Hot!

Adakah Kebid'ahan Di Bulan Shafar


Beberapa Hadits Yang Berbiacara Tentang Bulan Shafar
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, dari Nabi Saw beliau bersabda: “Tidak ada penyakit menular, tidak ada tanda atau firasat kesialan, tidak ada kecelakaan yang ditandai oleh suara burung malam, dan tidak ada pantangan pada bulan Shafar.”(HR. Bukhari).
   
Dalam riwayat Muslim disebutkan dari Rasulullah Saw beliau bersabda: “Tidak ada penyakit menular, tidak ada malapetaka karena hantu, dan tidak ada pantangan pada bulan Shafar.”(HR. Muslim).
    
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Ra, beliau berkata: “Rasulullah Saw berdiri di hadapan kami seraya bersabda, ‘Sesuatu tidak akan menulari sesuatu yang lain.’ Lalu seorang badui berkata, ‘Ya Rasulullah, bagaimana dengan onta yang kudis pada ujung zakarnya, lalu menularkannya kepada onta-onta lainnya hingga semua menjadi kudisan?’ Rasulullah Saw bersabda, ‘Lalu siapa yang menjangkitkan kudis kepada onta yang pertama? Tidak ada penyakit menular dan tidak ada pantangan pada bulan Shafar. Allah menciptakan setiap jiwa, lalu menetapkan kehidupan, rezeki, dan musibahnya sendiri-sendiri.”(HR. Ahmad).
Bid’ah Pesimin Dalam Bulan Shafar
   
Kebanyakan orang jahiliah merasa pesimis di bulan Shafar sehingga banyak di antara mereka yang enggan bepergian. Sebagian mereka berkata, “Orang-orang pintar mengatakan bahwa setiap tahun turun 320.000 penyakit. Semuanya terjadi pada hari Rabu terakhir bulan Shafar sehingga hari itu merupakan hari ternaas selama setahun. Barangsiapa yang hari itu shalat empat rakaat, di setiap rakaatnya membaca al-Fatihah sekali, surat al-Kautsar 17 kali, al-Ikhlas 15 kali, al-Falaq dan an-Nas sekali, dan setelah salam membaca doa tertentu, maka Allah dengan kemualiaan-Nya akan menjaganya dari semua penyakit yang turun pada hari itu dan mereka tidak akan terkena penyakit dalam setahun penuh.
    
Begitu juga perkumpulan yang dilakukan oleh sebagian manusia pada hari Rabu terakhir bulan Shafar, antara shalat maghrib dan isya’ di beberapa masjid. Setelah itu mereka berkumpul di hadapan seorang juru tulis, yang menuliskan kepada mereka di atas kertas-kertas yang disediakan, tujuh ayat salam kepada nabi. Kemudian, mereka meletakkannya dalam gelas yang diberi air dan meminum airnya. Mereka berkeyakinan bahwa rahasia penulisan itu akan muncul pada hari itu, kemudian sisanya mereka sebarkan di sekitar rumah.
    
Bentuk kepesimisan manusia lainnya adalah seperti yang terjadi di beberapa negara Islam, yang mana mereka menganggap bahwa menjenguk orang sakit pada hari Rabu bisa membawa kesialan.
    
Tidak diragukan lagi bahwa merasa pesimis pada bulan Shafar atau hari-hari tertentu lainnya, merupakan jenis ramalan yang dilarang dalam agama.
    
Menganggap adanya kesialan pada waktu tertentu, seperti bulan Shafar dan sebagainya adalah tidak benar karena semua waktu adalah ciptaan Allah yang di dalamnya juga terjadi aktivitas manusia. Setiap waktu yang digunakan oleh orang Islam untuk beraktivitas adalah waktu yang baik dan penuh berkah, sedangkan setiap waktu yang digunakan oleh seseorang untuk berbuat kemaksiatan adalah kesialan.
    
Sebenarnya kesialan adalah berbuat maksiat kepada Allah dan melakukan perbuatan dosa. Ramalan kesialan itu menjadikan Allah murka; jika Allah murka kepada seseorang, maka dia akan merugi dunia dan akhirat, tetapi sebaliknya, jika Allah ridha kepada seseorang, dia akan bahagia di dunia dan akhirat.
    
Tidak diragukan lagi bahwa semua ini merupakan kebodohan terhadap bid’ah dan syirik yang berkaitan dengan syirik sehingga perlu diselamatkan akidahnya. Semua itu tidak terjadi, kecuali kepada orang yang akidahnya bercampur dengan syirik, yang sebagian dapat mendorong sebagian lainnya, seperti tawasul, meminta berkah kepada makhluk dan meminta pertolongan kepada mereka. Hal ini semua termasuk syirik dan bid’ah.

Oleh: Muhammad Husni Haikal