Hot!

Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Bid'ah


Sameeh.net - Setelah membahas pembahasan sebelumnya yaitu Hukum Bid'ah Dalam Islam. Maka pada pembahasan kali ini, kita akan membahas faktor-faktoronya. Adapun   Faktor-faktor Penyebab Munculnya Bid’ah adalah sebagai berikut:
 
1.    Tidak tahu cara memahami agama.
Kita tahu bahwa al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab memlalui seorang rasul yang berbahasa Arab untuk memberikan petunjuk kepada orang Arab terlebih dahulu, kemudian kepada seluruh umat manusia. Sesungguhnya syariat tidak dapat dipahami, kecuali jika memahami bahasa Arab. Dengan demikian, maka orang yang bergelut dan berkecimpung di dalam bidang syariah harus memahami dua aspek penting, yaitu:
 
-    Jangan sekali-kali berbicara sesuatu tentang syariat, kecuali dia orang Arab atau orang non Arab yang memahami bahasa Arab seperti yang di pahami ahli bahasa. Akan tetapi tidak dimaksudkan ia harus hafal. Akan tetapi maksudnya adalah hendaklah ia memahami bahasa Arab secara global.
 
-    Jika mendapatkan kesulitan di dalam al-Quran ataupun Sunnah maka jangan tergesa-gesa untuk mengatakan sesuatu tanpa ilmu. Hendaklah ia bertanya kepada orang yang ahli dalam permasalahan itu.

2.    Tidak memahami tujuan.
Yakin bahwa syariat itu sempurna dan jauh dari kekurangan sehingga dia siap menaatinya, teguh, dan beriman kepada ibadah, adat, dan mu’amalatnya serta tidak keluar darinya. Keluar darinya berarti keluar dari agama karena syariat Islam telah lengkap dan sempurna sehingga orang yang menambah atau menguranginya berarti telah membuat bid’ah.

Kemudian yang harus dipahami adalah bahwa al-Quran tidak saling bertentangan ayat-ayatnya, antara ayat satu dengan ayat lainnya; tidak bertentangan pula dengan hadits-hadits Rasulullah. Antara hadits satu dengan hadits lainnya tidak terdapat pertentangan. Semuanya bersumber dari satu sumber dan diikat dengan satu syariat dan satu tujuan. Jika orang tidak mengetahui hal ini, ketidakahuannya itu akan menyebabkan kepada kesesatan, keluar dari agama dan melakukan bid’ah.
 
3.    Terlalu mengedepankan akal.
Di antara faktor yang menyebabkan terjadinya bid’ah adalah terlalu mengedepankan akal. Allah menjadikan akal memiliki batas-batas tertentu yang tidak dapat dilampauinya dan tidak dapat mengetahui segala sesuatu yang diinginkan. Seandainya akal dapat mengetahui segala sesuatu tentu kedudukannya sama dengan Allah Yang Maha Megetahui segala sesuatu yang telah terjadi, yang akan terjadi, dan yang tidak terjadi. Jika seperti itu apa jadinya?
 
4.    Mengikuti hawa nafsu.
Mengikuti hawa nafsu ini bisa tampak dalam berbagai macam aspek kehidupan yang akibatnya sangat fatal. Diantaranya:
-    Berpaling dari jalan yang lurus.
-    Mengikuti sesuatu yang syubhat dan meninggalkan yang sudah pasti.
-    Mengaitkan antara syahwat dan amal dan senang terhadap dunia.
-    Buta dan tuli sehingga tidak bisa melihat kebaikan.
-    Termasuk dari ciri-ciri orang munafik.

5.    Mengatakan sesuatu dalam agama tanpa pengetahuan dan diterima begitu saja.
Banyak hadits-hadits yang mengingatkan kita agar tidak mengeluarkan fatwa atau hukum tanpa pengetahuan, khususnya yang berkaitan dengan masalah-masalah agama. Rasulullah Saw bersabda:
من أفتى بغير علم كان إثمه من أفتاه.

“Siapa yang berfatwa tanpa ilmu, maka dosanya dibebankan kepada orang yang berfatwa.”(HR. Abu Daud).


6.    Tidak memahami Sunnah
Tidak memahami llmu musthalah hadits dan tidak bisa membedakan antara hadits-hadits shahih dengan hadits-hadits maudhu’, dhaif, dan sebagainya. Adapun orang yang mengajak kepada bid’ah ini, dengan bersandar kepada hadits-hadits maudhu’, padahal ia tahu bahwa itu adalah hadits maudhu’, maka dia termasuk orang yang mengumbar hawa nafsu, ingin menyamai orang kafir untuk menghancurkan Islam, menyerang pengikut-pengikutnya, dan mengganggu agama manusia yang benar. Sehubungan dengan itu, mereka meninggalkan sunnah dan hal-hal diwajibkan karena telah merasa cukup dengan mengerjakan bid’ah-bid’ah semacam itu.

Sikap orang-orang yang mengingkari Sunnah sebagai dasar syariat ini dibagi menjadi dua bagian:
a.    Kelompok yang mengingkari apa saja selain al-Quran, baik secara umum maupun khusus.

