Hot!

Kafirkah Kedua Orang Tua Rasulullah??

Oleh: Taufiq Oki Darmawan
(Mahasiswa Islamic Center Al-Islam)

Pendahuluan
 
1.    Para ulama’ yang menyatakan kedua orang tua Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam di neraka
 
Imam al-Qaari menukil ijma’ salaf dan khalaf tentang kedua orang tua Rasul yang masuk neraka. Beliau berkata : ”Ulama’ salaf dan khalaf dari kalangan sahabat, tabi’in dan imam yang empat serta para mujtahid telah sepakat akan hal ini tanpa ada khilaf / perselisihan sedikitpun. Adapun khilaf yang muncul belakangan setelah adanya ijma’ tidak diakui.
Sungguh sangat mengherankan bagaimana bisa Imam Suyuthi yang mengerti akan atsar-atsar / hadits-hadits yang banyak ini berpaling darinya, dan tidak mengikuti para imam. Justru dia mengikuti ulama’-ulama’ yang belakangan dan menukil dalil-dalil yang lemah sekali.”
2.    Dalil-dalil yang sering dipakai beserta bantahannya :
1.    Dalil pertama : bahwa kedua orang tua Rasul termasuk ahli fatrah.
 
Definisi ahli fatrah :
a.    Menurut bahasa : Ibnu Manzhur berkata: al-fatrah adalah kelemahan dan penurunan.
b.    Menurut istilah : selang / jarak waktu antara dua Nabi.
Ahli fatrah adalah mereka yang hidup pada selang waktu antara dua orang rasul, mereka tidak menemui rasul yang pertama dan tidak pula menjumpai rasul yang kedua, seperti selang waktu antara Nuh dan Idris Alaihi Salam dan antara Isa Alaihi Salam dan Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam.
 
Oleh karena itu jika kita perhatikan Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :  
“Hai ahli Kitab, Sesungguhnya telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syari'at Kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) Rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan: "tidak ada datang kepada Kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan". Sesungguhnya telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(QS. Al-Maidah : 19)
 
Ayat ini menguatkan apa yang telah kami sebutkan, bahwa maksud dari kata ahli fatrah itu umum tidak dikhususkan pada kaum atau zaman tertentu.
Selang waktu dari seorang Nabi yang paling mencolok adalah selang waktu antara Nabi Isa Alaihi Salam dan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam.
Para ulama’ berselisih pendapat tentang selang waktu antara keduanya. Pendapat yang paling kuat yang mengatakan selang waktu antara keduanya adalah 600 tahun. Inilah pendapat Muqaatil dan Ibnu Abbas.
Macam-macam ahli fatrah dan pendapat yang kuat tentang kewajiban mengikuti ajaran Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam sebelum mereka.
Ahli fatrah dibagi menjadi dua macam :
1.    Yang telah sampai kepadanya ajaran seorang Nabi.
2.    Yang telah sampai kepadanya dakwah dan dia dalam keadaan lalai.
Adapun golongan yang pertama terbagi menjadi dua lagi :
a.    Yang sampai kepadanya dakwah dan dia bertauhid serta tidak berbuat syirik.
b.    Yang sampai kepadanya dakwah akan tetapi dia merubah ajaran dan berbuat syirik.
-    Orang yang bertauhid dan tidak berbuat syirik kapada Allah seperti Qus bin Saa’idah, Zaid bin Amr bin Nifail, Waraqah bin Naufal, dan yang lainnya. Golongan ini tidak diperselisihkan karena adanya dalil-dalil yang menunjukkan bahwa mereka itu mati dalam keadaan bertauhid.
-    Adapun yang telah sampai kedanya dakwah tapi dia masih berbuaat syirik seperti Amru bin Luhay, Abudullah bin Jad’an, shahibul mihjan (pemilik kayu bercabang yang mencuri pada saat haji), kedua orang tua rasul dan paman serta kakek beliau, maka (golongan ini) selayaknya tidak diperselisihkan bahwa mereka dimasukkan di dalam neraka, karena dakwah telah sampai kepada mereka.
-    Adapun golongan kedua maka golongan yang satu ini masih diperselisihkan oleh para ulama’, tapi yang benar mereka itu diuji dengan diperintahkan masuk ke dalam api pada hari kiamat kelak.
 
