Hot!

Betapa Bodohnya Syiah!!!

Oleh: Fitra Hudaiya NA
(Mahasiswa Islamic Center Al-Islam)
 
Sameeh.net - Ketika berbicara masalah Syi’ah Rafidhah, maka kita tidak perlu heran jikalau agama yang sesat ini memiliki penyimpangan dan kebodohan-kebodohan yang terkadang pantas untuk ditertawakan. Bukan berarti kita ingin tertawa atas hal itu, akan tetapi kebodohan dan apa yang mereka yakini memang mengundang decak tawa dalam diri kita selaku orang-orang Muslim.

             
Pembaca yang budiman, kali ini saya akan mengutip beberapa kebodohan-kebodohan Syi’ah Rafidhah dari Buku Minhajussunnah an-Nabawiyah karangan Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah. Buku ini adalah bantahan telak yang mematahkan semua argumen orang-orang Syi’ah Rafidhah yang sesat itu. Bahkan mulai dari saat beliau menyusun buku ini hingga sekarang belum ada orang-orang dari agama Syi’ah Rafidhah yang mampu membantah buku ini.  Subhanallaah... Semoga Amal beliau diterima oleh Allah swt. 
             
Adapun seluruh kebodohan-kebodohan Syi’ah Rafidhah maka sangat banyak: seperti, mereka tidak mau meminum air dari sungai yang digali oleh Yazid (yang menurut Syi’ah Rafidhah beliau telah kafir). Padahal Nabi saw dan para sahabat yang bersamanya pernah meminum air dari sumur dan sungai yang digali oleh orang-orang kafir.
             
Sebagian dari mereka tidak memakan pohon yang berasal dari Syam. Padahal kita mengetahui bahwa Nabi saw dan para sahabat mengkonsumsi makanan yang diimpor dari negeri orang kafir berupa Keju. Dan juga mengenakan pakaian yang dibuat oleh orang kafir, bahkan kebanyakan pakaian Rasul dan para sahabat adalah  hasil dari produk orang kafir.
            
Orang Syi’ah Rafidhah sangat benci berbicara dengan lafaz berjumlah sepuluh, perbuatan yang berjumlah sepuluh, bahkan hingga pada bangunan, mereka tidak membangun rumah dengan sepuluh tiang, sepuluh pondasi dll. Karena mereka membenci 10 sahabat yang terpilih dan dijamin masuk surga,  mereka yang sepeuluh itu adalah: Abu Bakar, Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad bin Abi Waqqash, Sa’id bin Zaid bin ‘Amru bin Nufail, Abdurrahman bin ‘Auf dan Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah Ridhwaanullaahi ‘Alaihim.  Mereka membenci kesepuluh sahabat ini kecuali Ali ra, mereka juga membenci as-Sabiqunal awwalun dari kalangan Muhajirin dan Anshar yang berbai’at kepada Rasulullah di bawah pohon,  semuanya berjumlah 1400 orang dan Allah swt telah mengabarkan bahwa Dia telah telah ridha terhadap mereka.
             
Sebagaimana yang telah tertulis dalam Riwayat Shahih Muslim dan yang lainnya, dari Jabir ra: bahwasannya anak Hatib bin Abi Balta’ah berkata: “wahai Rasulullah saw, demi Allah, Hathib akan masuk neraka”, maka kemudian Rasululllah saw bersabda: “engaku berdusta, sesungguhnya dia telah ikut dalam perang badar dan Shulhu Hudaibiyah”. (HR. Muslim).
            
