ajak anak-anak kami dan anak-anak kamu, dan isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, dan diri-diri kami dan diri-diri kamu kemudian itu kita adakan mubahalah dan kita jadikan kiranya laknat Allah atas orang-orang yang berdusta." (ujung ayat 61).

Mubahalah ialah bersumpah yang berat, yang di dalam bersumpah itu dihadirkan anak dan isteri dari kedua pihak yang bersangkutan, lalu diadakan persumpahan di dalam mempertahankan keyakinan masing-masing. Menilai kebenaran pendirian kedua belah pihak. Kalau ternyata kedua belah pihak berkeras kepala, tidak ada yang mau bertolak-angsur, biarlah Al¬lah Ta'ala menurunkan kutuk laknatNya kepada barangsiapa yang masih saja bertahan pada pendirian yang salah.

Inilah ajakan Rasulullah s.a.w sendiri kepada utusan-utusan Najran yang mempertahankan bahwa Isa Almasih adalah Putera Allah. Kalau pihak kamu masih bertahan pada kepercayaan yang kamu sangka benar itu dan kamipun bertahan pula, padahal alasan sudah sama-sama dikemukakan mari kita bermubahalah, bersumpah berat. 

Panggil ahli keluarga kita kedua belah pihak, sama-sama menghadiri sumpah itu. Kalau kami di
menjawab: "Cobalah terangkan apa sebabnya!" Lalu Nabi s.a.w. menjawab: "Kalian masih cinta kepada kayu-palang (salib) dan minuman keras dan makan daging babi." 

Lalu mereka diajak oleh Rasulullah mengadakan mubahalah, merekapun menerima ajakan itu, dan berjanji besok paginya. Keesokan harinya Nabi Muhammad saw. sudah bersedia, dan diutuslah orang menjemput mereka, tetapi mereka tidak mau."

Menurut sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab fathul bari Juz 5 Hal : 215

حَدَّثَنِي عَبَّاسُ بْنُ الْحُسَيْنِ ، حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ عَنْ إِسْرَائِيلَ ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ صِلَةَ بْنِ زُفَرَ عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ جَاءَ الْعَاقِبُ وَالسَّيِّدُ صَاحِبَا نَجْرَانَ إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُرِيدَانِ أَنْ يُلاَعِنَاهُ قَالَ فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ لاَ تَفْعَلْ فَوَاللَّهِ لَئِنْ كَانَ نَبِيًّا فَلاَعَنَّا لاَ نُفْلِحُ نَحْنُ ، وَلاَ عَقِبُنَا مِنْ بَعْدِنَا قَالاَ إِنَّا نُعْطِيكَ مَا سَأَلْتَنَا وَابْعَثْ مَعَنَا رَجُلاً أَمِينًا ، وَلاَ تَبْعَثْ مَعَنَا إِلاَّ أَمِينًا فَقَالَ لأَبْعَثَنَّ مَعَكُمْ رَجُلاً أَمِينًا حَقَّ أَمِينٍ فَاسْتَشْرَفَ لَهُ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ قُمْ يَا أَبَا عُبَيْدَةَ بْنَ الْجَرَّاحِ فَلَمَّا قَامَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : هَذَا أَمِينُ هَذِهِ الأُمَّة
 “ ……… Dari Ishaq dari shilah bin shaqor dari hudaifah berkata, datang dua orang kepada dari Nejren kepada Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam, mereka berdua mengingingkan mubahalah dengan Nabi shallahu ‘alahi wasallam, berkata di antara mereka jangan kamu lakukan demi Allah,jika dia benar seorang nabi, maka mubahalah kita tidak akan berhasildan tidak ada setelah kita, mereka berdua berkata sesungguhnya kita akan memberikanmu apa yang kamu minta, utuslah bersama bersama kami seorang yang dapat dipercaya, dan jangan engkau mengutus orang yang tidak dapat dipercaya (tidak amanat), maka Rasulullah bersabda: sungguh aku akan mengutus seorang yang dapat dipercaya, maka sahabat nabi mengingkan dirinya siapa yang di maksud oleh beliau, Rasulullah bersabda berdirilah wahai Ubaidah bin Jarrah dan ketika Abu Ubaidah berdiri beliau bersabda, “ini orang paling dipercaya dalam umat ini”

Dua orang Kristen, yang satu bernama Sayid dan yang seorang lagi bernama Aqib menghujjah Nabi s.a.w. dalam kepercayaan itu. Setelah diusulkan mubahalah, merekapun mundur, tidak berani. Sebab di dalam hati mereka memang sudah ada perasaan, bahwa jika benar orang ini Rasul Allah, kitalah yang akan ditimpa balabencana karena kekerasan kepala kita.

