Hot!

Mengeraskan Suara Ketika Zikir Dan Do'a Sesudah Shalat Berjama'ah Adalah Khilafiyah: Ikuti Sunnah, Lapang Dada, Dan Jangan Berpecah Belah

Oleh: Abu Husein At-Thuwailibi

Sameeh.net - Artikel ini saya susun berangkat dari fenomena “unik” yang baru-baru ini terjadi dimasjid yang biasa kami melakukan shalat berjama'ah disana, yakni masjid Al-Huda, di jalan pendawa, kawasan komplek china.

Fenomena yang mestinya tidak terjadi, namun karena dangkalnya ilmu dan lemahnya iman terjadilah hal-hal konyol yang menyebabkan rusaknya ukhuwah islamiyah antar sesama jama'ah masjid, yaitu fenomena saling boikot antar satu jama'ah dengan jama'ah yang lain dalam masalah do'a dan zikir seusai shalat fardhu berjama'ah. Sejatinya sama-sama melakukan do'a dan zikir, hanya saja berbeda dalam hal cara. Yang satu melakukan do'a dan zikir dengan dengan di jaharkan (dikeraskan) sedangkan yang lainnya melakukan zikir dengan di sirr-kan (tidak keras).

Kalau kita mau jujur, masalah do'a dan zikir setelah shalat fardhu ini sejak lama telah di perselisihkan oleh para Ulama Salaf. Mereka sepakat akan sunnah nya berzikir dan berdo'a setelah shalat fardhu, hanya saja para Ulama berselisih pendapat mengenai bentuk dan cara-nya; apakah dengan cara dikeraskan atau dilirihkan. Disinilah letak perselisihan pendapat diantara para 'Ulama.

Sebagian 'Ulama masa kini, diantaranya Teungku Zulkarnain,MA (wasekjend MUI) berpendapat bahwa zikir setelah shalat fardhu berjama'ah adalah Sunnah, berdasarkan Riwayat dalam kitab Shahih Bukhari berikut ini:

dari shabat Ibnu Jarir,dari ‘Amr telah berkata padaku bahwa Abu Ma’bad –bekas budak Ibnu ‘Abbas- mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,


أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – . وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ

“Mengeraskan suara pada dzikir setelah shalat wajib telah ada di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Aku mengetahui bahwa shalat telah selesai dengan mendengar hal itu, yaitu jika aku mendengarnya.”

(HR. Imam Bukhari di nomor hadits 805 dan Muslim nomor 583)

Selain riwayat diatas ada riwayat lain,yaitu:

كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِالتَّكْبِيرِ

“Kami dahulu mengetahui berakhirnya shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui suara takbir.”

(HR. Imam Bukhari di nomor 806 dan Muslim nomor 583)

Berdasarkan hadits inilah, sebagian ulama berpendapat DIANJURKAN MENGERASKAN SUARA pada dzikir setelah shalat, di antara yang berpendapat seperti ini adalah Al-Imam Ibnu Hazm Rahimahullah, dalam Kitabnya Al-Muhalla beliau berkata,

ورفع الصوت بالتكبير إثر كل صلاة حسن

“Mengeraskan suara dengan bertakbir pada dzikir sesudah shalat adalah suatu amalan yang baik.”

Sedangkan menurut Imam Malik (pendiri mazhab Maliki) bahwa zikir dengan suara keras setelah shalat fardhu berjama'ah adalah MUHDATS (BID'AH), sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Kitabnya Fathul Baari.