2.    Dalil kedua : hadits-hadits yang berkenaan dengan dihidupkannya kembali kedua orang tua Nabi Shalallahu Alihi wa Sallam (ke dunia) lalu mereka beriman kepada beliau.
1.    Hadist Aisyah yang disebutkan oleh pengarang.
2.    Hadist Ibnu Umar yang juga disebutkan oleh pengarang.
3.    Hadist Ali bin Abi Thalib dari Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam beliau bersabda : Jibril turun kepadaku dan berkata : Allah mengucapkan salam kepadamu dan Dia berfirman : “Sesungguhnya Aku haramkan neraka bagi tulang rusuk yang telah mengeluarkanmu, perut yang pernah melahirkanmu, pangkuan yang telah merawatmu, yaitu Abdullah, Aminah dan Abdul Muthalib.”
 
4.    Hadist Adbullah bin Abbas, dia berkata : Aku mendengar Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam berkata : “Aku memberi syafa’at kepada ayahku, pamanku, saudara sepersusuan, sehingga mereka menjadi debu setelah hari kebangkitan.”

KAFIRKAH KEDUA ORANG TUA RASULULLAH

I.    Dalil-dalil dari Al-Qur’an :

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman : 
“Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka.”(QS. al-Baqarah : 119)
 
Waqi’, Sufyan bin Uyainah, Abdurrazaq, Abdun bin Hunaid, Ibnu Jarir, Ibnu Mundzir telah meriwayatkan dari Muhammad bin Ka’ab al-Qurzhi, beliau berkata,” Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam : “Sangat disayangkan! apa yang dikerjakan orang tuaku?” maka turun ayat : “Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka.”(QS. al-Baqarah : 119). Senantiasa Rasulullah mengingat keduanya hingga Allah mewafatkannya.”
 
Di dalam nash tadi terdapat bantahan bagi mereka yang menyangka bahwa kedua orang tua Rasulullah berada di surga. Sekaligus di dalamnya ada kabar bahwa hukum ini tidak dihapus dengan dihidupkannya kedua  orang tua beliau.
 
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Dawud bin Abi Ashim, bahwa Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda pada suatu hari : “Dimanakah kedua orang tuaku berada? Maka turunlah ayat tadi.”
 
II.    Dalil-dalil dari Sunnah
 
Imam Muslim meriwayatkan dari Anas Radhiyallahu Anhu : (Bahwa ada seeseorang yang bertanya :”Wahai Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam! Dimanakah ayahku?” maka Rasulullah menjawab : “Ayahmu di neraka.” Lalu orang itu pergi, kemudian Nabi memanggilnya dan bersabda : ”Sesungguhnya ayahmu dan ayahku di neraka.”
 
Demikian pula yang diriwayatkan oleh al-Bazzar bahwa Nabi sesungguhnya ingin memintakan mapun untuk ibunya, mka Jibril menepukkan tanganya ke dada Rasulullah seraya berkata : “Apakah engkau meminta ampun untuk orang yang mati dalam kesyirikan.”
Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim, Hakim, Ibnu Mardawih, Baihaqi dalam ”dalail” dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu beliau berkata : Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam keluar pada suatu hari ke pemakaman lalu kami pun mengikuti beliau. Setelah masuk pemakaman beliau duduk di sebuah kuburan sambil berkata sesuatu lalu beliau menangis, kami pun ikut menangis. Setelah itu beliau berdiri dan Umar berdiri pula, lalu Nabi memanggil kami semua sambil bertanya :”Apa yang membuat kalian menangis?” kami berkata : “Kami menangis karena melihat anda menangis.” Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya ini adalah kuburan Aminah (ibuku) dan saya memohon izin kepada Rabb-ku untuk berziarah ke kuburnya dan saya diizinkan untuk ziarah. Dan sya memohon izin untuk meminta aampun bagi ibuku tapi saya tidak diizinkan. Lalu turunlah ayat : (Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang beriman untuk memintakan ampun bagi orang-orang musyrik walaupun kerabat dekat mereka), maka saya bersedih sebagaimana seorang anak, itulah yang menyebabkan saya menangis.” Hal ini disebutkan pula oleh al-Waqidi dalam asbabun nuzul dengan isnadnya. Thabrani meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu.
 
