Hot!

Awas, Ada Kesesatan Di Bulan Rajab


Hadits-hadits Yang Berkaitan Dengan Bulan Rajab
    
Diriwayatkan dari Urwah bin Zubair, dia berkata, “Aku dan Ibnu Umar pernah bersandar di bilik Aisyah Ra. Kami mendengar dia sedang bersiwak. Lalu aku bertanya, ‘Wahai Abu Abdurrahman! Pernahkan Rasulullah Saw mengerjakan umrah pada bulan Rajab?’ Dia menjawab, ‘Ya, pernah.’ Kemudian, aku bertanya kepada Aisyah Ra, ‘Wahai ibu orang-orang Mukmin! Bernarkah apa yang dikatakan oleh Abu Abdurrahman?’ Dia berkata, ‘Apa yang dia katakan?’ Aku menjawab, ‘Dia berkata bahwa Nabi Saw pernah mengerjakan umrah pada bulan Rajab’. Tambah beliau lagi, ‘Semoga Allah mengampuni Abu Abdurrahman. Demi usiaku, beliau tidak pernah mengerjakan umrah pada bulan Rajab karena setiap kali Rasulullah Saw mengerjakan umrah, aku selalu mengikuti beliau.’ Urwah bin Zubair berkata, ‘Ketika itu Ibnu Umar hanya mendengar. Tidak berkata, ‘Ya’ ataupun ‘Tidak’. Beliau hanya diam.”(HR. Bukhari dan Muslim).
 
Hadits-hadits Dhaif
    
Di antara hadits-hadits dhaif yang berkaitan dengan bulan Rajab adalah:
“Sesungguhnya di syurga ada sungai yang bernama Rajab, airnya lebih jernih dari susu dan lebih manis dari madu. Siapa berpuasa sehari di bulan Rajab, Allah akan memberinya minum dari sungai tersebut.” ~Hadits dhaif~
“Sesungguhnya Rasulullah Saw tidak pernah berpuasa setelah Ramadhan, kecuali bulan Rajab dan Sya’ban.” ~Hadits mungkar~
 
Hadits-hadits Maudhu’
“Bulan Rajab adalah bulan Allah, bulan Sya’ban adalah bulanku, dan bulan Ramadhan adalah bulan umatku.” ~Hadits palsu~
“Keutamaan bulan Rajab atas bulan-bulan lainnya seperti keutamaan al-Quran atas kitab-kitab lainnya.” ~Hadits palsu~
“Bulan Rajab adalah bulan yang hening, siapa yang berpuasa sehari di bulan Rajab dengan penuh keimanan dan intopeksi, akan menapatkan keridhaan Allah.” ~Hadits palsu~
    
Hadits-hadits yang disebutkan di atas hanya sebagian kecil dari hadits-hadits maudhu’ yang berbiacara tentang bulan Rajab. Adapun tujuan penyebutannya di sini hanya untuk menunjukkan dan mengingatkan saja.
Pengagungan Orang-orang Kafir Kepada Bulan Rajab
    
Rajab adalah bulan yang dinamakan demikian karena orang-orang jahiliah memuliakannya sehingga tidak boleh perang di dalamnya. Makna kata tarjib adalah ta’dzim, sedangkan raajib adala orang yang mengagungkan tuannya.
    
Orang-orang jahiliah pada bulan Rajab ini mendoakan jelek kepada orang-orang dzalim dan doa mereka diterima. Dalam hal ini mempunyai berita-berita yang terkenal yang telah dijelaskan oleh Ibnu Abu Dunya dalam bukunya Mujab ad-Da’wah dan lain-lain.
    
Disebutkan dalam hadits Umar bin Khattab, dia berkata: “Sesungguhnya Allah telah menjadikan itu sebagai pemecah belah mereka antara satu dengan yang lain. Allah telah menjadikan hari Kiamat sebagai ancaman bagi mereka, sedangkan hari Kiamat lebih pedih dan lebih pahit.”

‘Atirah Rajab (Penyembelihan Kambing Di Bulan Rajab)
    
Abu Ubaid berkata: “Atirah Rajabiyah adalah hewan yang disembelih pada bulan Rajab oleh orang-orang jahiliah untuk mendekatkan diri kepada tuhan-tuhan mereka...karena pada masa jahiliah jika ada seseorang yang bernadzar. Jika terkabulkan, maka dia akan menyembelih kambingnya...pada bulan Rajab. Itulah yang disebut ‘Atair.”
 
