Hot!

Dakwah Salafiyyah, Anugerah Allah Yang Terdzolimi

 Oleh: Abu Husein At-Thuwailibi

Sameeh.net - Demikian menyedihkan kita saksikan akhir-akhir ini timbul kembali perpecahan dan fitnah yang di timpakan atas para Ulama dan Da’i ahlus sunnah. Fitnah itu terjadi karena adanya komplotan “preman-preman berjubah” yang dengki terhadap sebuah media dakwah salafiyah,yaitu TV dan Radio Rodja. Meskipun hal itu sebenarnya bukanlah pokok masalah, tetapi tidak lebih hanya satu cabang dari yang selama ini dipermasalahkan.

Para pendengar radio Rodja di hina, di hujat, di katakan Hizbiyyun, Rodjaliyyun, Sururiyyun, dan hinaan-hinaan lainnya yang hanya Allah yang tau berapa jumlah hinaan mereka,Wallahul-Musta’an.
Demikian pula terhadap para Da’i nya mereka gelari dengan julukan-julukan yang amat sangat berat timbangannya di sisi Allah, mereka menggelari para Da’i Ahlus Sunnah dengan Kadzdzab, pengkhianat, pendusta, Dajjal,Hizbiyyun, dst.

Ustadz Abdul Hakim Abdat, Ustadz Hartono Ahmad Jaiz, Ustadz Yusuf Utsman Ba’itsa, Ustadz Fariq Bin Qasim Anuz,Ustadz Agus Hasan Bashori,Lc.M.Ag, Ustadz DR.Khalid Basalamah,MA, Ustadz Dr.Muhammad Arifin Baderi,MA dan lain-lain tidak pernah selamat dari kezoliman lisan-lisan mereka.

Bahkan Al-Ustadz Dr.Ali Musri dan Ustadz Firanda Andirja di gelari oleh syaikh mereka dengan gelar “Dajjal”, “pendusta”, “khabits”, dsb, Allaahummasyhad !!

Lebih dari itu, setingkat Ulama besar Ahlus Sunnah,Syaikh Abdul Malik Bin Ahmad Ramadhani Al-Jazairi pun mereka katakan “Sesat dan Menyesatkan”, wal-’iyaadzu billah !!

Dan diantara situs iblis pemakan bangkai yang sering menebar fitnah dan propaganda perpecahan adalah situs www.tukpencarialhaq.com yang di kelola oleh BAJINGAN BEJAD bernama Purwito yang bersembunyi dibalik nama Abdul Ghofur Al-Malanji -Qatalahullah-.

Di sini kita tidak bermaksud membahas jauh tentang Radio Rodja,karena menurut saya adanya rekomendasi dan kerelaan para Masyaikh kibar (Ulama besar) ahlus sunnah utamanya seperti Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr dan putera beliau Syaikh Dr. Abdurrazzaq al-Badr, Syaikh Shalih Fauzan,Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili, dll Hafizhahumullah paling tidak sudah cukup menjadi pertimbangan sisi syar’inya media tersebut dan media-media yang semisalnya.

Sehingga wajar salah seorang Da’i mantan Salafi laskar jihad,Ustadz Ja’far Shalih pernah mengatakan kepada saya saat di bogor, “Radio Rodja layak didukung, saya bersyukur, karena keluarga saya yang masih awam mengenal islam dan sunnah karena sering mendengarkan Radio Rodja”.

saat saya bertemu dengan beliau di Bogor yang kebetulan pada waktu itu beliau sedang melakukan Survei lahan tanah untuk pembangunan sebuah pondok pesantren, kami berbincang-bincang dengan begitu santai di mobilnya, kami bertanya-tanya tentang Masalah yang kian menghangat yakni sebagian Ustadz yang mengaku Salafi namun bersamaan dengan itu mereka memusuhi Radio Rodja dan menghasut kaum Muslimin serta para penuntut ‘Ilmu agar jangan mendengarkan Radio Rodja dengan alasan Hizbi Sururi.