III.    Dalil Ijma’
 
Adapun dalil ijma’ maka para salaf dan khalaf dari kalangan sahabat, tabi’in dan imam yang empat serta para mujtahid telah sepakat akan hal ini. Tidak ada khilaf sedikit pun dari meraka, kalau memang ada khilaf setelah adanya ijma’ maka hal tersebut tidak mengurangi ijma’ yang telah disepakati.
 
IV.    Bantahan Terhadap Suyuthi
 
Yang aneh dari Syaikh Jalaluddin Suyuthi – padahal beliau mengerti tentang riwayat-riwayat yang bisa dikatakan mutawatir – Suyuthi tidak mengikutinya dan tidak sama dengan para imam-imam lain, tapi Suyuthi justru cenderung untuk mengikuti kelompok ulama’ belakangan. Dan Suyuthi mendatangkan dalil-dalil yang lemah menurut para pakar ilmu (hadist).
 
Di antara dalil-dalil Suyuthi adalah : sesungguhnya Allah menghidupkan kembali kedua orang tua Nabi hingga mereka beriman kepadanya. Suyuthi dalam hal ini bersandar kepada riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Syahin dalam “nasikh wal manshuk”, serta khatib al-Baghdadi dalam “as-sabiq wal lahiq”, Daruquthni dan Ibnu Asakir keduanya dalam “gharaib malik”, dengan sanad yang lemah dari Aisyah Rahdhiyallahu Anha berkata, Rasulullah  Shalallahu Alaihi wa Sallam berhaji bersama kami paada waktu haji wada’ / perpisahan. Rasul melewati tempat yang bernama Hajun dalam keadaan menangis dan sedih, lalu Rasul turun dan menjauh lama dariku kemudian kembali kepadaku dalam keadaan gembira dan tersenyum, maka aku pun bertanya tentang sebabnya? Beliau bersabda : “Saya tadi pergi ke kuburan ibuku dan saya memohon kepada Allah untuk menghidupkannya kembali hingga ibuku beriman kepadaku maka Allah pun mengembalikan ibuku ke dunia ini lagi.”
 
Hadist ini lemah menurut kesepakatan ahli hadist seperti yang telah diakui seendiri oleh Suyuthi. Ibnu Katsir berkata, “Hadist ini mungkar sekali, perawi-perawinya tidak dikenal.”
Perkataan Syaikh Ibnu Hajar al-Makki dalam “Syarah al-Hamziyah”, ”Hadist itu shahih dan dishahihkan oleh banyak ulama’. ”Perkataan ini tidak bisa diterima, bahkan ini hanyalah kedustaan semata serta aib buruk yang bisa menggugurkan keadilan dan membatalkan riwayat.
 
Al-Hafidz Ibnu Dihyah berkata -seperti yang dinukil oleh Ibnu Katsir-, “Sesungguhnya hadist ini palsu, telah disanggah oleh al-Qur’an dan ijma’. Allah berfirman yang artinya, “Dan tidak pula diterima taubat orang-orang yang mati sedang mereka dalam keadaan kafir.”(QS. an-Nisa’ : 18)
 
Kesimpulan : tidak benar riwayat dihidupkannya kembali serta berimanya kedua orang tua Nabi. Dalilnya adalah tidak ada satu orang sahabat Nabi yang menyaksikan hal ini terjadi pada waktu haji wada’, dan manusia pada waktu itu berkumpul untuk menolong beliau tanpa ada sedikit perselisihan. Ditambah lagi dengan adanya kaidah syariat yang menyatakan tidak diterimanya keimanan pada waktu sakaratul maut menurut kesepakatan ulama’.
 
Diantaranya lagi adalah perkataan Suyuthi : keduanya meninggal sebelum diutusnya Nabi dan keduanya tergolong ahlu fatrah.
 
Ini jelas menyelisihi al-Qur’an dan Hadist, serta berlawanan dengan apa yang telah dijelaskan, bahwa mereka mati dalam keadaan syirik. Apa yang dipaparkan panjang lebar oleh Suyuthi dengan alasan-alasanya tidaklah bermanfaat sama sekali dalam hal ini. Bersamaan dengan itu ada pertentangan dalam ucapanya yaitu seandainya keduanya termasuk ahli fatrah, maka tidak perlu untuk mengatakan dihidupkannya kembali kedua orang tua tersebut karena mereka adalah orang-orang yang selamat karena mereka ahli fatrah.
 