Hukum ‘Atirah
    
Para ulama berselisih pendapa tentang hukumnya. Pendapat yang kuat adalah pendapat yang membatalkan tradisi Fara’ dan Atirah karena adanya kesepakatan jumhur ulama bahwa perintah untuk melakukan Fara’ dan Atirah itu dihapus dengan sabda Nabi, “Tidak ada Fara’ dan tidak ada Atirah.” Huruf lam pada hadits ini mengandung arti penolakan karena dikiaskan kepada sabda Rasulullah, “Tidak ada penyakit menular dan tidak ada ramalan kesialan dengan suara burung.” Di samping itu juga bahwa tradisi Fara’ dan Atirah itu meyerupai tradisi jahiliah dan ini dilarang oleh agama karena penyembelihan kurban adalah ibadah, dan ibadah bersifat tauqifi.
    
Akan tetapi, ini bukan berarti tidak boleh menyembelih binatang secara umum pada bulan Rajab. Maksudnya, yang dilarang adalah menyembelih binatang pada bulan Rajab yang diniatkan khusus untuk melaksanakan Atirah Rajab atau menyembelihnya untuk mengagungkan bulan Rajab atau sebagainya.
Bid’ah Mengkhususkan Bulan Rajab Untuk Berpuasa Atau Bangun Malam, Hukum Umrah Di Dalamnya Dan Hukum Ziarah Rajabiyah
    
Di antara perkara bid’ah yang terjadi pada bulan Rajab adalah mengkhususkannya untuk puasa atau bangun malam, sedangkan orang-orang yang mengkhususkannya bersandar pada hadits-hadits yang sebagiannya dhaif dan sebagian besarnya maudhu’.
    
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Mengkhususkan bulan Rajab dan Sya’ban dengan puasa atau i’tikaf, tidak ada dasarnya dari sabda Nabi Saw, sahabat-sahabatnya, dan imam-imam kaum muslimin.
    
Adapun puasa bulan Rajab secara khusus disandarkan kepada hadits-hadits yang semuanya dhaif, bahkan maudhu’.
    
Pada dasarnya puasa itu sendiri adalah baik, bajik, dan bagus. Bukan karena kemuliaan bulan Rajab puasa menjadi baik. Jika dikatakan, “Bukankah ini berarti menciptakan tradisi yang baik?” Dijawab, “Penciptaan tradisi yang baik harus didasarkan pada syariat Nabi Saw. Kita ketahui bahwa pengagungan bulan Rajab adalah kebohongan yang besar yang keluar dari syariat karena awalnya yang mengagungkan bulan Rajab itu adalah Mudhar pada masa jahiliah, seperti yang dikatakan Amirul Mukminin Umar Ra, dan beliau memukul orang-orang yang berpuasa pada bulan itu, sedangkan Ibnu Abbas Ra memakruhkan puasa di dalamnya.”
    
Adapun pengkhususan umrah pada bulan Rajab tidak memiliki dasar yang kuat karena tidak ada dalil syar’i yang menunjukkan pengkhususan untuk umrah di dalamnya.
 
Bid’ah Shalat Raghaib
    
Shalat Raghaib termasuk bid’ah yang diadakan pada bulan Rajab, yang dilaksanakan pada malam Jum’at pertama bulan Rajab antara shalat Maghrib dan Isya’, yang didahului dengan puasa hari Kamis, yaitu Kamis yang pertama bulan Rajab.
    
Shalat Raghaib dilaksanakan pertama kali di Baitul Maqdis, yaitu pada tahun 480 Hijriah, dan tidak ada seorang pun pernah melaksanakannya sebelum itu.
    
Tidak ada riwayat dari Nabi Saw yang menjelaskan bahwa beliau melaksanakannya, begtu juga para sahabatnya, tabi’in, dan para salah generasi terdahulu.
 
Hukumya
    
Tidak diragukan lagi bahwa shalat raghib adalah bid’ah, apalagi bahwa shalat itu dilakukan setelah berabad-abad keemasan sehingga tidak pernah dilaksanakan oleh para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan kaum salaf seluruhnya. Padahal mereka adalah orang-orang yang paling tamak dalam melakukan perbuatan baik daripada orang-orang sesudah generasi mereka.
    
