Hot!

Sameeh.net Dituduh Situs "Khawarij" Ini Jawaban Kami!!

Oleh: Ust. Abu Husein At-Thuwailibi

Sameeh.net - Ada orang berkata, “Ustadz, ada seorang Ustadz mengatakan bahwa situs sameeh.net (yang salah satu penulisny adalah anda) adalah situs bermanhaj “khawarij”, karena situs sameeh.net beberapa kali mengkiritik dan menyalahkan pemimpin dst...”

Jawab: Akhi, Barakallahufiikum, semoga Allah menjauhkan kami dan anda dari manhaj dan pemikiran Khawarij yang sesat dan menyesatkan, dan semoga kami dengan oknum "ustadz" yang menuduh kami khawarij dipertemukan Allah di Surga-Nya, Aamiin.

Mengenai pemimpin, telah diriwayatkan dari Ziyad bin Hudair, bahwa Umar bin Khathab pernah berkata kepadanya,

,ﻫَﻞْ ﺗَﻌْﺮِﻑُ ﻣَﺎ ﻳَﻬْﺪِﻡُ ﺍﻹِﺳْﻼَﻡَ؟ ﻗَﺎﻝَ ﻗُﻠْﺖُ : ﻻَ. ﻗَﺎﻝَ : ﻳَﻬْﺪِﻣُﻪُﺯَﻟَّﺔُ ﺍﻟْﻌَﺎﻟِﻢِ ﻭَﺟِﺪَﺍﻝُ ﺍﻟْﻤُﻨَﺎﻓِﻖِ ﺑِﺎﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻭَﺣُﻜْﻢُ ﺍﻷَﺋِﻤَّﺔِ ﺍﻟْﻤُﻀِﻠِّﻴﻦَ

“Tahukah engkau apa yang menghancurkan Islam?”

Lalu Ziyad menjawab,“Tidak tahu.”

Umar berkata, “Yang menghancurkan Islam adalah penyimpangan orang berilmu, bantahan orang munafik terhadap Al-Qur’an, DAN KEPUTUSAN PARA PEMIMPIN YANG MENYESATKAN”

(Riwayat Ad-Darimi, dan berkata Syaikh Husain Asad: isnadnya shahih)

Sahabat sameeh yang semoga dicintai Allah, mengenai masalah menasehati pemimpin, kami telah menjelaskannya dalam artikel kami yang bisa anda baca di sini: http://www.sameeh.net/2014/12/menasehati-pemimpin-yes-menjilati.html

Adapun mengenai hadits menasehati pemimpin dengan cara diam-diam, telah dibahas akan dho'if nya derajat hadits tersebut, diantaranya oleh Al-Ustadz Ja'far Umar Thalib Hafizhahullah yang bisa anda baca disini:
http://jafarumarthalib.com/?p=78 dan http://jafarumarthalib.com/?p=76

Sebenarnya kami bukan menyalahkan pemimpin, tapi kami salahkan kedua-duanya, kami menyalahkan rakyat (termasuk diri kami sendiri) yang semakin rusak dan jauh dari nilai-nilai agama,akan tetapi kami juga menyalahkan pemimpin yang tidak memperdulikan aqidah dan persatuan ummat serta cinta terhadap dunia. Karena sejatinya, pemimpin itu menjadi cermin bagi rakyatnya..

Bukankah ada ungkapan orang Arab, “rakyat itu mengikuti pemimpin; masyarakat umum itu tergantung agama rajanya”.

Akhi, Sejarawan Islam telah mencatat contoh nyata dalam hal ini. Masa kekhilafahan Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai masa yang di dalamnya rakyat sangat giat dalam ibadah dan ketaatan kepada Allah.

Umar bin Abdul Aziz dalam sebuah riwayat terlihat shalat tahajud di mihrabnya dalam kondisi menangis. Ia biasa meneteskan air mata dalam ibadahnya. Beliau dikenal sebagai ahli ibadah dan suka membaca Al-Qur’an. Maka kebiasaan pemimpin ini pun ditiru oleh rakyatnya. Bahkan perbincangan sehari-hari mereka adalah tentang ibadah. Ketika mereka saling bertemu, pertanyaan yang dilontarkan tidak lepas dari berapakah Anda menghafal Al-Qur’an, berapa rakaat engkau qiyamul lail tadi malam dan tentang kesalehan lainnya.

