Hot!

Mulid Nabi, Benarkah Sebuah Kebid'ahan?

Sejarah Maulid Nabi Muhammad Saw
    
Orang yang pertama kali mengadakan bid’ah ini adalah bani Ubaid al-Qadah yang menamakan diri mereka dengan kelompok Fathimiyah dan mereka menisbatkan diri kepada putra Ali bin Abi Thalib. Padahal sebenarnya mereka adalah peletak dasar untuk mendakwahkan aliran kebatinan. Dalam hal nasab mereka dan menyebutkan bahwa mereka adalah keturunan orang Majusi atau Yahudi. Inilah yang mahsyur menurut kesaksian para ulama Thaif dari Mazhab Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, Hanabilah, ahli kalam, ahli nasab, orang awam, dan sebagainya.
    
Para ulama umat, para pemimpin, dan para pembesarnya bersaksi bahwa mereka adalah orang-orang munafiq zindik yang manampakkan Islam dan menyembunyikan kekafiran. Bila ada orang yang bersaksi bahwa mereka orang-orang yang beriman, berarti dia bersaksi atas sesuatu yang tidak diketahuinya karena tidak ada sesuatu pun yang menunjukkan keimanan mereka. Sebaliknya, banyak hal yang menunjukkan atas kemunafikan dan kezindikan mereka.
    
Ringkasnya bahwa yang pertama kali mengadakan upacara peringatan Maulid Nabi adalah bani Ubaid al-Qadah dari kelompok Fathimiyah. Buktinya seperti yang dijelaskan oleh al-Muqrizi dalam khutat-nya dan juga yang dijelaskan oleh al-Qalqasyandi dalam Shubh al-Aghsya.
    
Abu Syamah menyebutkan bahwa Ubaid al-Qadah adalah orang yang pertama kali mengadakan upacara peringatan Maulid Nabi dan orang yang pertama kali membuat bid’ah hasanah pada zamannya.
    
Jika kita telah mengetahui semua ini, maka tidak ragu lagi bahwa kelompok al-Abidiyun adalah orang-orang yang pertama kali mengadakan upacara peringatan Maulid Nabi, seperti yang diceritakan dalam buku-buku sejarah. Kelompok al-Abidiyun masuk Mesir dan mendirikan kerajaan di sana pada pertengahan kedua abad ke-4 H dan pemerintahan mereka berlangsung hingga abad kelima dan pertengahan abad ke-6 H.
 
Keadaan Masyarakat Pada Masa Itu
    
Kebijakan politis kelompok Abidiyun diarahkan untuk mencapai satu tujuan –yang diupayakan dengan sungguh-sungguh- yaitu mengajak manusia agar menganut aliran mereka sehingga mereka bisa berkuasa di seluruh negeri Mesir dan negeri-negeri tetangga lainnya yang mereka kuasai.
    
Abidiyun memperlakukan orang-orang Nasrani dengan perlakuan yang ramah, melindungi, dan cinta. Jika seperti itu sikap mereka kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani, lalu bagaimana sikap mereka kepada Ahlusunnah?
    
Abidiyun telah melaknat tiga khalifah besar, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, dan sahabat-sahabat lainnya karena Abidiyun menganggap mereka musuh-musuh Ali. Sebaliknya, keutamaan Ali dan anak turunnya ditulis di atas papan-papan besi dan dinding-dinding masjid. Para khatib Jum’at selalu melaknat para sahabat di seluruh mimbar masjid di Mesir.
    
Labih dari itu, al-Hakim al-Abidi mengaku memiliki titisan Tuhan, lalu dia menyuruh manusia untuk membuat barisan dan bersujud di bawah kakinya jika Khatib menyebut namanya di atas mimbar sebagai pengagungan atas namanya. Dia menyuruh orang-orang Sudan untuk membakar Mesir dan merampas harta, kesenangan dan istri-istri mereka. Mereka pun mematuhi perintahnya dengan cara menganiaya wanita, memperlakukan mereka dengan keji dan mungkar, membakar seperti Mesir, dan menghacurkan separuhnya.
    
Pemaparan di atas telah memberikan gambaran yang jelas tentang keadaan masyarakat Islam Mesir pada masa Abidiyun, yaitu orang-orang yang pertama kali membuat bid’ah peringatan Maulid Nabi. Telah dijelaskan pula bahwa upacara peringatan Maulid Nabi itu bukan didasari atas rasa cinta kepada Rasulullah Saw dan keluarganya. Jika mereka cinta Rasulullah, tentu tidak membenci Ahlusunnah apalagi menganiaya mereka.
    
