Hot!

Hak Allah Kepada Hamba dan Sebaliknya


Mu’adz bin Jabal ra menuturkan: “Aku pernah dibonceng oleh Nabi saw di atas seekor keledai. Lalu beliau bersabda kepadaku, ‘Hai Mu’adz, tahukah kamu apa hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya dan apa hak hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah?’ Aku menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Beliau bersabda, ‘Hak Allah yang wajib dipenuhi oleh para hamba-Nya ialah supaya mereka hanya beribadah kepada-Nya dan tidak berbuat syirik sedikitpun kepada-Nya; sedangkan hak para hamba yang pasti dipenuhi Allah adalah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik sedikitpun pada-Nya.’ Aku bertanya, ‘Ya Rasulullah tidak perlukah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada orang-orang?’ Beliau menjawab, ‘Janganlah kamu menyampaikan kabar gembira ini kepada mereka, sehingga mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Syaikh Islam berkata: “Keberkahan orang yang taat terhadap ganjaran adalah keberkahan oleh sebab diberi dan dikaruniai bukan hak yang didapat sebagai balasan amal sebagaimana makhluk memiliki hak atas makhluk yang lain. Ada yang mengatakan, bahwa ungkapan “mendapatkan hak” tidak bermakna kecuali pemberian Allah akan hal itu, dan janji-Nya benar. Namun kebanyakan orang menetapkan, bahwa hak di sini memiliki makna hak yang lebih di luar itu sebagaimana yang ditunjukkan oleh Kitabullah dan as-Sunnah. Akan tetapi Ahlus Sunnah berpendapat, bahwa Dia-lah yang telah menuliskan rahmat atas diri-Nya dan mewajibkan atas diri-Nya, sedangkan makhluk-Nya tidak dapat mewajibkan apa-apa atas-Nya. (QS. Ar-Rum: 47).

Sungguh bagus apa yang dilakukan oleh Ibnu Qayyim dimana beliau memberikan definisi yang valid terhadap ibadah: “Beribadah kepada ar-Rahman adalah klimaks rasa cinta kepada-Nya, diiringi klimaks rasa rendah dari hamba itu dihadapan-Nya. Keduanya adalah dua kutub ibadah, porosnya adalah ganjaran Rasul-Nya bukan dengan hawa nafsu dan keinginan diri maupun (ajaran) syaithan.”

Barangsiapa yang mendustakan Rasulullah maka dia telah mendustakan Allah, dan barangsiapa yang telah mendustakan Allah maka dia adalah orang yang musyrik. Ini persis seperti ungkapan orang yang berkata, “Barangsiapa yang berwudhu, maka shalatnya sah,” yakni disertai dengan syarat-syarat yang lain.

Adapun kandungan pada pembahasan ini adalah:
1.    Dorongan agar memurnikan ibadah kepada Allah, sebab hal itu tidak akan bermanfaat bila disertai dengan perbuatan syirik bahkan dinamakan ibadah.
2.    Peringatan akan besarnya hak kedua orang tua dan haramnya berbuat durhaka terhadap mereka.
3.    Peringatan terhadap betapa agungnya ayat-ayat yang Muhkamat dalam surat al-Maidah tersebut.
4.    Boleh menyembunyikan ilmu bila ada mashlahat dibalik itu.

Oleh: Muhammad Husni Haikal (Diringkas dari buku Fathul Majid).