Seorang Da’i mantan Salafi laskar jihad lainnya, Ustadz Hanan Bahanan juga pernah mengatakan, “Suara-suara dan bisikan-bisikan yang menghina dan menghujat Radio Rodja adalah suara-suara Syaithon”.

Al-Ustadz Ja’far Shalih -Thawwalallahu ‘Umrahu Fi Da’watihi- adalah seorang Da’i Salafi yang dikenal Istiqamah dalam Dakwah di atas jalan yang lurus. Beliau adalah salah seorang Alumni Yaman, bertindak sebagai Staf Redaksi dalam Majalah AKHWAT, dikenal santun dan sangat Tawadhu’. Secara internal beliau merupakan Ustadz di kalangan ‘Salafi’ jama’ah tahdzir. Namun justru beliau dicela dan direndahkan bahkan dianggap sesat oleh sebagian pengikutnya hanya karena mengatakan sesuatu yang haq yang masih membutakan mata hati sebagian orang.
Di sisi lain, dan yang sangat disayangkan, masalah furu’iyah, khilafiyah ijtihadiyah oleh para penuntut ilmu dijadikan sebagai ajang al-wala’ wal baro’ (menjalin keloyalan kepada satu pihak dan memusuhi pihak yang lain) yang diterapkan kepada ahlus sunnah.

Padahal semestinya kehadiran media siaran seperti ini sangat patut kita syukuri, kita dukung dan kita sosialisikan di hadapan masyarakat di tengah maraknya media siaran umum yang sarat dengan kelalaian, perbuatan dosa, kefasikan, kebid’ahan, maksiat bahkan kekufuran–wal’iyadzubillah–semoga Allah senantiasa memelihara kaum muslimin dari padanya.

Dan wal-hamdulillah banyak ummat Islam yang mengenal dakwah salafiyah dan Sunnah Nabawiyah ini diantaranya melalui media Radio dan TV Rodja, mulai dari penduduk pelosok desa sampai (mantan) menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia yakni Bapak Patrialis Akbar mengenal Islam dan Sunnah melalui Radio Rodja,Wallahu A’lam.

Akan tetapi selanjutnya, komplotan “preman berjubah” yang benci terhadap TV Rodja ini–secara umum sampai para senior mereka semisal Luqman Ba’abduh, Muhammad Umar As-Sewed, Zulkarnain Al-Makassari, Askari Bin Jamal Al-Bugisi, Abu Hamzah Yusuf Al-Atsary, Faishol Al-Medani, Usamah Faishal Mahri, Marhen Abul Muzir Dzul Akmal, dll– kebanyakan tidak mendatangkan dalil/alasan syar’i untuk melarang ummat menonton media ini kecuali fatwa sesat yang datang dari seorang Ulama pengibar bendera sekte Mulukiyah,yakni Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah atau yang berjalan di belakangnya.

Fatwa syaikh tersebut dibangun di atas pertanyaan yang diajukan oleh komplotan “preman berjubah” tadi yang sejak awal memang telah menyimpan ‘sesuatu’ terhadap TV Rodja dan ditambah lagi adanya tuduhan syaikh ini kepada salah seorang pemateri yang aktif di TV dan Radio tersebut.
Dengan ini, maka ummat harus mengetahui kedudukan Syaikh Rabi’ ini di mata ulama-ulama di Arab Saudi secara khusus tentang fatwa beliau yang berisikan jarah (celaan) di masa belakangan ini.

Hal ini tidak bermaksud merendahkan beliau sebagai seorang Ulama (namun bukan berarti ulama sudah dijamin selamat dari penyimpangan), tetapi untuk membuka wawasan saudara-saudaraku ahlus sunnah yang belum memahami duduk permasalahan supaya dapat melihat dengan sebenarnya posisi beliau di sisi kebanyakan ulama di sana.

