Hot!

Hukum Menyembelih Binatang Dengan Niat Bukan Karena Allah



Allah Ta’ala berfirman:
  
“Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).”(QS. Al-An’am: 162-163). 

Ibnu Katsir berkata: “Allah menyuruh supaya Muhammad memberi kabar kepada orang-orang musyrik yang menyembah selain Allah dan menyembelih kerenanya (bukan atas nama-Nya), agar memurnikan shalat dan sembelihannya hanya untuk Allah, karena orang-orang musyrik menyembah patung-patung dan menyembelih karenya. Maka Allah menyuruhnya supaya beliau berselisih dan berpaling dari apa yang mereka lakukan dan memusatkan tujuan, niat dan kehendak untuk tulus karena Allah Ta’ala. 

Syaikhul Islam berkata: “Allah menyuruh Rasul-Nya supaya menggabungkan antara dua ibadah ini, yaitu shalat dan sembelihan. Keduanya menunjukkan kedekatan, tawadhu’, rasa membutuhkan, baik sangka, keyakinan yang kuat, ketenangan hati kepada Allah dan kepada janji-janji-Nya. Itu merupakan kebalikan dari orang-orang  yang sombong dan berhati kasar serta orang-orang yang tidak membutuhkan Allah, dimana mereka tidak butuh  kepada Rabb mereka dalam shalat mereka, dan orang-orang yang tidak menyembelih karena-Nya karena takut fakir. Untuk itu Allah menggabungkan antara keduanya dalam firman-Nya. 

An-Nusku adalah penyembelihan karena Allah Ta’ala dalam mengharap wajah-Nya, karena kedua ibadah tersebut dalah suatu bentuk taqarrub kepada Allah. 

عن علي رضي الله عنه قال: حدثني رسول الله صلى الله عليه و سلم بأربع كلمات: لعن الله من ذبح لغير الله, لعن الله من لعن والديه, لعن الله من آوى محدثا, لعن الله من غير منار الأرض.


Ali berkata: Rasulullah saw telah menuturkan kepadaku empat kalimat: “Allah melaknat orang yang menyembelih binatang dengan niat bukan lillah, Allah melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya, Allah melaknat orang yang melindungi pelaku kejahatan, Allah melaknat orang yang merubah batas tanah.”(HR. Muslim). 

Syaikhul Islam berakata: “Sesungguhnya Allah melaknat orang yang telah dinyatakan menerima laknat dengan firman-Nya, sebagaimana Allah bershalawat atas orang yang berhak mendapatkannya di antara hamba-hamba-Nya.

Berdasarkan ini, jika seseorang menyembelih karena selain Allah dan untuk bertaqarrub kepadanya, maka hukumnya haram. Meskipun ia menyebut nama Allah pada saat penyembelihan itu. Seperti apa yang kadang-kadang dilakukan oleh sekelompok orang manafik dari umat ini yang bertaqarrub kepada bintang-bintang dengan menyembelih, memberi kemenyan dan lain sebagainya. Jika mereka adalah orang-orang murtad, maka penyembelihan mereka tidak sah sama sekali. Penyembelihan mereka ditolak karena dua hal:
1.    Sembelihan itu adalah sembalihan karena selain Allah.
2.    Itu adalah sembelihan orang murtad. 

Ibrahim al-Marwazi menyebutkan: “Sesuatu yang disembelih pada saat penyambutan kedatangan penguasa kerena bertaqarrub kepadanya, maka ulama Bukhara memberi fatwa dengan menyatakan keharamannya. Sebab, hal itu termasuk sesuatu yang disembelih bukan karena Allah."

Oleh: Muhammad Husni Haikal (Diringkas dari buku Fathul Majid).