Berangkat dari situ, maka menurut sebagian Ulama lain,diantaranya Syaikh Ibnu Saini bin Musa Rahimahullah dan Syaikh Abdul Hakim Bin Amir Abdat bahwa zikir dengan suara keras setelah shalat fardhu berjama'ah adalah bid'ah atau minimalnya MAKRUH (DIBENCI), berdasarkan Hadits shahih yang diriwayatkan Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,


كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ، فَكُنَّا إِذَا أَشْرَفْنَا عَلَى وَادٍ هَلَّلْنَا وَكَبَّرْنَا ارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا ، فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَا أَيُّهَا النَّاسُ ، ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ ، فَإِنَّكُمْ لاَ تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا ، إِنَّهُ مَعَكُمْ ، إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ ، تَبَارَكَ اسْمُهُ وَتَعَالَى جَدُّهُ »

“Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika sampai ke suatu lembah, kami bertahlil dan bertakbir dengan mengeraskan suara kami. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Wahai sekalian manusia. Lirihkanlah suara kalian. Kalian tidaklah menyeru sesuatu yang tuli dan ghoib. Sesungguhnya Allah bersama kalian. Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Maha berkah nama dan Maha Tinggi kemuliaan-Nya.”

(HR. Imam Bukhari nomor 2830 dan Imam Muslim nomor 2704).

Nah, hal ini menunjukkan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah suka dengan suara keras saat dzikir dan do’a, terlepas dari apakah setelah shalat ataukah tidak.

Imam Ath-Thobari Rahimahullah berkata,

فِيهِ كَرَاهِيَة رَفْع الصَّوْت بِالدُّعَاءِ وَالذِّكْر ، وَبِهِ قَالَ عَامَّة السَّلَف مِنْ الصَّحَابَة وَالتَّابِعِينَ اِنْتَهَى

“Hadits ini menunjukkan dimakruhkannya mengeraskan suara pada do’a dan dzikir. Demikianlah yang dikatakan para salaf yaitu para sahabat dan tabi’in.”

(Kitab Fathul Bari, 6: 135)[1]

Dari sini, maka sebagian Ulama berpendapat MAKRUH mengeraskan zikir sesudah shalat. karena yang dilakukan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidaklah membiasakan hal itu. Boleh jadi Rasulullah pernah melakukannya, namun hanya dalam rangka ta’lim,yakni MENGAJARKAN, bukan kebiasaan yang terus menerus, sebagaimana yang dikatakan Imam Syafi'i dalam Kitabnya Al-Umm:

وأحسبه إنما جهر قليلا ليتعلم الناس منه وذلك لأن عامة الروايات التي كتبناها مع هذا وغيرها ليس يذكر فيها بعد التسليم

“Aku menganggap bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaharkan (mengeraskan) suaranya sedikit tatkala zikir setelah shalat adalah untuk mengajari para sahabat. Karena kebanyakan riwayat yang aku tulis dan riwayat lainnya menyebutkan bahwa beliau tidak berdzikir dengan tahlil dan takbir setelah salam. Dan terkadang beliau juga berdzikir dengan tata cara yang pernah disebutkan.”

Nah, jadi Imam Syafi’i berpendapat bahwa asal dzikir adalah dengan suara lirih (tidak dengan jahar),berdalil dengan Firman Allah:

وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا

“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula terlalu merendahkannya”

(QS. Al-Isro’ ayat 110).

Dalam kitabnya Al-Umm Imam Syafi’i Rahimahullah berkata tentang ayat 110 surat Al-Isro' tersebut, “Janganlah menjaharkan,yaitu mengeraskan suara. Jangan pula terlalu merendahkan sehingga engkau tidak bisa mendengarnya sendiri.”

Kesimpulannya, perkara ini adalah perkara yang diperselisihkan oleh para 'Ulama. Namun, saya pribadi lebih cenderung memilih pendapat Imam Syafi'i yang dikuatkan oleh Jumhur (mayoritas) Ulama bahwa zikir dengan suara keras adalah MAKRUH dan sebaiknya zikir dengan suara lirih,yakni tidak dikeraskan, berdasarkan Firman Allah Ta'ala:


ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

(QS. Al-A’raf ayat 55)

Lalu Allah Ta'ala menceritakan tentang Nabi Zakariya,

إِذْ نَادَى رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا

“Yaitu tatkala ia berdoa kepada Rabbnya dengan suara yang lembut.”