Masalah dan Keterangannya sudah dimaklumi bahwa Syaikh Rabi al-Madkhali adalah seorang ulama yang dikenal gigih di dalam membela akidah ahlis sunnah wal jama’ah, namun di lain sisi yang harus diakui bahwa beliau juga manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan ketergelinciran sebagaimana yang lain. Perkataannya terkadang benar dan terkadang juga salah. Karenanya, terkadang diterima dan boleh juga ditolak. Dan ini kaedah yang saya kira diterima oleh seluruh ahlus sunnah dan ahlul atsar.

Kesalahan seorang alim tidak menjatuhkan kehormatannya selama ia kembali/rujuk pada saat diperingatkan dengan kebenaran dan tidak bertahan di atas kesalahannya. Sebagaimana juga tidak dijatuhkan kehormatan seorang ulama yang tergelincir dalam suatu kesalahan selama ia dikenal sebagai seorang yang memiliki keutamaan besar dan berkedudukan di tengah umat.
Namun yang amat menyedihkan dan disayangkan, di sana didapati pada diri Syaikh Rabi al-Madkhali ini penyimpangan-penyimpangan dan ketergelinciran yang sejauh ini belum diketahui rujuknya dan bahkan terus berjalan menyelisihi kebenaran yang ada pada para Ulama dan senior beliau dari para ulama di Arab Saudi.

Di antara kesalahan dan penyimpangan beliau adalah:

1. Mencela beberapa imam salaf seperti, imam Abu Hanifah, an-Nawawi, asy-Syaukani, Ibnu Hajar- Rahimahumullah.

Dikutip dari situs : www.YouTube.com/watch?v=Fxpnapcgmfo , syaikh mengatakan :
…كذاب الذي يقول النووي سلفي, كذاب الذي يقول لك النووي سلفي أشعري جلد من أول كتابته في مسلم إلى
آخره…

“Pendusta siapa yang berkata Imam Nawawi seorang salafi, pendusta siapa yang berkata kepadamu Imam Nawawi salafi. dia adalah seorang Asy’ari yang teguh (tulen) dari pertama ia menulis kitab syarah sahih muslim sampai selesai…”
Perhatikan: mengenai beberapa imam salaf yang lain yang tak luput dari celaan Syaikh Robi’ bisa dikunjungi di:

- www.youTube.com/watch?v=ThjyQ1tySms
- www.youTube.com/watch?v=2OM66aeBr5v

Padahal sudah dimaklumi dalam kaedah interaksi dengan ulama, bahwa ulama yang telah memiliki keutamaan besar untuk Islam dan kaum muslimin, maka kesalahannya telah larut dalam lautan keutamaannya, dengan tanpa mengakui dan mengikuti kesalahannya serta menjatuhkan kehormatannya.

Tanggapan:

Perkataan Syaikh Robi’ di atas mengandung beberapa bahaya. Diantaranya,

- Perkataan “bukan salafi” meskipun yang dimaksud syaikh adalah bukan salafi akidahnya dalam asma wa sifat (sebagaimana terlihat dari kontek kalimat) merupakan pemutlakan yang dapat mendatangkan anggapan tidak baik (su’uzhan) serta adab yang buruk kepada seorang ulama besar.
- Pernyataan Syaikh Robi’ bahwa Imam Nawawi seorang asy’ari yang teguh (tulen) adalah jarah (celaan) yang berlebihan, yang setahu saya belum pernah dinyatakan oleh seorang ulama pun sebelumnya kepada beliau.

Karena kebiasaan ulama-ulama salaf terdahulu hingga kini adalah saling mendo’akan kebaikan dan memohonkan ampun atas ketergelinciran yang terjadi pada saudaranya. Memang benar bahwa imam Nawawi tergelincir di dalam permasalahan asma’ wa sifat, tetapi pernyataan seperti di atas jelas dapat menjatuhkan kehormatan dan kedudukan Al-Imam An-Nawawi sebagai seorang Ulama di mata umat. Yang sebenarnya dengan ungkapan “tergelincir dalam permasalahan asma wa sifat atau terpengaruh faham asy’ari” sudahlah mencukupi untuk beliau–semoga Allah mengampuni beliau–Rahimahullah.

