Hot!

Ini Dia Manajement Waktu Orang Sukses!!!

 Oleh: Muhammad Husni Haikal

Sameeh.net - “Orang bijak adalah produk dari waktunya. Kalau seseorang menyia-nyiakan waktunya, maka segala kebaikannya akan sirna. Karena seluruh kebaikan berangkal dari waktu. Siapa pun yang menyia-nyiakan waktu, maka ia tak akan mampu lagi mengejarnya buat selamanya.” (Ibnu Qoyyim al-Jauziyah).
 
BETAPA PENTINGNYA WAKTU
    
Sesungguhnya nikmat itu mempunyai  sesuatu yang pokok dan yang bersifat cabang. Termasuk pokok-pokok nikmat juga, bahkan ia merupakan pokok nikmat yang paling agung dan berharga adalah nikmat waktu.
    
Waktu adalah usia kehidupan, sebagai medan eksistensi manusia, dan merupakan tempat ia berlindung dan menetap, tempat ia dapat memberi manfaat kepada orang lain, dan tempat ia dapat diambil manfaatnya oleh orang lain. Al-Quranul Karim telah menunjukkan keagungan salah satu tingkatannya dibanding yang lainnya. Banyak ayat-ayat al-Quran yang menunjukkan urgensi waktu, ketinggian tingkatannya, dan juga pengaruhnya yang besar.
    
Allah telah memuji diri-Nya bahwa Dialah pemilik waktu dan tempat, serta segala apa yang ada di dalamnya. Dia berfirman:
 
“Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada pada malam dan siang. Dan Dialah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”(QS. Al-An’am: 13).
 
Allah Mencela Orang-orang Kafir, Karena Telah Menyia-nyiakan Umur Mereka
    
Allah berfirman kepada orang-orang kafir dan mencela keadaan mereka. Karena, mereka telah menyia-nyiakan umur mereka, dan berlomba-lomba di atas kekufuran. Sepanjang usia mereka, mereka tidak mau keluar dari kekufuran menuju keimanan. Sungguh, Allah telah memberi mereka waktu dan umur yang panjang.
 
Allah Memberi Udzur Bagi Orang yang Telah Berusia 60 Tahun
    
Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah saw bersabda:
أعذر الله عز و جل إلى امرء أخر عمره حتى بلغه ستين سنة.
“Allah ‘Azza wa Jallah telah memberikan udzur kepada seseorang dengan memanjangkan umurnya hingga mencapai usia enam puluh tahun.” (HR. Imam Bukhari).
    
Maksudnya, Allah telah menghilangkan peluang udzurnya, dan tidak lagi memberi kesempatan udzur kepadanya, karena Dia telah melapangkan udzur itu sepanjang umurnya.
Allah Ta’ala Bersumpah Dengan Waktu:
 
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian.”(QS. Al-‘Ashr: 1-2).
    
Kalau dicermati, bahwa setiap Allah bersumpah dengan waktu, maka sudah pasti waktu itu amat sangat penting. Dan sumpah Allah dengan waktu tersebut terjadi dalam dua kondisi yang urgen sekali. Pertama, untuk membebaskan Rasulullah saw dari tuduhan orang-orang musyrik dan musuhnya, bahwa Rabbnya telah meninggalkan dirinya. Kedua, untuk menjelaskan bahwa setiap manusia itu pasti merugi dan binasa, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih.
    
Waktu adalah karunia agung, dan anugerah yang begitu besar. Hanya orang-orang hebat yang mendapatkan taufik dari Allah, yang mampu mengetahui, lalu memanfaatkannya seoptimal mungkin. Seperti yang diisyaratkan dalam hadits, “Banyak manusia tertipu di dalam keduanya.” Itu artinya, orang yang mampu memanfaatkan waktu amatlah sedikit. Kebanyakan manusia justru lalai dan tertipu dalam memanfaatkannya.
    
Oleh sebab itu, ada sebuah ungkapan, “Waktu itu ibarat pedang. Bila engkau tidak memotongnya, maka sang waktu yang akan memenggalmu.”
 