Hal itu berbeda dengan masa dua khalifah sebelumnya. Masa Al-Walid bin Abdul Malik dikenal sebagai masa harta berlimpah dan makmur. Al-Walid dikenal pemimpin yang suka bangunan dan infrastruktur mewah. Ia rela mengeluarkan biaya yang sangat mahal untuk proyek-proyek bangunan. Ia membangun masjid Jami’, gedung, dan pabrik-pabrik. Kesukaannya ini pun menular kepada rakyatnya, hingga perbincangan di antara mereka tidak lepas dari bangunan dan gedung mewah.

Sulaiman bin Abdul Malik saudara Al-Walid berbeda lagi gaya hidupnya. Ia adalah orang yang suka kuliner dan berlibur. Maka obrolan rakyat di warung-warung tidak lepas dari pertanyaan tentang makanan dan apa menu makanan hari ini.

(Silahkan antum Lihat Kitab Al-Kamil Fi At-Tarikh, Asy-Syaibani, IV/292. Tarikh Ath-Thabari, IV/29).

Nah, besarnya pengaruh pemimpin yang shaleh terhadap rakyat adalah salah satu hikmah dari syarat-syarat kepemimpinan Islam yang ketat, di antaranya adil dan berilmu. Selain itu Islam juga tidak memberikan jabatan kepemimpinan bagi orang yang memintanya. Bisa jadi orang yang berambisi tidak akan amanah dalam memimpin. Apalagi sampai pada politik uang demi jabatan, bisa saja selama menjabat ia akan menzalimi uang rakyat untuk mengembalikan modalnya.

Dengan dua sisi yang harus diperbaiki tersebut, maka menyampaikan peringatan kepada pemimpin jelas harus dilakukan, dengan kaidah amar makruf nahi mungkar yang benar. Membiarkan penguasa muslim dalam kemaksiatan dan kezaliman adalah bentuk kezaliman dari saudaranya. Rasulullah bersabda, “Tolonglah saudaramu yang zalim dan yang dizalimi.” Wujud menolong orang yang zalim adalah mencegah dari perbuatan zalimnya.

Nabi bersabda:

مَا مِنْ أَمِيرٍ يَلِى أَمْرَ المُسْلِمِينَ، ثُمَّ لا يَجْهَدُ لَهُمْ وَيَنْصَحُ، إِلا لَمْ يَدْخُلْ مَعَهُمُ الجَنَّةَ

“Tidak ada seorang pemimpin yang menangani urusan kaum muslimin, kemudian tidak bersungguh-sungguh dan melaksanakannya dengan baik, kecuali ia tidak akan masuk surga bersama mereka.” (HR Muslim)

“Tiada seorang pemimpin yang diamanahi oleh Allah untuk rakyatnya, suatu saat mati dalam kondisi menzalimi (hak mereka) kecuali Allah mengharamkan wangi surga baginya.” (Muslim).

Dua hadits tersebut bentuk ancaman bagi penguasa zalim di akhirat, sedangkan di dunia, Allah bisa kapan saja sesuai kehendaknya telah memiliki alasan untuk menimpakan musibah yang tidak hanya menimpa orang jahat, tetapi orang saleh juga kena getahnya. Ancaman ini berlaku—dan kita berlindung kepada Allah darinya—bila kemaksiatan telah merajalela tanpa ada proses amar makruf nahi mungkar.

Allah berfirman:
“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (Al-Ma’idah: 78-79).

Dalam kaitan yang sama, Rasulullah bersabda, “Hendaklah kalian beramar makruf (menyuruh berbuat baik) dan bernahi mungkar (melarang berbuat jahat). Kalau tidak, maka Allah akan menguasakan atas kalian orang-orang yang paling jahat di antara kalian, kemudian orang-orang yang baik-baik di antara kalian berdoa dan tidak dikabulkan (doa mereka).”

(HR. Al-Bazzar dari Abu Hurairah).

Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaknya kalian beramar makruf dan nahi munkar atau jika tidak niscaya Allah akan mengirimkan siksa-Nya kepada kalian, kemudian kalian memohon kepada-Nya namun doa kalian tidak lagi dikabulkan.”

(HR. Imam Tirmidzi no. 2169. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Demikian ya Akhi, semoga salam dan salawat dilimpahkan kepada nabi Muhammad, beserta keluarga dan sahabat beliau, Aamiin.

Allahu A'lam.