(QS. Maryam ayat 3)

Demikian pula yang diperintahkan dalam dzikir, Allah Ta’ala berfirman,

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآَصَالِ

“Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan TIDAK MENGERASKAN SUARA di waktu pagi dan petang.”
(QS. Al-A’raf ayat 205)

Terakhir, Syaikh Muqbil Bin Hadi Al-Wadi’i Rahimahullah dalam kitabnya Ijabatus Sa`il halaman 79 menyebutkan beberapa dampak yang kurang baik dari mengeraskan dzikir,di antaranya:
Orang yang berdzikir akan terganggu oleh dzikir orang lain jika semuanya mengangkat suara, khususnya kalau susunan dzikirnya berbeda-beda. Kemudian akan mengganggu orang-orang yang masbuq,yakni yang terlambat dalam shalat, kemudian juga mengganggu orang yang melakukan shalat sunnah (orang yang shalat sunnah setelah shalat wajib tanpa dzikir karena ada keperluan yang mendesak atau yang lainnya).

Adapun masalah berdo'a bersama,yakni berdo'a dengan cara satu orang berdoa sedangkan yang lain mengamini, maka ini terbagi menjadi dua kondisi,

Pertama: Hal tersebut dilakukan pada amalan yang memang disyariatkan doa bersama, maka berdoa bersama dalam keadaan seperti ini disyariatkan seperti misalnya dalam shalat Al-Istisqa’ (minta hujan), qunut shubuh, qunut witir, qunut nazilah, dll.

Kedua: Hal tersebut dilakukan pada amalan yang tidak ada dalilnya dilakukan doa bersama di dalamnya, seperti berdoa bersama setelah shalat fardhu, setelah majelis ilmu, setelah membaca Al-Quran dll, maka ini BOLEH jika dilakukan kadang-kadang, sekali-sekali, dan bukan karena kesengajaan, namun kalau dilakukan terus-menerus maka menjadi BID'AH.

Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya:

“Apakah diperbolehkan sekelompok orang berkumpul, berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan mengangkat tangan?”

Lalu beliau mengatakan:

ما أكرهه للإخوان إذا لم يجتمعوا على عمد، إلا أن يكثروا

“Aku tidak melarangnya jika mereka tidak berkumpul dengan sengaja, kecuali kalau terlalu sering.”

(Diriwayatkan oleh Al-Marwazy di dalam Kitab Masail Imam Ahmad bin Hanbal wa Ishaq bin Rahuyah 9/4879)

Sedangkan Imam Al-Marwazy mengatakan:

وإنما معنى أن لا يكثروا: يقول: أن لا يتخذونها عادة حتى يعرفوا به

“Dan makna “jangan terlalu sering” adalah jangan menjadikannya sebagai kebiasaan, sehingga dikenal oleh manusia dengan amalan tersebut.”

(Kitab Masail Imam Ahmad bin hambal wa Ishaq bin Rahuyah 9/4879).

Dalam kitabnya Al-I'tishom Imam Asy-Syathibi Rahimahullah berkata, “Do’a berjama’ah yang DILAKUKAN TERUS MENERUS TIDAK PERNAH DILAKUKAN OLEH RASULULLAH Shallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana pula tidak ada perkataan atau persetujuan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan amalan ini. Karena dalam riwayat Bukhari dari hadits Ummu Salamah disebutkan,“Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya diam sesaat setelah salam.”

Dalam riwayat Muslim disebutkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Beliau tidaklah duduk selain sekadar membaca, “Allahumma antas salaam wa minkas salaam tabaroka ya dzal jalaali wal ikrom”.

kesimpulannya, masalah ini termasuk yang diperselisihkan oleh para 'Ulama, hendaknya kita berlapang dada, tidak menjadikannya suatu masalah hingga memmecah belah, demikian pula tidak gampang memvonis bid'ah. akan tetapi pendapat yang kuat dan mendekati kebenaran adalah berzikir dengan suara lirih dan dilakukan sendiri-sendiri agar lebih tenang , khusyu', dan tidak menganggu orang lain. Sedangkan bagi yang hendak mengamalkan dengan suara keras,maka silahkan selama ada dalil yang menguatkannya, namun hendaknya tetap berlapang dada dan senantiasa mengikuti sunnah.

Allahu A'lam