2. Berlebih-lebihan di dalam menyikapi lawan yang menyelisihi.
Beliau mengatakan, sebagaimana dikutip dari situs: www.alathary.org/rabee/:

…أهل البدع أشر من الدجال…و مرة يقول, أشر من الشياطين, لأن البدع الآن وأهلها أساليب ولهم طرق ولهم نشاطات ويمكن ما كان يعرف الشياطين في الوقت الماضي…

“Ahli bid’ah lebih jahat/bahaya dari Dajjal…(di lain kesempatan beliau berkata), lebih jahat dari syaitan, sebab bid’ah dan para ahli bid’ah punya metode dan cara-cara dan juga spirit, yang mungkin cara-cara semacam itu tidak dikenal oleh syaitan di masa lalu…”

Perhatikan:
Padahal belum pernah para ulama salaf dahulu mengucapkan ucapan sekeras ini kepada para penentangnya. Fitnah Dajjal adalah fitnah yang cukup besar, demikian pula syaitan musuh utama anak Adam, lalu adakah yang lebih berbahaya lagi dari Dajjal dan syaitan menurut Syaikh Robi’ ini ??????!!!!

Dari sini akhirnya kita dapat mengenali betapa para pengikut pemikiran Syaikh ini identik di dalam sikap dan perkataannya yang terlalu ekstrim dan berlebihan kepada ahlus sunnah, terlebih kepada ahli bid’ah.

Etika dan sikap pada saat mengkritik dan kaedah-kaedah kritik sudah tidak diindahkan sama sekali oleh Syaikh Rabi’ ini hingga diikuti secara membabi buta oleh para pengikutnya.
Demikian pula ketergesa-gesaan dalam menvonis seseorang atau kelompok yang tidak sependapat dengannya juga nampak pada para pengikut pemikiran syaikh ini. Semoga Allah memberi hidayah kepada semuanya.

3. Kesalahan dalam aqidah.
Beliau syaikh Rabi al-Madkhali hafizhahullah, sebagaimana dikutip dalam www.alathary.org/rabee/, juga dikritik atas permasalahan jenis amal, dimana beliau berkesimpulan bahwa jenis amal itu adalah syarat kamal iman (syarat kesempurnaan iman) dan bahwa iman itu pokok dan amal adalah cabang (penyempurna).

Dan hal ini bukan karena kesalahan beliau berbicara,sebab telah banyak masyaikh dan para Ulama yang mengingatkan beliau tentang masalah ini namun beliau tetap pada pendiriannya.

Dalam masalah aqidah Syaikh Robi’ ini juga dikritik atas pertanyaan beliau yang membolehkan tanazul dari ushul pada saat darurat.

- Ini beberapa poin yang mudah kita bawakan dari perkara-perkara yang Syaikh Robi’ menuai kritikan, dan meskipun di sana masih ada beberapa masalah yang menarik perhatian ulama lain, namun saya kira hal di atas sudahlah cukup.

Untaian nasehat dan peringatan para ulama dalam masalah ini;

1). Syaikh Abdul ‘Aziz Alu Syaikh

Beliau memberikan penjelasan atas pertanyaan yang diajukan kepada beliau seputar tabdi’ dan tahdzir (pembid’ahan dan celaan) yang sedang marak di tengah masyaikh dan penuntut ilmu. Di situs: www.YouTube.com/watch?v=cjCdVeaMpdI dan juga www.YouTube.com/watch?v=M1IFetm8a5c, yang berjudul:

- مفتي السعودية عبد العزيز آل الشيخ يحذر من منهج الشيخ ربيع المدخلي الذي يفرق الأمة
- بيان خطأ منهج الشيخ ربيع المدخلي ومن على شاكلته لغلوه في الجرح والتجريح والطعن والتقسيم