Diantaranya juga perkataan Suyuthi, ”Sesungguhnya telah datang hadist-hadist tentang ahli fatrah, bahwa mereka akan diuji pada hari kiamat dengan ditampakkannya api lalu mereka diperintah untuk memasukinya. Maka orang-orang yang telah ditetapkan kebahagiannya dalam ilmu Allah seandainya mereka diberi kesempatan beramal mereka akan memasuki api tersebut. Dan orang-orang yang telah ditetapkan kesengsarannya dalam ilmu Allah jika mereka diberi kesempatan untuk beramal, mereka enggan untuk memasukinya lalu Allah berfirman, yang artinya : “Kamu telah memaksiati Aku maka bagaimana dengan rasul-rasul-Ku.”
 
Jika hadist tersebut shahih maka telah membantah orang yang menyelisihinya. Sesungguhnya hadist tersebut bagi mereka yang mati pada zaman fatrah dan tidak diketahui akan kesyirikan mereka dan ketauhidan mereka. Adapun mereka yang sudah diketahui kekufurannya dangan al-Qur’an dan Sunnah serta kesepakatan para imam, maka tidak ada alasan lagi untuk memasukkan mereka ke dalam golongan orang-orang yang diuji pada hari kiamat dengan ketaatan seperti Waraqah bin Naufal, Qus bin Sa’idah dan selain dari keduanya dari mereka yang telah jelas ketauhidanya. Bukan semisal pemilik kayu bercabang dan selainnya dari orang-orang yang telah jelas kesyirikannya.
 
Perkataan Suyuthi, “Bahwa Ibnu Jarir menyebutkan dalam tafsirnya  dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya : “Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu hati kamu menjadi puas.”(QS. ad-Dhuha : 5). Beliau berkata : Di antara hal yang menjadikan hati beliau puas adalah tidak ada seorang pun dari keluarga beliau yang masuk neraka.”
 
Ini adalah pendapat Suyuthi saja, seandainya riwayat ini benar maka yang dimaksud dengan keluarga Nabi dalam ucapan Suyuthi tadi bukan keluarga Nabi yang kafir.
 
Ucapan Suyuthi : (Tidak ada bukti yang menunjukkan kesyirikan kedua orang tua Rasul, bahkan keduanya di atas agama tauhid –agama nenek moyang mereka yaitu Ibrahim Alaihi Salam).
 
Hal ini bertentangan dengan yang tercantum dalam shahih Muslim dari Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam sebagaimana yang telah berlalu.
 
Metode  seperti ini juga diikuti oleh sebagian orang seperti Fakhruddin ar-Razi yang mengatakan dalam kitabnya “Asraaruttanzil” : Dikatakan bahwa Azar bukan ayah Ibrahim Alaihi Salam tapi dia adalah paman beliau. Alasan mereka adalah : Sesungguhnya orang tua para Nabi itu bukan kafir, dalilnya sebagai berikut : firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya : “Dialah yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan melihat pula perubahan gerak badanmu diantara orang-orang yang sujud.” (QS. asy-Syu’ara’ : 218-219), maknanya adalah bahwa Muhammad memindahkan cahayanya dari orang yang sujud kepada yang lainnya, dari sini maka ayat tersebut menunjukkan dengan pasti bahwa ayah Ibrahim Alaihi Salam bukan termasuk orang-orang kafir, tapi yang disebut dengan Azar adalah paman beliau.
 
Adapun ucapan seorang sejarawan yahudi atau nashrani seperti yang diungkapkan dengan konteks : dikatakan bahwa Azar bukanlah ayah Nabi Ibrahim Alaihi Salam tapi dia adalah pamanya. Bagaimana dia bisa berpaling dari ayat yang jelas menerangkan bahwa Azar adalah ayah Ibrahim, diantarannya firman Allah Ta’ala yang artinya : “Ingatlah ketika Ibraqhim berkata kepad ayahnya Azar.”(QS. al-An’am : 74). Kata “Azar” dalam ayat di atas adalah athof bayan atau badal bina’ yang bermakna julukan atau sifat (menurut zaman itu) atau lainnya.
 