Berburu Dengan Waktu
    
Ibnu Suhnun memiliki seorang budak wanita yang bernama Ummu Mudam. Suatu hari, ia bertandang ke rumahnya. Saat itu beliau sibuk menulis buku di malam hari. Datanglah santap malam. Budak itu meminta izin masuk kamarnya. “Saya sedang sibuk,” ujar Muhammad. Karena terlalu lama menunggu, maka sang budak menyuapkan makanan itu ke mulut beliau samai beliau mengunyahnya. Hal itu berlangsung lama, dan beliau tetap dalam kondisi demikian, hingga datang waktu shalat Subuh.
“Maaf, aku sangat sibuk, sehingga melupakanmu tadi malam, wahai Ummu Mudam! Tolong berikan makanan yang engkau tawarkan tadi malam!” “Tuanku, demi Allah, aku sudah menyuapkannya ke mulutmu,” ujar budak itu heran. “Lho, kok aku tidak merasakannya?,” tanya Muhammad lebih heran lagi.

BEGINILAH PARA ULAMA MENGATUR WAKTUNYA
    
Ulama salaf dan orang yang meniti jalan mereka dari generasi khalaf adalah manusia yang paling antusias dan gigih dalam memanfaatkan waktu, lalu mengisinya dengan kebajikan, baik ia seorang ulama atau ahli ibadah. Mereka terbiasa berlomba-lomba dengan waktu, bersegera memanfaatkan kesempatan.
    
Hasan al-Bashri pernah berkata, “Hai anak Adam! Engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Jika suatu hari berlalu, maka berlalulah sebagian darimu.” Beliau juga pernah mengungkapkan, “Aku pernah berjumpa dengan orang-orang yang sangat tamak dengan waktunya, melebihi ketamakan kalian terhadap dinar dan dirham.”
Setiap hari Ibnu Jarir Menulis Sebanyak 40 Lembar
    
Khatib al-Baghdadi menyebutkan, “Aku pernah mendengar as-Simsimi menceritakan bahwa Ibnu Jarir selama 40 tahun manulis setiap harinya 40 lembar.”
    
Muridnya, Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad bin Ja’far al-Farghawi, menyebutkan dalam kitabnya yang terkenal dengan sebutan kitab ash-Shilah, yakni kitab yang menjelaskan cakupan kitab tarikh Ibnu Jarir, “Ada sebagian dari murid-murid Ibnu Jarir yang mencoba merangkum apa yang ditulis Ibnu Jarir semenjak menginjak usia baligh hingga beliau wafat saat berusia 86 tahun, kemudian membagi-bagi hitungan lembaran semua tulisan itu. Akhirnya diketahui, bahwa setiap harinya beliau menulis sebanyak 14 lembar. Ini sebuah pencapaian yang hanya dapat dilakukan oleh manusia yang mamiliki perhatian besar terhadap Allah, Yang Maha Pencipta.” Maha Suci Allah. Betapa hebat cita-cita ulama ini!
Ya’qub An-Najirami Menelaah Kitabnya Saat Sedang Berjalan Kaki
    
Tercantum dalam Inbahur Ruwat ‘ala Anbahin Nuhat (III: 79), karya al-Qifthi, terkait dengan biografi Muhammad as-Sa’di bin Barakat an-Nahwi al-Bashri al-Mishri, lahir tahun 420 H, dan wafat tahun 520 H pada usia 100 tahun. Semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya. Dituturkan, “Pada waktu kecil, aku pernah melihat Abu Yusuf Ya’qub bin Khurrazadz an-Najirami berjalan di suatu jalan di kota al-Qarafah. Ia seorang syaikh berjenggot coklat tebal, mengenakan sorban bulat, sambil membawa buku yang terus beliau telaah sambil berjalan kaki.”
    
Ibnu Aqil menuturkan, “Sebisa mungkin, saya berusaha meringkas waktu makan. sehingga saya lebih memilih kue yang sengaja saya basahi dengan air, ketimbang menyantap dengan roti kering. Karena ada selisih waktu yang membedakan keduanya saat dikunyah. Yakni agar waktu belajarku lebih optimal, dan agar saya dapat mengajar pelajaran lain yang belum saya mengerti. Karena menurut kesepakatan para ulama, sesuatu yang paling berharga bagi orang yang berakal adalah waktu. Waktu adalah harta karun yang dapat digunakan untuk menggapai peluang. Karena beban kita banyak sementara waktu selalu bergerak cepat.”
 
