Hot!

Bagaimana Manhaj Salaf Dalam Menetapkan Aqidah Mereka?


Manhaj Salaf Dalam Menetapkan Aqidah
    
As-salaf secara bahasa adalah mendahului. Salaf adalah orang yang mendahuluimu, yang terdiri dari bapak-bapakmu dan keluargamu yang lebih dahulu atau yang lebih tua usianya dan kemuliannya darimu.
    
Secara istilah diperselisihkan oleh para ulama. Al-Qallasyani berkata: “Salaf ash-Shaleh ialah generasi awal yang teguh dalam ilmu dan mengambil petunjuk Nabi serta memelihara Sunnah beliau. Mereka adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah untuk menjadi sahabat Nabi dan untuk menegakkan agamanya, mereka diridhai oleh para ulama pemimpin umat dan berjihad fi sabilillah dengan sebenar-benar jihad. Mereka juga sibuk menghabiskan usianya untuk berdakwah, membimbing dan menasehati umat ini serta memberi manfaat kepada mereka. Allah telah memuji mereka dalam kitab suci-Nya dengan firman-Nya:
 
“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan RasulNya. mereka Itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hasyr: 8).
    
Dengan demikian, maka sebutan as-Salaf berlaku bagi imam al-mutaqaddimin (yang terdahulu) yang terdiri dari para ulama pada generasi pertama, kedua dan ketiga yang diberkahi. Mereka adalah para sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in yang disebutkan dalam hadits Rasulullah yang berbunyi:
 
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, lalu generasi sesudah itu, kemudian generasi sesudah itu, kemudian generasi setelahnya. Kemudian, datanglah kaum yang kesaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului kesaksiannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
    
Beberapa kaidah yang dapat kita bedakan mana yang tergolong Salaf dan mana yang hanya mengklaim semata.
 
Kaidah Pertama: Mengambil lahiriah al-Quran dan as-Sunnah dalam setiap masalah Aqidah.
    
Ini dilakukan karena Allah menjamin, bahwa orang yang memegang teguh keduanya tidak akan pernah sesat dan celaka. Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits:
“Aku tinggalkan untuk kamu sesuatu yang barangsiapa teguh kepada keduanya, pasti kamu tidak akan pernah sesat selama-lamanya setelah aku, yaitu Kitabullah dan Sunnahku.” (HR. Hakim).
    
Ada beberapa perkara yang masuk ke dalam kaidah pertama ini, di antaranya adalah:
1.    Mendahulukan Naql (wahyu) atas ‘Aql (akal).
Yang dimaksud dengan naql (wahyu) adalah dalil-dalil syar’i yang tertuang dalam al-Quran dan as-Sunnah. Sedang yang dimaksud dengan akal ialah dalil-dalil ‘aql yang dibuat oleh para ulama ilmu kalam dan mereka jadikan sebagai agama yang menundukkan/mengalahkan dalil-dalil syar’i.
 
Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Di antara cara Ahlu Sunnah adalah mereka sangat mengutamakan firman Allah atas ucapan yang lain dari golongan manusia dan mereka mendahulukan hidayah (tuntunan) Nabi Muhammad atas tuntunan dan petunjuk siapa saja, serta mereka mengikuti jejak Rasulullah baik bathin maupun lahir.
 
2.    Mengimani lahiriyah Nash (nash-nash al-Quran dan hadits secara lahiriyah) tanpa menyibukkan akal untuk hal-hal yang tidak ada gunanya, berupa berbagai ta’wil dan interpretasi para Ahli Ilmu Kalam.
3.    Tidak membedakan antara al-Quran dan as-Sunnah
 
Hal yang paling besar yang membedakan antara Salaf dengan yang lain dari golongan pelaku (bid’ah) adalah mereka menghormati dan menjunjung tinggi Sunnah Nabi. Sunnah bagi mereka adalah penjelas, penafsir dan pengurai al-Quran, baik dalam bidang aqidah maupun syari’ah. Oleh karena itu, Ahlu Sunnah wal Jama’ah mengambil lahiriyah hadits, tidak menakwilkannya serta tidak menolaknya dengan argumentasi yang lemah, sebagaimana ahli kalam yang mengatakan, bahwa hadits-hadits itu adalah hadits-hadits Ahad yang tidak bisa untuk dijadikan sebagai dasar ilmu dan keyakinan.
 
Kaidah Kedua: Menghormati ucapan para sahabat dengan mengambil pemahaman dan riwayat yang datang dari mereka.
    
Tidak sedikit nash-nash syar’i yang menunjukkan, bahwa para sahabat adalah umat Nabi yang terbaik dan orang yang paling baik imannya, ilmunya, dan pemahamannya. Mereka adalah orang-orang yang paling bertakwa kepada Allah dibanding orang lain, sehingga mereka layak untuk diikuti. Allah berfirman:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100).
 
Kaidah Ketiga: Memelihara akal dari pembebanan untuk membahas perkara yang diluar kemampuannya dalam perkara aqidah.
    
Yang demikian itu karena Allah memberikan kepada akal kemampuan yang terbatas, sehingga ia tidak mampu melampaui batas kemampuan tersebut. Para Salaf mengetahui hal itu sehingga mereka membatasi diri dari pembahasan tentang perkara-perkara ghaib dan menerima sepenuhnya terhadap nash-nash (ayat-ayat dan hadits) tentang perkara yang diluar jangkauan akal tersebut serta beriman kepadanya.
 
Kaidah Keempat: Mewaspadai segala bentuk bid’ah dan para pelakunya, (memutuskan) meninggalkan mereka, meminimalisir jumlah pengikutnya serta tidak duduk berteman dengan mereka, mewaspadai menukil syubhat-syubhat mereka dan melihat/memaparkannya kepada kaum muslimin.
 
Kaidah Kelima: Mempunyai perhatian penuh terhadap jama’ah kaum muslimin dan persatuan mereka.
    
Allah telah mewajibkan umat Islam untuk bersatu, seperti kita jumpai dalam kitab suci-Nya pada sejumlah ayat berikut: 
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali-Imran: 103).

Oleh: Muhammad Husni Haikal (Ringkasan Buku Manhaj Aqidah Imam Syafi'i).