Hot!

Awas, Ada Bid'ah Di Bulan Muharram


Hadits-hadits Yang Berkaitan Dengan Bulan Muharram
Diriwayatkan dari Abu Bakar Ra, dari Nabi Saw bahwasanya beliau bersabda: “Sesungguhnya zaman itu akan terus berlalu sebagaimana saat Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan. Empat di antaranya ialah bulan-bulan yang haram, tida di antaranya ialah berturut-turut, yaitu bulan Zulqa’dah, Zulhijjah dan Muharram. Bulan Rajab adalah bulan Mudhar (nama satu kabilah) yang terletak antara Jumadil Akhir dan Sya’ban.”(HR. Muslim).
    
Diriwayatkan dari Ibnu Umar Ra, dia berkata: “Nabi Saw berpuasa pada hari Asyura dan menyuruh untuk berpuasa di dalamnya. Ketika bulan Ramadhan diwajibkan, beliau meninggalkannya. Tidaklah seorang hamba berpuasa di dalamnya kecuali puasanya akan memberikan taufik kepadanya.”(HR. Ahmad).

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Ra, dia berkata: “Rasulullah Saw bersada, ‘Berpuasalah kalian pada hari Asyura. Dan berbedalah dengan orang Yahudi di dalamnya, dengan berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.”(HR. Ahmad).

Bid’ah Bersedih Pada Bulan Muharram Menurut Rafidhah

Pada hari ke-10 dari bulan Muharram, yaitu hari yang dikenal dengan hari Asyura, Allah Ta’ala telah memuliakan Husain bin Ali bin Abi Thalib Ra dengan mati Syahid, yaitu pada tahun 61 H. 

Namun, sebagian orang melihat peristiwa itu sebagai suatu kejahatan, maka bangkitlah sekelompok orang-orang bodoh –baik dari golongan manafik maupun golongan sesat- yang mengagung-agungkan kepemimpinannya dan kepemimpinan ahlu bait, yang menjadikan hari Asyura sebagai hari berkabung dan kesediha. Mereka menampakkan pada hari itu syi’ar-syi’ar jahiliah, seperti memukul wajah, merobek pakaian, dan bertakziyah dengan takziyah ala jahiliah.

Rasulullah Saw bersabda:
“Empat hal dalam umatku yang tidak mereka tinggalkan dari tradisi jahiliah, yaitu menyombongkan jumlah, mencela nasab, meminta hujan kepada bintang, dan meratapi mayat.”(HR. Muslim).

Jika meratap saja tidak diperbolehkan, lalu bagaimana halnya jika ratapan itu disertai dengan kezaliman terhadap orang-orang mukmin, melaknat, dan mencela mereka; menolong orang-orang munafik dan kafir dengan tujuan untuk merusak agama dan sebagainya.

Bid’ah Begermbira Pada Hari Asyura Menurut Kelompok Nawashib

Pembahasan ini berbicara tentang orang-orang yang menetang kelompok Rafidhah itu, lalu menjadikan hari Asyura sebagai hari kebahagiaan. Mereka adalah kelompok Nawashib yang juga fanatik kepada Husain dan keluarga Nabi Saw. Mereka adalah orang-orang bodoh yang menyambut kerusakan dengan kerusakan, kebohongan dengan kebohongan, kejahatan dengan kejehatan, dan bid’ah dengan bid’ah, lalu membuat tradisi bergembira dan bersenang-senang pada hari Asyura. Misalnya, pesta, berhias warna warni, banyak memberikan nafkah kepada keluarga, memasak makanan yang tidak seperti biasanya, dan sebagainya, yang dilakukan pada hari-hari raya dan musim-musim tertentu sehingga mereka menjadikan hari Asyura sebagai hari raya dan hari kebahagiaan.

Yang dimaksud dengan pendusta adalah kelompok Syiah. Adapun yang dimaksud dengan perusak adalah kelompok Nashibah. Orang-orang Syiah membuat upacara kesedihan di bulan Muharram dan orang-orang Nashibah membuat kegembiraan di dalamnya. keduanya adalah bid’ah yang sumbernya berasal dari orang-orang yang fanatik secara batil kepada Husain. Setiap bid’ah adalah sesat. Tidak seorang pun dari empat imam maupun imam-imam lainnya yang mengatakannya sebagai Sunnah yang di dasarkan pada hujjan Syar’iyyah. Tidak diragukan lagi bahwa kelompok Nashibah dan Rafidhah adalah orang-orang yang membuat bid’ah, salah, dan keluar dari Sunnah Nabi Saw.

Oleh: Muhammad Husni Haikal