Sebagai tambahan terhadap semua yang telah disebutkan di atas, bahwa Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam adalah penjelas bagi apa yang ada di dalam al-Qur’an, Rasulullah adalah pembuka pintu kebenaran. Seandainya yang dimaksud dengan ayah Nabi Ibrahim adalah pamanya maka sungguh Rasulullah akan menjelaskannya.
 
V.    Bantahan Terhadap Ibnu Hajar Al-Makki
 
Adapun ucapan Ibnu Hajar al-Makki, ”Anda boleh membantah ucapan Abi Hayan, karena orang seperti dia hanya bisa dijadikan rujukan dalam maslah nahwu dan yang berkaitan denganya saja”, ini adalah suatu perkataan batil. Karena telah disepakati dalam ijma’ akan kebolehan menerima persaksian pakar bahasa dan riwayat para ahli hadist jika tidak ada kelemahan dalam agamanya. Bagaimana tidak, sedangkan Abi Hayan memilki tiga kitab tafsir, Abi Hayan juga memiliki karangan tentang sirah.
 
Dan saya (penulis) katakan, begitu pula yang bisa dikatakan kepada Ibnu Hajar al-Makki, “Anda adalah ahli fiqh saja, anda tidak mengerti melainkan masalah-masalah yang berkaitan dengan fiqh khususnya yang berkaitan dengan perselisihan.”
 
Dari sini jelasbagi kita kebatilan ucapan Ibnu Hajar, adapun orang yang mengambil darinya seperti Baidhawi dan selainnya, maka dia tidak cermat dan teliti.
 
Bagaimana benar perkataan perawi, bahwa semua nenek moyang Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam dahulunya adalah orang-orang bermain sedangkan ini bertentangan dengan hadist yang diriwaytakan oleh Imam Muslim serta berlawanan dengan ijma’ kaum muslimin? Kemudian yang lebih aneh lagi dari ucapanya adalah, “Oleh karena itu wajib untuk memastikan bahwa orang tua Ibrahim Alaihi Salam bukan termasuk orang kafir.
 
Adapun pernyataan bahwa nenek moyang Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam bukan tergolong orang-orang musyrik dengan dalil sabda beliau : “aku terlahir dari tulang rusuk orang-orang yang suci dan rahim perempuan yang suci...” maka ini tidak bisa diterima dengan sebab yang telah kami sebutkan, dan karena maksud dari haidst itu adalah seperti yang telah diterangkan oleh riwayat-riwayat yang lain.
 
Lebih jauh lagi kesalahan Suyuthi ketika mentakwilkan hadist Muslim ”Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di  neraka” dia berkata, “Maksud beliau adalah untuk menenangkan hati orang yang bertanya, serta beliau khawatir orang tersebut murtad jika mendengar pertama kali, bahwa ayahnya masuk neraka.”
 
Mustahil Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam menceritakan sesuatu yang berlainan dengan kenyataan yang ada dan menghukumi ayahnya kafir hanya untuk menarik hati seseorang yang kemungkinan beriman dan kemungkinan juga tidak beriman. Ini adalah suatu kesalahan besar dan kurang beradab (terhadap Nabi), semoga Allah menjaga kita dari kejelekan seperti ini.
 
VI.    Jawaban Terhadap Bantahan Suyuthi
 
Pernyataan Suyuthi akan keimanan semua nenek moyang Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam dengan dalih seperti yang disebutkan oleh Abdurrazzaq dalam ”Mushannaf” dari Ma’mar dari Ibnu Juraij dia berkata ; berkata Ibnu Musayyib ; berkata Ali bin Abi Thalib, “Senantiasa ada tujuh orang muslim atau lebih di setiap zaman di atas bumi ini, seandainya tidak ada maka hancurlah bumi beserta isinya.”
 
Isnad hadist ini shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim, hal seperti ini tidak mungkin dikatakan dengan akal semata, hadist ini marfu’.
 
Demikian pula dalil Suyuthi dengan riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim dengan  dengan sanad yang lemah dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu bahwasanya ayah Ibrahim bukan bernama Azar, tapi namanya Tarikh.
 