JANGAN PERNAH SIA-SIAKAN WAKTU
Tidak Ada Istilah “Menyia-nyiakan Waktu” dalam Kehidupan Ibnu Aqil

    
Beliau sendiri pernah berkata, “Tidak boleh bagiku menyia-nyiakan sesaat dari umurku. Kalau lisanku berhenti berdzikir atau berdiskusi, dan mataku tidak digunakan membaca maka aku gunakan pikiranku saat sedang beristirahat sambil berbaring. Saat aku bangkit, sudah ada sesuatu yang aku tulis. Saya mendapatkan ambisi saya pada usia 80 tahun untuk menuntut ilmu, justru lebih   besar daripada saat berusia 20 tahun”.
Sebaik-baik Aktivitas Untuk Mengisi Waktu dan Mendekatkan Diri Kepada Allah adalah Menuntut Ilmu
    
Itulah yang beliau tegaskan dalam mukaddimahnya bagian awal dari kitab Al-Funun yang sudah tercetak, “Amma ba’du. Cara terbaik untuk mengisi waktu dan menyibukkan diri, serta mendekatkan diri kepada Allah adalah menuntut ilmu. Menuntut ilmu dapat mengeluarkan seseorang dari gelapnya kebodohan menuju cahaya ilmu syariat. Itulah cara yang kugunakan untuk menyibukkan diri dan menghabiskan waktuku.”
   
Ibnu Jauzi pernah berkata: “seorang manusia selayaknya mengenal nilai dari perputaran masa, dan harga dari waktu yang ia miliki. Jangan sampai ia menyia-nyiakan sejenak pun tanpa amal kebajikan. Dan harus dicari secara prioritas, amalan apa saja yang terbaik. Niat untuk berbuat kebajikan itu harus senantiasa tegak dan tak boleh mengalami kelesuan, sehingga ia mampu melakukan hal yang tak sanggup dilakukan oleh badan. Seperti disebutkan dalah sebuah hadits yang mulia, “Niat seseorang mukmin lebih berharga daripada amal perbuatannya.”
    
Ketahuilah, bahwa waktu itu terlalu sayang untuk dilewatkan meskipun hanya sekejap. Sebab, dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan bahwa Rasulullah saw telah mengeskan:
 من قال سبحان الله العظيم و بحمده, غرست له نخلة في الجنة.
“Barangsiapa yang membaca ,”Subahanallahil ‘azhimi wa bihamdih’ (Maha Suci Allah yang Maha Agung, dan aku memuji-Nya), maka akan ditanamkan baginya sebuah pohon kurma di surge.”
    
Hendaknya kalian meneliti dan mengkaji perikehidupan para ulama pendahulu kalian, menelaah berbagai karya dan segala informasi tentang mereka. Karena, semakin banyak kita mengkaji kitab-kitab mereka, maka akan semakin jelas pula profil mereka, seolah-olah kita melihatnya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang penyair:
 
Rumah-rumah itu telah berlalu dari penglihatan kedua mataku
Namun, aku bertanya, semoga  saja aku bias melihat dengan pendengaranku.

 
Ungkapan Ibnu Taimiyyah, “Karya Ilmiah Ibnu Jauzi Lebih dari 1000 Karangan”
    
Dalam muqaddimah, hal. 4, disebutkan bahwa al-Hafidzh Ibnu Rajab al-Hanbali menyebutkan dalam Dzailu Thabaqatil Hanabilah (I: 415), bahwa Imam Ibnu Taimiyyah mengatakan dalam Ajwibatuhu al-Mishiriyyah, “Syaikh Abul Faraj Ibnu Jauzi memiliki cukup banyak karangan dan tulisan. Beliau memiliki sejumlah karangan dalam berbagai disiplin ilmu. Saya pernah menghitungnya, ternyata jumlahnya lebih dari seribu karangan. Selain itu saya juga menemukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah saya jumpai.”
 
Al-Hafizh al-Mudziri Sibuk Dengan Ilmu Tatkala Sedang Makan
    
Syaikh kami pernah berkata, “Saya belum pernah melihat dan mendengar seseorang pun yang paling bersungguh-sungguh dalam menyibukkan diri dengan ilmu selain dirinya. Ia senantiasa sibuk di waktu malam dan siang hari.”
    
