Hot!

Benarkah Orang Yang Meninggalkan Shalat Harus Dibunuh?

Oleh: Muhammad Husni Haikal

Sameeh.net - Imam Ibnu Qoyyim al-Jauziyah berkata: “Kaum muslimin tidak berselisih, bahwa meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja merupakan dosa paling besar. Dosa meninggalkan shalat dengan sengaja di sisi Allah lebih besar dari membunuh, mencuri, berzina dan minum minuman keras. Meninggalkan shalat dengan sengaja akan mendatangkan murka dan adzab Allah serta kehinaan di dunia dan di akhirat.”
    
Para ulama berselisih tentang apakah ia harus dibunuh dan bagaimana cara membunuhnya, juga tentang apakah ia kafir atau tidak. Ibnu Syihab az-Zurhi, Sa’id bin Musayyab, Umar bin Abdul Aziz, Abu Hanifah, Dawud bin Ali dan al-Muzani berpendapat, ia tidak dibunuh, tetapi di tahan sampai mati dan bertaubat. Mereka yang mengatakan wajib dibunuh ini ada dua pendapat:
Pendapat Pertama: Orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir yang wajib di bunuh.
    
Mereka berkata: “Ia harus dibunuh seperti dibunuhnya orang yang murtad.” Pendapat ini adalah pendapat Imam Ahmad, Sa’id bin Jubair, Amir asy-Sya’bi, Ibrahim an-Nakha’i, Abdullah bin Mubarak dan beberapa ulama lain. Mereka mengambil dalil firman Allah yang berbunyi:

“Sesungguhnya orang yang benar benar percaya kepada ayat ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong.” (QS. As-Sajadah: 15).
    
Dasar pengambilan argumen dalam ayat ini adalah, Allah menafikan iman dari mereka yang tidak mau sujud dan bertasbih memuji Rabb mereka ketika diperingatkan dengan ayat-ayat Allah. Dan peringatan ayat-ayat Allah paling utama adalah peringatan dengan ayat shalat. Maka, orang diperingatkan agar shalat, tetapi dia tidak mau, berarti ia tidak beriman kepada-Nya, kerena Allah mengkhususkan orang-orang beriman dengan shalat, bahwa mereka adalah orang-orang yang selalu sujud. Inilah pengargumentasian yang paling baik. Jadi ia tidak beriman pada ayat: “Dan dirikanlah shalat.” (QS. Al-Baqarah: 43). Kecuali orang yang komitmen terhadapnya.
    
Adapun dalil dari as-Sunnah. Dari Jabir, ia bercerita: “Aku telah mendengar Rasulullah bersabda:

إن بين الرجل و بين الشرك و الكفر ترك الصلاة. – رواه مسلم –
“Sesungguhnya yang membedakan seseorang dari syirik dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim).
    
Adapu Ijma’  Sahabat, seperti yang dituturkan oleh Abdullah bin Syaqiq: “Para Sahabat Rasulullah tidak melihat satu amal yang jika ditinggalkan adalah kafir, kecuali shalat.”
Pendapat Kedua: Orang yang meninggalkan shalat karena malas wajib dibunuh sebagai hadd (hukuman) bukan karena kafir.
    
Di antara yang berpendapat seperti ini adalah, Imam Malik dan Ibnu Baththah. Ibnu Qudamah dalam al-Mughni mentarjih pendapat ini. Ia berkata: “Ini adalah pendapat mayoritas fuqaha (ahli fiqih).” Mereka berdalil dengan firman Allah yang berbunyi:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’: 48).
    
Adapun dari as-Sunnah, Hadits Ubadah bin ash-Shamit yang merupakan dalil paling pokok mereka, Ubadah bercerita: Aku telah mendengar Rasulullah bersabda:

“Lima shalat yang telah ditetapkan oleh Allah atas para hamba. Barangsiapa yang melaksanakannya, maka baginya ada perjanjian di sisi Allah, bahwa Allah akan memasukkannya ke dalam surga. Dan barangsiapa yang tidak menjalankannya, maka tidak ada untuknya perjanjian di sisi Allah. Bila Allah menghendaki untuk menyiksanya, maka Ia akan menyiksanya dan jika Allah menghendaki untuk mengampuninya, maka Ia akan mengampuninya.” (HR. Ahmad).
    
Pendapat yang rajih adalah pendapat yang mengatakan, bahwa orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja adalah kafir yang harus dibunuh karena telah murtad. Adapun Imam asy-Syafi’i berpendapat, bahwa orang yang meninggalkan shalat karena malas tidaklah kafir, padahal dalil al-Quran, as-Sunnah dan Ijma’ Sahabat menunjukkan kekufuran orang itu. Maka, wajib bagi seorang muslim untuk mengikuti nash-nash yang shahih dengan tidak fanatik kepada seorang imam betapapun tingginya kedudukan imam tersebut, sementara Imam asy-Syafi’i termasuk imam yang mencela taqlid kepadanya dan beliau pun telah mengatakan: “Jika ada hadits shahih, berarti ia adalah madzhabku.” Wallahu a’lam.