Sebenarnya tujuan mereka mengadakan perkumpulan dan peringatan-peringatan adalah untuk memerangi agama Allah dan Rasul-Nya, serta menjauhkan manusia dari akidah yang benar dan manhaj yang lurus. Allah telah mengazab mereka dengan kelaparan, kekurangan pangan, dan buah-buahan. Sampai-sampai ada di antara mereka saling membunuh, menyembelih anak-anak mereka sendiri dan memakan dagingnya.
Sebagian Syubhat Tentang Maulid Nabi dan Bantahan Terhadapnya
    
As-Suyuthi menjelaskan tentang takhrij Ibnu Hajar mengenai masalah peringatan Maulid yang didasarkan pada puasa hari Asyura, dia mengatakan:
“Tampak olehku bahwa pen-takhrij-annya itu didasarkan pada sumber lain, yaitu hadits yang ditakhrij Baihaqi dari Anas Ra bahwasanya Nabi Saw berakikah untuk dirinya setelah kenabian. Padahal kakeknya, Abdul Muthalib telah berakikah untuknya pada hari ketujuh setelah kelahirannya sehingga akikah itu tidak harus diulang lagi, lalu tindakan Nabi Saw telah diciptakan Allah di muka bumi sebagai rahmatan lil ‘alamin dan pembawa syariat untuk umatnya. Sebagaimana beliau juga bershalawat untuk dirinya sendiri. Sehubungan dengan itu, disunahkan juga bagi kita untuk menunjukkan rasa syukur kita atas kelahirannya dengan cara berkumpul, makan bersama, dan bentuk-bentuk upacara lainnya, sebagai ungkapan kegembiraan.”
    
Jawaban dari penyataan syubhat di atas adalah bahwa hadits di atas tidak kuat kedudukannya menurut ahli ilmu: 
1. Abdurrazzaq berkata dalam mushannif-nya, “Abdullah bin Muharrar bercerita kepada kami, dari Qatadah dari Anas bahwa Nabi Saw berakikah untuk dirinya sendiri setelah kenabian.” (Diriwayatkan Abdurrazzaq). Ibnu Qayyim al-Jauziyyah setelah menelaah hadits Abdurrazzaq ini, dia berkata, “Sesungguhnya Ibnu Muharrar meninggalkan hadits ini.”
 
2. Al-Hafidz Ibnu Hajar menyebutkan dalam Fath al-Baari bahwa hadits ini tidak kuat. Dia menisbatkan penyataan ini kepada al-Bazzar yang berkata, “Abdullah bin Muharrar sendirian dalam periwayatannya sehingga dia lemah.”
 
3. An-Nawawi berkata dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhaddzab, “Hadits yang menjelaskan bahwa Nabi Saw berakikah buat dirinya sendiri setelah kenabian adalah diriwayatkan Baihaqi, dengan sanad dari Abdullah bin Muharrar, dari Qatadah, dari Anas bahwa Nabi Saw berakikah untuk dirinya sendiri setelah kenabian.” Ini adalah hadits batil dan Abdullah bin Muharrar adalah lemah dan disepakati kelemahannya. Al-Huffad berkata, “Ditinggalkan.”
 
4. Adz-Dzahabi dalam Mizan al-‘Itidal –setelah menyebutkan biografi Abdullah bin Muharrar dan perkataan al-Huffadz tentangnya- berkata bahwa dia ditinggalkan dan tidak tsiqah. Di antara sebabnya adalah karena dalam riwayatnya ada Abdullah bin Muharrar, lalu dari Qatadah, dari Anas bahwa Nabi Saw berakikah untuk dirinya setelah diutus menjadi Nabi Saw.
 
Beberapa Cara Manusia Merayakan Maulid
    
Dari pemaparan dan penjelasan yang panjang lebar tetang begaimana cara orang merayakan hari kelahiran Nabi Saw di berbagai masa yang berbeda-beda, semakin menegaskan kepada kita bahwa perkumpulan-perkumpulan itu tidak lain hanya mengumbar hawa nafsu dan keinginan jiwa manusia yang sakit. Upacara peringatan Maulid Nabi dengan cara makan, minum, menyanyi, bercampur antara laki-laki dan perempuan, bersenang-senang, serta upaya yang dilakukan penyelenggara acara ini dengan memberikan uang, hadiah, dan anugerah lainnya, merupakan bukti yang kuat atas benarnya pernyataan ini.
    
Mungkin di luar itu banyak orang yang menyelenggarakan upacara peringatan Maulid Nabi ini dengan niat baik, tetapi niat yang baik tidak diperkenankan bila digunakan untuk membuat bid’ah dalam agama. Para pemeluk agama sebelum kita telah membuat bid’ah dalam agama mereka di berbagai bidang dengan tujuan untuk mengagungkan dan niat yang baik hingga akhirnya agama mereka menyeleweng, tidak sesuai dengan yang dibawa oleh rasul mereka. Seandainya para Salaf kita bersifat gampang dalam membuat bid’ah seperti mereka dan seperti yang dilakukan orang-orang sekarang –yang mengikuti sunnah orang-orang Yahudi dan Nasrani sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta- tentu pokok agama kita sudang hilang. Apalagi upacara peringatan Maulid itu tidak lepas dari syirik besar, yaitu bertawassul kepada Rasulullah Saw dan meminta pertolongan, doa, serta harapan kepadanya.
 