Syaikh kami juga berkata, “Saya pernah hidup berdampingan dengannya di sebuah madrasah di Kairo, semoga Allah Ta’ala menjaga madrasah tersebut. Selama 12 tahun, rumahku berada di atas rumahnya. Selam itu pula saya belum pernah bangun malam di setiap jamnya, melainkan cahaya lampu senantiasa menyala di rumahnya, sedangkan ia hanyut dengan ilmu. Bahkan, ketika dalam keadaan makan pu, ia selalu sibuk dengan buku.”
Kehidupan Imam Nawawi Serba Keras dan Kekurangan, Baik dalam Hal Makanan maupun Pakaian
    
Beliau senantiasa sibuk dengan kegiatan mengarang, menyebarkan ilmu, beribadah, membaca berbagai wirid dan doa, berpuasa, dan banyak dzikir. Ia bersabar dengan kehidupannya yang susah, baik dalam hal makanan maupun pakaian –sebagai kebutuhan yang bersifat umum yang tidak bias ditawar-tawar lagi-. Pakaian beliau adalah dari jenis katun, sedangkan sorbannya dari jenis kulit yang berukuran kecil. Beliau wafat pada tahun 679 H. Umurnya hanya 45 tahun, namun beliau mewariskan karya agung yang amat banyak. Bila dikalkulasikan dengan usia beliau, maka setiap harinya beliau menulis setara dengan empat buah buku tulis.
 
Ibnu Nafis Mencatat Sejumlah Permasalahan Kedokteran di Sela-sela Mandinya
    
Yang lain menuturkan, “Suatu ketika Syaikh Alauddin masuk ke kamar mandi yang berada di pintu az-Zahumah. Ketika di pertengahan mandi, beliau beranjak ke ujung kamar mandi tempat melepas pakaian. Beliau minta diambilkan tinta, pena dan kertas. Lalu, beliau langsung menyusun tulisan dalam soal denyut nadi hingga selesai. Setelah itu beliau kembali ke kamar mandi dan menyempurnakan mandinya.”
    
Secara umum, beliau adalah seorang imam besar. Banyak tokoh-tokoh terkemuka mengatakan, “Beliau adalah Ibnu Sina kedua.” Yang tidak boleh anda lupakan bahwa Ibnu Nafis adalah seorang penemu system peredaran darah dalam tubuh, sejak lebih dari tujuh abad silam. Hal itu merupakan penemuan yang luar biasa dan spektakuler dalam dunia kedokteran.
 
MANAJEMEN WAKTU MEMBUAHKAN BANYAK KARYA ILMU
Ibnu Jarir adalah Penulis Paling Spektakuler dalam Islam
    
Beliau telah menjadi pemenang dalam dunia penulisan. Beliau sangat teliti dan manfaat karyanya dirasakan banyak orang. Beliau telah mewariskan banyak sekali karya yang jika dihitung jumlah lembarnya mendekati angka 350.000 lembaran. Ini merupakan peninggalan ilmiah paling besar yang sampai kepada kita. Maha Suci Allah, sebaik-baik Dzat yang menciptakan.
    
Karena memiliki karya yang luar biasa tersebut, maka beliau mendapat dua gelar sekaligus, yaitu al-Mu’alla dan ar-Raqib.
    
Imam Nawawi mengatakan, “Seorang penuntut ilmu harus memiliki jiwa rakus untuk belajar ilmu, senantiasa menekuninya di setiap waktu, baik malam maupun siang, ketika bermukim maupun bepergian. Ia tidak boleh menyia-nyiakan sedikit pun waktunya untuk selain ilmu, kecuali karena terpaksa. Seperti untuk makan dan tidur yang tidak mungkin ai elakkan. Termasuk pula istirahat sejenak untuk menghilangkan kejenuhan dan kebosanan, serta kebutuhan-kebutuhan pokok lainnya.”
 
RAMBU-RAMBU MANAJEMEN WAKTU
 
1.    Membagi setiap kegiatan sesuai waktu yang dibutuhkan
Salah satu hal yang perlu diperhatikan kaitannya dengan waktu adalah, bahwa kegiatan yang bersifat ilmiah harus diberi waktu sesuai kebutuhan-kebutuhannya.
2.    Sebaik-baik waktu dan tempat mengahafal
Sebaik-baik waktu untuk menghafal adalah waktu sahur; lalu pertengahan siang dan waktu makan siang, bukan makan malam. Namun, menghafal di malam hari lebih baik ketimbang di siang hari.
 
