Hot!

Hukum Bid'ah Dalam Islam


Sameeh.net - Banyak masyarakat awam yang terjerumus ke dalam ibadah-ibadah yang tidak disyariatkan dalam agama Islam. Mereka meyakini bahwa ibadah yang mereka lakukan sudah sesuai dengan aturan Islam itu sendiri. Namun, kenyataannya tidak demikian. Mereka melakukan ibadah tersebut jauh dari panduan yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw, sehingga banyak di antara mereka jatuh dalam lembah penyelewengan. Istilah penyelewengan tersebut lebih dikenal dengan sebutan bid'ah.

Pengertian Bid’ah

Secara bahasa bisa diartikan dengan menciptakan sesuatu dan memulainya. Ini adalah pengertian yang disampaikan oleh Ibnu Mandzur dalam kitabnya Lisanul Arab.

Adapun secara istilah para ulama berselisih pendapat dalam memberikan batasan makna bid’ah secara istilah. Di antara mereka ada yang menjadikannya khusus yang berkaitan dengan sunnah dan ada pula yang manarik pada permasalahan yang umum, mencakup segala sesuatu yang terjadi setelah masa Rasulullah, baik itu bersifatnya terpuji ataupun tercela. 

Pendapat yang kuat adalah bahwa bid’ah tidak terjadi, kecuali jika bertentangan dengan sunah dan tidak ada bid’ah yang terpuji. Ibnu Mas’ud meriwayatkan hadits dengan derajat marfu’ dan mauquf bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“...Keduanya adalah perkataan dan petunjuk. Sebaik-baik perkataan adalah Kamalmullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Saw. Ketahuilah dan jauhilah perkara-perkara yang baru karena sesungguhnya perkara yang paling jelek itu adalah perkara yang baru. Setiap sesuatu yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.”(HR. Ibnu Majah).

Hukum Bid’ah Dalam Islam

Pendapat yang kuat adalah bahwa seluruh bid’ah adalah tercela. Para ulama mengatakan bahwa bid’ah itu adalah haram, tetapi keharamannya bertingat-tingkat:
 
a.    Bid’ah yang haram secara mutlak.
Ada bid’ah yang haram seara mutlak. Bid’ah yang dapat menyebabkan kekafiran tanpa ada ta’wil, seperti bid’ah jahiliyah yang diingatkan al-Quran dalam firman-Nya:
 
“Allah sekali-kali tidak pernah mensyari'atkan adanya bahiirah, saaibah, washiilah dan haam. akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan mereka tidak mengerti.”(QS. Al-Maidah: 103).
 
b.    Bid’ah kemaksiatan, tetapi tidak menyebabkan kekafiran.
Bid’ah yang termasuk dalam kemaksiatan, tetapi tidak menyebabkan kekafiran atau masih diperselisihkan, apakah itu dapat menyebabkan kekafiran atau tidak. Misalnya, bid’ahnya kelompok Khawarij, Qadariyah, Murji’ah, dan kelompok-kelompok sesat lainnya.

c.    Bid’ah yang termasuk dalam kemaksiatan.
Bid’ah yang termasuk dalam kemaksiatan, seperti bid’ah meninggalkan kehidupan duniawi untuk ibadah, membujang selamanya, puasa dengan berjemur di bawah terik matahari, dan mengebiri dengan tujuan untuk memotong syahwat jima’.

d.    Bid’ah yang makruh.
Bid’ah yang makruh. Misalnya, perkumpulan manusia di masjid untuk berdoa pada malam Arafah, menyebut para penguasa pada waktu khutbah Jum’at dan sebagainya. Bid’ah macam ini tidak berada dalam satu tingkat dan tidak pula memiliki hukum yang sama.

Ibnu Abbas berkata: “Tidak datang kepada manusia, kecuali mereka membuat bid’ah di dalamnya dan mematikan di dalamnya sunnah hingga bid’ah hidup dan sunnah mati.”

Ibnu Mas’ud berkata: “Ikutilah dan janganlah kalian membuat bid’ah karena apa yang diberikan kepada kalian sudah cukup."

Oleh: Muhammad Husni Haikal