- Mufti Arab Saudi Abdul Aziz Alu Syaikh memberi peringatan terhadap manhaj syaikh Rabi al-Madkhali yang menyebabkan perpecahan umat.
- Penjelasan tentang kesalahan manhaj syaikh Rabi al-Madkhali dan yang semisal beliau terkait ghuluw-nya dalam jarah (kritikan), cara mengkritik, mencela, dan mengkotak-kotakkan manusia

Di sana beliau memberikan nasehat secara umum agar masing-masing bertakwa kepada Allah dan menjauhi segala hal yang dapat menimbulkan permusuhan dan perpecahan. Sebagaimana beliau juga memperingatkan dari sikap berlebihan di dalam mengkritik serta bertakwa kepada Allah di dalam mengoreksi kesalahan orang lain.

2). Syaikh Shaleh Fauzan.

Beliau menjawab pertanyaan seputar masalah tahdzir yang diajukan kepada beliau dan tentang anggapan bahwa ada seorang ulama jarah wa ta’dil di masa sekarang. Sebagaimana dikutip dari situs: www.YouTube.com/watch?v=YFiaNyHVEWc, beliau mengatakan,

علماء الجرح والتعديل في المقابر الآن, لا يوجد جرح و تعديل في هذا الزمان, الموجود الآن شتم وغيبة و نميمة في الدعاة والمشايخ. الجرح والتعديل ليس فلان فيه كذا وفلان قال كذا وتتبع أخطاء الدعاة, الموجود الآن شتم و غيبة ونميمة في الدعاة هذا ليس جرح و تعديل

“Ulama jarah wa ta’dil sekarang sudah di pemakaman. Tidak ada jarah wa ta’dil di zaman ini. Yang terjadi sekarang adalah celaan, ghibah, dan namimah (adu domba) di tengah para da’i dan masyaikh. Jarah wa ta’dil itu bukan ‘Si Fulan begini’ dan ‘Si Fulan berkata begini’, serta mencari-cari kesalahan para da’i. Yang terjadi sekarang adalah cercaan, ghibah, dan namimah di tengah para da’i, ini bukan jarah wa ta’dil…”

3). Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad.

Pada sebuah kesempatan, sebagaimana dikutip dari situs: www.YouTube/watch?v=w8sZ5LmMRwk, syaikh Abdul Muhsin al-Abbad menyampaikan nasehatnya kepada syaikh Rabi al-Madkhali secara khusus. Kata beliau,
انشغل بما كنت عليه أولا من الجد والإجتهاد والعلم النافع, فلا نوافقك على ما يحدث في الأوان الأخيرة من تبديع العلماء, ولو رجعت على ما كنت عليه الألباني لكان أفضل و أنفع للمسلمين, فنحن نخالفك في هذه الفتنة التي حصلت…

“Giatkan dirimu seperti yang dulu, berupa keseriusan dan kesungguhan serta giat dalam ilmu yang bermanfaat. Aku tidak setuju denganmu atas apa yang terjadi di hari-hari ini terkait pembid’ahan terhadap ulama. Seandainya engkau seperti dulu sewaktu (hidupnya) al-Albani tentulah lebih utama dan lebih bermanfaat terhadap kaum muslimin. Jadi Aku menyelisihimu tentang fitnah yang terjadi ini…”

4). Syaikh Abdullah al-Ghudayyan.

