Hot!

Kafirkah Pelaku Dosa Besar??

 Oleh: Muhammad Husni Haikal

Sameeh.net - Dosa yang dimaksud di sini adalah dosa selain syirik. Ahlu Sunnah wal Jama’ah, mereka berpendapat bahwa dosa besar yang dilakukan seorang mukmin tidak menjadikannya keluar dari iman selama tidak menganggap dosa yang dikerjakannya itu boleh atau halal. Menurut Ahlu Sunnah wal Jama’ah, mukmin yang berbuat satu dosa besar, bila ia meninggal sebelum bertaubat, ia tidak kekal di dalam neraka, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, bahwa urusannya diserahkan kepada Allah, apakah Allah akan mengampuni atau menyiksanya sesuai dosa yang dikerjakannya selain dosa syirik.
    
Imam asy-Syafi’i berpendapat, bahwa ahlu-qiblah (kaum mukminin) yang berbuat dosa besar berada pada masyia-ah Allah. Bila Allah menginginkan untuk menyiksanya dan bila Allah menghendaki untuk memaafkannya, maka Allah akan memaafkannya. Imam asy-Syafi’i berkata: “Orang yang lari pada saat pertempuran bukan karena ingin bersiasat dalam menghadapi musuh atau bukan karena ingin bergabung dengan pasukan maka saya khawatir ia mendapat murka dari Allah, kecuali jika Allah memaafkannya.” Beliau berdalil dengan firman Allah:
 
“Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau Dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil.” (QS. Al-Hujuraat: 9).
    
Bahwa Imam asy-Syafi’i memandang, bahwa pelaku dosa besar tetaplah ia menjadi seorang muslim dan jika ia bertaubat, maka Allah akan menerima taubatnya. Dan bila dikenakan hukum hadd padanya, maka hukum itu merupakan kaffarah baginya. Kalau ia mati dalam keadaan tetap berbuat dosa, maka urusannya diserahkan kepada Allah, apakah Dia akan mengampuninya atau menyiksanya. Yang jelas ia tidak kekal di dalam neraka. Wallahu a’lam.