Telah terjadi dialog ilmiah yang baik antara Al-Iz bin Abdussalam dan Ibnu Shalah, yang menguatkan bagi kita tentang kebid’ahan shalat raghaib ini. Imam Al-Iz bin Abdussalam menegaskan bahwa shalat raghaib adalah dusta terhadap Rasulullah dan tidak meriwayatkan darinya. Shalat ini bertentangan dengan syariat dalam berbagai aspek, yang sebagian khusus membahayakan ulama dan sebagian yang lain membahayakan orang alim maupun jahil. Bahaya yang khusus menimpa ulama ada dua hal:
 
1.    Seorang alim jika mengerjakan shalat, maka akan dianggap oleh orang awam sebagai shalat sunah sehingga dia telah berdusta kepada Rasulullah Saw.
2.    Jika seorang alim mengerjakan, hal itu bisa menyebabkan orang-orang awam berdusta kepada Rasulullah Saw seraya berkata, “Ini termasuk shalat sunnah.”
    
Adapun bahaya yang menimpa orang alim maupun jahil dapat dilihat dari beberapa aspek:
1.    Mengerjakan bid’ah dapat memperdayakan pembuatnya dan menjerumuskan kepada kebatilan.
2.    Hal ini bertentangan dengan Sunnah agar bersikap tenang dalam shalat karena dengan banyaknya surat Al-Ikhlas dan Al-Qadar yang harus dibaca, menjadikan kebanyakan orang tidak membacanya secara keseluruhan.
3.    Hal itu bertentangan dengan Sunnah agar hatinya khusyuk, tunduk, dan hadir dalam shalat. Jika dia harus menghitung jumlah surat yang harus dibaca dengan hatinya, hal itu dapat memalingkannya dari Allah karena sesuatu yang tidak disyariatkan dalam shalat.
4.    Hal itu bertentangan dengan Sunnah shalat nafilah, yaitu bahwa shalat nafilah sebaiknya dikerjakan di rumah.
5.    Hal itu bertentangan dengan Sunnah mengerjakan shalat nafilah secara individu. Sebaiknya shalat sunah dikerjakan secara individu, kecuali yang diperintahkan syariat.
6.    Hal itu bertentangan dengan Sunnah agar menyegerakan berbuka.
7.    Hal itu bertentangan dengan Sunnah dalam mengosongkan hati dari hal-hal yang mengganggu dalam shalat karena ketika mereka shalat, mereka merasa lapar dan dahaga, apalagi pada hari-hari yang panas sekali. Shalat tidak akan khusyuk jika ada sesuatu yang mengganggu konsentrasi pelakunya.
8.    Kedua sujudnya menjadi makruh. Syariat tidak menganjurkan untuk mendekat kepada Allah dengan sujud yang berdiri sendiri tanpa ada penyebabnya karena untuk mendekat kepada Allah ada sebab-sebab, syarat-syarat, waktu dan rukun-rukunnya yang tertentu, yang tidak sah tanpanya.
9.    Seandainya dua sujud itu disyariatkan, tentu bertentangan dengan Sunnah dalam kekhusyukan dan ketundukannya karena orang yang melakukannya disibukkan dengan menghitung jumlah tasbih yang harus dibaca di dalam hatinya, atau lahirnya, atau lahir dan batinnya.
10.    Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah kalian mengkhususkan malam Jum’at untuk bangun di antara malam-malam lainnya, dan janganlah kalian mengkhususkan hari Jum’at untuk berpuasa di antara hari-hari lainnya, kecuali jika salah seorang di antara kalian sudah terbiasa berpuasa pada hari-hari itu sebelumnya.”(HR. Ahmad).
11.    Hal itu bertentangan dengan Sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah Saw tentang dzikir yang dibaca dalam sujud.
    
Kemudian, Al-Iz Abdussalam berkata: “Di antara bukti yang menunjukkan bahwa shalat raghib termasuk bid’ah adalah bahwa ulama yang dianggap lebih tahu tentang agama dari para imam kaum muslimin, baik dari kalangan sahabat, maupun tab’in, maupun tabi’ut tabi’in, dan yang menulis buku-buku tentang syariat, tidak seorang pun di antara mereka yang menulis tentang shalat ini, tidak mencantumkannya dalam kitab-kitab mereka, dan tidak diajarkan dalam majelis-majelis mereka. Padahal mereka adalah orang-orang yang paling getol dalam mengajarkan perbuatan wajib dan Sunnah kepada manusia.”
    