Dalam suatu kesempatan tanya jawab yang terjadi antara syaikh al-Ghudayyan dengan salah seorang penuntut ilmu sebagaimana dikutip dari situs: www.YouTube.com/watch?v=wphsIzZwTzo, syaikh menjelaskan beberapa hal tentang jarah wa ta’dil, kemudian tentang tanazul dari ushul ketika darurat sebagaimana hal ini dibolehkan oleh Syaikh Rabi al-Madkhali, demikian juga tentang jenis amal yang menurut syaikh Robi’ Bin Hadi Al-Madkhali adalah syarat kamal (syarat kesempurnaan) dan bukan syarat sah. Berikut petikan sebagian tanya jawab tersebut,

السائل: يا شيخ هناك من يقول أن الدكتور ربيع المدخلي حامل لواء الجرح و التعديل؟
الشيخ: لا, أنا لو صادفني في الطريق ما عرفته يمكن

Penanya: “Ya syaikh, ada yang berkata bahwa Dr.Robi’ Bin Hadi al-Madkhali adalah pembawa bendera (pemimpin) jarah wa ta’dil ?”
Syaikh: “Tidak, sekiranya ia berpapasan denganku di jalan, mungkin Aku tidak mengenalinya…” (sebagai seorang imam jarah wa ta’dil).

Terakhir, Ayat Allah yang mulia mencerminkan Karakter dan Tabiat orang-orang Mukmin dalam firman-Nya, yang artinya:
“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi BERKASIH SAYANG SESAMA MEREKA. kamu melihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan Ridho-Nya, pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka yang diungkapkan dalam Taurat dan sifat-sifat mereka yang diungkapkan dalam Injil. . . “dst.

Allah menjelaskan bahwa di antara karakter Rasulullah dan orang-orang Mukmin adalah Keras Terhadap Orang Kafir Dan Berksih Sayang Sesama Muslim. bukan di balik “Keras Terhadap Sesama Muslim” dan “Berlemah Lembut Dengan Orang-Orang Kafir”. Ini jelas keliru!!

Bepecah belah merupakan ciri khas Ahli Bid’ah dan Hizbiyah sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Prof. DR. Shalih Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan -Hafizhahullah- di beberapa kitabnya.
Ciri Ahlus Sunnah adalah bersatu padu di atas Al-Qur’an dan As-Sunnah ‘Ala Manhajin Nubuwah, meskipun berbeda Organisasi, Yayasan, pondok pesantren, Lembaga, Bangsa atau Negara. Serta saling nasehat menasehati dalam kebenaran, bukan malah berpecah belah dan saling menyesatkan. Melihat kondisi yang ada dan fenomena menuduh serta memecah belah yang dilakukan preman-preman berjubah itu, kami khawatir khawatir mereka ini telah terjatuh dalam jurang Kebid’ahan dan kesesatan, dan kami khawatir pula kalau-kalau mereka-mereka ini lah yang justru merupakan Neo Hizbiyah (gaya baru).

Seorang Ulama Kharismatik, Syaikhul Islam Ahmad Taqiyuddin Ibnu Taimiyah -Radhiyallahu’anhu- pernah berkata, “Seorang Ahlus Sunnah adalah orang yang paling mengerti tentang kebenaran dan paling sayang terhadap Manusia”.

Ketika berita tentang Perpecahan dan saling boikot yang terjadi di antara Dai-dai yang mengaku Salafi di Indonesia disampaikan ke Syaikh Muhammad Bin Hadi Al-Madkhali Hafizhahullah, dengan murkanya beliau berkata, “Semoga Allah tidak memasrahkan tugas Dakwah ini kepada Orang-orang semacam mereka“.

Terakhir, kami teringat beberapa tahun yang lalu ketika mengikuti Daurah bersama seorang Pakar Ekonomi Syari’ah, DR. Muhammad ‘Arifin Baderi, MA. dalam Daurah itu ada satu perkataan indah yang hingga kini terus mendengung di telinga kami dan tak kan pernah terlupakan. beliau berkata, “Ikhtilaf (beselisih pendapat) itu berbeda dengan Iftiraq (berpecah belah). Kita boleh Ikhtilaf (berselisih pendapat, asal sama-sama memiliki Dalil dan Hujjah Syar’iyyah), tapi tidak boleh Iftiraq (berpecah belah & berceri berai). Jadi perselisihan pendapat tidak boleh dijadikan bahan untuk berpecah belah”.

ALLAHU A’LAM.