Hakikat Mencintai Rasulullah Saw
    
Orang yang benar-benar mencintai Nabi Saw adalah orang yang menampakkan tanda-tanda tertentu pada dirinya. Di antara tanda-tanda kecintaanya kepada Nabi Saw itu adalah:
1. Mengikuti Nabi Saw, mengerjakan Sunnahnya, mengikuti perkataan dan perbuatannya, menjalankan perintahnya, menjauhi larangannya, beradab dengan adabnya, dan susah senang bersamanya.
 
2. Lebih mendahulukan apa yang disyariatkan dan diperintahkan Rasulullah Saw daripada hawa nafsunya dan keinginan dirinya sendiri.
 
3. Banyak mengingat Rasulullah Saw. Orang yang cinta kepada sesuatu, maka dia akan selalu mengingatnya.
 
4. Di antara cinta seseorang kepada Nabi Saw adalah mencintai orang yang dicintai Nabi, baik dari keluarga maupun sahabatnya dan dari kalangan Muhajirin dan Anshar; memusuhi orang yang memusuhinya, dan membenci orang yang membencinya. Siapa yang mencintai sesuatu, dia juga akan cinta kepada siapa yang mencintai sesuatu itu.
5. Di antara tanda kecintaan kepada Rasulullah lainnya adalah mencintai al-Quran yang diturunkan kepada beliau, mencintai Sunnahnya, dan mengetahui batas-batasannya.
    
Sahal bin Abdullah berkata: “Tanda cinta kepada Allah adalah cinta al-Quran; tanda cinta al-Quran adalah cinta kepada Nabi Saw; tanda cinta kepada Nabi adalah cinta Sunnah; tanda cinta Sunnah adalah cinta akhirat; tanda cinta akhirat adalah benci dunia; dan tanda membenci dunia adalah tidak menyimpannya, kecuali sekedar untuk bekal dan sarana mencapai akhirat.
 
Sikap Ahlu Sunnah Terhadap Bid’ah
    
Ibnu Taimiyah berkata: “Mengadakan upacara ibadah selain yang disyariatkan, seperti malam-malam Rabi’ul Awal untuk memperingati Maulid Nabi, atau malam-malam Rajab, atau tanggal 18 Dzulhijjah, atau awal Jum’at dari bulan Rajab, atau hari ke-8 bulan Syawal yang dikatakan orang bodoh dengan Idul Abrar, semuanya termasuk bid’ah yang tidak disunnahkan salaf dan tidak mereka kerjakan.
    
Adapun orang-orang yang gigih dalam melakukan kegiatan bid’ah peringatan Maulid Nabi itu –yang mungkin mereka mempunyai tujuan dan ijtihad yang baik untuk mendapatkan pahala- kebanyakan bukanlah orang-orang yang mematuhi perintah Rasulullah dengan semangat. Mereka adalah orang-orang yang memperindah masjid, tetapi tidak shalat di dalamnya, tidak shalat malam di dalamnya, dan yang menjadikan tasbih dan sajadah hanya sebagai hiasan yang tidak disyariatkan. Tujuannya adalah untuk riya’ dan kesombongan serta sibuk dengan syariat-syariat yang dapat merusak keadaan pelakunya.
    
Perlu diketahui bahwa bulan Rabi’ul Awal adalah bulan kelahiran dan juga kewafatan Rasulullah sehingga bergembira pada hari itu tidak lebih baik daripada bersedih.
    
Muhammad Abdussalam Khadhr asy-Syaqiri dalam bukunya as-Sunan wa al-Mubtadi’aat berkata: “Pada bulan Rabi’ul Awal terdapat bid’ah Maulid Nabi, padahal bulan ini bukan merupakan bulan yang dikhususkan di dalamnya untuk shalat, zikir, ibadah, maupun puasa. Bulan ini tidak pula dikhususkan untuk musim Islam tertentu, seperti perkumpulan dan hari raya yang ditetapkan oleh syariat Rasulullah maupun nabi-nabi lainnya. Pada bulan ini Rasulullah Saw lahir dan meninggal. Akan tetapi, mengapa mereka bergembira kerena kelahirannya dan tidak bersedih karena kematiannya? Menjadikan kelahirannya sebagai musim tertentu dan waktu untuk berkumpul adalah bid’ah yang mungkar dan sesat, yang tidak diajarkan syariat maupun akal. Seandainya dalam hal ini ada kebaikan, mengapa mereka melupakan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, para sahabat, tabiin dan yang lainnya? Tidak diragukan lagi bahwa tradisi yang diadakan oleh orang-orang Sufi yang jago makan dan penganggur itu adalah bid’ah.”
    
Sudahkah orang-orang yang mengadakan upacara peringatan Maulid Nabi itu mengerjakan seluruh ajaran Islam, baik yang besar maupun kecil dari rukun, kewajiban, dan Sunnahnya hingga mereka mencari-cari dan membuat bid’ah hasanah –seperti anggapan mereka- untuk mencari tambahan pahala dari Allah?
    
Kita memohon kepada Allah agar diberi hidayah dan taufik menuju jalan yang lurus. Semoga Allah menunjukkan jalan yang benar kepada kita dan menunjukkan kita untuk mengikutinya, menunjukkan yang batil itu batil sehingga kita menjauhinya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Oleh: Muhammad Husni Haikal