Syaikul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Shalat raghaib tidak ada dasarnya, tetapi dia termasuk fenomena baru (bid’ah) yang tidak disunnahkan, baik dikerjakan secara berjamaah atau individu. Ditegaskan dalam shahih Muslim bahwa Nabi Saw melarang untuk mengkhususkan malam Jum’at untuk bangun malam atau hari Jum’at untuk berpuasa.”
    
Hadits-hadits yang menjelaskan shalat raghaib adalah dusta dan maudhu’ menurut kesepakatan ulama dan tidak pernah disebutkan oleh seorang salaf pun maupun para imam.
    
Imam Nawawi berkata: “Shalat raghaib adalah bid’ah yang tercela, mungkar, dan sangat diingkari. Termasuk kemungkaran sehingga harus ditinggalkan, ditentang, dan diingkari pelakunya. Kepada para penguasa harus melarang manusia melaksanakan shalat ini karena mereka adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas rakyatnya.”
    
Para ulama telah menulis buku-buku khusus tentang masalah ini untuk mengingkari dan mencelanya serte membodohkan pelakunya. Janganlah kita terpedaya oleh banyaknya orang yang melakukannya di banyak negara Islam. Jangan pula tergoda karena shalat itu tertulis dalam kitab Quut al-Qulub dan Ihya ‘Ulumu ad-Din dan sebagainya. Kedua shalat itu adalah bid’ah yang bathil.
 
Bid’ah Peringatan Malam Isra’ dan Mi’raj
    
Peringatan Isra’ dan Mi’raj termasuk perkara bid’ah yang dinisbatkan orang-orang bodoh kepada syariat. Mereka menjadikannya sebagai sunnah yang dilaksanakan setiap tahun, yaitu pada malam tanggal 27 Rajab. Pada malam itu mereka mengadakan banyak bid’ah dengan berbagai macam bentuknya. Misalnya, berkumpul dan menyalalakan lilin dan lampu-lampu di dalam masjidserta menara-menara. Mereka membuang-buang dana pada malam itu. Mereka juga berkumpul untuk berdzikir dan membaca al-Quran, serte membaca kisah Isra’ dan Mi’raj yang dinisbatkan kepada Ibnu Abbas, yang semuanya batil dan sesat. Semua itu tidak sah dinisbatkan kepada Ibnu Abbas, kecuali beberapa poin saja. Begitu juga kisah Ibnu Sulthan. Dikisahkan bahwa dia merupakan orang yang boros dan tidak shalat, kecuali pada bulan Rajab.
 
Hukum Memperingati Malam Isra’ dan Mi’raj
    
Para ulama salaf sepakat bahwa membuat musim ibadah tententu yang tidak ditetapkan berdasarkan syariat termasuk bid’ah yang dilarang Rasulullah Saw:
 
1.    Dari al-Quran
Allah Ta’ala berfirman: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.”(QS. Al-Maidah: 3).
 
2.    Berdasarkan Sunnah
Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang mengada-ngadakan sesuatu dalam urusan agama yang tidak terdapat dalam agama, maka dengan sendirinya dia akan tertolak.”(HR. Bukhari dan Muslim).
 
3.    Berdasarkan Istishab
Jelaslah bahwa ibadah itu bersifat tauqifi, yaitu bahwa suatu amalan tidak bisa dikatakan sebagai ibadah, kecuali bila ditetapkan dengan dalil, baik dari al-Quran, Sunnah, maupun ijma’. Tidak dikatakan ini boleh dari segi maslahah mursalah, istihsan, qiyas, atau ijtihad karena bab akidah, ibadah, waris, dan hudud tidak ada lahan untuk itu semua.
 
4.    Berdasarkan akal
Logikanya, jika peringatan Isra’ dan Mi’raj ini disyariatkan, tentu orang yang paling berhak melaksanakannya adalah Nabi Muhammad Saw. Itu jika yang diagungkan adalah peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Jika yang diagungkan adalah Rasulullah Saw dan mengingatnya –seperti yang dilakukan dalam peringatan Maulid Nabi- maka yang paling berhak untuk melakukannya adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, para sahabat, tabi’in, dan seterusnya. Akan tetapi, tidak seorang pun dari mereka yang melakukannya.
    
Ibnu an-Nuhas berkata: “Sesungguhnya peringatan malam Isra’ dan Mi’raj adalah bid’ah yang besar dalam agama yang dibuat oleh pengikut-pengikut setan."

Oleh: Muhammad Husni Haikal