Hot!

Hukum Mengharap Berkah Kepada Pohon, Batu dan Sejenisnya



Allah Ta’ala berfirman:  

“Maka Apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengaggap Al Lata dan Al Uzza. Dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?. Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan?. Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah Nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan Sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka.”(QS. An-Najm: 19-23).

Latta adalah berhala milik suku Tsaqif, Uzza adalah berhala milik suku Quraisy dan bani Kinanah, dan Manat adalah berhala milik bani Hilal. Ibnu Hisyam berkata: “Ia adalah milik suku Hudzail dan suku Khuza’ah.”

Adapun Uzza, Ibnu Jarir mengatakan: “Ia adalah pohon yang diatasnya ada bangunan dan sitar yang terdapat di daerah Nakhlah antara Makkah dan Thaif. Dahulu orang-orang Quraisy mengagungkannya, sebagimana yang dikatakan oleh Abu Sufyan pada perang Uhud: “Kamu memiliki Uzza dan kamu tidak memiliki Uzza, maka Rasulullah bersabda: “Katakanlah, ‘Allah adalah pelindung kami dan kamu tidak punya pelindung’.”

Ibnu Katsir berkata: “Allah Ta’ala telah mengutus banyak rasul dengan kebenaran yang memancar dan dalil yang qath’i, meskipun demikian mereka tidak mengikuti apa yang dibawa para rasul itu dan tidak tunduk padanya.”

Kesesuaian ayat ini dengan pembahasan –dari satu segi bahwa para penyembah berhala-berhala ini- hanya karena mereka meyakini adanya berkah darinya dengan cara memujanya, berdoa, meminta pertolongan dan bersandar kepadanya dalam mendapatkan apa yang diharapkan, syafaat dan lain sebagainya. Maka dengan demikian, meminta barakah kepada kuburan orang-orang shalih seperti Laata, dan kepada pohon dan batu seperti Uzza dan Manat. Termasuk perbuatan orang-orang musyrik terhadap berhala-berhala mereka itu.

Barangsiapa berbuat seperti itu dan berkeyakinan demikian pada kuburan, batu atau pohon, maka ia telah menyerupai persis perbuatan para penyembah berhala-berhala ini dalam kesyirikan yang mereka lakukan terhadapnya. Pada kenyataannya, apa yang dilakukan orang-orang musyrik itu kepada sesembahan mereka adalah lebih besar dari apa yang mereka lakukan, maka hanya kepada Allah kami memohon pertolongan (agar kita terselamatkan dari perbuatan syirik).

Al-hafizh Abu Muahammad Abdurahman bin Ismail asy-Syafi’i yang dikenal dengan Abu Syamah berkata dalam kitabnya al-Ba’its ‘Ala Inkaril Bida’ wal Hawadits: “Termasuk janis bid’ah mungkar, ini juga kenyataan yang merajarela. Yaitu, bisikan syaithan kepada orang-orang awam untuk menganggap baik hal-hal semacam ini, pengukiran tembok-tembok dan pilar-pilar bangunan, dan penerangan tempat-tempat khusus (keramat) dengan lampu-lampu.”

Kesimpulan yang dapat kita petik dalam pembahasan ini adalah bahwa sesuatu yang dikerjakan seseorang yang beriman kepada pohon, kuburan dan batu, seraya meminta berkah, mendatanginya dan menyembelih binatang untuknya itu adalah perbuatan syirik. Janganlah terkecohkan, meski yang melakukan itu orang yang awam maupun orang-orang yang ditokohkan. Tidak tertutup kemungkinan keberadaan syirik kepada Allah ini terjadi pada umat ini.

Adapun anggapan sebagian orang-orang muta’akhirin yang memperbolehkan mengharap berkah dari bekas orang-orang shalih, maka itu dilarang. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor. Di antaranya orang-orang terdahulu dari kalangan Sahabat dan setelahnya tidak pernah melakukan itu sekapa selain Nabi saw, tidak pada masa hidupnya dan tidak pula setelah matinya. Seandainya itu perbuatan yang baik, tentu mereka lebih dahulu melakukannya sebelum kita.

Oleh: Muhammad Husni Haikal (Diringkas dari Buku Fathul Majid)