Menurut riwayat dari al-Hakim dan Ibnu Mardawaihi dan Abu Na'im yang diterima dari sahabat Jabir bin Abdullah. Jabir ini menceritakan: `Aqib dan Sayid datang kepada Rasulullah s.a.w, lalu Rsulullah s.a.w. mengajak keduanya masuk Islam. Keduanya menjawab: "Kami telah Islam, ya Muhammad!" Lalu Rasulullah saw. menjawab pula: "Kamu keduanya berdusta! Kalau kamu tidak keberatan aku dapat menerka mengapa kalian tidak suka memeluk Islam!" Lalu keduanya menjawab: "Cobalah terangkan apa sebabnya!" Lalu Nabi s.a.w. menjawab: "Kalian masih cinta kepada kayu-palang (salib) dan minuman keras dan makan daging babi." 

Lalu mereka diajak oleh Rasulullah mengadakan mubahalah, merekapun menerima ajakan itu, dan berjanji besok paginya. Keesokan harinya Nabi Muhammad saw. sudah bersedia, dan diutuslah orang menjemput mereka, tetapi mereka tidak mau."

DALAM MASALAH APAKAH DIBENARKAN MUBAHALAH?

 Di atas telah diketahui bahwasanya mubahalah merupakan suatu keputusan yang terakhir ketika tidak ada persetujuan dan ujung masalah dan tidak saling memuaskan di antara  dua kubu, perlu diingat bahwasanya dari asbabun nuzul  ayat ialah mereka bermubahalah dengan orang-orang musyrik yang ingkar dan bandel dalam menerima islam sebagai mana penjelasan ayat di atas yakni mubahalah ditujukan kepada orang-orang kafir begitu juga dalam hadits di atas, Rasulullah mengajak orang-orang nasrani untuk bermubahala di karenakan mereka mendustakan dan tidak percaya dengan seruan dan ajakan beliau.
 Akan tetapi  diperbolehkan mubahalah sesama muslim untuk mencapai kemaslahatan dan menjauhi kemudhoratan,

Kaitan arti linguistik dan terminologis kata Mubahalah sangat gamblang; karena dalam Mubahalah seseorang yang mengklaim bahwa dirinya benar telah melepaskan lawannya dan menyerahkan kelanjutannya kepada Allah Swt.

فَمَنْ حَاجَّكَ فيهِ مِنْ بَعْدِ ما جاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ
Wahai Nabi! Barang siapa dari kaum Nasrani, setelah pembahasan panjang lebar tentang Nabi Isa a.s. yang disertai pelbagai argumen yang kuat masih tetap keras kepala dan tidak mau mengakui kebenaran maka tempuhlah jalan lain; bermubahalahlah dengan mereka.

فَقُلْ تَعالَوْا نَدْعُ أَبْناءَنا وَ أَبْناءَكُمْ وَ نِساءَنا وَ نِساءَكُمْ وَ أَنْفُسَنا وَ أَنْفُسَكُمْ
Pada bagian ini, telah ditentukan mereka yang pantas hadir dalam Mubahalah tersebut. Wahai Nabi! Katakan kepada  mereka bahwa dari setiap pihak harus mengikut sertakan empat kelompok ini;
1. Pemimpin  kaum muslimin, yaitu Rasulullah Saw dan pemuka orang-orang Nasrani Najran.
2. Anak-anak kami dan anak-anak kalian.
3. Wanita-wanita kami dan wanita-wanita kalian.
4. Jiwa-jiwa kami dan jiwa-jiwa kalian.

Pada pembahasan mendatang akan dibahas secara terperinci maksud dari anak-anak, wanita dan jiwa-jiwa tesebut.

ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَى الْكاذِبينَ  
Setelah empat kelompok dari kedua belah pihak telah hadir untuk bermubahalah, maka prosesi ini demikian, bahwa barang siapa yang berdusta dan apa yang didakwakannya itu gombal semata, maka siksa Allah akan menimpa kepadanya sehingga akan tampak jelas di hadapan manusia hakikat dan kebenaran yang sebenarnya.

SYARAT  MUBAHALAH
Syarat  umum yang harus terpenuhi dalam bermubahalah ialah keikhlasan diantara dua belah pihak, tidak dilangsung dalam keadaan tergesa-gesa alias harus sudah memilki hujjah-hujjah yang kuat ketika berdialog dikhawatirkan akan mengundang hal-hal yang tidak diingingkan  hendak juga memperhatikan kemaslahatan dan kemudhoratan,  tidak menemukan jalan selain harus bermubahalah, dan dilakukan kepada orang yang menyimpang yang tidak mau kembali kepada yang manhaj yang benar. Dan ketahulah bahwa mubahalah nabi berakhir dengan kenyamanan dan keamanan

Kemudian bagaimana hukum orang yang suka bermubahalah. Maksudnya, ketika suatu masalah yang masih kontroversial di antara ulama, ada sebagian orang yang ingin menuntaskan hal  tersebut dengan mubahalah tanpa mencari solusi lain. 

Mubahalah bukan dilakukan secara spontanitas yaitu dilakukan secara tergesa-gesa karena masih perbedaan pendapat para ulama sehingga kita mengedepankan ego kita tanpa mencari solusi yang tepat untuk mencapai kemaslahatan dan kedamaian. Karena mubahalah dilakukan oleh dua kelompok yang tidak bertemu titik terangnya. Wallahu 'Alamu bish Shawab.