Mereka berlepas diri dari mayoritas sahabat, bahkan mereka berlepas diri dari semua sahabat Rasul saw kecuali hanya sedikit, sekitar 16 lebih. Dan sudah menjadi sesuatu yang  ma’lum bahwa jikalau ditetapkan di bumi ini ada 10 jumlah orang yang paling kafir sekalipun, maka tidak mesti harus meninggalkan jumlah (sepuluh) tersebut dikarenakan kekafiran mereka.  Sebagaimana ketika Allah swt berfirman Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan.”   (QS. an-Naml: 48), maka tidak mesti meninggalkan nama “sembilan” secara mutlak. Bahkan Allah swt memuji orang yang berkaitan dengan jumlah “sepuluh” di beberapa tempat. Sebagaimana firman Allah swt mengenai mut’ah haji: “…Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna…” (QS. Al-Baqarah: 196).
            
Dan firman Allah swt: “…Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam…” (QS. Al-A’raaf: 142).  Juga firman Allah swt (QS. Al-Fajr: 1-2) dll.  Dan telah diriwayatkan dalam hadits shahih bahwa “Nabi saw beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau wafat” (HR. Bukhari dan Muslim) .
            
Beliau saw juga bersabda tentang lailatul Qadr “Carilah ia (lailatul Qadr) pada sepuluh malam terakhir.. (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah saw bersabda: “tidak suatu haripun yangmana amalan sesorang lebih dicintai oleh Allah selain sepuluh terakhir ini (Ramadhan) (HR. Bukhari dan Tirmidzi). Dan masih banyak yang semisalnya.
          
Sangat aneh.. mereka menjauhi nama-nama Abu Bakr, Umar, Utsman dan orang-orang yang diberi nama dengan nama tersebut. Sehingga mereka membenci bergaul dengan orang yang bernama dengan nama itu.  Padahal, walaupun seandainya mereka benar-benar orang kafir sekalipun maka tidak disyari’atkan untuk tidak memberi nama dengan nama mereka. 

Sebagaimana salah seorang sahabat ada yang bernama al-Walid. Dan rasulullah pernah qunut ketika shalat, beliau berdo’a: “Ya Allah.. Selamatkanlah al-Walid bin al-Walid bin al-Mughirah” (HR. Bukhari). Padahal ayahnya walid ini bernama walid juga yang merupakan orang yang sangat kafir. Dan dialah satu-satunya orang disebut dalam firman Allah swt Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian” (QS. Al-Mudatstsir: 11).
             
Di antara para sahabat ada yang bernama ‘Amru padahal di kalangan orang musyrikin ada juga yang bernama ‘Abdu Wadd, bahkan nama asli Abu Jahl adalah ‘Amru bin Hisyam.
            
 Ada sahabat yang bernama Khalid bin Sa’id bin al’Ash yang temasuk as-Sabiqunal Awaalaun, sedangkan di kalangan orang musyrikin ada juga yang bernama Khalid bin Sufyan al-Hadzliy.
             
Ada sahabat yang bernama Hisyam bin Hakim begitu juga bapaknya Abu Jahal bernama Hisyam.
             
Sahabat ada yang bernama ‘Uqbah, seperti: Abi Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amru al-Badry dan ‘Uqbah bin ‘Amir al-Juhany. Begitu juga orang musyrikin ada yang bernama ‘Uqbah bin Abi Mu’ith.
             
Khulafa’urrasyidin kita ada yang bernama ‘Ali dan ‘Utsman. Begitu juga orang musyrikin ada yang bernama ‘Ali bin Umayyah bin Khalaf, terbunuh ketika perang Badr. Ada Utsman bin Thalhah yang terbunuh sebelum ia memeluk Islam. Dan yang semisal ini sangat banyak.
             
Dari beberapa uraian di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa Rafidhah ini adalah agama yang berlandaskan kebodohan, hawa nafsu dan kebencian terhadap para sahabat, as-Sabiqunal awalun (yang paling awal yang masuk Islam) serta orang-orang yang mengikuti jejak mereka.
             
Semoga Allah swt melindungi kita dari kesesatan ajaran ini, dan mewafatkan kita dalam keadaan beraga Islam dan husnul khatimah.   Allaahumma amiin.
Walhamdulillah, wallaahu a’lam.