Di dalam riwayat ini tidak ada dalil bagi beliau, karena kita katakan : Seandainya kita terima nama ayahnya Tarikh dan julukannya Azar, ini tidak menunjukkan dia itu buka orang musyrik.
 
Adapun Suyuthi berdalil dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Dan dia (Ibrahim) menjadikannya suatu ucapan yang abadi pada keturunannya.”(QS. az-Zukruf : 28) beliau berkata : (Abduh bin Humaid meriwayatkan dalam tafsirnya dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, Beliau berkata : (Laa Ilaha Illallahu adalah ucapan yang kekal pada keturunan Ibrahim Alaihi Salam).
 
Saya katakan : Yaitu pada keturunannya, hal ini tidak mengharuskan semua keturunan beliau,  tapi hanya sebagian saja. Karena menurut kesepakatan (kaum muslimin), bahwa semua keturunan Nabi Ibrahim baik dari Ismail maupun Ishaq tidak semuanya mukmin. Oleh karena itu Qatadah Radhiyallahu Anhu berkata : Selalu ada di antara keturunan beliau (Nabi Ibrahim) yang mengatakan (Laa Ilaha Illallah) setelah beliau.
 
Dalil Suyuthi dengan firman Allah yang artinya : ”Ingatlah ketika Ibrahim berkata : Wahai Rabbku jadikanlah negeri ini (Mekkah) negeri yang aman dan jauhkanlah diriku dan keturunanku dari menyembah berhala.” (QS. Ibrahim : 35).
 
Beliau berkata : Ibnu Jarir meriwayatkan dalam tafsirnya dari Mujahid tentang ayat di atas, dia berkata : Allah mengabulkan do’a Ibrahim tentang anaknya, tidak ada seorang pun dari anak-anak beliau menyembah berhala. Dan Allah juga mengabulkan do’a beliau untuk menjadikan negeri itu (Mekkah) aman sentosa dan agar Allah menurunkan rezeki berupa buah-buahan bagi penduduknya serta menjadikannya dan keturunannya sebagai imam / pemimpin dan orang-orang yang mendirikan sholat.
 
Padahal sudah jelas bahwa tidak benar kalau dipahami bahwa yang dimaksud dengan anak-anak beliau adalah semua keturunan beliau, karena telah disepakati bahwa di antara keturunan Ismail ada yang kafir dan musyrik dari kalangan arab, yahudi dan nashara. Maka wajib untuk dipahami bahwa maksudnya adalah anak-anak kandung Ibrahim sendiri sebagaimana hal ini nampak pada dzahir firman-Nya : “Dan anak-anakku”.
 
Di antara dalil Suyuthi yang lain adalah firman Allah Ta’ala : “Wahai Rabbku jadikanlah aku dan keturunanku sebagai orang-orang yang menegakkan sholat.”(QS. Ibrahim : 40). Ibnu Mundzir meriwayatkan dari Ibnu Juraij bahwa dia pernah berkata : (Selalu ada di antara keturunan Ibrahim Alaihi Salam orang-orang yang berada di atas fitrah, mereka menyembah Allah).
 
Saya katakan : Ini adalah ucapan yang benar, ucapan beliau ini dengan jelas mengatakan bahwa sebagian saja di antara keturunan Ibrahim (yang menyembah Allah bukan semuanya).
 
VII.    Bantahan Terhadap Orang-orang yang Mengatakan Bahwa Ayah Ibrahim Alaihi Salam Bukan Kafir
 
Ketahuilah bahwa pendapat Fakhrurrazi dan Suyuthi tentang ketidakkafiran ayah Ibrahim Alaihi Salam adalah pendapat yang salah dalam agama serta membuat keraguan dalam aqidah, meskipun keduanya mengaku termasuk pembaharu. Tapi sebetulnya mereka layak dikatakan sebagai pengada-ada dalam agama karena Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda : ”Barang siapa yang mnegada-adakan suatu ajaran agama yang bukan darinya maka tertolak.”
 
Kemudian lihatlah kepada ucapan Suyuthi yang berdalih dengan bahasa bahwa orang Arab mengistilahkan kata Abi / Ayah untuk paman. Di dalam al-Qur’an yang artinya : “Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" mereka menjawab: "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (QS. al-Baqarah : 133).
 