Perlu diingat bahwa mengamalkan Sunnah berarti mengamalkan al-Quran itu sendiri dan mengikuti perintah-perintahnya. Sedangkan Sunnah menjelaskan tentang apa yang diinginkan dari ayat-ayat al-Quran, yang tanpanya tidak mungkin memahami maksud al-Quran sehingga tidak mudah pula mengamalkan.

Ayat-ayat yang digunakan dalil oleh orang-orang yang ingkar kepada Sunnah tidak cocok karena yang dimaksud bahwa al-Quran memberikan penjelasan tentang segala sesuatu adalah secara global, sementara itu penjelasan hukumnya secara detail diperlukan hukum lain sebagai penjelas, yaitu Sunnah Nabi Muhammad Saw.
 
b.    Kelompok yang mengingkari hadits Ahad.
Al-Khatib al-Baghdadi berkata: “Semua tabi’in dan para fukaha khalaf sesudah mereka di berbagai negeri Islam hingga sekarang, semuanya mengamalkan hadits ahad. Tidak pernah kami mendengar seorang pun di antara mereka yang mengingkarinya dan tidak ada penyanggahan terhadapnya. Seandainya ada di antara mereka yang berpendapat bahwa hadits ahad tidak boleh diamalkan, pasti telah sampai berita itu kepada kami dengan mazhabnya.”
 
7.    Mengikuti ayat-ayat Mutasyabihat
Di antara sebab yang kuat dalam mendorong terjadinya bid’ah adalah mengikuti ayat-ayat mutasyabihat untuk mencari fitnah dari para ulama bid’ah dan mencari penakwilnya dari para pelajar yang bodoh.

Ibnu Taimiyah berkata: “Menurut pendapat yang masyhur di kalangan Ahli Sunnah bahwa ayat-ayat mustasyabihat tidak diketahui takwilnya, kecuali oleh Allah. Munculnya penakwilan yang batil adalah dari kalangan ahli bid’ah, seperti kelompok Jahmiyah dan Qadariyah dari kelompok Mu’tazilah. Mereka berbicara tentang takwil al-Quran dengan pendapat yang rusak. Inilah sumber yang paling gampang dikenal bagi ahli bid’ah, yaitu mereka menafsirkan al-Quran dengan pendapat akal logis dan menakwilkannya secara semantik dan kebahasaan.
 
8.    Mengambil selain Syariat untuk menetapkan hukum.
Di antara sebab terjadinya bid’ah adalah mengambil sesuatu yang tidak diakui dalam syariat sebagai jalan untuk menetapkan hukum. Misalnya, bersandar kepada mimpi bertemu Rasulullah Saw, lalu mengambil hukum darinya, menyebarkan di antara manusia, atau melaksanakannya tanpa melihat selaras atau tidaknya dengan syariat. Ini adalah tindakan yang salah karena selain mimpi para nabi, maka tidak dianggap syariat, kecuali bila mimpi itu sejalan dengan hukum syariat. Jika dilihat bahwa mimpi itu sejalan dengan hukum syariat, maka boleh dilaksanakan, jika tidak harus ditinggalkan. Mungkin gunanya hanya sebagai kabar gembira atau peringatan khusus, sedangkan untuk diambil sebagai hukum, itu tidak boleh.

Adapun jika seseorang bermimpi melihat Nabi Muhammad Saw menyuruhnya untuk mengerjakan sesuatu yang disunnahkan atau mencegah apa yang dilarang atau menasehatinya agar berbuat suatu kemaslahatan, maka tidak diragukan lagi Sunnah mengerjakannya; karena hal itu bukan saja hukum yang ditetapkan berdasarkan mimpi, tetapi syariat juga telah menetapkannya. Jika mimpi dan perkataan itu sesuai dengan syariat, berarti mimpi itu benar dan perkataannya benar. Jika tidak, maka mimpi itu benar, tetapi perkataan yang didengarnya itu telah diubah oleh setan di dalam otak dan nafsunya.
 
9.    Berlebih-lebihan dalam mengkultuskan orang-orang tertentu.
Di antara sebab terjadinya bid’ah adalah terlalu berlebih-lebihan dalam mengkultuskan orang-orang tertentu dan para syuyuh hingga memberikan sesuatu yang tidak berhak mereka sandang. Bahkan, ada di antara mereka yang beranggapan bahwa tidak ada wali Allah yang lebih besar daripada si fulan; dan mungkin dia menutup pintu perwalian bagi selain orang tersebut. Ini adalah anggapan yang batil dan bid’ah yang sesat karena tidak mungkin orang-orang dari generasi terakhir dapat mencapai derajat seperti yang dicapai oleh orang-orang dari generasi terakhir dapat mencapai derajat seperti yang dicapai oleh orang-orang pada generasi pertama.

Di antara manusia ada yang mengira bahwa ada orang yang menyamai Nabi Saw, hanya saja dia tidak menerima wahyu. Di antara mereka adalah kelompok Syiah Imamiyah. Seandainya tidak karena berlebih-lebihan dalam agama dan mempertahankan mazhab, serta larut dalam mencintai pembuat bid’ah, tentu akal seseorang tidak akan melakukan hal sejauh itu.

Oleh: Muhammad Husni Haikal