Hot!

"Ujian Hidup" Semakin Jauh atau Semakin Dekat?

Oleh: Muhammad Ridhwan
(Mahasiswa LIPIA Jakarta)

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.
   
Ayat ini dengan gamblang menjelaskan kepada kita bahwa salah satu konsekuensi pernyataan iman kita adalah kita harus siap menghadapi ujian yang diberikan Allah Jalla Wa’Ala  kepada kita, untuk membuktikan sejauh mana kebenaran dan kesungguhan kita dalam menyatakan iman, apakah iman kita itu betul-betul bersumber dari keyakinan dan kemantapan hati, ataukah hanya sekedar ikut-ikutan semata serta tidak tahu arah dan tujuan, atau pernyataan iman kita didorong oleh kepentingan sesaat, ingin mendapatkan kemenangan dan tidak mau menghadapi kesulitan.
 
Dalam ayat lain Allah Jalla Wa’ala menjelaskan “Apakah kalian mengira akan masuk Surga sedangkan belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa malapetaka dan keseng-saraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersama-nya: “kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguh-nya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Al-Baqarah 214).

Begitu dahsyatnya ujian orang beriman sehingga digambarkan dalam ayat diatas mereka bagaikan sudah tidak sanggup memikul beban ujian sehingga mereka  menanyakan kapankah pertolongan Allah Jalla Wa’ala itu datang. Akan tetapi beratnya ujian orang beriman sitimpal dengan apa yang akan mereka peroleh kelak, sebagaimana janji Allah terhadap orang beriman “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka adalah Surga Firdaus menjadi tempat tinggal."(Al-Kahfi: 107).
 
Kalau kita sedikit melihat sejarah, kita dapati ujian orang – orang beriman diantaranya ujian perintah Allah kepada Nabi Ibrahim as untuk menyembelih putranya yang sangat ia cintai padahal anaknya itu tidak melakukan kesalahan apapun tapi justru ia sebagai seorang ayah diperintahkan untuk menyembeleh anaknya, begitu juga Nabi Yusuf as yang diuji dengan seorang wanita cantik mengajaknya berzina dengan kesempatan yang sangat terbuka ketika keduanya tinggal berdua namun Nabi Yusuf as menolaknya dengan tegas dan yang tidak kalah beratnya ujian Nabi Ayyub as yang diuji dengan penyakit sehingga tidak ada sebesar lubang jarum pun dalam tubuhnya yang selamat dari penyakit ini selama 18 tahun bahkan kerabat keluarganya pergi meninggalkannya dalam keadaan begini kecuali istrinya.
 
Tapi justru dengan ujian ini mereka semakin bertambah imannya semakin dekat dengan Allah subhanahu wata’ala.
 
Beberapa hari yang lalu saudara-saudara kita dibelahan bumi sana tepatnya di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kabupaten Banjarnegara jawa Tengah yang tertimpa musibah longsor merupakan salah satu ujian dari Allah Ta’ala yang semestinya kita harus mengambil pelajaran darinya karena adanya ujian itu sebagai peringatan atas kelalaian kita selama ini. 

Bukan justru sabagaimana yang dilaporkan oleh berbagai media bahwa sesaat setelah orang nomor satu dinegeri ini pergi meninggalkan mereka setelah mencuci kakinya justru para warga berebutan mengambil sisa airnya untuk membasuh muka mereka, mereka menganggap sisa air yang digunakan jokowi untuk membersihkan sepatunya bisa membawa berkah. “Alhamdulillah saya senang, bisa basuh muka saya dengan air bersih sisa pak jokowi, ya semoga berkah” ujar marnoto warga desa sekitar setelah membasuh mukanya dengan air sisa jokowi.
 
Mereka menyamakan atau mengqiyaskan kan hal ini dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam boleh diambil rambut atau keringatnya sebagai suatu keberkahan, maka menurut mereka para kyai atau yang ditokohkan juga pantas untuk dimintai berkahnya baik dari ludahnya atau rambutnya serta apapun bekas darinya tidakkah mereka tahu bahwa mencari berkah secara dzat seperti ini tidak diperbolehkan untuk selain para Nabi?!!
 
Qiyas (penyamaan hukum) yang mereka lakukan adalah qiyas yang keliru dan jelas-jelas bathil. Jangankan mencari berkah dari kyai atau seorang tokoh, mencari berkah dari Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu -sahabat yang mulia, yang keimanannya jika ditimbang akan jauh lebih berat dari keimanan umat ini dan sudah dijamin masuk surga saja tidak diperbolehkan karena beliau bukan Nabi dan tidak pernah di antara para sahabat yang lain mencari berkah dari beliau radhiyallahu‘anhu. Apalagi dengan para kyai atau tokoh yang tingkat keimanannya jauh di bawah Abu Bakar dan belum dijamin masuk surga, maka sungguh tidaklah pantas seorang pun mengambil berkah darinya.

Dan islam pun memang melarang keras mencari berkah pada selain Allah subhanahu wata’ala baik kuburan, batu, pohon, serta manusia yang masih hidup ataupun telah meninnggal karena yang demikian itu adalah perbuatan syirik. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rosulullah yang menceritakan: “Orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon tempat mereka berhenti dan beristirahat. Dan mereka juga menggantungkan pedang-pedang mereka untuk mencari berkah. Pohon itu disebut Dzatu Anwath. (Kata Abu Waqid) kami kemudian melewati sebuah sebuah pohon kemudian mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka (kaum musyrikin) memiliki Dzatu Anwath.’ Kemudian Rasulullah menjawab,‘Allahu Akbar, sesungguhnya apa yang kalian katakan ini merupakan jalan-jalan (orang sebelum kalian). Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seperti ucapan bani Israil kepada Musa:‘Buatkanlah kami satu sesembahan sebagaimana mereka memiliki banyak sesembahan.' (Musa) berkata: ‘Sesungguhnya kalian adalah kaum yang jahil.’(Rasulullah berkata: ‘Kalian benar-benar akan mengikuti langkah-langkah orang sebelum kalian)’” (HR. At-Tirmidzi)
 
Dan seyogyanya kita menolong mereka bukan hanya sebatas materi tapi dakwah dan doa semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka sehingga mereka sadar akan kelalaiannya selama ini bukan justru bertambah lalai dan menyimpang karena penyimpangan dari aqidah sungguh malapetaka yang bisa mendatangkan adzab Allah sebagaimana firman-Nya:

 اَحَسِبَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ السَّيِّئَاتِ اَنْ يَسْبِقُوْنَا سَاءَ مَا يَحْكُمُوْنَ
“Apakah orang-orang yang mengerjakan kejahatan atau kemaksiatan itu mengira bahwa mereka akan luput dari adzab kami? Amatlah buruk apa yang mereka tetapkan itu" (QS.Al-Ankabut : 4)”.

Semoga Allah senantiasa menguatkan kita untuk mengarungi segala rintangan ujian dan menjadikan kita seorang mukmin yang tangguh sehingga dengan ujian tersebut semakin mendekatkan kita pada sang Khaliq. Aamiinn…
Wallahu’alam