Di dalam ayat tadi Ismail disebut dengan kata Ab / Ayah padahal dia adalah paman Ya’qub Alaihi Salam sebagaimana Ibrahim juga disebut dengan kata al-Abu padahal beliau adalah kakek Ya’qub.
 
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu bahwa beliau pernah berkata : (al-jaddu / kakek disebut juga Ayah / al-Abu) lalu beliau membaca ayat tadi : "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyang kamu”.
 
Saya katakan , “Ini hanyalah ucapan kosong orang-orang Mudhoriyah yang tidak banyak manfaatnya, sebab ayat tadi menunjukkan bahwa tidak benar dimutlakkan / ditujukan kata al-Aaba’ / nenek moyang kepada satu orang anak. Tapi maksud al-Aaba’ itu adalah para pendahulu seperti yang dikatakan oleh para Imam madzhab Hanafiyah, atau dikatakan, “bahwa kata al-Aaba’ bisa digunakan sebagai majaz sekaligus bisa untuk hakikat sebenarnya seperti yang dikatakan oleh madzhab Syafi’i.”
 
VIII. Bantahan Terhadap Tulisan Ibnu Kamal Baasya Tentang Kedua Orang Tua Rasul Shalallahu Alaihi wa Sallam
 
Aku melihat dari tulisan Ibnu Kamal Baasya tentang masalah ini, beberapa hal yang tidak benar yaitu :
1.    Ucapannya bahwa para salaf berselisih dalam hal ini. Hal ini tidaklah  benar karena perselisihan terjadi setelh zaman khalaf / terakhir.
2.    Nukilan Ibnu  Kamal dari al-Hafidz Ibnu Dihyah, bahwa Ibnu Kamal berkata :  Barang siapa mati dalam kekafiran, tidaklah bermanfaat keimanannya setelah dikembalikan. Bahkan seandainya dia beriman pada waktu sakaratul maut tidakkah hal itu bermanfaat apalagi pada waktu dia dikembalikan hidup?

IX.  Hukum Orang yang Mencela Nasab Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam

Ibnu Kamal berkata : Sudah jelas bahwa menetapkan kesyirikan pada kedua orang tua Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam adalah suatu kesesatan yang nyata, sebab beliau berasal dari keturunan yang suci.
 
Saya katakan, ”Perkataan kita (tentang kedua orang tua Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam di neraka) tidak merusak nasab beliau, tapi ini hanyalah menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam sendiri.”
 
Sebagaimana sabda beliau : “Jangan kalian menyakiti orang yang hidup dengan sebab orang-orang yang mati”. Oleh karena itu tidak boleh melaknat kedua orang tua Nabi dan orang tua para sahabat dan orang tua kaum muslimin semuanya, karena tidak ada manfaatnya melaknat.
 
X. Hikmah Meninggalnya Kedua Orang Tua Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam Dalam Kekafiran
 
Semuanya ini menjelaskan akan kesempurnaan Allah dalam penciptaan dan perintah-Nya, serta menjelaskan akan rahasia taqdir Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sekaligus hal ini sebagai bantahan terhadap filosof yang menyatakan bahwa kenabian itu bisa diperoleh dengan mengadakan ritual-ritual tertentu dan bukan dari bukan wahyu Allah.
 
Inilah yang diisyaratkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya yang artinya : “Dialah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup” (QS. Yunus : 31). Maksudnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengeluarkan seorang mukmin dari (ayah) kafir dan sebaliknya, seperti anak Nabi Nuh Alaihi Salam. Anak beliau kafir menurut kesepakatan para ulama’, demikian juga dengan Qabil pembunuh Habil dari keturunan Adam Alaihi Salam, sesungguhnya Qabil kafir menurut ijma’ ulama’.
 
Di dalam hal ini terdapat penjelasan bahwa iman adalah nikmat yang paling agung, tidak ada yang bisa mencapainya melainkan seorang Nabi atau wali yang mulia dari orang-orang yang telah ditulis kebahagiannya di tempat yang mulia.

Diringkas dari buku "Kafirkah Kedua Orang Tua Rasulullah?", Ali bin Sulthan Muhammad Al-Qari, Pustaka As-Shunnah, Cetakan Pertama.