Hot!

Hukum Darah Haid Dan Ketentuan-ketentuannya


HAID DAN HUKUMNYA
  
Secara bahasa adalah sesuatu yang mengalir. Sedangkan menurut istilah syara’ ialah darah yang terjadi pada wanita secara alami, bukan karena suatu sebab, dan pada waktu tertentu.

Usia wanita yang mengalami haid biasanya antara 12-50 tahun. Itu semua tergantung pengaruh kondisi, lingkungan dan iklim sekitarnya. 

Ad-Darimi, setelah menyebutkan perbedaan pendapat dalam masalah usia wanita haid, mengatakan: “Semua ini, menurut saya keliru. Sebab, yang menjadi acuan adalah adanya darah. Seberapa pun adanya, dalam kondisi bagaimana pun, dan pada usia berapa pun, darah tersebut wajib dihukumi sebagai darah haid, Wallahua’lam.”

Pendapat inilah yang benar dan menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Berdalil dengan ayat al-Quran, sebagaimana firman Allah:

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. apabila mereka telah Suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”
  
Dalam ayat ini, yang Allah jadikan sebagai batas larangan adalah kesucian, bukan berlalunya sehari semalam, ataupun tiga hari, ataupun lima belas hari. Hal ini menunjukkan bahwa illat (alasan) hukumnya adalah haid, yakni ada atau tidaknya. Jadi, jika ada haid berlakulah hukum itu dan jika telah suci tidak berlaku lagi hukum-hukum haid tersebut.

Apabila wanita hamil mengeluarkan darah sesaat sebelum kelahiran (2 atau 3 hari) disertai rasa sakit, maka darah tersebut adalah darah nifas. Tetapi jika terjadi jauh sebelum kelahiran tanpa disertai rasa sakit, maka darah itu bukan darah nifas. Jika bukan, apakah itu termasuk darah haid atau darah kotor? Ada perbedaan pendapat di antara para ulama dalam masalah ini.

Pendapat yang benar, bahwa darah tadi adalah darah haid apabila terjadi pada wanita sesuai kebiasaan waktu haidnya. Inilah mazhab Imam Malik, dan Syafi’i, juga menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Wanita hamil berlaku baginya apa yang juga berlaku pada haid wanita yang tidak hamil, kecuali dalam dua masalah:
1.    Talak. Diharamkan mentalak wanita tidak hamil dalam keadaan haid, tetapi tidak diharamkan terhadap wanita hamil. QS. At-Thalaq: 1.
2.    Iddah. Bagi wanita hamil iddahnya berakhir dengan melahirkan, meski pernah haid ketika hamil ataupun tidak. QS. At-Thalaq: 4.

Ada beberapa hal yang terjadi di luar kebiasaan haid:
1.    Bertambah atau berkurangnya masa haid.
2.    Maju atau mundur waktu datangnya haid.

Para ulama berbeda pendapat dalam menghukumi kedua hal di atas. Namun, pendapat yang benar adalah bahwa seorang wanita jika mendapat darah maka dia berada dalam keadaan haid dan jika tidak mendapatkannya berarti dia dalam keadaan suci. Meskipun masa haidnya melebihi atau kurang dari kebiasaannya serta maju mundur dari waktu kebiasaannya.

Jika wanita mendapatkan darahnya berwarna kuning seperti nanah atau keruh antara kekuning-kuningan dan kehitam-hitaman. Jika hal ini terjadi pada saat haid atau bersambung dengan haid sebelum suci, maka itu adalah darah haid dan berlaku baginya hukum-hukum haid. Namun, jika terjadi sesudah masa suci, maka itu bukan darah haid. Berdasarkan riwayat yang disampaikan oleh Ummu ‘Athiyah:
”Kami tidak menganggap apa-apa darah yang berwarna kuning atau keruh sesudah suci.”

Jika darah haid keluar secara terputus-putus yakni sehari keluar darah dan sehari tidak keluar. Dalam hal ini terdapat 2 kondisi:
1.    Jika kondisi ini selalu terjadi pada seseorang wanita setiap waktu, maka darah itu adalah darah istihadhah, dan berlaku baginya hukum istihadhah.
2.    Jika kondisi ini tidak selalu terjadi pada seorang wanita tetapi kadangkala saja datang dan dia mempunyai saat suci yang tapat. Menurut mazhab Imam Syafi’i, dalam salah satu pendapat yang paling shahih, bahwa hal ini termasuk dalam hukum haid. Pendapat ini pun menjadi pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Terjadi pengeringan darah. Yakni si wanita tidak mendapatkan selain merasa lembab atau basah (pada kemaluannya). Jika hal ini terjadi pada saat masa haid atau bersambung dengan haid sebelum masa suci, maka dihukumi sebagai haid. Tetapi, jika tejadi setelah masa suci, maka tidak termasuk haid.

Hukum haid itu banyak, namun kami hanya akan membahas yang diperlukan, antara lain:
1. Shalat. Wanita haid haram mengerjakan shalat, baik fardhu maupun sunnah, dan tidak sah shalatnya.
2. Puasa. Wanita haid diharamkan berpuasa, baik wajib maupun sunnah, tidak sah puasa yang dilakukannya. Akan tetapi ia harus mengqadha puasa yang wajib.
3. Thawaf. Wanita haid diharamkan melakukan thawaf, baik wajib maupun sunat, dan tidak sah thawafnya. Adapun kewajiban lainnya, seperti sai, wukuf, mabit di Muzdalifah dan Mina, melempar jumrah serta amalan haji dan umrah lainnya, tidak diharamkan.
4. Thawaf Wada’. Jika seorang wanita telah mengerjakan seluruh manasik haji dan umrah, lalu datang haid sebelum kembali ke negerinya dan haid terus berlangsung sampai waktu pulang, maka ia boleh berangkat tanpa thawaf wadha’.
5. Berdiam di masjid. Wanita haid diharamkan berdiam dalam masjid, juga dalam tempat shalat Ied.
6. Jima’ (bersetubuh). Diharamkan bagi sang suami melakukan jima’ dengan istrinya yang sedang haid, dan diharamkan bagi sang istri memberikan kesempatan kepada suaminya melakukan hal tersebut.
7. Thalak. Diharamkan bagi seorang suami mentalak istrinya yang sedang haid.
8. Iddah talak dihitung dengan haid. Jika seorang suami menceraikan istri yang telah digauli atau berkumpul dengannya, maka si istri harus ber-iddah selama 3 kali haid secara sempurna apabila termasuk wanita yang masih mengalami haid dan tidak hamil.
9. Keputusan bebasnya rahim. Yakni keputusan bahwa rahim bebas dari kandungan.
10. Kewajiban mandi. Wanita haid jika telah suci wajib mandi dengan membersihkan seluruh badannya.

Oleh: Muhammad Husni Haikal