Adapun sebaik-baik tempat untuk menghafal adalah kamar bagian atas dari rumah, bukan bagian bawahnya. Juga tempat yang jauh dari keramaian dan hal-hal yang menarik perhatian, di mana hati dan perasaan merasa senang dan tenang di dalamnya, sehingga membuatnya sibuk dan terhalang dari hafalannya.
3.    Disarankan menjauhi keramaian ketika belajar dan mengahafal
Para ulama menyarankan kepada para penuntu ilmu ketika belajar dan menghafal agar menyendiri dan menjauhi keramaian manusia. Sebab, dengan menyendiri akan membantu kejernihan pikiran. Jika pikiran jernih, maka daya nalar dan pemahaman dalam mengkaji berbagai ilmu akan tepat.
4.    Sebaiknya seseorang berusaha menghibur dirinya ketika dihinggapi rasa bosan dan jauh
Ibnu Maraghi mengatakan, “hendaknya seseorang berusah menghibur dirinya ketika sedang belajar.”
5.    Sebagian terapi mengatasi rasa bosan, mengusir rasa kantuk dan malas
Diantara model terapinya adalah sesekali dengan mengunyah permen, atau keluar sejenak dari tempat belajar ke tempat yang lebih lapang dan sejuk, atau dengan berpindah-pindah dari satu ruangan ke ruangan lainnya, atau mendi ringan dengan air dingin dan air panas.
6.    Senantiasa menyibukkan diri dan mendahulukan hal-hal yang penting daripada yang tidak penting
 
Al-Hafizh Khatib al-Baghdadi penah mengatakan, “Ilmu itu laksana lautan yang tidak mungkin ditakar. Juga laksana barang tambang yang tidak pernah habis digali. Maka, sibukkanlah dirimu dengan mengambil dan mengerjakan hal yang paling penting. Sebab, orang yang menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang tidak penting, maka ia telah menimbulkan bahaya bagi hal-hal yang penting.”
 
Dua bait syair Imam Suyuti:
Syaikh kami, al-Kinani telah menceritakan kepada kami, dari bapaknya yang ahli pidato
Bagi penuntut ilmu hendaklah mempercepat dalam tiga hal; makan, berjalan dan menulis.
 
Malas adalah Seburuk-buruk Teman
    
Imam al-Murabbi Abul Faraj Ibnu Jauzi menuturkan, “Malas untuk meraih kemuliaan  adalah seburuk-buruk teman! Dan, senang berleha-leha akan mewariskan sejumlah penyesalan yang tumbuh di setiap kelezatan. Maka, waspadalah dan berpayah-payahlah dirimu. Sesalilah atas waktu yang telah berlalu dengan sia-sia. Bersungguh-sungguhlah menggapai kesempurnaan selagi masih ada waktu.”
    
Pada hakikatnya tidak ada kesempunaan yang sempurna kecuali dengan menghimpun antara ilmu dan amal. Apabila keduanya telah diraih seseorang, maka keduanya akan mengangkat si empunya ke maqam yang tertinggi. Itulah tujuan yang diidamankan.
Hal-hal Terpenting yang Bisa Membantu Dalam Optimalisasi Waktu
    
Sesungguhnya di antara hal-hal yang terpenting yang bisa membantu dalam optimalisasi waktu adalah mengatur jadwal kegiatan, menghindari diri dari forum-forum yang tidak bermanfaat, meninggalkan hal-hal remeh dalam segala sesuatu, dan bergaul dengan orang-orang yang rajin, mulia, cerdas dan yang menghargai waktu.
    
Umur yang hakiki nan produktif adalah saat usia muda. Karena, usia muda merupakan lahan untuk beramal dan pencapaian sesuatu. Demikian pula, ia adalah masa produktif dan berkarya. Pada masa itu, kekuatannya masih membara dan berbagai penyakit, serta rintangan dan hambatan masih sangat minim.
    
Orang yang berakal lagi terbimbing adalah orang yang memenuhi setiap menit dan detik perjalanan usia dan waktunya dengan berbagai hal yang bermanfaat atau amal shalih. Umar bin Khattab sangat membenci orang yang tidak bekerja dan pengangguran, serta menyia-nyiakan waktu. Beliau mengatakan, “Sungguh, aku benar-benar benci melihat seseorang di antara kalian yang menganggur, tidak memiliki aktivitas, baik untuk dunianya ataupun untuk akhiratnya.”
    
Sedikit waktu yang kita khususkan setiap hari untuk sesuatu hal, boleh jadi dapat merubah arah dan roda kehidupan kita, menjadikan kita lebih kuat daripada yang kita bayangkan dan lebih meningkat daripada yang kita khayalkan.
 
Diringkas dari Buku: Sunnguh Mengagumkan Manajemen Waktu Para Ulama, Syaikh Abdul Fattah, Penerbit Zam Zam, Cetakan. Kesepuluh.